Affair With My Ex-wife

Affair With My Ex-wife
Suatu hari3


__ADS_3

“ Ed.” panggil Irish.


“ hem?” tanya Ed.


“ boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Irish.


“ kau mau bertanya soal apa, istriku tersayang?” goda Ed.


“ ish.” kesal Irish. Ed hanya terkekeh.


“ apa kau ingin membuat adik lagi untuk Gavin?” goda Ed. Kesal, Irish mencubit pinggang suaminya itu.


“ sayang! Sakit!” keluh Ed.


“ mama, apa papa nakal? Kenapa kau mencubitnya?” tanya Gavin.


“ iya, mama mu jahat! Papa hanya bertanya sudah di cubit.” ucap Ed memangku Gavin. Mendengarnya, bocah kecil itu hanya memeluk ayah biologisnya tersebut..


“ kenapa mama mencubit papa?”


Kesal? Tentu saja, Irish kesal. Kelemahan terbesarnya adalah anak kandungnya tersebut. Sekarang, laki- laki kecil itu malah membela papa kandung bocah kecil tersebut sekaligus suami Iris tersebut.


“ haish! Kenapa aku bisa jatuh cinta pada orang menyebalkan sepertimu?” kesal Irish.


“ karena aku tampan?” kekeh Ed. Wajah Irish merona menahan kesal-sebelum akhirnya menghela nafas dan mengambil Gavin dari pangkuan Ed.


“Mama tidak mencubit papamu. Mama hanya mau bertanya satu hal dan papamu bercanda pada mama. Mama kan jadi kesal.” jelas Irish.


“ mama mau bertanya apa?” tanya Gavin.


“ Gavin, di kulkas ada ice cream, kau mau?” tanya Ed mengalihkan.


“ erm.” Gavin mengangguk cepat.


“ kalau begitu minta grandpa Lion ambilkan.” ucap Ed agar putranya membiarkan mereka berbincang berdua.


Gavin kembali menggangguk dan segera meninggalkan kedua orang taunya untuk berbincang.


“ jadi.., kau mau bertanya apa?” ucap Ed mulai menunjukkan ekspresi serius.


Melihatnya, Irish hanya menarik hidung suaminya.


“ sayang! Sakit! Di becandain marah, serius lebih marah lagi.” kesal Ed mengelus hidungnya.


“ kau lagi period ya?” tebak Ed.


“ aku hanya bertanya biasa. Jangan serius seperti itu. Nanti wajah tampan mu menjadi mengerikan.” ucap Irish mengelus dagu suaminya.


“ iya..., istriku mau bertanya apa?” ucap Ed luluh lalu memeluk pinggang istrinya.


“ aku masih ingat soal Abigail yang merupakan bawahanmu. Kenapa ia tidak kita masukkan ke dalam rencana menjebak nona Wanda?” tanya Irish.


“ yang pertama, Abigail merupakan dosen dari tuan Felix dan ia masuk ke dalam rencana membuat tuan Felix cemburu- seandainya kita memintanya menggoda nona Wanda, Felix akan mengira jika Abigail lah yang merupakan seorang Playboy yang menggoda semua wanita.” jelas Ed.


“ kedua...,” ucap Ed menggantung.


“ kedua?” tanya Irish.

__ADS_1


“ Abigail menolak untuk merayu wanita lagi. Bahkan meski bisa di bilang tugasnya adalah membuat tuan Felix cemburu, namun, ia tidak mau mengoda nona Freya dan memilih memanas- manasi tuan Felix.” jelas Ed.


“ kenapa ia menolak merayu wanita?” tanya Irish.


“ ia tidak mau wanita yang ia sukai cemburu! Bahkan, saat ia menggandeng nona Freya- yang cemburu melihatnya bukan hanya tuan Felix namun wanita yang ia sukai.” jelas Ed.


“ Abigail menyukai seorang wanita? Apakah ia rekan kerjanya?” tanya Irish.


“ aku rasa bukan. Sebagian rekan kerjanya sudah tua, jadi aku yakin wanita yang ia sukai adalah anak didiknya.” jelas Ed.


“ ooo?”


