Affair With My Ex-wife

Affair With My Ex-wife
Kebetulan


__ADS_3

Tenda selesai di dirikan. Acara kemah selanjutnya di lalui dengan apel dan absent setelah itu beristirahat sebelum akhirnya berkumpul untuk mengelilingi api unggun dan bergabung dengan sekolah lain yang sama- sama mengikuti camp pelatihan mandiri.


Axel berniat untuk buang air kecil sebelum menyusul teman- temannya istirahat. Namun, di tengah perjalanan setelah dari kamar mandi umum- Axel melihat sesosok anak perempuan di ganggu. Ternyata yang namanya boss genk yang sok berkuasa itu bukan hanya terjadi di sekolahnya namun semua sekolah.


‘ ada apa dengan pikiran anak kecil jaman sekarang?’ batin Axel jengah.


“ apa yang hendak kalian lakukan?” heran Axel.


“ jangan ikut campur, kami anak nol besar tahu.” ucap salah seorang anak laki- laki dari sekolah yang berbeda dengan Axel.


“ apa bedanya? Sama- sama anak kecil.” ucap Axel menyilangkan lengannya.


Karena tahu Axel hendak menolongnya, anak perempuan yang di ganggu itu berlari menuju Axel dan bersembunyi di belakangnya.


“ aku mohon tolong aku.” ucap gadis muda itu.


“ hais! Merepotkan.” ucap Axel malas.


“ ha ha! Alice, bahkan anak itu takut padaku.” ucap pria kecil itu- hendak menuju gadis yang bersembunyi di belakang tubuh Axel. Namun secepat kilat, Axel menggandeng tangan gadis kecil itu dan menghindari tubuh pria kecil yang mengganggu gadis kecil itu


“Tapi aku bukan pria sejati jika membiarkan anak perempuan di ganggu.” ucap Axel malas.


Antara takjub dan kaget membuat para pria kecil dan gadis kecil itu terdiam.


Dan tak terelakkan lagi, pria kecil yang hendak mengganggu Axel tersebut malah terjatuh karena kehilangan keseimbangan.


Dan tepat pada saat itu ada guru yang terlintas melintas di dekat mereka.


“ boss.., boss. Ada guru datang kemari, lebih baik kita segera kembali ke tenda dulu dan membersihkan mukamu.” ucap pria kecil yang di yakini Axel bawahan pria kecil yang mengganggu gadis kecil yang di lindungi Axel. Sementara pria kecil yang di yakini boss genk mereka hanya terdiam- mungkin menahan tangis karena malu.


Setelahnya, ke tiga pria itu pergi membawa pria kecil yang melawan Axel. Tampak jika pria kecil itu hendak menangis namun ia tahan. Hanya tampak air mata yang mengenang dan hampir tumpah berikut ingusnya.


“ te.., terima kasih.” ucap gadis kecl itu menunduk memberi hormat sebagai rasa terima kasih.


“ tidak apa, sudah menjadi kewajiban bagi seorang pria melindungi wanita.” ungkap Axel hendak kembali ke kelompoknya.


“ aaa.. itu.... nama ku Alice Fransiscus. Siapa nama mu?” tanya Alice.


“ Fransiscus?” heran Axel.


“ ya. Ada apa dengan nama keluarga ku ini?” heran Alice.


“ tidak, namamu mengingatkan aku pada pria menyebalkan yang bagai ulat bulu menempel pada mama ku.” ucap Axel. Dapat di tebak jika saat ini Louis sedang bersin- bersin tanpa sebab- sekarang.


“ ulat? Itu menggelikan.” ucap Alice merinding geli.


“ tenang, aku tidak takut serangga.” ungkap Axel menepuk dadanya.


“ kalau begitu aku pergi dulu.” ucap Axel gampang meninggalkan Alice karena mereka berbeda lokasi tenda.


Sementara itu di lain tempat.


“ aku melihatmu terus- terusan bersin dan bulu kudukmu berdiri semua- Apakah kau Flu?” tanya Agatha.

__ADS_1


“ aku merasa ada yang mengataiku.” ucap Louis mengelus hidungnya yang gatal.


...*** 🌸🌸🌸 ***...


Saat ini Louis tengah menginap di hotel di luar kota dimana gudang harta berada.


“ Agatha.” panggil Louis.


“ hem?” heran Agatha.


“ aku penasaran soal Axel, boleh aku bertanya soal dirinya?”


“ apa yang membuatmu penasaran soal anak asuhku, Louis?” heran Agatha menaruh baki tempat bekas makanannya. Ya, mereka memang sedang makan malam bersama di kamar Louis. Kali ini tanpa paksaan atau rencana yang di lakukan Louis sebelumnya.


“ bukankah kau mengatakan Axel adalah type anak yang tidak gampang dekat dengan siapapun Agatha...” ucap Louis menggatung.


“ ehem.”


“ apakah ia juga awalnya tidak dekat denganmu?” heran Louis yang melihat jika Axel sangat menyayangi Agatha.


“ erm..” ucap Agatha mengenang awal perjumpaannya dengan Axel.


Ya, awalnya- bahkan Axel menjaga jarak dengan Agatha. Ia ketakutan dan matanya terus memandang Agatha dengan siaga.


Mungkin, hal itu di sebabkan karena ibu tirinya yang selalu melakukan kekerasan padanya- yang membuat pria kecil itu penuh dengan siaga saat Agatha pertama mengambilnya untuk menjadi anak asuhnya.


Di hari pertama Axel tinggal- pria kecil itu bahkan selalu memeluk kakinya dan seolah menolak untuk tidur- meski, terlihat jika ia sudah kelelahan.


Agatha sedikit terkejut saat pria kecil itu menyimpan pisau di bawah bantalnya.


