
Sementara itu di rumah sakit, tempat Alice di rawat.
“Ed?”panggil Alice.
“ ya, nona?” heran Ed.
“ kau tidak menjamu Klien?” heran Alice.
“ sudah ada Irish yang menjamu, nona. Saya bertugas untuk membantu tuan Axel menyusun berkas.” ungkap Ed.
“ begitu? Aku dengar Klien kita kali ini dari Jepang?” tanya Alice.
“ ya?” heran Ed.
“apa tidak apa- apa?” ucap Alice.
“ maksud anda?” heran Ed.
“ Irish itu allergic terhadap Seafood. Padahal, hampir semua makanan khas Jepang itu selalu menggunakan ikan laut, bukan?” pertanyaan Alice membuat Ed terdiam.
“ Kalau begitu, saya ijin pulang dulu, nona. “ucap Ed bergegas pulang. Melihat Ed yang bergegas pulang Alice hanya tersenyum.
“ kemana Ed, sayang?” heran Axel yang baru keluar dari toilet pribadi di kamar rawat inap Alice.
“ pulang. Aku rasa ia mengkhawatirkan Irish.” ucap Alice tersenyum.
“ ?” heran Axel. Ia tidak tahu soal Ed adalah pria yang di sukai Irish. Ataupun wanita itu yang mengira Ed adalah Gay.
Axel memang tahu jika Ed gay. Jika tidak, mana mau Axel membiarkan istrinya berdua dengan seroang pria.
Apa lagi Alice dan Ed seumuran.
__ADS_1
Awalnya, Alicepun mengira Ed gay. Pra itu seolah tidak tertarik pada Alice dan hanya fokus pada pekerjaannya dan tugasnya. Namun, melihat Ed yang mengkhawatirkan Irish membuat Alice yakin jika pria itu tidak gay. Mungkin, karena hati Ed hanya tertuju pada satu nama yang membuat pria itu tidak melihat wanita lain di sisi nya.
*🌸🌸*
Sementara itu, tampak jika Ed tengah melajukan motor nya menuju kediamannya.
Setelah sampai di kediamannya, dengan tergesa ia meletakkan helm nya dengan sembarangan di sofa ruang tamu dan bergegas menuju kamarnya mencari obat yang ia maksud.
Di rasa apa yang di carinya telah ia temukan. Ia bergegas mengambil Helmnya lagi dan bergegas menuju motornya dan melajukan motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi menuju tempat di adakannya jamuan makan untuk menjamu klien bisnis SC Lee.
*
“ Apa? Jamuan makan telah usai?” heran Ed dengan keringat yang masih mengalir deras karena tergesa- gesa menuju ruangan di adakan jamuan.
“ ya.” ucap salah satu pengawal yang menemani Irish.
“ lalu? Kemana Irish?” heran Ed.
Ed menggertakkan giginya. Ia berharap Irish akan baik- baik saja. Ia berharap jika allergic wanita itu tidak parah dan hanya akan menimbulkan ruam biasa.
Ed memilih bergegas kembali menju motornya di parkirkan dan melajukan motor itu menuju kediaman Irish di luar kota.
Sesampainya di kediaman yang di sediakan untuk Lionel dan Irish- Ed hanya menatap rumah dengan hanya satu lantai tersebut. Ini sudah malam. Lionel pasti akan bertanya macam- macam jika Ed datang hanya untuk memberi obat untuk meringankan Allergic.
Apa lagi Lionel hanya tahu jika Ed adalah Gay. Seakrab- akrab seorang teman atau kakak- tidak mungkin sampai rela jauh- jauh, datang- hanya untuk memberikan obat.
Setelah menghela nafanya, Ed memilih menyusup ke kamar Irish yang di yakini pria itu tempatnya berada.
“ Irish?” panggil Ed dengan perlahan. Lampu kamar wanita itu gelap. Namun, Ed masih dapat melihat siluet wanita yang di yakini Ed adalah Irish- sedang berbaring di ranjangnya. Wanita itu memang terbiasa mematikan lampunya ketika tertidur.
“ Irish?” panggil Ed sekali lagi. Namun, karena tidak ada jawaban, Ed memilih menerobos masuk membuka Jendela tanpa teralis besi tersebut.
__ADS_1
Ed sedikit terkejut mendengar nafas yang tersengal- sengal yang di yakini pria itu adalah suara nafas Irish.
“Irish!” Ed segera memapah tubuh wanita itu- membuat Irish dalam posisi terduduk agar wanita itu lebih dapat leluasa mengisi Oxygen yang seolah terasa berat- memenuhi paru-parunya.
“Irish! Cepatlah minum ini!” ucap Ed memberikan obat untuk Allergic yang di derita Irish. Sialnya, wanita itu sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Akan sangat bahaya jika di biarkan begitu saja- mengingat Irish yang sudah mulai kesusahan bernafas.
Dan, jika kalian bertanya, mengapa Lionel tidak mengetahui Irish yang sakit, tentu karena jarak kamar Irish dan Lionel yang berjauhan. Apa lagi, Irish yang bergegas ke kamarnya setelah sampai di rumahnya.
Beruntung ada segelas air di samping nakas tempat tidur Irish. Ed pun berinisiatif menelankan obat untuk Irish- kemulut wanita itu dan meminumkan air minum ke mulut Irish melalui mulut Ed.
Ya, Ed mencium Irish.
Dan, cara yang selalu di tampilkan di komik-komik atau manga ternyata cukup berhasil untuk membuat Irish meminum obatnya.
Ed menatap wajah Irish. Bahkan, meski dalam keadaan gelap gulita sekalipun, Ed masih dapat melihat wajah cantik Irish dari dekat. Ya, saat ini,meski wanita itu telah meminum obatnya, bibir Ed masih enggan lepas dari bibir Irish.
Ia masih ingin mengecap manisnya bibir ranum gadis belia tersebut. Hasrat kelelakian Ed meminta lebih jauh lagi dan tak cukup rasanya hanya sebuah ciuman saja.
Ed mulai menggerakkan bibirnya, mengecap bibir Irish yang terasa manis.
Tanpa sadar, Ed mulai menjatuhkan tubuh Irish dan mulai menuntut lebih. Pria itu bahkan mulai bertukar Saliva dengan Irish dan mulai mengabsen setiap rongga di mulut Irish.
“ uh!”di rasa Irish melenguh kecil, Ed memilih menyudahi permainannya. Ia memilih menghapus jejak bibir Ed di bibir Irish dan menyapu bibir Irish, mengecup bibir itu perlahan dan memilih meninggalkan Irish yang mulai tenang.
Ya, Ed memang bukan Gay. Ada alasan mengapa ia memilih berkata Gay.
Alasan lainnya tentu agar mempermudah pekerjaannya. Seperti saat ia di haruskan di tugas kan menjaga istri orang. Ed akan memilih berkata ia Gay daripada terus menerus di curigai suami dari istri yang harus Ed jaga.
Apa lagi jika suami nya type pria posesive seperti Axel.
...Dan alasan utamanya adalah....?...
__ADS_1