
Akhirnya, hari itu juga Alicepun pulang kembali kekediamannya.
“ Alice kau tidak apa- apa?” tanya Axel ketika melihat Alice telah sampai ke rumah mereka.
“...” Alice hanya terdiam- seolah sedang berhadapan dengan orang asing.
Pria itu menyadari ada yang berubah di diri Alice. Ya, kemana senyum Alice? Senyum yang selalu menghiasi wajah itu telah hilang- bahkan keceriaan yang biasa wanita itu berikan. Namun, Axel membiarkan- mungkin apa yang telah terjadi membuat trauma tersendiri bagi Alice. Yang membuat Alice tidak bisa kembali ceria seperti biasanya.
Yang pria itu tidak sadari adalah; rasa kecewa lah yang membuat senyum dan keceriaan Alice menghilang.
“ maaf, aku tidak bisa menolongmu saat itu, aku.., aku.” Axel bingung mau menjelaskan apa. Tidak mungkin juga menjawab tidak sempat menolong Alice karena memilih menunggu Fiona atau tidak menolong Alice karena mengira ucapan Alice hanya candaan wanita itu.
“ tidak apa, aku mengerti.” mulut Alice berucap seperti itu.
‘ aku mengerti, Axel. Dengan apa yang kau lakukan- menjelaskan segalanya.’
‘ kau.., tidak pernah menganggap apapun yang aku ucapkan.’
Bahkan..., perasaan yang pernah aku ucapkan..,
Aku menyerah Axel- aku menyerah.’
Namun hati Alice berkata lain.
Ia tahu jika Axel tidak menyukai gadis itu, namun..., Alice tak percaya jika Axel tidak menolong Alice saat gadis itu membutuhkan Axel.
Sekarang ia tahu, apa arti dan nilai dirinya bagi Axel;
__ADS_1
Ia
Tidak
Berharga.
Semenjak saat itu ia tahu- apapun yang ia lakuman takkan pernah di lihat oleh Axel. Tubuhnya terluka, harga dirinya juga terluka dan kini, hatinya lebih merasa terluka dan kecewa. Ia lelah.
Dan keputusan terbesarnya adalah..., menyerah akan perasaannya akan Axel.
tubuhnya hancur, harga dirinya hancur- hatinya lebih hancur lagi.
*
Sejak saat hari- hari Axel terasa sepi. Ia menyadari jika Alice yang selalu mengganggunya- entah yang tiba- tiba masuk kekamar pria itu atau yang selalu mengikuti kemanapun pria itu melangkah- tidak lagi pernah mengganggunya.
Axel sendiri tidak pernah mengunjungi Alice sedikitpun.
Ia merasa bersalah dan belum menemukan alasan yang tepat untuk meminta maaf pada Alice
Dan tanpa Axel sadari- Alice yang tak lagi mengganggunya karena hatinya yang terlanjur terluka.
Ia memilih berhenti mengejar jarak antara dirinya dengan Axel dan mulai memilih menjauh.
Ia tak ingin lagi berharap.
Karena ia tahu semakin ia berharap semakin gadis itu akan terluka.
__ADS_1
Sama seperti ia yang berharap Axel akan menyelamatkannya. Namun bahkan sampai Alice kehilangan harga dirinya pun Axel tak kunjung datang untuk Alice- bahkan menenangkan pun tidak.
Alice mulai beranjak dari kasurnya.
Membuka baju- bajunya yang cantik dan gemilau. Ia suka baju yang terlihat feminine dan imut- karena Axel selalu melihat Fiona yang feminine dan imut. Dan sejujrnya, Alice sadar- seberapa gadis itu berusaha pun, Axel tidak akan melihatnya.
“ mau kau bawa kemana baju- baju itu?” tanya Freya.
“ sumbangkan ke panti asuhan.” ucap Alice.
Freya membiarkan, karena- setelah sekian lama- akhirnya Alice mau bangun dari tempat tidurnya.
Tampak semua baju ia kemas ke dalam kerdus. Ia pun membuka baju- baju lama milik ibunya.
Sederhana, namun tampak mempesona. Alice kecil selalu ingin seperti sosok ibunya saat dewasa nanti- namun, hal itu terkubur karena Alice selalu melihat sosok wanita yang terlihat Feminine lah yang selalu di lihat Axel.
Alice sendiri tidak menyangka jika ia akan kembali mengubur keinginan itu dan kembali pada sosok yang di impikannya- sosok yang mirip dengan ibunya.
Alice kemudian membuka beberapa baju yang masih layak di pakai untuk dimasukkan kelemari dan yang sudah berdebu akan Alice cuci.
Melihat Alice mulai mau kembali keluar dari kamarnya bahkan mulai berani keluar dari rumah- membuat Axel yakin jika sebentar lagi keceriaan gadis itu mulai pulih.
Namun, bahkan saat Alice mulai kembali berkuliah pun, Axel sadar jika keceriaan Alice tidak sama seperti dulu.
Dan entah mengapa, sejujurnya Axel rindu sifat Alice yang ceria, semangat dan pintar.
Ia masihlah Alice yang pintar- namun ia tidak pernah menganggu Axel lagi yang secara tiba- tiba memasuki kamar Axel seenaknya meski pria itu selalu melarang Alice masuk kekamarnya.
__ADS_1
Dan Axel sadar, bahkan ketika Alice berkumpul bersama teman- temannya pun, senyum Alice tidak lagi terlihat.