
Kau yang sulit kugapai. Kau yang semakin menjauh saat aku berusaha mempersempit jarak di antara kita. Dan aku yang kecewa karena aku yang terluka.
-Alice Fransiscus-
“ ini tidak adil, aku berusaha menyusul kalian dan kalian langsung mengajukan program kelulusan tanpa memberitahuku.” kesal Freya saat ajuan Axel dan Alice di terima.
Axel sendiri tidak menyangka jika Alice juga mengajukan program pengajuan kelulusan lebih awal- sama seperti dirinya.
“ karena kau mengajukan program kelulusan di awal, kau bisa menyelesaikan skripsi mu sekalian magang di perusahaan untuk mendapatkan laporan soal kerja lapanganmu. Perusahaan mana yang akan kau pilih, Axe?” tanya Louis.
“ apakah kau ingin magang di kantor kita, Axe?’ tanya Agatha.
“ tidak, ma. Selama ini, orang mengira aku berada di titik ini karena menyandang nama Fransiscus. Aku ingin membuktikan jika aku bisa sukses karena berdiri dengan kaki ku sendiri. Jadi aku ingin melamar di perusahaan lain. Mungkin di kota lain atau negara lain.” ucap Axel.
“ itu baru anakku.” ucap Agatha memeluk Axel.
“ ma, aku bahkan hampir berumur 20 tahun, jangan perlakukan aku sama seperti aku berumur 3 tahun donk.” kesal Axel.
“ baiklah! Tunjukkan pada dunia jika kau bisa.” ucap Agatha menyemangati Axel.
“ tentu saja.” ucap Axel.
“ lalu, bagaimana denganmu, Ale?” tanya Louis.
“ jurusanku adalah Design Communication Visualization. Sementara perusahaan ayah, selama ini tidak pernah memiliki bidang edit pengiklanan seperti itu karena memilih membeli jasa pengiklanan. Jadi kurasa aku juga akan magang di perusahaan lain.” ungkap Alice.
“ apa kau sudah memiliki pandangan akan melamar di perusahaan mana?” tanya Agatha.
“ kurasa kerajaan animation di kota C.” jawab Alice.
“ wow! Bukankah itu perusahaan animation terbesar di dunia? Perusahaan yang terkenal akan cerita dongengnya?” ucap Freya kagum.
“ karena kau memiliki bekal piagam penghargaan bertaraf International, aku rasa kau pasti bisa di terima di perusahaan tersebut.” ucap Agatha menyemangati.
“ tidak, aku mengatakan soal perusahaan itu, karena aku memang sudah di terima di perusahaan tersebut.” ungkap Alice.
“ Ap? Benarkah?” ucap semua orang tidak percaya.
“ ya. Saat aku meminta pengajuan laporan kelulusan program sarjana sedari dini- aku juga mengajukan lamaran di perusahaan animation tersebut. Program kelulusanku di Acc bersamaan aku yang di terima magang di perusahaan tersebut.” jawab Alice.
“ itu luar biasa!” ucap semua orang kagum.
Sementara, Axel hanya bisa menatap Alice. Wanita itu memang layak menyandang nama Fransiscus. Ia sangat hebat, sangat luar biasa. Dan..., Selalu di atas segalanya bagi Axel.
Di saat Axel berusaha melangkah agar pantas bersanding dengan keluarga Fransiscus. Alice pun tak pernah diam dan terus melangkah menjadi sangat hebat. Membuat Axel selalu merasa tidak pantas mendapatkan seorang Alice Fransiscus.
🌸Sementara itu di lain tempat.🌸
Bruk! Suara dua orang bertabrakan.
“ maaf! Maaf! Aku melamun.” ucap seseorang membangunkan orang yang di tabraknya.
“ tidak masalah nona.” ucap orang tersebut sambil menerima uluran tangan orang yang menabraknya.
“ coffee yang anda bawa terjatuh- akibat saya tabrak, sekali lagi maafkan saya. Sebagai gantinya, bagaimana jika aku mentraktir anda di cave ujung jalan itu.”
“ jika anda memaksa.”
__ADS_1
*
“ sekali lagi maafkan saya, tuan.” ucap seserang yang menabrak- tepat pada saat pesanan mereka di antarkan ke meja mereka.
