
“ Ed.” panggil Irish.
“ hem?” jawab Ed masih memejamkan matanya. Ia masih lelah karena pertempuran semalam belum usai bahkan setelah habis malam- lalu di lanjut petempuran yang baru saja terjadi.
“ apa kau bisexual?” tanya Irish.
Ya, tak heran ia bertanya seperti itu- setelah semua yang terjadi.
Saat Irish terbangun tadi, wanita itu cukup terkejut karena ia terbangun dalam kamar hotel. Takut- jika terjadi sesuatu padanya saat ia tidak sadar- Irish lalu melihat siapa yang tengah berbaring padanya.
Ia cukup lega ketika melihat jika yang tidur bersamanya adalah Ed. Karena itu berarti tidak terjadi apapun padanya.
Namun, saat ia berbalik posisi- ia merasakan sakit yang amat sangat di sekujur tubuhnya terutama area Ke****nya. Lantas, ia lalu membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
Ia sungguh terkejut ketika ia dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya, lebih terkejut lagi ketika tahu jika dari sela kakinya masih menyisakan darah pertama juga cairan kelelakian.
“ E.., Ed.” panggil Irish takut.
“ hem?” jawab Ed.
“ a.., apa kemarin aku mabuk?”
“ kau lupa kau masih di bawah umur?” tanya Ed.
“ lalu.., lalu mengapa aku tidak ingat yang terjadi semalam?”
“ kau terkena pengaruh DMT. Orang yang berdansa denganmu semalam menggunakan Narkotika untuk membuatmu tidak sadarkan diri dalam halusinasi.” jelas Ed.
“ Apa.., apa kau tahu siapa yang tidur denganku?” Irish mulai panik.
“ aku.” jawab Ed gampang.
“ apa?” heran Irish.
“ orang yang menggunakan DMT di parfumnya bernama David Edison. Namun yang tidur denganmu adalah aku.” ucap Ed mulai mengukung Irish.
“ a.., apa? Kau bohong. Kau bohongkan?” ucap Irish tidak percaya.
“ kau mau bukti?” tanya Ed mulai menunjukkan Smirk smile nya.
“ apa?” heran Irish.
Dan sepersekian detik, wanita itu langsung memekik karena ada yang memaksa melesat masuk memenuhi inti tubuhnya.
Selimut yang awalnya menutupi tubuh mereka pun bergerak turun sesuai dengan gerakan mereka.
Irish sendiri tidak mengerti. Ia merasa jika ia masih bermimpi. Namun, semua yang ia rasakan terlalu nyata untuk di sebut mimpi.
__ADS_1
Semuanya.
Suara nafas Ed. Kulit hangat Ed yang menyentuh kulit wanita itu. Keringat mereka yang bercampur. Rasa- rasa aneh yang memenuhi tubuh Irish.
“ Ed..., Ed. Hentikan.., hentikan, aku mohon.” ucap Irish dalam desa**nnya.
“ apa kau tahu, Irish? Semua pria takkan mau berhenti di tengah- tengah permainan panas seperti ini.” ucap Ed. Tampak nafasnya memburu dan seluruh keringat membasahi wajahnya.
“ aku.., aku mau buang air, Ed.” desa* Irish dengan wajah memerah.
“ buang air?” ucap Ed dengan smirk smile nya.
“ aku akan mengajarimu dunia dewasa, Irish. Yang kau rasakan itu bukan keinginan buang air, namun karena akan mencapai puncak kenikmatan. Jadi lepaskan saja karena akupun akan sampai.” ucap Ed memeluk Irish dan mulai mempercepat pacunya.
“ a..,h, Irish.” lenguh Ed.
“ a..., a.., u.., panas.” rancu Irish merasakan panas memenuhi tubuhnya.
“ buka mulutmu.” ucap Ed menangkup dagu Irish agar wanita itu membuka mulutnya. Dan saat Irish sudah membuka mulutnya, lidah panjang Ed langsung mengabsen setiap rongga dalam mulut wanita itu.
Setelahnya, tampak jika Ed langsung memeluk tubuh Irish dan membalik tubuh wanita itu.
Tampak jika sekarang Ed sedang berbaring dengan Irish tidur di atas tubuh pria itu.
Sementara, Irish hanya terdiam dan berusaha menormalkan deru nafasnya. Dirasa nafasnya sudah kembali normal, Irish lantas menatap ke arah Ed yang mulai memejamkan mata.
