
“ kenapa kau tak membawa banyak barang?” tanya Louis begitu melihat Agatha menemuinya di bandara.
“ bukankah anda bilang jika semua perlengkapan saya sudah di siapkan perusahaan, jadi saya pulang memang hanya untuk mengangkat jemuran juga menyalakan lampu apartement saya, agar orang tak mengira apartement saya kosong.” ucap Agatha.
“ kenapa kau menggunakan bahasa formal lagi?” tanya Louis.
“ karena kita adalah atasan dan bawahan, tuan.” ucap Agatha acuh.
“lalu tadi?” heran Louis.
“ anggap saja, tadi saya berbicara bukan atas nama bawahan dan atasan tetapi sebagai mantan istri anda.” ucap Agatha. Lagi- lagi ucapan Agatha membuat Louis terdiam. Pria itu memilih untuk menuntun Agatha ke pesawat jet keluarganya menuju ke luar kota dimana gudang penyimpanan permata berada.
**✈✈✈**
Louis hanya terdiam selama di dalam pesawat begitu juga dengan Agatha. Sebenarnya Louis ingin sekali mengajak berbicara Agatha, sekedar berbasa basi atau apalah, namun melihat Agatha yang hanya melihat ke luar jendela membuat Louis mengurungkan niatnya.
Sesampainya di bandara di kota dimana gudang permata berada.
“ Tuan Louis, nona. Selamat datang.” ucap seorang pria begitu Louis dan Agatha tiba di bandara di kota yang di tuju.
__ADS_1
“ terima kasih, James. Agatha, ia adalah James, manajer yang aku tugaskan untuk mengawasi gudang permata perusahaan kita selama setengah tahun terakhir menggantikan ayahnya.” ucap Louis mengenalkan. Agatha hanya diam sambil mengangguk.
“ nona? Apakah anda sakit? Wajah anda sedikit pucat.” tanya James. Mendengarnya Louis lalu menatap wajah Agatha yang memang sedikit memucat.
“ saya hanya sedikit pusing karena ini adalah kali pertama saya naik pesawat.” ucap Agatha. Karena selama ini- memang, keluarga Agatha selalu menuju gudang permata memakai transportasi melalui jalur darat.
“ kenapa kau tak mengatakan apapun padaku, jika kau merasa mual?” ucap Louis. Karena selama ini, ayabnyalah yang menemani Agatha menuju gudang harta.
“ aku merasa akan muntah, jika berbicara padamu.” ucap Agatha, ia tak memakai bahasa formal karena memang ia merasa mual, ia bahkan sudah menutup mulutnya.
“ saya akan mengantar anda ke rumah sakit.” ucap James.
“ aku tidak apa, tuan- tuan. Aku hanya perlu memuntahkannya. Tuan James, bisakah kau menunjukkan dimana toiletnya?” tanya Agatha. Setelah mendapat arahan di mana toilet yang berada di dalam bandara, Agatha langsung meninggalkan Louis dan James berdua.
“ siapa nona tadi, tuan?” tanya James.
“ Designer permata yang bekerja di perusahaanku.” ucap Louis acuh.
“ dia bukan kekasih tuan kan?” tanya James.
__ADS_1
“ kenapa?”
“ tidak, hanya saja cara menatap anda tadi seolah pria yang sedang cemburu, tuan.” jelas James.
“ ba..., bagaimana kau bisa berkata begitu, tentu saja tidak! Maksudku ia hanyalah designer perusahaan.” ucap Louis terbata.
“ syukurlah, saya pikir anda mau mendua.”
“ maksudmu?”
“ bukankah anda sudah memiliki seorang istri? Yang saya dengar istri anda adalah aktris yang sedang naik daun bernama; Elena Stevani.”
“ bagaimana kau bisa tahu?” heran Louis, karena memang di kedua pernikahannya, Louis tak mengundang wartawan, bahkan pesta pernikahannya dengan Elena saja harus di gagalkan karena keponakannya tersayang yang menangis dan mengamuk.
“ nyonya Elena sendiri yang mengumumkannya, tuan. Dan dia menggunakan nama Fransiscus agar menggaet para produsen produk kelas atas agar mau menjadikannya bintang produk mereka.” ucap James panjang lebar.
“ APA?” ucap Louis tak percaya, karena memang selama ini, ia tak suka hal pribadinya di liput, itu sebabnya pernikahan pertamanya pun tak ada yang tahu- kecuali keluarganya saja dan beberapa teman Louis.
‘ jadi itu sebabnya uangnya selalu habis? Untuk membuktikan jika dirinya adalah nyonya Fransiscus- ia selalu menghamburkan semua uangnya? Aku harap ia tidak menyogok para produsen itu.’ batin Louis geram. Karena memang ia paling tidak suka dengan cara seperti itu, dan jika seandainya ia tahu Elena melakukan hal seperti itu tentu saja Louis takkan memaafkan Elena karenanya.
__ADS_1