Affair With My Ex-wife

Affair With My Ex-wife
Emisi nokturnal


__ADS_3

“ ugh!” lenguh Felix.


“ A...H!” Felix terbangun secara tiba- tiba saat sadar apa yang telah di mimpikannya.


Ya, ia mimpi bercumbu dengan seorang wanita. Dan gilanya adalah; ia dapat merasakan sensasi nyata dari mimpi tersebut. Seolah; ia dapat merasakan hangat kulit wanita yang di cumbunya dalam mimpi, suara sexy nafasnya, saat kulit mereka bergesekan satu sama lain, Saat mereka bertukar saliva dan udara.


Namun, saat wanita dalam mimpir pria itu itu menyebut nama Felix; entah bagaimana yang terbayang adalah istri kecilnya. Hingga membuat pria itu secara sadar mengembalikan seluruh jiwanya kedunia nyata.


Pria itu lantas membuka selimutnya.


Tampak jelas jika celananya telah kotor oleh pelepasan miliknya.


‘ sial!’ batin Felix malu.


🌸


“ mau kau bawa kemana selimut dan sprei itu?” tanya Freya kala melihat suaminya membawa selimut dan sprei yang di dalamnya tersembunyi celana yang kotor.


“ di cuci.” ucap Felix malu- malu.


“ letakkan saja di ranjang pakaian kotor, nanti aku akan mencucinya.” jelas Freya mencoba mengambil selimut dan sprei yang di bawa Felix.


“ ti.., tidak perlu, aku akan mencucinya sendiri.” ucap Felix mencoba menghindar.


“ ?” heran Freya akan tingkah suaminya. Baru kemarin suaminya terlihat dingin, lantas, mengapa hari ini terlihat bersikap takut- takut?


Setelah mencuci celananya dan sedikit menyikat noda membandel yang sudah kering- Felix lantas menjemurnya. Setelah di rasa masalahnya beres- pria itu segera masuk dan melihat Freya yang menyesap coffee hitamnya sambil menonton TV. Namun, tampak jika makanan untuk Felix sarapan telah tersaji di meja makan.


Bacon dan sandwich sayuran dengan telur goreng.


“ Frey.” panggil Felix sambil menumpahkan saus tomat dan mayonaise ke sandwich nya.


“ hem?” tanya Freya.


“ kemarin..”


“ ada apa, kak?” tanya Freya.


“ kemarin.., terima kasih karena kau masih maenyediakan makanan untukku dan maaf, karena kata- kataku sudah menyinggungmu.” ucap Felix mengusap tengkuknya.


“ tidak masalah. Lagi pula aku paham. Kita menikah bukan karena keinginan kita namun karena di jodohkan.” ucap Freya menatap ke arah coffee hitamnya. Bohong jika hatinya tidak merasa sakit.


“ Frey.” panggil Felix lagi. Mencoba menggigit sandwich nya.


“ hem?”


“ kemarin, kenapa kau mandi semalam itu?”


“ hem?” heran Freya.


“ kemarin aku terbangun karena lapar. Saat itu, jam masih menunjukkan 3 pagi, lalu, mengapa kau mandi sepagi itu? Kau terbiasa mandi sepagi itu?” heran Felix.


“ kemarin, karena aku belum selesai menonton film. Aku meminta di kirimkan film yang sama dengan yang di tonton kemarin.” jelas Freya.


“ kau menonton selama itu?” heran Felix.


“ tentu saja tidak. Aku masih meneliti kembali tugas kelompokku, aku rasa, aku baru selesa jam 1 kemarin. Namun, saat aku berniat mengirimkan tugas itu melalui email- aku juga dapat email dari temanku. Awalnya, aku hanya ingin menonton sebentar, siapa yang menyangka jika hari sudah terlalu pagi- baru aku menyelesaikan menontonku. Aku teringat jika aku belum mandi. Dan aku type yang tidak bisa tidur jika tubuhku tidak dalam keadaan bersih. Jadilah aku mandi sepagi itu.” jelas Freya panjang lebar.


“ ooo.” ucap Felix ber o ria.


“ tapi...”


“ kenapa?”


“ kenapa kakak bisa tahu aku mandi semalam itu, kak?” tanya Freya. Namun sesaat kemudian- setelah menyadari sesuatu Freya lantas tersenyum lebar membuat Felix merona.


“ tidak apa- apa, aku tahu kakak pria normal.” ucap Freya menepuk bahu suaminya.


“ pastikan kakak mencuci celana dan sprei juga selimut kakak dengan citric acid- jika tidak, nodanya akan membekas.” kekeh Freya.


“ Freya!” ucap Felix memekik.

__ADS_1


🌸 di tempat lain🌸


“ kau sudah dengar apa yang di katakan kekasih menantumu? Apakah kau ada ide rencana?” tanya Agatha kepada Louis.


“ kenapa kau bertanya padaku?” tanya Louis.


“ aku masih ingat jika kaulah yang menyusun rencana untuk..., uhuk, membongkar rencana Elena dan Lionel.” ucap Agatha sedikit tidak enak menyinggung karena ada orang yang bersangkutan- secara tidak langsung.


