
“ aku tidak menyangka jika anak- anak perempuan ku sangat pintar, sebelumnya Freya berhasil mewakili sekolah kita dalam lomba Fashion design dan sekarang Alice pun memenangkan perlombaan membuat iklan pendek terbaik satu angkatan kalian.” ucap Agatha senang.
“ tapi, kenapa universitas kita sangat tidak adil? Saat perlombaan fashion design yang kuikuti menang- bahkan setelahnya tidak ada perayaan apapun dari kampus. Hanya ada upacara penyerahan piagam penghargaan dan hadiah secara kecil- kecilan.” kesal Freya.
“ karena kemenangan perlombaan ini juga bertepatan dengan ulang tahun kampus kita.” ucap Axel bersiap- siap.
“ ya, aku dengar, selain di adakan pesta di sebuah hotel yang cukup mewah pihak kampus kalian juga menyediakan kamar untuk bersiap- siap jika para mahasiswanya nanti mabuk bukan?” tanya Louis.
“ sebenarnya itu tidak perlu, aku akan memilih langsung pulang dari pada menginap di hotel. Namun karena sudah di sediakan akan sayang sekali jika tidak di gunakan.” ucap Freya.
“ ingat! kau ini masih berumur 15 tahun. Masih belum boleh minum Alcohol.” ucap Louis mengingatkan.
“ lalu kenapa si bodoh Axel dan sis Alice boleh?” kesal Freya.
“ mereka sudah dewasa, Frey.” jawab Agatha mengingatkan anak gadisnya yang keras kepala.
“ kau tidak dandan? Ale?” tanya Agatha.
“ aku nanti akan berdandan dengan satu angkatanku, Aunt. Karena nanti kita akan menerima piagam penghargaan dan naik ke atas panggung- bersama- sama.” ucap Alice tersenyum. Axel tahu Alice tengah tersenyum sekarang.
Namun, entah bagaimana ia tetap merasa ada yang berbeda dengan senyum Alice.
Bibir Alice tersenyum, namun tidak dengan matanya.
“ baiklah, kalau begitu ayo kita berangkat.” ucap Louis bersiap mengantar Alice, Axel dan Freya. Karena mereka menggunakan baju Formal- akan sangat aneh jika mereka menuju tempat pesta dengan berjalan kaki.
Sejujurnya, Louis ingin membelikan Axel sebuah kendaraan agar gampang pulang dan pergi ke kampus ataupun pergi kemanapun dan pergi menjemput Alice atau Freya. namun Axel selalu menolaknya dengan alasan merepotkan.
‘ bukankah lebih merepotkan jalan kaki?’ batin Louis.
__ADS_1
Ya sejujurnya, Axel hanya enggan karena telah menerima begitu banyak dan belum tentu bisa membalas apa yang di lakukan Agatha dan Louis untuk Axel.
*
Satu hal yang Axel kesal ketika ia naik mobil bersama dengan Agatha dan Louis tentu saja karena mobil mereka selalu menarik perhatian. Bukan hanya mobil mewah mereka- tentu saja yang menarik perhatian adalah keluarga Fransiscus itu sendiri.
‘ Axel, yang mengantarmu tadi benar adalah tuan dan nyonya Fransiscus?’
Atau
‘ Axel, kenalkan keluargaku dengan keluarga Fransiscus.’
Atau
Ada juga yang meminta tolong untuk masuk ke perusahaan Fransiscus.
Bahkan meski Axel telah masuk ke gedung pesta dan tidak menghiraukan mereka pun, para orang- orang yang menamai mereka teman Axel tetap mengerumini Axel bagai lalat karena hanya bertanya soal yang sama.
Kesal, Axel memilih mencicipi Wine yang di sediakan.
Tak heran, kebanyakan orang- orang yang mendekati keluarga Fransiscus tidak ada yang benar- benar tulus karena ingin dekat.
Dan satu- satunya yang dapat mengalihkan perhatian Axel adalah saat- saat kelas Design komunikasi Visual di panggil untuk mendapatkan piagam penghargaan dan hadiah dari kampus.
Bukan karena hadiah nya yang mengalihkan perhatian Axel. Satu- satunya yang mengalihkan perhatian Axel adalah; melihat sosok Alice berjalan dengan anggunnya menuju dosen yang akan memberinya piagam penghargaan dan hadiah karena telah mengharumkan nama universitas mereka. Axel menyadari sosok Alice yang tampak berbeda.
Ia berdandan?
Saat itu, rambut panjangnya di gulung sedemikian rupa dan masih menyisakan sedikit rambut di depan telinganya. Wanita itupun sedikit mengaplikasikan riasan pada wajahnya yang membuat wajah cantik Alice semakin terlihat cantik.
__ADS_1
Gaunnya yang melekat di tubuhnya mengekspose tubuhnya yang memang sudah jenjang, dadanya yang besar dan tubuhnya indah. Axel menyadari jika pinggang Alice sedikit mengecil dari pada biasanya, mungkin karena beberapa hari ini wanita itu tidak nafsu makan.
Namun rasa kagum itu seketika berubah menjadi kesal.
Tak heran, belahan dada Alice sedikit rendah dan hampir mengekspose setengah dada nya. Ralat, sebenarnya gaun itu tertutup, namun hanya di bagian setengah dada dan pundak saja yang menggunakan kain tenun tipis yang memang bertujuan memperlihatkan pundak Alice dan dada wanita itu yang memang bagus.
Axel semakin kesal karena mengetahui jika yang perhatiannya teralihkan bukan hanya dirinya namun semua pria yang sedari tadi mengerubungi pria itu.
“ bukankah tadi perhatian kalian tertuju kepadaku? Kenapa tiba- tiba secara serentak memandang ke arah Podium?” kesal Axel.
“ Axel, bukankah salah satu wanita yang naik kepodium itu adalah kakak sepupumu?” tanya salah seorang di sana.
“ya.” jawab Axel malas.
“ apakah ia sudah memiliki kekasih?” tanya para pria itu.
“ tidak. Dan kurasa ia tidak akan memiliki kekasih. Ia baru saja mengalami Trauma.” ucap Axel mencoba membuat semangat para pria itu layu.
“ begitu? Siapa tahu aku bisa mengobati trauma sepupumu dengan ketampananku?” celoteh salah seorang pria itu dengan wajah merona.
Kesal? Sangat kesal. Bahkan Axel sampai mengepalkan tangannya sampai buku- buku tangannya pun memutih karena saking eratnya Axel mengepalkan tangannya.
Namun perhatian Axel sekali lagi teralihkan saat melihat Alice yang tidak menikmati pesta kampusnya dan memilih untuk menuju kamar yang sudah di sediakan pihak kampusnya.
...Maaf jelek ya ini alasan author lebih memilih jadi novelis😢...
...Btw ini gambar kira2 penampakan gaun alice...
__ADS_1