
“ coba Axel ceritakan kenapa tiba- tiba Agatha pingsan?” tanya Louis.
“ beberapa hari ini, mama selalu terlihat lelah. Aku sudah sering bertanya padanya. Namun mama hanya mengatakan jika ia sedang masuk angin saja.” ucap Axel menghapus air matanya dengan punggung tangannya.
Dan tepat pada saat itu, dokterpun lalu keluar dari ruang periksa.
“ bagaimana keadaan Agatha, doc?” Louis segera menyerbu untuk bertanya.
“ bagaimana keadaan mama?” Axelpun tak mau kalah. Sementara Fiona bingung mau berbuat apa.
“ tenanglah tuan dan adik. Kalau aku boleh tahu, apakah anda suami dari nyonya Agatha?” tanya dokter tersebut.
“ suami?” heran Louis.’ kenapa ia jadi bertanya soal suami?’
“ apakah anda suami dari nyonya Agatha?” tanya Dokter itu lagi. Louis pun bingung mau menjawab apa.
“ eh? Erm..,” Louis bingung menjawab. Axel pun menarik- narik celana Louis.
‘ akui saja mama sebagai istrimu.’ bisik Axel.
“ apa?”
“ ayolah! Kau bilang mau bersatu dengan Mama.” geram Axel. Ia ingin segera mengetahui penyakit yang diderita Agatha.
“ bagaimana?” heran Dokter tersebut.
“ dia papaku, suami dari mama.” jawab Axel cepat.
“ oh..? begitu?” jawab dokter yang tampak seperti perawakan Santa Claus tersebut. Ia sudah tua, berjanggut dan gemuk.
“ Kalau begitu selamat ya, kau akan segera memiliki adik.” ucap dokter tersebut kepada Axel.
“ Apa?” heran Axel dan Louis.
“ iya, tuan. Istri anda tengah hamil, masih hamil muda, mungkin baru satu minggu- itu sebabnya ia akan mudah lelah. Untuk lebih pastinya mungkin anda harus memeriksakan istri anda di bagian Obygn. Anda bisa memeriksanya setelah istri anda sadar.” ucap dokter tersebut menepuk bahu Louis.
Louis dan Axel masih tampak terdiam di tempatnya begitupun dengan Axel yang tampak mematung.
Mereka masih bingung harus melakukan apa.
__ADS_1
Sementara itu, perhatian Fiona teralihkan melihat seorang pria yang terduduk di kursi taman rumah sakit. Pria itu tampak murung dan menangis. Namun entah mengapa- meski belum pernah bertemu dan tidak mengenalnya, Fiona merasa ada perasaan familiar pada pada pria tersebut.
Gadis itu pun turun dari tempat duduk dan menghampiri pria itu.
“ uncle? Kenapa kau menangis?” tanya Fiona kepada pria itu, mungkin ia seumuran dengan Louis, namun tidak setinggi Louis dan pria itu memakai kacamata.
“ ah?” pria itu lantas menghapus air matanya.
“ kau bersama siapa anak manis?” tanya pria itu.
“ sama paman dan adik itu. Aku kemari karena ibu dari anak lak- laki itu, tahu- tahu jatuh dan tidak sadar.” jawab Fiona.
“ begitu?” ucap pria itu ramah, entah mengapa, meski belum mengenal gadis kecil di depannya, iapun merasa ada perasaan yang familiar pada Fiona.
“ kenapa uncle manangis?” tanya Fiona.
“ ...” pria itu tampak terdiam. Melihatnya, Fiona langsung memeluk pria itu.
“ kenapa kau memelukku anak manis?” tanya pria tersebut.
“ saat aku bersedih- Aunt Agatha langsung memelukku dan aku merasa lebih baik. Apakah uncle juga merasa lebih baik?” tanya Fiona. Mendengarnya pria itu hanya tertawa.
“ kurasa aku berceritapun kau takkan mengerti. Tapi, karena kau tak mengerti aku rasa aku bisa menceritakannya padamu.” rancu pria tersebut.
