
Felix terduduk di tepi ranjang kamarnya dengan dada berdebar kuat. Seharusnya, Freya lah yang berdebar kuat. Namun, mengetahui jika untuk akhirnya, ia akan melepas kelelakiannya membuat dada Felix bergetar kuat.
Tak sabar rasanya menunggu istrinya itu selesai mandi.
Ya, Freya memilih membersihkan badannya dulu- di kamar yang di tempati Felix. Namun, setiap mendengar suara shower yang mengalir itu membuat Felix malah membayangkan tubuh mulus istrinya yang di lewati air.
Baru membayangkan saja sudah membuat tubuh Felix tegang seketika dan merasa panas. Jika bisa, ia ingin mendobrak pintu kamar mandi dan membawa Freya langsung ke kasur ini. Atau mungkin malah melakukan di kamar mandi sekalian.
Namun, Felix memilih sabar dan menunggu istrinya untuk menyelesaikan ritual mandinya.
Ceklek. Suara kamar mandi di buka- membat Felix melihat ke arah sumber suara.
Dengan susah payah, Felix berusaha menelan saliva nya.
Ia memang pernah melihat tubuh istrinya dengan lingerie yang membalut- namun, saat itu, Felix tidak leluasa melihat tubuh istrinya karena rasa enggan. Bisa di bilang, ini kali pertama, Felix benar- benar melihat tubuh mulus istrinya.
“ kakak tidak mengalihkan perhatian lagi?” kekeh Freya mengingatkan awal pertama wanita itu menggoda Felix dengan linggerie yang ia gunakan. Mendengarnya, membuat Felix memilih diam dan mendekat ke arah istrinya berdiri.
Pria itu hanya mengelus pipi istrinya. Lalu, ibu jari pria itu mulai menelusuri wajah istrinya- alis yang lebat, bulu matanya yang lentik, hidung yang mungil dan bibir yang tipis. Bibir yang entah sejak kapan selau menarik perhatian pria itu. Pelan namun pasti, Felix lantas mendekatkan wajahnya menuju bibir yang menarik perhatian semua kaum adam itu.
Meski ini bisa di katakan adalah kali pertama untuk Felix berciuman, namun, secara naluri- Felix seolah menginginkan lebih dari hanya sekedar menempel saja.
Bibir mereka yang awalnya hanya menempel mulai begerak seolah saling menginginkan satu sama lain.
Felix menarik pinggang istrinya agar mendekat padanya- membuat wanita itu bersentuhan sesuatu di bawah sana yang masih tertutup oleh bathrobe. Reflek, bibir Freya sedikit terbuka- membuat lidah panjang Felix dengan nakalnya mulai mencoba mengabsen setiap rongga di mulut istrinya.
“ kakak pasti baru bertama berciuman, hem?” tanya Freya kala bibir mereka tak lagi bersentuhan.
“ kenapa kau bisa tahu?” tanya Felix.
“ kaku.” kekeh Freya.
__ADS_1
“ tenang saja, para pria adalah pelajar yang handal dan bisa belajar secara otodidak.” ucap Felix mulai menuntun tubuh istrinya ke ranjang di kamar yang di tempati Felix.
Ruang utama memang lebih luas dari pada ruang tambahan untuk tamu. Ruang ini memiliki ranjang king size dengan wardrobe di hadapan ranjang. Adapun dua nakas di sisi kanan dan kiri tempat tidur. Dan di sisi kiri dan kanan adalah tempat untuk belajar karena Felix dan Freya masihlah kuliah magister adapun meja rias yang di sediakan untuk Freya. Berbeda dengan ruang tidur tambahan yang hanya di sediakan lemari, meja nakas dan meja untuk bersantai dan kasur single bed.
Abaikan!
Tampak jika tangan Felix mulai menyentuh dua buah benda kenyal yang menurut Felix lumayan cukup besar di badan istrinya yang mungil.
“ ugh!” lenguh Freya. Ini kali pertama wanita itu merasakan apa yang ia rasakan saat ini. Rasa- rasa yang menurut Freya aneh. Geli, namun..., membuat Freya tidak ingin tertawa. Geli yang membuat Freya tidak bisa mempertahankan untuk membuka matanya. Geli yang bisa membuat seseorang mengeluarkan suara- suara yang bagi dirinya sendiri aneh- namun, malah dapat membuat orang yang mendengarnya gerah.
Apa lagi saat bibir suaminya menyentuh kulit wanita itu.
Ia merasa ada yang basah di bawah sana.
Perasaan ingin buang air. Namun, Freya yakin bukan.
“ kenapa kau malah menangis?” heran Felix.
“ kalau begitu, jangan di tahan.” ucap pria itu mulai membuka sisa kain terakhir di tubuh istrinya.
Namun, baru mau membuka sisa kain terakhir tersebut- ponsel Felix berdering.
“ ka.., kakak, telephone mu berbunyi.” ucap Freya.
“ jangan panggil aku kakak, Frey- aku suamimu, bukan kakakmu.” ucap Felix tidak mempedulikan.
“ F.., Fe. Telephone mu bunyi.”
“ abaikan.” lantas, mereka mengabaikan panggilan telephone itu, namun, sekali lagi, telephone itu berbunyi.
“ ka.., maksudku, Fe, angkatlah, kelihatannya penting.”
__ADS_1
Akhirnya, sambil berdecih, pria itu memilih mengambil handphone nya dan mengangkat telephone dengan nomor asing itu.
“ Halo!” kesal Felix.
...“ halo, apa anda kenalan nona Wanda? Nona Wanda sedang berada di rumah sakit!” ...
“ AP?” ucap Felix tidak percaya. Sesungguhnya, pria itu mengakui jika ia mulai enggan terhadap wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu, namun, biar bagaimanapun- pria itu tetap tidak bisa mengalahkan hati Nurani nya.
Melihat suaminya yang terkejut dan panik membuat Freya segera beranjak untuk duduk.
...“ ia kecelakaan, tuan. Namun, dari data yang ada ia yatim piatu dan tidak memiliki kerabat- hanya anda yang ada di daftar kontak teratasnya.”...
“ ia di rumah sakit mana?” tanya Felix. Setelahnya, tampak jika pria itu hanya mengangguk seolah paham dengan alamatnya.
“ Frey, maaf.” lirih Felix.
“ tidak apa, pergilah.” ucap Freya. Mendengarnya, Felix lantas memakai pakaiannya secara lengkap dan meninggalkan Freya yang hanya terduduk memandangi suaminya yang meninggalkan wanita itu sendirian.
“ kenapa sangat susah membuka hatimu?”
Padahal..., freya pikir Felix meminta haknya karena mulai menerima Freya. Padahal..., Freya pikir, suaminya mulai belajar melupakan kekasihnya..., padahal..., padahal... batin Freya dengan bibir bergetar.
Until Anytime; I’m loser, right? Ucap Freya menertawai dirinya sendiri
...😢😢😢...
...Buat yang berharap bakal ada ++...
...Maaf di prank author😂 ...
...belum saatnya😳😳...
__ADS_1