“ lagi pula, kau dalam bentuk pria sudah cukup. Bukankah bahkan anakmu sampai mengira kau benar- benar menjadi laki- laki?” kekeh Ed.


“ apakah dadaku serata itu?” ucap Irish memainkan dadanya. Namun, dengan nakalnya tangan suaminya ikut memainkan dada Irish.


“ Hei!” kesal Irish.


“ aku hanya membantumu.” kekeh Ed mulai memajukan wajahnya dan memainkan bibir istrinya.


“ ini masih siang Ed!” ucap Irish terbata karena tangan suaminya mulai menyentuh ke titik tersensitive wanita itu.


“ salahkan dirimu yang menggodaku.” ucap Ed mulai menggendong tubuh istrinya ke kasur mereka.


“ aku tidak menggodamu!” ronta Irish.


“ tidak menggoda? Lalu, apa namanya jika tidak menggoda jika kau memainkan dada besarmu di hadapanku.” ucap Ed mulai membuka bajunya dan baju istrinya.


“ aku hanya bertanya! Ed!” pekik Irish. Dan..., siang ini, di habiskan dengan keringat oleh sepasang suami istri itu.


“ kau mau kemana?” tanya Abigail.


“ pemandian umum.” jelas Olivia. Ya, yang di tanyai Abigail adalah Olivia yang tidak sengaja bertemu saat pria itu berkendara dengan motornya.


“ pemandian umum?” tanya Abigail.


“ ya, pompa airku rusak. Aku harus mengambil air di masjid terdekat untuk masak dan mencuci- namun, untuk mandi, aku memilih mandi di pemandian umum saja. Aku sudah lama tidak berendam, dan jika aku harus bolak balik menuju masjid- hanya untuk memenuhi bath- up ku, aku akan kelelahan dan tidak mood mandi.” jelas Olivia.


Ya, Olivia tinggal di perumahan sederhana- yang satu rumah dengan rumah lainnya saling berbaur satu sama lain, perumahan itu juga termasuk perumahan yang umum sehingga memiliki, masjid, pura, Wihara dan gereja kecil di dalam kompleks perumahan tersebut.


Dan karena,tepat di hadapan rumah Olivia adalah masjid-sehingga Olivia memilih mengambil air di masjid tersebut. Olivia sendiri tidak begitu terlalu fanatik pada agama sehingga tidak masalah main di masjid tersebut- meski ia bukan seorang muslim. Begitupun dengan pengurus masjid yang tidak mempermasalahkan Olivia main ke masjid itu karena mengenal keluarga Olivia.


Toh, menolong seseorang tidak perlu memandang agama.


“ kau tidak memanggil tukang?” tanya Abigail mematikan motornya dan menuntun motornya agar bisa berjalan berdampingan dengan Olivia.


“ aku tidak memiliki uang.” cicit Olivia.


“ kemana ayahmu? Menemani adikmu lagi?” tanya Abigail, Olivia menggangguk.


“ bagaimana dengan kekasihmu?” tanya Abigail.


“ aku sudah memanggilnya kemarin, namun, ia malah hanya meminjam motorku dan mengajakku hujan- hujanan semalam.” jawab Olivia.


“ kekasihmu tidak berguna.” ucap Abigail menggaruk rambut di atas pelipisnya. Olivia hanya terdiam dan termenung.


“ kenapa kau tidak putus saja dengan kekasihmu?” tanya Abigail.

__ADS_1


“ ingin.” jelas Olivia.


“ so?” tanya Abigail- mengangkat sebelah alisnya.


“ sejujurnya, aku sudah lelah sedari lama, setiap bertemu hanya bertengkar saja.” ucap Olivia.


“ aku akan ke rumahmu, kita berbincang di sana saja. Sekalian aku lihatin pompamu.” ucap Abigail memakai helm nya.


“ eh? Tapi rumahku sedang mati lampu.” jelas Olivia.


“ listrikmu habis?” tanya Abigail- karena sepengetahuannya, sedang tidak ada pemadaman listrik.


“ ya.” jawab Olivia lemah.


“ kau tidak ada uang untuk membayar listrik?” tanya Abigail.