“ kritis?” heran Fiona pada kata yang baru di kenalnya tersebut.
“Artinya berjuang hidup dan mati.“ pria itu menjelaskan dengan sabar.
“Apa? Kenapa?” heran Fiona.
“...” sekali lagi, pria tersebut terdiam sesaat.
“Mungkin..,” pria itu menjeda ucapannya. Seolah apa yang akan di ceritakannya adalah sebuah rahasia berat yang hanya ia saja yang pernah mengetahuinya.
“Ini karma untuk uncle.”
" karma? Heran Fiona.
“Dulu sekali, uncle meninggalkan wanita yang sungguh- sungguh mencintai uncle. Ia rela melakukan apa saja dan percaya pada uncle bahkan sampai memberi mahkota berharganya- hanya untuk meyakinkan Uncle- padahal ia ingin memberikannya pada suami nya kelak. Namun.., bahkan setelah memberi mahkota berharganya hingga akhirnya ia hamil- uncle malah meninggalkannya.” Lirih pria tersebut.
__ADS_1
“ apa itu mahkota berharga? Yang biasa di pakai oleh tuan putri dalam dongeng?” heran Fiona.
Mendengarnya- pria itu hanya tersenyum terhadap kepolosan anak berumur 5 tahun tersebut.
“ kau akan mengerti ketika dewasa nanti.” jawab pria tersebut membela rambut Fiona.
“namun sekarang...” ucap pria itu melanjutkan namun kemudian juga terhenti. Tampak jika tubuhnya bergetar dan ia tengah menangis.
“Sekarang.., uncle malah kehilangan anak yang bahkan belum sempat unle beri nama dan istri uncle sekarang bahkan berjuang hidup dan mati karena berusaha melahirkan anak kami.” Isak pria tersebut.
Fiona yang masih kecil tahu jika pria itu tengah bersedih meski tidak mengerti apa yang di bicarakan pria dewasa tersebut. Yang hanya bisa Fiona lakukan adalah duduk di sebelahnya sambil mengelus pundak pria tersebut.
“Terima kasih sudah mau menghibur uncle.” ucap pria itu yang sadar telah di hibur oleh anak gadis berumur 5 tahun.
“Tidak masalah uncle. “ jawab Fiona tersenyum.
“Ha~h.” pria itu menghela nafasnya. Berusaha menghilangkan beban berat di hatinya.
“Jika wanita itu melahirkan anakku pasti anak itu juga akan sebesar kau, anak manis.” ucap pria itu.
“ wanita yang jadi istri uncle?” tanya Fiona.
“ bukan. Wanita yang dulu mencintai uncle namun malah uncle tinggalkan ketika wanita itu hamil.” jawab pria tersebut.
“Anak uncle- laki- laki atau seorang gadis, uncle?” Tanya Fiona.
“Entahlah, uncle sudah meninggalkan mereka bahkan sebelum anak uncle lahir di dunia.” Ucap pria itu tersenyum.
“ Fiona!” panggil Axel mencari Fiona.
“ ah? Teman Fiona memanggil Fiona. Aku tinggal, ya uncle.” ucap Fiona bergegas menghampiri Axel.
“Uncle.., nama aku Fiona. Siapa nama uncle?” tanya Fiona sebelum ke arah Axel.
“ Henry.” ucap pria itu tersenyum.
Melihat anak gadis itu meninggalkannya sendiri membuat Henry tersenyum. Hal yang sedari tadi menganjal seolah menguap.
‘ tak kusangka berbicara pada anak gadis berumur 5 tahun bisa menghilangkan beban di hatiku.’ batin Henry.
__ADS_1
‘ aku harap aku akan bertemu dengan gadis itu lagi.’
...Buat yang sempat minta agar Fiona jangan sampai di asuh Agatha- author udah buat clue kalau Agatha ga akan mengangkat Fiona menjadi anak ya😉...