Affair With My Ex-wife

Affair With My Ex-wife
Axel?


__ADS_3

“ tuan, saya sudah menyerahkan hasil Design saya. Juga sudah memilih langsung permata mana yang cocok untuk design saya. Lalu mengapa anda masih mengikuti saya?” tanya Agatha karena Louis memaksa ingin mengantar wanita itu sampai di Apatement nya.


“ kenapa kau masih memakai bahasa formal padaku? Bukankah ini sudah jam pulang kantor?” ucap Louis tak suka.


“ saya akan menghentikan menggunakan bahasa Formal jika anda berhenti mengikuti saya.” geram Agatha.


“ aku hanya ingin tahu Apartement mu Agatha. Aku juga hanya ingin berkunjung.” ucap Louis.


“ baiklah, sekedar berkunjung. Tidak lebih!” ucap Agatha mengajak Louis menuju Flat Apartement nya.


“ kau menyewa Apartement sederhana?” tanya Louis.


“ ya, aku hanya tinggal sendirian, Louis. Untuk apa aku menyewa Apartement mewah dan Luas jika aku hanya tinggal sendiri.” ucap Agatha menekan tombol untuk membuka pintu Apatementnya.


“hari kematian mendiang mamamu?” tanya Louis.


“ ya, bisa di bilang begitu namun juga bisa di bilang hari kelahiran seseorang.” ucap Agatha membuka flat Apartement nya. Seketika itu juga Louis mendengar derap langkah kaki.


“ Mama.” ucap seorang anak kecil berlari ke arah Agatha dan memeluk kaki wanita itu.


“ mama? Dia anakmu?” ucap Louis tak percaya.


“ ya, Louis namanya Axel.” ucap Agatha menggendong anak lelaki yang tadi memeluknya.


“ ap! bagaimana mungkin? bukankah waktu malam pertama kita kau masih..” ucap Louis antara bingung dan tak percaya. Apakah Agatha juga mengkianati nya?

__ADS_1


“ tentu saja bisa, Louis. Axel adalah anak asuh ku.” ucap Agatha.


“ anak asuh” heran Louis.


“ ya, selama setengah tahun ini, aku banyak berkunjung ke panti asuhan juga panti Jompo, Louis.” ucap Agatha menuju ruangan seperti dapur yang menjadi satu dengan ruang makan.


“ untuk apa?” heran Louis.


“ membagi sebagian warisan yang di tinggal ayahku, Louis. Dengan begitu, aku berharap mereka ikut mendoakan ayah dan ibuku di surga.” ucap Agatha.


“ itu sebabnya kau masih menjual design mu di Freelancer?” heran Louis.


“ ya, di panti asuhan itulah aku bertemu Axel. Aku tertarik pada anak ini karena ia memiliki tanggal lahir yang sama dengan tanggal dimana ibuku meninggal.” ucap Agatha.


“ ya, tapi ia juga memiliki bakat yang sama dengan ibuku.” ucap Agatha.


“ benarkah? Anak sekecil ini?”


“ ya. Gambarnya memang tak terlihat sempurna. Namun idenya sungguh luar biasa. Aku seolah merasa jika ibuku terlahir kembali.” ucap Agatha.


“ bukankah kau bilang jika ia lahir di hari yang sama dengan ibumu meninggal? Bukankah itu berarti ia baru berumur 3 tahun?” heran Louis.


“ ya.”


“ kau meninggalkan anak umur 3 tahun? sendirian?” heran Louis.

__ADS_1


“ aku menyekolahkannya, Louis. Cuma di taman bermain di sekitar sini. Dan ia adalah anak yang pintar. Saat aku mengatakan ia harus mengetik tanggal lahirnya di mesin tombol di dekat, ia bisa melakukannya.” cerita Agatha dengan bangga.


“ benarkah?” tanya Louis.


“ ya.., selain itu..” ucap Agatha mengantung.


“ ada apa?” tanya Louis.


“ kau tau kan aku hanya tinggal sendiri Louis? Aku ingin, seandainya terjadi sesuatu padaku masih ada orang di sampingku yang akan menolongku atau sekedar mencari pertolongan. Beruntung Axel adalah pribadi yang cerdas, Louis.” ucap Agatha.


Louis hanya terdiam, sejujurnya ia tahu jika kehilangan kedua orang tuanya pasti merupakan pukulan berat bagi Agatha karena ia tak memiliki siapa- siapa lagi di dunia ini. Namun saat Agatha kehilangan satu- satunya orang tua Agatha yang tersisa, Louis saat itu dengan kejamnya memberikan surat cerai kepada Agatha.


“ maafkan aku Agatha.” ucap Louis.


“ untuk?”


“ karena di saat kau membutuhkan penghiburan terbesar dalam hidupmu karena kehilangan ayahmu aku malah dengan kejamnya memberikan surat cerai itu padamu. Padahal kau sudah tak memiliki siapapun di dunia ini.” ucap Louis.


“ itu tak masalah,Louis. Anggaplah apa yang terjadi adalah takdir. Jika kau tak menceraikan aku, mungkin aku takkan membagikan sebagian rejeki ku untuk panti jompo juga panti asuhan. Jika aku tak ke panti jompo dan panti asuhan aku mungkin takkan bertemu dengan Axel dan selamanya tak tahu ada anak yang memiliki bakat seperti ibuku.” ucap Agatha tersenyum. Meski wanita itu tersenyum, sejatinya, Louis tahu jika wanita ini terluka. Luka yang salah satunya di sebabkan oleh Louis.


Tangan pria itu terulur untuk mengelus rambut Agatha.


PLACK!!!


Namun sedetik kemudian, ada menampar tangannya.

__ADS_1


__ADS_2