
Axel berusaha mengerjapkan matanya saat sinar mentari mulai masuk ke kamarnya.
“ Alice?” Axel mencoba meraba kasur di sampingnya dan merasa heran karena tidak ada siapapun di sampingnya.
“ sis Alice sudah pergi.” ucap seseorang yang membuat Axel langsung membuka matanya.
“ Freya?” heran Axel. Karena adik nya itu bisa berada di kamar ini.
“ dasar bodoh!” ucap Freya mendekap tangannya di kedua pingganya seolah marah kepada Axel.
“ apa? Kemana Alice, Frey?” heran Axel.
“ ia pergi!” jawab Freya menyilangkan lengannya di depan dadanya.
“ AP!” ucap Axel tidak percaya.
“ IA TELAH PERGI!” Freya mengulangi kata- katanya.
“ kemana Alice, Freya?” ucap Axel menangkup lengan adiknya itu.
“ aku tidak tahu!” ucap Freya melepaskan tangan kakak nya itu dari lengannya.
“ bohong!”
__ADS_1
“ aku tidak bohong! Aku hanya tahu jika sis Alice mendatangi Grandpa dan berkata ingin pergi! Aku tahu kau ada di kota yang sama dengan sis Alice mengambil magang dan aku berkesimpulan jika sis Alice pergi karena dirimu itu sebabnya aku menyusulmu!” tekan Freya. Mendengarnya, seketika Axel menjadi lemas.
“ kau tahu sendiri kan bagaimana kekuasaan Grandpa? Jika ia ingin menyembunyikan seseorang bahkan police sekalipun tidak akan menemukannya.” ucap Freya mengingatkan.
“ Fre.., Freya! B.., biar bagaimana pun kau adalah cucu kandung dari Grandpa kan? Apakah kau tidak bisa meminta grandpa memberi tahu kemana Alice pergi?”
“ kau ingat kisah papa dan mama, bukan? Bahkan papa adalah anak kandung Grandpa, namun saat mama menghilang- papa sekalipun tidak pernah bisa menemukan mama sampai mama yang menemui papa sebagai designer perusahaan.” ucap Freya mengingatkan.
“ karena bagi Grandpa, papa salah- itu sebabnya, ia membantu menyembunyikan mama. Axel, apa kau pikir grandpa akan membantumu? Sama seperti papa kau juga salah Axel!”
“ a.., aku.” ucap Axel lirih.
“ aku hanya tidak ingin Alice dimiliki orang lain, Frey. Apa aku salah?”
Meninggalkan Axel yang termenung sendirian. Tampak ia yang membungkuk kan badannya tidak menerima jika Alice memilih pergi meninggalkannya.
Hampa! Entah mengapa, mengetahui Alice yang memilih pergi membuat Axel merasa hampa.
Inikah yang sering Alice rasakan ketika Axel selalu menolaknya?
Sakit! Dada Axel terasa sesak dan tidak terima.
Axel tahu sebagai seorang pria- Axel tidak seharusnya menangis hanya karena satu wanita. Namun, sama seperti Alice yang hatinya hanya tertaut pada satu nama; tanpa Axel sadari- hatinya pun hanya tertaut pada Alice seorang.
__ADS_1
Alice yang ceria, Alice yang bersinar dan Alice yang pintar. Alice yang selalu menemani hari- hari Axel.
Dengan putus asa, Axel segera beranjak dari tempat tidur membersihkan dirinya dan meninggalkan kamar sekaligus hotel tempat ia pertama memadu cinta bersama Alice dan mungkin yang terakhir bagi Axel.
Bukankah ini menyedihkan?
Bahkan setelah semua yang terjadi pun, Axel tak juga mendapatkan Alice.
Axel lantas jalan tanpa arah- tanpa tujuan, apapun agar perasaannya tenang. Hingga ia tidak sadar jika di depannya ada orang yang juga sedang berjalan sambil termenung.
“ bruk!” suara orang bertubrukan.
“ maaf! Aku tidak sengaja..” ucap Axel hendak membantu berdiri orang yang di tabrak nya.
...So...
...Siapa yang di tubruk Axel?...
...Jangan lupa like nya yuk ...
...Love nya juga ...
...Jangan lupa mampir ke karya2 Author yang lain ya😉...
__ADS_1