
Pesta ulang tahun perusahaan Fransiscus yang di adakan di rumah utama sengaja di siarkan di TV.
Semua yang melihat berdecak kagum kan kemewahan acara dan rumah utama keluarga Fransiscus. Yang menjadi sorotan tentu saja interior di rumah Fransiscus yang artistic.
Meski sesungguhnya, Bernard dan Luna sendiri jarang menempatinya. Atau bisa di bilang rumah tersebut di sediakan hanya untuk pesta umum? Atau sebagai kedok? Agar saat mereka di incar, yang di incar tentu saja rumah mewah mereka. Padahal, semua keluarga Fransiscus sejatinya lebih memilih tinggal di rumah sederhana.
Selain agar tidak mencolok, tentu agar melatih keturunan mereka agar mandiri. Siapa yang akan menyangka jika keluarga ternama seperti keluarga Fransiscus akan lebih memilih tinggal di rumah sederhana?
Namun, tidak sedikit orang yang bukannya kagum malah Iri akan rumah utama keluarga Fransiscus dan Pesta yang di adakan.
“ SIAL!” pekik seorang perempuan.
“ rumah itu! Rumah itu! Bahkan lebih luas dar apartment bobrokku ini!” kesal Wanda.
“ sial! Seandainya aku tahu siapa saja keturun para Fransiscus itu!” kesal Wanda.
Apa lagi, keluarga Fransiscus sangat jarang terekspose umum atau mungkin, sengaja membuat keturunan mereka tidak terekspose. Tentu selain untuk melindungi mereka, tujuannya agar tidak banyak yang mendekati mereka karena memanfaatkan mereka.
Bernard ingin anak- anak mereka di dekati oleh orang- memang karena ingin dekat dalam artian berteman, bukan untuk membangun relasi karena mereka adalah keluarga Fransiscus.
Sementara, Wanda hanya tahu jika Freya adalah nona besar dan bukan bagian menjadi keluarga Fransiscus.
Sedari awal, Felix tidak pernah menceritakan soal Freya dengan alasan tidak ingin membuat Wanda menjadi merasa rendah diri.
Seandainya wanta itu tahu jika Freya adalah bagian dari keluarga Fransiscus, dapat di bayangkan jika ia akan semakin iri dan cemburu pada wanita yang terpaut 7 tahun dari Wanda tersebut.
Sementara itu di keluarga Nelson.
“ ada apa? Tumben kau pulang kemari?” tanya Ayah Felix.
“ aku kemari untuk meminjam mobil keluarga.” jawab Felix to the point.
“ oo? Tumben sekali, bukankah kau mengatakan ingin memperlihatkan kesungguhanmu sehingga tidak mau menggunakan fasilitas keluarga?” kekeh ayah Felix.
“ mau bagaimana lagi? Kandungan Freya lemah, aku tidak ingin ia kelelahan karena bolak balik kuliah dengan berjalan kaki, sementara ia tidak ingin lagi mengajukan cuty kuliah dan aku sendiri enggan meminjam ke keluarga Fransiscus.” jelas Felix.
“ kandungan? Nona Freya hamil?” tanya ayah dan ibu dari Felix.
“ ya.” ucap Felix bangga.
“ wah? Hebat juga kau, baru beberapa minggu sudah sukses buat nona Freya hamil. Ga kaya papa mu yang baru berhasil lepas segelnya mama setelah beberapa bulan menikah” ucap ibu Felix bersua.
“ apaan sie, ma.” ucap papa Felix.
“ benarkah? apakah kalian juga di jodohkan?” tanya Felix.
“ tentu saja tidak!”
“ lalu?” heran Felix.
“ ayahmu ini takut pada darah. Melihat aku kesakitan saja sudah berulang kali pingsan.” jelas mama Felix.
“ lalu? Bagaimana malam pertama kalian?” tanya Felix.
“ mama yang di atas. Itupun dengan menutup mata ayahmu.” jelas ibunda dari Felix.
“ tak heran, jika kalian hanya memiliki satu anak.” heran Felix.
“ ngomong- ngomong...,” tanya Felix.