“ tidak perlu sungkan nona, saya paham.” ucap Irish sambil menyuapi Mpasi untuk Gavin.


“ lalu? Apa kau ada rencana?” tanya Andre.


Mendengarnya membuat Louis berpikir.


Sampai Gavin telah selesai makan pun, Louis masih tampak berpikir. Setelah selesai makan, Gavin turun dari pangkuan ibunya dan mencoba berjalan ke arah Andre.


“ Grandpa, gendong.” ucap Gavin langsung menarik celana Andre.


“ ya ya.” ucap Andre langsung memangku Gavin. Tak heran jika Gavin dekat dengan Andre- pria itu sendiri sudah menganggap Irish sebagai putrinya, itu sebabnya, iapun memperlakukan Gavin seperti cucu nya sendiri. Bahkan terkadang, Lionel suka iri saat melihat kedekatan Andre dengan cucu kandungnya itu.


“ kau sudah cocok menjadi seorang grandpa.” kekeh Louis.


“ bukankah Daisy juga seumuran dengan Irish, dan Freya? Aku hanya mendengar jika ia bersekolah di Korea.” tanya Agatha.


“ dia masih sekolah. Dan aku dengar dia masih fokus mengenyam pendidikannya, jika ia sudah memiliki kekasih dan berniat menikah, aku tidak akan melupakan untuk mengundang kalian.” jelas Andre.


“ masalah rencananya bagaimana Tuan?” tanya Irish mengingatkan.


“ kalau begini bagaimana? Kita ambil dari pelajaran kisah kita sebelumnya. Rasa kecewa akan membuat menjauh.” jelas Louis.


“ aku mengerti, jadi saat Freya mulai menjauh itu sekaligus untuk melihat apakah suaminya mencintainya atau tidak.” ucap Andre mulai mengerti.


“Ya, jika Felix memang mencintai Freya, biarkan mereka tetap bersama, namun jika tidak- biarkan mereka berpisah. Itu lebiih baik dari pada Freya kita terluka.” ucap Louis menyesap coffee hitamnya.


“ tapi jika begitu, itu tidak akan membuat jera rubah itu.” ucap Agatha kurang setuju.


“Ed, kau bisa membuat obat agar seolah kita memiliki masalah pada ginjal kita?” tanya Louis mengalihkan.


“Kurasa aku bisa membuatnya.” ucap Ed mengambil Gavin dari pangkauan Andre dan menggendong putranya itu.


“Kita buat seolah rubah itu sakit ginjal atau gagal ginjal. Saat seperti itu, pastilah rubah itu akan merayu Felix agar mau mencarikan ginjal untuknya. “ jelas Louis.


“Kau mau mengorbankan anak kita?” Ucap Agatha tidak setuju.


“Itu sebabnya, aku meminta Ed membuatkan obat agar orang yang mengonsumsi obat tersebut akan merasakan gejala mirip dengan gagal ginjal- tidak benar- benar sakit ginjal. Tidak ada ginjal siapapun yang akan di korbankan, kita hanya perlu membuat Freya kita merasa kecewa pada Felix. Dengan begitu, pastinya, Freya akan menjauh dengan sendirinya.” jelas Louis.


“Bukankah itu berarti kau akan membuat anak kita juga meminum obat buatan Ed? Ia tetap akan menderita.” ucap Agatha tidak setuju.


“Tentu saja tidak. Kita ajak kerja sama dokter. Kita buat seolah- olah Freya akan melakukan operasi, padahal sesungguhnya, kita hanya akan memberinya obat bius.” jelas Louis.


“Apakah dokter mau bekerja sama? Mereka memiliki kode etik mereka sendiri.” ucap Andre yang paham akan cara kerja dokter agar tidak melanggar sumpah dokternya.


“Jaman sekarang, uang lebih penting dari pada kode etik. Jika tidak begitu, malapraktek di luar sana tidak akan merajalela.” ucap Louis dengan tawa remeh.


“Kurasa idemu bagus juga, kita sekalian melihat, siapa saja para dokter gendut itu yang rela melanggar kode etiknya.” Otak keadilan Andre mulai bekerja.


“Tapi seandainya, mereka mematuhi kode etik mereka bagaimana?” Irish mulai berbicara.


“Tidak masalah, tentu saja biarkan mereka memeriksa apa adanya. Obat buatan Ed tidak akan bisa di deteksi oleh tenaga medis modern. Baru saat sebelum operasi- kita akan menjelaskan duduk perkara yang sesungguhnya.” ucap Andre mulai paham rencana adik kandungnya itu.


“Lalu? Rencana setelahnya? Bagaimana membongkar kebusukan rubah itu?” tanya Agatha.


“Sepandai- pandainya orang menutupi bangkai baunya pun tetap akan tercium. Kita tinggal menunggu wanita itu menunjukkan kebusukannya, dan saat itu, biarkan Felix melihat sendiri, bagaimana busuknya wanita itu.


