
Tok! Agatha tersadar saat mendengar suara langkah kaki.
“ Elena?” heran Agatha.
Elena hanya terdiam, tampak jika ia hanya menggaruk tengkuknya.
“ aku berterimakasih kau mau mengundangku ke pernikahan anak angkatmu dan keponakanmu.”ucap Elena.
“ sure.” jwab Agatha sambil tersenyum.
“ aku yang berterima kasih, kau mau menerima undanganku.kelihatanya, kau benar- benar telah membaik.” ucapan Agatha sekali lagi membuat Elena terdiam.
“ aku minta maaf.” ucap Elena.
“itu sudah lama, Elena.” ucap Agatha mendekat kearah Elena.
“ tapi.., gara- gara aku..., aku memuat keponakanmu kehilangan orang tuanya.” sesal Elena.
“ janganlah meminta maaf padaku, meminta maaflah pada Alice.” ungkap Agatha.
“ Apa?”
“ kau melakukan kesalahan bukan padaku tapi pada Alice, Elena. Aku akan memaafkanmu jika ia memaafkanmu.” ucap Agatha mendorong Elena menuju meja rias.
“ A..” ucap Elena bingung karena di tinggalkan berdua dengan Alice.
“ Anda?” heran Alice.
“ aku...” ucap Elena bingung harus bagaimana. Sampai ia melihat Alice yang berdiri menghampirinya. Elena pun lantas melindungi kepalanya. Ia sudah bersiap akan amukan yang akan di lontarkan Alice kepadanya.
Ia tahu ia salah. Itu sebabnya,ia akan menerima segala konsekuensi yang akan di terimanya.
Namun, apa yang ia bayangkan dengan yang terjadi sama sekali berbeda.
Ia membayangkan wanita muda di hadapannya,akan memarahinya, memukulnya, menampar Elena bahkan mencaci maki Elena. Namun, kenyataannya sungguh berbeda,
Alice?
Wanita muda itu memeluknya?
“ kenapa kau memelukku?” heran Elena.
“ apa anda tidak suka pelukan?” tanya Alice.
__ADS_1
“ kenapa? Akulah yang membunuh orang tuamu?” heran Elena.
“lantas? Jika saya membalas dendam, apakah mama saya akan kembali hidup? Begitupun ayah saya? Ayah sudah tiada. Begitupun mama saya.
Mereka pasti juga tidak ingin saya hidup atas dendam. Lagi pula anda adalah ibu dari Irish dan Fiona. Mereka adalah teman saya. Dan Irish lah yang selalu menemani saya di saat saya berada di titik terendah.” ucap Alice.
Mendengarnya, Elena hanya menangis.
Ia salah.
Ia berdosa.
Ia selalu di penuhi dendam.
Namun,mengapa gadis yang bahkan usinya masih lebih muda dari Elena lebih mengerti dari Elena?
Padahal, ia kini tidak memiliki siapapun sama seperti dirinya.
“ maaf.” isak Elena. Memeluk Alice.
“ maafkan aku. Seharusnya aku juga memiliki pemikiran seperti mu. Seharusnya aku juga tidak di butakan oleh dendam. Maaf.”isak Elena.
Alice hanya memeluk Elena dan membiarkan wanita yang tak lagi muda itu meluahkan perasaannya.
“ iya! Iya! Aku panggil! Kau tunggu di balik altar saja, sana.” ucap Agatha mendorong tubuh Axel agar kembali ke ruang misa.
Setelah dirasa cukup lama, Elena dan alice berpelukan,Agatha lalu menghela nafasnya. Ia pun segera mengetuk pintu ruang rias.
Tok! Tok!
“ Aunt?” heran Alice.
“ kau sudah siapa anak manis? Pendeta sudah datang dan sudah menunggu kau.” ucap Agatha.
“bagaimana dengan uncle Louis?” tanya Alice.
“ ia sedang menunggu mu di ruang misa.”ucap Agatha.
“baiklah,aku akan segera ke sana.”ungkap Alice meninggalkan Agatha dan Elena berdua.
“ ayo, Elena. Kau juga segera kesana dan hadir di acara pernikahan.”ucap Agatha mengandeng tubuh Elena.
“ tentu.” jawab Elena.
__ADS_1
Ternyata, apa yang di katakan Alice benar. Hidup menjadi lebih bak tanpa dendam.
**
Saat ini, Alice memasuki ruang misa di dampingi dengan Louis menuju calon suaminya. Sedari dulu, Alice adalah wanita yang cantik dan menawan, namun di balik balutan dress yang melekat di tubuhnya membuat wanita itu tampak lebih bersinar.
Begitupun dengan senyumnya.
Irish menatap kearah Ed.
Ia jadi penasaran. Jika ia yang memakai baju pengantin itu, apakah wanita itu akan tampak lebih bersinar juga?
Saat ini, Irish tengah memakai dress bewarna senada dengan Alice karena di tunjuk menjadi bride- maid Alice.
“ apakah dia adalah pria yang di sukai Irish?” tanya Elena menunjuk pada pria yang selalu di tatap Irish.
“ ya.” jawab Lionel.
” apakah Irish sudah menyatakan cintanya?” tanya Elena.
“ tidak.” jawab Lionel.
“ tidak? Maksudnya belum?” heran Elena.
“ maksudnya, ia tidak akan menyatakan perasaannya.”
“ kenapa? Apa ia tidak cukup percaya diri? Anak kita cukup cantik karena memiliki rupa sepertimu.” ucap Elena tidak terima.
“ terima kasih. Tapi itu bukan alasan mengapa ia tidak menyatakan perasannya.”
“ lalu?” heran Elena.
“ ia gay.” ucapan Lionel membuat Elena menatap Ed.
“ apa ia benar- benar Gay?” heran Elena.
“ kau tidak yakin?”
“ ya.” ucap Elena.
“ apa yang membuatmu yakin ia tidak gay?”
“ insting seorang mantan playgirls, mungkin?”
__ADS_1
...Itu kata Elana bkn author😂...