“ hem?” tanya ayah Felix.
“ soal Wanda..” ucap Felix ragu.
__ADS_1
“ kenapa? Apa kau ragu untuk mengetahui soal wanita itu?” tanya ayah Felix menyesap tea nya.
“ tidak..., aku ingin fokus pada Freya dan calon anak kami. Sesungguhnya, aku bertanya karena penasaran, apa yang ayah tahu soal dirinya.”ucap Felix mengelus tengkuknya.
“ apa kau mulai ragu padanya?” tanya ayah Felix.
“...” Felix memilih diam.
“ sayangnya, ini belum saatnya kau tahu, Fe. Aku tahu kau tidak akan percaya tanpa bukti. Sesuai janji, aku baru akan menampakkan wajah sesungguhnya wanita itu 2 bulan lagi, tepat pada saat ulang tahun perusahaan Nelson. Undang saja wanita itu beserta istrimu.” jelas ayah Felix.
“ DAD! Yang benar saja! Freya akan marah jika aku juga mengundang Wanda.”
“ kenapa? Seingatku dulu, kau begitu marah ketika aku menjodohkanmu dengan nona Freya. Kenapa sekarang kau takut membuat istrimu marah?” Tanya ayah Felix.
“ i..., istriku hanya sedang hamil dan dokter mengatakan jika kandunganya sedang lemah, aku tidak ingin menambah beban pikirannya. Bagaimana jika terjadi apa- apa dengan calon anak kami.” begitu Felix beralasan.
“ begitu.” ucap ayah Felix terkekeh.
“ ya!”
“ kalau begitu, kau bisa mengundang mereka terpisah. Bawa dulu istrimu baru jemput kekasihmu. Atau biarkan kau membawa kekasihmu dan istrimu kau biarkan istirahat dirumah.” jelas ibunda Felix.
“ tapi....,” Felix takut jika istrinya tahu ia membawa Wanda sendiri, Freya akan semakin ngambek kepadanya.
“ kau bisa memilih salah satu, jika ingin tahu siapa kekasihmu sebenarnya, setelah itu, kau akan tahu; alasan mengapa aku membencinya dan alasan aku tidak membiakan kau menjalin hubungan dengan wanita itu.” ucap ayah Felix.
“ setelahnya, pikirkan sendiri; kau tetap mau berhubungan dengannya dengan alasan apapun- atau tidak.” ucap ibunda Felix menjelaskan.
Setelah mengelus tengkuknya karena di buat semakin penasaran, Felix lebih memilih bersua;
“ bagaimana soal mobil yang ingin kupinjam?”
“ ambil saja sesuai yang kau mau, kuncinya di tempat biasa.” ucap ibunda Felix.
Sedari dulu, Felix sudah bisa mengendarai mobil, namun, karena ingin menunjukkan kesungguhannya, membuat Felix memilih tidak menggunakan fasilitas keluarganya. Bahkan ia membiayai kuliahnya sendiri tanpa di biayai orang tuanya.
“ dari mana?” sambut Freya.
“ meminjam mobil pada ayahku, kau tidak ingin cuty kuliah kan? Sementara, aku tidak ingin kau terlalu lelah jika berjalan kaki kemana- mana.” jelas Felix.
“ hem?” ucap Freya langsung memeluk suaminya.
“ kenapa?” tanya Felix membalas pelukan istrinya.
“ tiba- tiba pengen meluk.” ucap Freya menguyel wajahnya di dada bidang suaminya.
‘ imut.’ batin Felix.
“ temani tidur siang, Fe.” pinta Freya.
“ eh? Kau kan tahu aku puasa.”
“ cuma tidur, Fe. Kau pikir tidur apa?” kesal Freya.
“ oh?”
“ pasti mikirnya kemana- mana.” kesal Freya.
Sementara Felix hanya terkekeh.
*
Sesuai janji, Felix menemani Freya tidur siang, karena kebetulan, mereka tidak memiliki jadwal kuliah.
__ADS_1
Tampak jika Felix dan Freya kini sedang tidur bersama dengan Freya yang selalu menguselkan kepalanya di dada suaminya.