Sisanya, biarkan Freya sendiri yang memutuskan, apakah tetap mau bersatu atau tiidak.” jelas Louis.


Pria itu memang tidak secermat Agatha, namun kepintaran Fransiscus jelas terlihat dari diri Louis.


“Hati seseorang itu ibarat gelas yang pecah. Butuh waktu lama untuk memperbaiki nya agar kembali seperti semula. Bagaimana perjuangan Felix agar menyatukannya kembali- yang akan mengukur seberapa besar cinta pria itu kepada Freya.” jelas Louis.


“ kuang lebih, butuh waktu berapa lama agar kau bisa membuat obat yang di maksud?” tanya Andre kepada Ed.

__ADS_1


“ kurang lebih satu sampai dua bulan. Aku masih harus mencari bahan baku obatnya. Meraciknya, sampai menguji coba nya.” jawab Ed.


“ itu cukup. Kita juga perlu menemukan bukti lain soal kebusukan wanita itu.” jelas Agatha.


Sementara itu, di lain tempat.


Freya yang awalnya ceria dan masih sempat menggoda suaminya kini hanya terbaring di kasur seharian.


Padahal, biasanya, wanita itu akan berada di belakang meja belajarnya atau melihat laptopnya.


Merasa aneh, Felix pun melihat ke kamar istrinya dan melihat wajah pucat istrinya.


“ kau sakit?” tanya Felix.


“ tamu bulananku datang.” jelas Freya.


“ tamu?” heran Felix.


“ aku sedang period kak.” jelas Freya.


“ kau mau aku buatkan ginger tea?” tanya Felix, aneh juga melihat wanita yang biasanya ceria dan selalu usil kepadanya- terlihat pucat Dan hanya diam di kasur.


Tampak jika Freya hanya mengangguk. Akhirnya, Felix menuju dapur dan mencoba mencari dimana bumbu dapur biasa di simpan.


Felix tidak pernah ke dapur, selama ini, meski mencoba tidak menggunakan sepeserpun uang keluarga Nelson- Felix tidak pernah memasak. Ibunya lah yang selalu memasak untuk pria itu dan keluarganya.


“ yang mana yang jahe? yang mana yang kunyit? Kenapa semuanya sama saja di mataku?” ucap Felix mencoba mencari Jahe untuk membuat ginger tea.


“ yang pasti yang orange ini bukan jahe.” ucap Felix mencoba merebus yang ia rasa adalah Jahe.


Selang berapa lama, air sudah mendidih, namun, harum wangi jahe tak juga tercium.


“ kenapa baunya tidak seperti bau jahe? Ah! Mungkin karena jahe ini masih muda.” heran Felix memilih menuangkannya ke dalam gelas. Lalu membawanya ke kamar istrinya yang tertidur sambil meringkuk di bawah selimut.


“ Frey!” panggil Felix.


“ hem?” heran Freya.


“ ini ginger tea nya, cobalah.” ucap Felix memberikan segelas minuman hangat.


Sruput! Freya mencoba mencicipi minuman yang di buat suaminya.


“ uhuk!” Freya terbatuk karena sadar jika yang ia minum bukanlah jahe.


“ pelan- pelan, Frey.” ucap Felix menepuk bahu istrinya.


“ kakak Felix! Yang kau rebus ini Lengkuas!” ucap Freya masih terbatuk- batuk.


“ memangnya beda?” heran Felix.


“ ini agar daging tidak amis kakak. Dari bau dan bentuk kan juga beda.” jelas Freya.


“ aku.., aku mana tahu bedanya. Mereka semua sama di mataku.” ucap Felix berdalih.


“ biarkan aku tidur dulu. Nanti, aku akan mengajarimu tentang bumbu- bumbu itu.” ucap Freya kembali berbaring membuat Felix merasa bersalah. Melihat istrinya kembali berbaring membuat pria itu memilih beranjak dari kamar istrinya.


“ kak.” panggil Freya.


“ hm?”


“ apa kau bisa membedakan mana itu gula atau garam?” tanya Freya.


“ tentu saja! Aku tidak sebodoh itu.” kesal Felix.


Mendengarnya membuat Freya kembali meletakkan kepalanya di bantal.


“ garam itu asin dan gula manis.” ucap Felix dengan suara pelan.


‘ ada yang bilang jika orang bodoh dan pintar itu bedanya cuma seperti sehelai kertas ternyata benar.’ bisik Freya.


“ kau sedang mengataiku?” tanya Felix dengan telinga supernya.

__ADS_1


“ te.., tentu saja tidak. Kalau sudah selesai, biarkan aku tidur.” ucap Freya menggelengkan kepalanya.


‘ aku lupa jika ia memiliki telinga super. Ini mengingatkan aku, saat ia masih menjadi dosen killer. Teman- teman bahkan berbisik dan ia masih dapat mendengar suara bisikan teman- temanku.’ batin Freya yang ingat jika kelas Felix di mulai suasana kelas pasti menjadi sangat sunyi.


__ADS_2