
Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang lebih 45 menit. Sudah saatnya bagi Axel untuk menjemput Alice. Namun, karena jarak antara universitas rumah sakit yang cukup jauh membuat Axel sedikit malas menjemput Alice. Apa lagi sebentar lagi waktunya bagi Fiona operasi.
“ kau sedang mengirim pesan ke Alice?” tanya Fiona.
“ ya, aku memintanya agar langsung kemari tanpa aku perlu menjemputnya.” ucap Axel mengetikkan pesan melalui chat nya.
“ apa? Axel biar bagaimanapun Alice adalah wanita, sangat bahaya membiarkannya pulang sendiri.” ucap Fiona.
“ ia sudah besar, Fio. Aku yakin ia bisa menjaga dirinya sendiri.” heran Axel pada sifat berlebihan Fiona.
“ Axel, semakin wanita beranjak dewasa semakin bahaya membiarkannya sendiri.” ucap Fiona menjelaskan.
“ apa maksudnya?” heran Axel, karena hampir semua orang menasehati hal yang sama kepada Axel.
Dan tepat pada saat itu, Alice menelphone.
...“ halo?” ucap Axel malas....
...“ Hei! Dasar Axel bodoh! Dimana kau!” ucap Alice memekik. Yang bahkan- Axel harus menjauhkan handphone nya karena suara Alice yang melengking meski Axel tidak menyetel mode speaker dalam telephone nya....
...“ kau lupa jika Fiona di rawat di rumah sakit? Aku sudah memberimu pesan jika aku masih di rumah sakit!” kesal Axel....
...“ Axel! Tolong aku!” pekik Alice....
...“ apa? Apa yang terjadi?” heran Axel....
...“ aku.., aku tidak tahu! Saat aku mencoba melewati taman- ada segerombolan pria mabuk mengejarku dan hendak memperkosaku!” Alice masih memekik....
__ADS_1
‘ taman? Pria yang mabuk? Di siang hari?’ batin Axel yang merasa jika Alice hanya mengerjainya.
...“ baik- baik, tutup telephone nya.” kesal Axel. Tak heran, apa yang di katakan Alice cukup tidak masuk akal....
Bagaimana mungkin ada segerombolan orang mabuk di siang hari? Di tempat umum?
“ dari Alice?” heran Fiona.
“ ya, dia bilang jika ia di kejar para pria yang mabuk dan hampir di perkosa.” kesal Axel.
“ Ap? Kalau begitu segera tolong Alice, Axel!” ucap Fiona dengan terkejut.
“ kau tak tahu jika itu hanya siasat Fiona? Aku yakin ia hanya bersandiwara karena ingin aku menjemputnya.” kesal Axel.
“ tapi.., Axel.., bagaimana jika Alice benar- benar hampir di perkosa?” ucap Fiona takut.
“ aku hanya akan operasi usus buntu, Axel!” ucap Fiona memaksa agar Axel lebih memperhatikan Alice.
“ atas nama Nona Fiona.” ucap salah seorang suster mulai mendorong brankar menuju tempat operasi yang letaknya tidak jauh dari ruang inap Fiona.
“ Fiona, sekarang sudah waktunya kau untuk operasi, dari pada memikirkan Alice, ada baiknya kau fokus pada operasimu.” ucap Axel membantu suster mendorong brankar tempat duduk Fiona.
“ tapi, Axel..” ucap Fiona terputus karena pintu operasi sudah di tutup dan Axel memilih menunggu di luar ruangan. Entah mengapa, dari pada takut akan operasi- Gadis lebih itu takut- jika terjadi apa- apa pada Alice.
Biar bagaimana pun Alice adalah seorang wanita, bagaimana jika ia benar- benar meminta tolong?
Bagaimana jika wanita itu sungguh- sungguh di ganggu segerombolan pria yang mabuk.
__ADS_1
Seberapa hebat keluarga Fransiscus mengajari seorang Alice beladiri- biar bagaimana pun, Alice tetap lah wanita. Tidak akan bisa melawan segerombolan pria yang pikirannya telah teracuni minuman keras.
Dan siapa yang menyangka jika apa yang di takutkan Fiona benar- benar terjadi?
Di rumah keluarga Louis dan Agatha yang tampak sepi.
Kini, Alice sedang membasahi dirinya di bawah shower. Bajunya tercompang camping, badannya babak belur dan dari sela kakinya masih tampak darah pertama bercampur dengan cairan kelelakian yang mengotori sela kakinya.
Karena menemani Fiona di rumah sakit- Axel melupakan jika Agatha menemani Freya lomba design di luar kota- Louis pun sedang berada di luar kota karena menemukan tambang perhiasan baru dengan material baru, begitupun dengan Andre yang menemani Louis. Lalu Daisy tentu saja sudah kembali ke Korea.
*
Apa yang baru saja terjadi- terus terngiang- ngiang di hati Alice. Ia berharap jika Axel akan menolongnya, Alice berharap jika Axel akan menenangkan wanita itu.
Meski Alice tahu jika Axel tidak menyukai nya- namun tidak bolehkan Alice berharap?
Tubuh Alice hancur- sama seperti harga dirinya yang juga hancur. Harusnya hatinya terasa sakit- namun hati Alice tidak merasakan apa- apa. Ia terlalu kecewa sampai hatinya terasa kebas dan mati rasa.
Di sisi lain, Axel terus menatap pada handphone nya, Alice berjanji akan ikut menjenguk Fiona di rumah sakit, lalu mengapa sampai Fiona keluar dari ruang operasi, Alice tidak kunjung datang.
Hati Axel mulai cemas, apakah.., apakah; apa yang di katakan Alice sungguh- sungguh?
Apakah ia benar- benar meminta tolong?
Atau Alice hanya mencoba membuat Axel khawatir karena pria itu tidak menjemput Alice?
Hati Axel bagai dua kubu sekarang. Di satu sisi ia mengkhawatirkan Alice, di sisi lan iapun tidak enak membiarkan Fiona di rumah sakit sendirian.
__ADS_1
...😢😢😢...