“ hem?” tanya Ed masih memejamkan mata.
“ apa kau bisexual?” tanya Irish. Tak heran jika wanita itu bertanya hal itu. Selama ini, ia hanya tahu jika Ed adalah gay.
Dan sekarang? Ia bukan hanya melihat dengan mata kepala sendiri namun merasakan dengan tubuhnya sendiri- jika pria itu mencumbu wanita dan itu adalah diri Irish sendiri.
“ apa kau pernah melihat aku bercumbu dengan pria?”
“ eh?” pertanyaan Ed membuat Irish terdiam. Ia lantas mencoba mengingat- ingat. Apakah pernah satu kalipun- Ed mengatakan jika ia menyukai pria?
Pria itu memang mengatakan jika dirinya gay. Namun, sekalipun, Irish tidak pernah melihat Ed tampak menyukai pria.
“ lalu..., mengapa kau mengatakan jika kau adalah gay?” heran Irish.
“ alasan lainnya tentu untuk pekerjaan. Pekerjaan kita bertemu dengan banyak orang- termasuk menjaga seseorang. Jika wanita itu single, cara paling tepat agar ia tidak mengganggu pekerjaanku dan malah menggodaku- adalah dengan mengatakan aku gay.” ucap Ed dengan mudahnya.
“ jika wanita yang sudah menikah?” tanya Irish.
“ alasannya tentu untuk menghindari agar suaminya mau percaya padaku. Jika sang suami mengira aku gay- aku akan dengan mudah melaksanakan pekerjaanku.” jels Ed.
“ tadi kau bilang pekerjaan adalah alasan lain, lalu alasan utamanya apa?” heran Irish.
__ADS_1
“ alasan utama?”
“ ya.” ucap Irish dengan penasaran.
“ apa alasannya; mengapa kau mengaku kau gay.” lanjut Irish.
“ untuk mengerjaimu tentu saja.” kekeh Ed.
“ Ap?” ucap Irish tidak percaya.
“ kau ingat saat kau mendengar aku berkata gay?
Wajahmu saat itu sangat lucu.” kekeh Ed.
“ kau menyebalkan.” kesal Irish lalu turun dari tubuh Ed.
“padahal, kau bisa saja bertanya apakah aku benar- benar gay atau tidak. Namun, dengan mudahnya kau menyimpulkan sendiri dan tidak pernah mengungkapkan perasaanmu.” ucap Ed menumpu kepalanya dengan tangannya sambil menatap ke arah Irish.
“ ka.., kau tahu perasaanku?” ucap Irish dengan malu.
“ hanya orang bodoh yang tidak tahu.” ucap Ed kambali menghadap ke langit- langit hotel.
“ bagaimana aku bisa tidak tahu, jika wajah cuekmu selalu berubah menjadi malu- malu saat berhadapan denganku?” kekeh Ed. Mendengarnya membuat Irish memilih menutupi wajahnya dengan selimut.
“ kemanapun aku melangkah ekor matamu selalu tertuju padaku.” ucap Ed mengambil anak sulur rambut Irish yang panjang.
“ kau tahu? Apa yang kau lakukan membuat hatiku pun hanya tertuju padamu.”
“ eh?” Irish tidak dapat mendengar dengan jelas karena tertutup selimut tebal.
“ tidak!” ucap Ed memilih kembali berbaring.
“ ?”
“ lalu? Sedari awal, mengapa kau tidak mengatakan jika kau tidak gay, Ed?” tanya Irish.
“ kau ini ceroboh, jika aku mengatakan aku tidak gay- kau pasti akan memilih tinggal di dalam kediaman sendiri, dan aku jadi tidak bisa mengawasimu. Baru beberapa hari kita tidak bersama saja, kau malah makan makanan yang kau pantangi dan membuat mu tersiksa karenanya.” ucap Ed.
“ kau tahu?” heran Irish.
“ tentu saja tahu. Jika nona Alice tidak mengatakan soal allergic mu, aku juga tidak akan bergegas memberimu obat.” ucapan Ed membuat Irish teringat sesuatu.
“ AP! Jadi.., keesokan harinya bibirku bengkak karena..” ucap Irish mengingat hari dimana bibirnya tiba- tiba bengkak padahal, wanita itu tidak merasa gatal pada bibirnya.
Ed hanya terkekeh- membuat Irish semakin malu karena paham artinya.
...Ada yang benar tebakan soal alasan utama Ed?😂...
__ADS_1