“ kenapa sedai tadi kau menguselkan kepalamu?” heran Felix.
“ tidak apa- apa, aku tiba- tiba ingin selalu dekat denganmu. Salah?” tanya Freya.
‘ imutnya....’ batin Felix. Mungkin bawaan calon anak mereka yang ingin selalu bersama ayahnya?
Entahlah?
“ ...” Felix memilih memeluk bahu istrinya sambil terus berbaring.
“ Frey.” panggil Felix.
“ hem?”
“ 2 bulan lagi ulang tahun perusahaanku...” ucap Felix menggantung. Ia takut istrinya akan marah padanya.
“ lalu?” heran Freya.
“ aku...”
“ kau?” heran Freya.
“ kalau aku bicara jujur kau tidak marah?” tanya Felix.
“ jika berita yang kau bicarakan membuat marah, tentu aku akan marah.” jawaban istrinya membuat Felix semakin ragu.
“ tapi jika kau tidak menceritakannya dan aku tahu dari orang lain, aku bukan hanya akan marah padamu namun juga kecewa.” lanjut Freya.
Jika pepatah indonesia ibarat buah simalakama- dimakan mati, tidak di makan sakit. Jika secara umum bagai pedang bermata dua. Menyerang memakai mata pisau apa saja tetap akan melukai.
Akhirnya, Felix memilih untuk bercerita.
“ aku..., aku memutuskan untuk mengundang Wanda ikut menghadiri pesta perusahaan, Frey.” ucap Felix dengan suara pelan. Namun, Freya tetap dapat mendengar perkataan suaminya tersebut.
Sakit? Tidak perlu di tanya lagi. Hati Freya hanya tertaut pada satu pria. Namun, bahkan suami yang kini merupakan calon ayah untuk anak- anaknya itu- tidak bisa mengungkapkan perasaannya sendiri. Bahkan, perhatiannya selalu terpecah untuk wanita lain. Tidak ada wanita yang tidak merasakan sakit.
Hati wanita itu ibarat gelas kaca di satu waktu sangat indah dan kuat bahkan meski di tuang air panas sekalipun. Di satu waktu yang bersamaan juga menjadi benda yang sangat rapuh.
Tanpa banyak kata, Freya memilih diam dan turun dari dada suaminya lalu memilih memunggungi Felix.
Melihatnya, Felix memilih menghela nafasnya dan memeluk istrinya dari belakang.
“ aku mohon dengarkan aku dulu. Ini tidak seperti yang kau pikirkan.” lirih Felix di balik bahu istrinya.
“ aku melakukannya karena perkataan ibumu.” jelas Felix.
“ mama?” heran Freya.
“ ya, perkataannya soal Wanda. Yang mengatakan soal; apakah dirinya yatim piatu atau tidak. Atau soal; mengapa ayahku begitu membencinya. Keluargaku memang tidak kalah dari keluarga Fransiscus. Namun, aku belum pernah membawahi kelarga Nelson karena memilih menjadi Dosen dan melanjutkan pendidikanku- sehingga aku hanya bisa meminta bantuan ayahku. Dan ya..., ayahku memintaku mengajaknya di pesta perusahaan dan di sana ia baru akan menunjukkan siapa itu Wanda- sebenarnya.” jelas Felix. Mendengarnya, membuat Freya menghadap suaminya.
“ benarkah?” tanya Freya.
“ ya! Terakhir aku menemuinya adalah saat operasi kalian, setelahnya, aku bahkan memilih tidak menghubunginya- karena tidak ingin membuat istriku ini marah.” ucap Felix menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya bersamaan.
Freya memilih diam dan mengeratkan pelukannya. Melihatnya , Felix hanya tersenyum dan menciumi dahi istrinya.
“ kau tak marah lagi kan?” tanya Felix.
“ apa aku bilang jika aku marah?” tanya Freya.
“ ....” Felix memilih diam. Freya memang tidak mengatakan jika ia marah- namun, yang wanita itu lakukan jelas terlihat jika wanita itu marah.
__ADS_1
...Cuaca di solo panasnya bikin mager😵...