“ ada, tapi, uangku aku perioritaskan untuk makan dan membeli stok dagangan. Belakangan, pasar online sedang sepi- sehingga aku tidak berani membeli yang macam- macam dulu.” jelas Olivia.


Jika kalian bertanya; apa pekerjaan Olivia; ia berdagang melalui aplikasi daring dan media sossial untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, karena ayahnya sudah sama sekali tidak ingin mengurusi kehiduan Olivia dengan dalih; agar Olivia mandiri.


“ kau tidak memakai uang dari kartu yang aku beri?” tanya Abigail- ya, semenjak kejadian ONS mereka, Abigail memang memberi Olivia credit card. Namun, kelihatannya, Olivia enggan memakai credit card yang di berikan Abigail- terlihat dari pemberitahuan dari mobile banking- hanya memberitahu penarikan pada awal Abigail memberi kartu saja. Tentu karena pria itu selalu membantu Olivia. Dan bagi wanita itu, Olivia tidak hanya mengganggap Abigail hanya teman ranjang semata.


“ naik! Aku akan membelikan listriku melalui MB, kau tahu nomor meteran listrikmu?” mendengar perintah Abigail- Olivia hanya menggangguk dan langsung naik ke motor Abigail.


Tidak jauh rumah Olivia dari tempat mereka bertemu, sehingga hanya butuh bebeberapa menit saja sudah sampai. Setelah mengisi listrik Olivia- Abigail segera melihat pompa milik wanita itu.


“ ceritakan kepadaku, soal kekasihmu. Kenapa kau ingin putus darinya, padahal, kau sudah sangat lama dengannya.” pinta Abigail- sambil melihat pompa milik Olivia.


“ ini di mulai saat ulang tahunnya ayahku tahun lalu. Meski ayahku membedakan aku sedemikian rupa, aku tetap ingin menjadi anak yang berbakti- sehingga aku berencana menabung untuk membeli hadiah ayahku.” jelas Olivia.


“ namun, tiba- tiba, kekasihku- Daren, tiba- tiba menghubungiku dan meminjam uangku.” lanjut Olivia.


“ untuk?” tanya Abigail berusaha menyalakan pompa untuk melihat kerusakan pada pompa.


“ membeli kuota internet.” mendengar penjelasan Olivia- Abigail hampir tertawa.


“ apakah ia anak kecil? Bahkan untuk membeli kuota internet meminta padamu?” ucap Abigail tertawa remeh.


“ ya, akupun kesal. Aku sudah menabung begitu lama, dan aku tidak ingin menunda membeli hadiah- sehingga aku menolak keinginannya. Dan gilanya lagi- ia membuat aku harus memilih putus dengannya atau..., membelikan ia kuota bodohnya.” ucap Olivia juga dengan tawa remeh.


“ kau memilih putus?” tanya Abigail mengelap tangannya.


“ ya. Setelah itu, ia pergi dan tidak menghubungiku selama 4 bulan aku pikir, kita benar- benar putus dan kau tahu? Setelah 4 bulan ia mendatangi aku, marah- marah kepadaku dan melihat handphone aku. Dan ketika ia melihat aku menghubungi seorang pria- ia mengira aku selingkuh! Ia tidak terima aku jalan dengan seorang pria- setelah aku menyatakan memilih putus!” kesal Olivia.


“ kenapa kau tidak mengatakan jika kalian memang sudah pisah?” tanya Abigail.


“ ia orang gila, atau mungkin terlalu obsesi. Ketika marah, ia selalu menghancurkan barangku.” cicit Olivia.


“ apa kau sudah mengatakan kepada ayahmu?” tanya Abigail.


“ dia hanya mengatakan jika ia tidak suka pada Daren. Pria itu memang tidak bisa berbuat banyak ketika ayahku di rumah. Namun, biar bagaimana pun- ia telah mengetahui rumahku.” jelas Olivia. Mendengarnya, Abigail memilih diam.


“ aku sudah tahu kerusakannya, aku akan membeli apa yang di butuhkan dulu.” ucap Abigail.


“ apa kau mau makan siang disini? Aku akan memasak untukmu.” ucap Olivia.


“ aku mau makan di sini, namun, makan yang lain.” kekeh Abigail membuat Olivia merona.

__ADS_1


__ADS_2