“ tidak masalah, nona.”
“ ngomong- ngomong, kita belum berkenalan dan belum mengetahui nama masing- masing. Nama saya Fiona, siapa nama anda?” tanya Fiona.
“ anda bisa memanggil saya Irish, nona.” ucap Irish.
“ ngomong- ngomong, nona.” ucap Irish menggantung.
“ ya?” tanya Fiona meminum coffee late nya.
“ apa tidak akan ada yang salah paham jika anda mengajak saya meminum berdua?”
“ tentu saja tidak, saya tidak memiliki kekasih.” ucap Fiona melambaikan tangannya.
“ sama sekali?” heran Irish.
“ ya, jika kekasih..., memang aku tidak punya.” jawab Fiona menatap pada Coffee nya seolah membayangkan seseorang.
“ lalu? Apakah ia seseorang yang anda sukai?” heran Irish.
“ bisa di bilang seperti itu?” jawab Fiona tersenyum.
“ apakah ia seseorang yang selalu ada untuk anda?” tanya Irish.
‘ apakah itu Axel?’ batin Irish.
“ tidak, ia malah jarang ada di kota ini.” ucap Fiona tertawa.
“ ya, dia seorang fotografer profesional. Dan ia selalu di undang ke berbagai penjuru dunia hanya untuk sebuah foto saja.”
“ Fotografer?”
“ ya, aku bertemu dengannya saat ia di pilih sekolah tempat aku mengajar- untuk mendokumentasi kegiatan tahunan sekolah kami.” ucap Fiona menjelaskan dengan wajah bersemu merah layaknya wanita yang sedang jatuh cinta.
“ dia seorang Fotografer? Apa kau tidak masalah jika ia selalu berpergian dan bahkan hampir tidak pernah di rumahnya?” tanya Irish.
“ sejujurnya, aku sedikit kesepian selalu menunggu kabarnya. Apa lagi jika ia harus pergi ke negara yang memiliki perbedaan waktu yang besar dengan di sini.
Namun, entah mengapa ia selalu terlihat bahagia dengan pekerjaannya dan selalu bahagia pula saat menceritakan soal apa yang selalu di lihatnya di negara- negara yang ia temui. Dan..” ucap Fiona mengantung.
“ dan?” heran Irish.
“ dan aku tidak mau memaksanya mencari pekerjaan yang tidak ia ingini. Ia selalu terlihat bahagia ketika membawa beberapa souvenir dari negara tempat ia berkunjung.” ucap Fiona tersenyum.
“ maafkan aku.., tidak biasanya aku bercerita se- terbuka ini kepada orang luar. Entah mengapa aku merasa nyaman berbincang denganmu. Seolah aku memiliki perasaan yang familiar denganmu.” ucap Fiona malu karena seantusias ini bercerita pada orang asing.
“ itu tidak masalah, nona.” ucap Irish menatap pada coffee hitam yang di pesannya.
“ ini sama seperti saya awal bertemu dengan ayah kandung saya. Awalnya, saya tidak mengenalnya, namun saat bertemu dengannya, ada perasaan Familiar yang membuat saya merasa akrab dengannya.” ucap Fiona mengenang.
“ apa sebelumnya, anda tidak bersama dengan orang tua kandung anda?” tanya Irish.
“ saya sebelumnya besar di panti asuhan.” ucap Fiona.
__ADS_1
“ panti asuhan? Anda memiliki orang tua kandung namun besar di panti asuhan?” ucap Irish memancing.
Mendengar ucapan Irish membuat Fiona terdiam.
“ mungkin..., mungkin ada alasan hingga ibu kandung saya menitipkan saya di panti asuhan.” ucap Fiona berusaha tersenyum.
“ bukankah pada akhirnya anda bisa bersama dengan ibu kandung dan ayah kandung anda nona, jadi untuk apa memikirkan apa yang sudah terlewat.” ucap Irish.
“ tidak, yang tinggal bersama dengan saya memang ayah kandung saya, namun ibu yang merawat dan membesarkan saya bukanlah ibu kandung saya.” ucap Fiona mulai berkaca- kaca.
“ apa kau merindukan ibu kandung mu?” tanya Irish.
“ tidak.” ucap Fiona tersenyum.