...“Mengapa Axel menyimpan benda tajam itu? Bagaimana jika Axel terkena benda itu.“...


Axel hanya menjawab;


...“Bukan urusanmu.” ...


saat itu, Axel memang belum memanggil Agatha dengan mama- bahkan, nada bicaranya lebih ketus dari saat pria kecil itu berbicara pada Louis.


Agatha sudah mendengar soal masa lalu Axel dari kepala panti asuhan itu dan mengerti ketakutan anak berumur 3 tahun itu. Yang harus ia lakukan adalah;


mengawasi anak kecil itu agar tidak melukai dirinya sendiri.


Yang membuat Agatha terkejut adalah; saat ketika wanita itu terbangun Axel sudah tidak ada di sisi Agatha.


Karena takut terjadi apa- apa, Agatha keluar mencari Axel di seluruh kamar dan terkejut melihat pintu apartment nya terbuka.


Saat itu sedang badai dan angin kencang melanda di sertai hujan. Dengan berbekal senter tahan air dan jas hujan Agatha mencari keberadaan Axel.


Agatha menemukan Axel saat pria kecil itu hendak menyebrang.


Tampak jika pria kecil itu terhenti kala melihat tiba- tiba ada truck yang melintas. Karena takut, Axel bukannya berlari menjauh malah memejamkan matanya.


CITTS! Suara rem terdengar dengan jelas membuat Axel mengira dirinya tertabrak.

__ADS_1


...‘ apakah aku sudah mati?’ batin Axel saat itu. ...


Namun ia begitu terkejut karena Agatha tengah memeluknya. Ia melihat lutut wanita itu berdarah karena terjatuh saat mencoba menyelamatkan pria kecil itu.


...“ kau bodoh, ya?” geram Axel....


...“ kau yang bodoh!” bentak Agatha....


...“ apa yang mau kau lakukan di tengah hujan badai begini?” tanya Agatha....


...“ aku.., aku mau menyusul ayahku.” ucap Axel terbata....


...“ lalu apa yang mau kau lakukan? Dengan membawa pisau ku?” ucap Agatha dengan penekanan....


...“ aku.., AKU MAU MEMBALAS DENDAM PADA WANITA MEDUSA ITU! GARA- GARA DIA..,AYAHKU MEMBUANGKU! IA TELAH MEREBUT AYAHKU!” ucap Axel penuh penekanan. ...


...“ lalu jika kau melakukan itu- apakah ayahmu masih mau menerimamu? Apakah kau lupa? bahkan kau hendak tertabrak tadi!” ucap Agatha menggoyang tubuh kecil Axel. ...


Pria kecil itu terdiam.


...“ tidak ada yang berakhir baik dengan balas dendam, Axel! Tidak ada.” ucap Agatha memeluk Axel....


...“ jika kau mau membalas mereka, perlihatkan jika kau bisa hidup lebih baik tanpa mereka, Axel! Sekolah lah yang pintar dan menjadi orang sukses, lalu tunjukkan pada orang yang merendahkanmu jika kau tetaplah Axel meski tanpa mereka!” ucap Agatha masih memeluk Axel....


...“ bagaimana jika saat aku sudah sukses mereka malah datang dan menjadi parasit bagiku? Aku harus memusnahkan mereka saat ini juga sebelum menggangguku- mengganggu masa depanku!” ucap Axel masih membantah....


...“ tunjukkanlah jika kau bukan lagi Axel Lee, mulai saat ini namamu adalah Axel Willis. Saat- dimana mereka telah menitipkanmu di panti asuhan adalah saat mereka tak lagi berhak mengurusi hidupmu dan saat aku memberi nama belakang keluargaku- kau adalah bagian dari keluargaku.” ucapan Agatha membuat Axel terdiam....


...“ berjanjilah! Berjanjilah kau takkan membuangku lagi, mama.” ucap Axel mulai menangis. Ia membuang pisau yang ia genggam dan mulai memeluk Agatha....


...“ ya, kau bisa memegang janjiku. Anakku.” ucap Agatha....


*


“ semenjak saat itu, ia mulai memanggilku mama. Awalnya ia masih enggan padaku meski tidak lagi memandangku dengan siaga.” ucap Agatha meminum coffee hangatnya.


“ ia tak langsung bermanja padamu?” tanya Louis.


“ awalnya tidak. Pada dasarnya ia adalah anak yang mandiri. Namun mungkin karena ingin merasakan kasih sayang layaknya anak kecil yang ingin mendapatkan kasih sayang orang tuanya, sedikit demi sedikit Axel meruntuhkan egonya dan mulai manja kepadaku. Sejujurnya awalnya ia juga bicara ketus padaku.” ucap Agatha.


“ aku tidak menyangka jika ia juga berbicara ketus padamu. Ia terlihat begitu menyayangimu.” ucap Louis.


“ ya, namun.., biar bagaimanapun ia tetaplah anak kecil. Yang terpenting aku menyayanginya dengan tulus- itu sebabnya iapun luluh kepadaku.” ucap Agatha.


“ kau sangat hebat soal urusan anak kecil Agatha, tak heran jika Alice juga menyayangimu.” ucap Louis.


“ Alice? Tentu saja, Louis! Aku bahkan sudah bersamanya saat ia masih bayi merah.” ungkap Agatha.


“ aku jadi merindukannya, apa kabarnya sekarang?” ucap Agatha tertawa.


“ katanya ia juga mengadakan camping tahunan di sekolahnya.” ucap Louis.


“ oh? Bagus kalau begitu, siapa tahu jika ia bertemu dengan Axel.” ucap Agatha tertawa.

__ADS_1


“ mana ada kebetulan seperti itu.” Louis ikut tertawa.


Ya, siapa yang tahu jika ada kebetulan seperti itukan?


__ADS_2