Affair With My Ex-wife

Affair With My Ex-wife
Alice2


__ADS_3

“ nona Agatha memang pandai.” ucap Andre setelah mendengar penjelasan Louis soal pendapat yang di berikan Agatha.


“ jika tidak pandai, bagaimana aku bisa mencintainya.” ucap Louis berbangga diri.


“ ya. Ya.” ucap Andre malas.


Saat ini mereka sedang di perusahaan dan membicarakan soal pendapat Agatha. Ia tidak perlu memusingkan soal rencana tentang Elena dan Lionel karena rencana yang Louis buat harus menunggu usia kandungan Elena berumur 7 bulan.


Lalu kemana Elena?


Tentu saja di rumah yang di sediakan Bernard untuk Louis dan Elena. Semenjak Lionel bertemu dengan Agatha- ketertarikan pria itu kepada Elena mulai berkurang. Elena sendiri tidak bisa berkarier lagi, karena sedang hamil.


Kesal? Ya, tentu saja kesal. Apa lagi wanita itu kini tengah mengandung dan karenanya pula membuat emosinya tidak stabil. Kadang marah- kadang sedih. Itu yang membuat Louis memilih menghabiskan waktunya di perusahaan.


Yang harus Louis lakukan hanya menunggu hingga waktu mereka melakukan rencana di mulai. Sekarang, ia hanya harus fokus menunjukkan keseriusannya pada Agatha dan membantu Andre.


Hingga..,


* suara ringtone * handphone milik Louis bunyi.


“ Alice?” ternyata Alice yang sedang menelphone Louis.


...“ halo?” Louis berusaha menjawab seramah dan secentil mungkin....


...“ UNCLE!” namun rengekan lah yang di terima Louis....


...“ tidak bisakah kau tidak merengek di telephone? Telinga uncle hampir saja menjadi tuli mendengar teriakanmu.” Louis berbicara jujur. Telinganya terasa sakit mendengar teriakan keponakan nakalnya tersebut....


...“ Ini salah Uncle! Kau tak pernah menelphone Ale. Uncle tidak sayang pada Ale!” Rengek Alice....


...“Uncle sibuk dengan urusan kantor, Alice.” Louis berusaha menenangkan keponakannya yang satu itu....


...“Uncle tidak sayang pada Ale!” Rengek Alice....


...“Alice! Jangan ganggu uncle mu.” Suara di seberang telephone berganti....


...“ Alana?” ucap Louis senang. Ia terselamatkan. Satu- satunya yang dapat membuat Alice tenang selain Agatha adalah Alana- ibu nya....


...“ maafkan Alice, ia hanya merindukanmu.” Alana meminta pengertian Louis...


...“Tidak apa, maafkan aku yang begitu sibuk dengan urusan kantor. Bagaimana jika kau membawa Alice ke kantor.” tanya Louis....


...“Apa ia tidak akan merepotkanmu?” tanya Alana....


...“Tentu saja tidak. Aku juga merindukan keponakanku yang nakal itu.” kekeh Louis....


...“Alice tidak nakal.” Sela Alice....

__ADS_1


...“Ya ya keponakanku yang pintar.” Louis mengulang jawabannya....


...“Thank you, uncle.” Ucap Alice ringan....


...“Maafkan tingkah Alice, Brother.” Alana kembali menjawab....


...“tidak masalah, ia masih anak- anak, aku juga merindukannya. Lagi pula, sesekali, aku rasa kau membutuhkan waktu untuk membuat adik untuk Alice. Jadi kau bisa membawanya kemari kapan saja.” goda Louis....


...“Brother!” Ucap Alana malu....


...“Ha ha. “...


...“Kau saja belum memiliki anak masih memintaku menambah satu anak lagi.“ gerutu Alana....


...“Doakan saja.” Louis menghela nafasnya....


...“Apakah Elena sudah hamil?” tanya Alana....


...“Aku akan memiliki anak- tapi bukan dari dia.” tekan Louis....


...“Apa?” Heran Alana....


...“Sudahlah, aku tunggu Alice di kantor,ya.” Ucap Louis mematikan telephone....