“ tidak?” heran Irish.
“ ya, karena apa yang ibu kandungku lakukan membuat orang tua dari sahabatku; tiada. Yah.., sahabatku tidak pernah mempermasalahkan atas apa yang terjadi, dendam pun tidak. Namun, biar bagaimana pun saya merasa ikut bersalah pada apa yang di lakukan ibu kandung saya dan merasa jika apa yang di lakukan ibu kandung saya itu salah. Hanya karena dendam lantas membunuh orang yang tidak bersalah.” ucapan Fiona membuat Irish cukup terkejut. Ia tidak menyangka jika Fiona tahu perihal soal Elena.
“ kau tahu soal ibu kandungmu?” heran Irish.
“ ada yang namanya ikatan antara ibu dan anak. Bahkan meski aku tidak penah bertemu pun, aku tahu jika ia ibu kandungku- saat televisi menayangkan berita tentangnya. Apa lagi saat ayah mengajakku melayat ke pemakaman kedua orang tua sahabatku. Selama ini, aku belum pernah bercerita soal kedua sahabatku, lantas- mengapa ayah kandungku bisa mengenal orang tua sahabatku- bahkan sampai ikut melayat di hari pemakaman kedua orang tua sahabatku?” jelas Fiona.
“ bukankah itu bisa jadi jika ayahmu mengenal kedua orang tua sahabatmu?”
“ jika ia memang mengenal orang tua dari sahabatku, ia tidak akan memakai bahasa formal saat menyapa saudara dari orang tua sahabatku.” jelas Fiona.
“ apa..., apa kau tahu apa yang terjadi pada ibu kandungmu sekarang?” tanya Irish.
“ tahu.” jawab Fiona sendu.
“ kau tidak dendam atas apa yang terjadi pada ibu kandungmu?”
“ dendam? Ia pantas mendapatkan apa yang terjadi padanya atas apa yang di lakukannya. Ia telah membunuh orang yang tidak bersalah atas dendam tidak berdasarnya.” jawab Fiona.
“ dendam tidak berdasar? Apa kau yakin? Mungkin saja ada seseorang yang membuat ibu kandungmu menjadi pribadi yang seperti itu.” tekan Irish.
“ aku tahu. Ayah ku sudah menceritakan segalanya dan ia merasa bersalah atas apa yang di lakukannya. Ia merawatku sebagai ganti rasa bersalahnya dan telah mendapatkan karma atas kesalahan masa lalunya.
Namun berbeda dengan ayah yang sadar dan segera mengakui kesalahannya, hati ibuku di penuhi dendam.
Bahkan meski ia telah mendapatkan karma nya, ia tak juga merasa jika ia salah dan tetap berpegang teguh pada dendamnya.” ucapan Fiona membuat Irish terdiam. Jauh dalam hati, Irish cukup merasa kagum pada pendirian kakak kandungnya ini.
“ dari yang aku dengar, bahkan saat ibu melahirkan kembali, ia tidak mau menerima anak yang baru di lahirkannya bahkan tidak mau memberi Asi pertama kepada bayi yang merupakan adik kandungku tersebut.” ucap Fiona menerawang jauh.
“ mengetahui kenyataan aku memiliki adik-menjadi aku sangat penasaran untuk bertemu dengannya dan berjumpa dengannya. Sayangnya, dari yang aku dengar- ibu melahirkan anak perempuan. Jadi akan lucu rasanya jika kau adalah adik ku, bukan?” ucap Fiona beranjak dari duduknya. Ucapan kakak perempuannya itu membat Irish hampir terkejut akan kata- kata perempuan itu.
“ waktu istirahat saya hampir habis, jadi saya kembali dulu, tn. Dan coffee yang anda pesan sudah saya bayar. Sekali lagi, saya minta maaf atas coffee anda.” ucap Fiona meninggalkan Irish yang menatap kepergian kakak kandungnya tersebut.
...Hai hai ...
...Msh stay ga ma karya author maaf author tlt up bgt...
...Beberapa hr ini author ada trouble ...
...Tiba2 bgn tengah mlm trus hidung berdarah...
__ADS_1
...Kata dokter gejala Db atau mungkin krn author ke capean🙏🙏🙏 mohon di maklumi ya...