“Dari nona Alana?” heran Andre.


“Aku belum terbiasa.”


“Ya sudah. By the way, pengacau kecil nanti akan kemari. Siapkan mainan anak- anak dan camilan yang Alice sukai.”


“baiklah. “ jawab Andre.


Tak berapa lama, Alice datang bersama dengan pengawal. Tak heran, Ken sendiri sudah sibuk dengan bisnis cosmetic yang di kembangkannya, sementara Alana- sebagai istri tentu saja membantu sang suami.


Namun begitu, ia selalu menyempatkan waktu untuk buah hatinya- Alice.


“Uncle, I miss you.” Ucap Alice langsung masuk ke ruangan Louis. Sementara, pengawalnya menunggu di depan ruangan Louis.


“Aku takkan menganggap- jika kau merindukanku- kalau kau hanya marah- marah padaku.” Louis langsung berdiri dari duduknya.


“ Kemari dan cium pipiku.” Ucap Louis menunjuk pipi nya. Alice segera berlari kecil menuju Louis. Melihatnya pria itu lalu menggendong tubuh mungil Alice.


“Apa penyihir itu tak cukup memberimu ciuman, uncle- sampai kau meminta ciuman dariku?” Ucapan Alice membuat Andre menahan tawanya. Gadis kecil itu lantas mencium kedua pipi Louis bergantian.


“Dari mana kau mendengar kata- kata itu, Anak nakal! Apa ayahmu yang mengajarimu?” Tanya Louis memangku Alice.


“Aku melihatnya di TV.” jawab Alice.

__ADS_1


“ dan aunt Elena sifatnya sangat mirip dengan penyihir yang sering aku tonton.” jawaban Alice membuat Louis tertawa.


“ oh, iya dan pangeran di film tersebut mirip dengan seorang anak laki- laki yang aku temui, uncle.”


“Laki- laki?”


“Emm. Ia sangat tampan dan Alice menyukai nya. Alice bertemu- saat Alice mengadakan kemah tahunan di sekolah, Uncle. Sayangnya, aku belum tahu nama anak itu.” jawab Alice dengan berbinar.


“Anak kecil! Jangan memikirkan soal asmara atau ayahmu akan menangis- mendengarmu memuji soal pria lain- selain ayahmu.”


“Menangis? Oh, ayolah, uncle- daddy terlalu besar untuk menangis.” jawab Alice hanya tertawa. Namun tak lama kemudian menjadi murung.


“Hei! Keponakan uncle- kenapa murung? Hem? Apa ada yang menganggumu.” heran Louis melihat Alice yang murung.


“Em..,” menggeleng.” aku hanya merindukan aunt Agatha.” Ucap Alice lirih.


“Aunt Agatha”? Heran Louis. Alice mengangguk.


‘Oh, iya. Aku lupa bilang pada Alice soal Agatha.’ Batin Louis.


“Alice kangen aunt Agatha?” Tanya Louis.


“Ehm.” Alice mengangguk.


“Baiklah, habiskan makan siang mu dulu baru aku bawa kau ke tempat Aunt Agatha.” ucap Louis menenangkan Alice.


“Benarkah? Uncle sudah menemukan aunt?” tanya Alice dengan riang.


“Ya, ia bahkan memiliki jagoan kecil sekarang.”


“Jagoan? Apa itu anakmu dengan aunt?


“Bukan. Itu hanya anak asuh. Sudahlah, nanti kau juga akan bertemu dengannya. Andre, bawakan makanan yang kupesan untuk Alice.” pinta Louis.


“Nona kecil, ini camilanmu.” Ucap Andre memberikan kue kesukaan Alice.


“Uncle, kau yang terbaik.” Ucap Alice senang.


“He he.” Andre hanya tertawa.


“Kau bisa bersikap selayaknya seorang paman kepada Alice, namun masih memanggilku tuan.” Heran Louis.


“Bukankah aku masih memanggil nona Alice dengan nona kecil?” Bantah Andre.


“Ya ya. Panaskan mobil, setelah makanan Alice habis- kita menemui Agatha.” ucap Louis malas berdebat.


“Siap.”

__ADS_1


__ADS_2