
Freya mengucek matanya kala sinar mentari sudah memaksa memasuki melalui tirai jendela.
Ia ingin mandi- karena kemarin malam tidak sempat mandi, namun ia ingat jika ia masih berada di kamar suaminya. Dan di kamar suaminya tidak ada baju gantinya. Freya lantas beranjak dari kasur suaminya- kala melihat jika Felix masih tertidur pulas.
Cklek! Kamar suaminya masih di kunci.
Dengan nafas berat, akhirnya ia kembali mendekatkan dirinya kepada suaminya untuk membangunkan pria itu.
“ Fe!” Freya tidak lagi memanggil kakak karena takut suaminya akan berbuat macam- macam dengannya.
“ Hem?” Felix masih enggan membuka mata.
“ kunci kamarnya..., kau taruh di mana Fe? Ini sudah pagi, aku mau masak.” jelas Freya.
“ di.., di kantong celanaku.” ucap Felix menutupi setengah wajahnya.
Merasa jika suara suaminya terasa lemah membuat Freya merasa curiga. Ia lantas menyentuh dahi suaminya.
“ Fe? Kau sakit?” tanya Freya kala merasa dahi suaminya yang terasa panas.
“ aku tidak sakit..., aku..., aku cuma butuh istirahat.” jelas Felix. Ya, ia kelelahan karena berusaha menjaga Freya saat di rumah sakit, belum ia yang tetap harus mengikuti jadwal kuliah. Apa lagi, selama di rumah sakit, ia harus rela tidur di sofa yang sempit- yang bahkan tidak leluasa untuk tidur.
Setelah menghela nafasnya, Freya akhirnya mengambil kunci dari kantong suaminya dan beranjak dari kamar Felix. Sementara, pria itu hanya menatap ke arah istrinya yang pergi meninggalkannya.
Pria itu tidak menyangka jika istrinya akan memilih meninggalknnya, rasanya...., sedikit menyakitkan. Felix jadi bertanya- tanya, saat Felix hampir mendapatkan hak nya- namun malah meninggalkan istrinya sendirian- apakah istrinya juga merasa sesakit ini? Atau mungkin lebih?
Perasaan kecewa karena tahu jika orang yang meminta haknya- lebih memilih menemani orang lain.
Felix menghembuskan nafasnya dan hendak beranjak dari kasurnya- untuk mencoba membersihkan dirinya sendiri. Tubuhnya terasa lemah dan kepalanya terasa berat, bahkan untuk bangun dari tempat tidur saja terasa tidak mampu.
“ kau mau kemana?” tanya Freya. Felix sedikit terkejut kala melihat istrinya datang dengan sebaskom air dan handuk kecil. Ia pikir, istri kecil nya itu akan memilih mandi dan menyiapkan sarapan tanpa mempedulikan Felix.
“ a.., aku mau membersihkan diriku dan berangkat kuliah.” jelas Felix.
“ kuliah? Kau bahkan tidak kuat untuk bangun dari tidur.” jelas Freya mengembalikan posisi suaminya agar kembali berbaring. Ia memang marah dan kecewa pada suaminya, namun, ia juga tidak bisa mengalahkan hati nuraninya. Ia tidak ingin menjadi istri yang durhaka dengan meninggalkan suaminya di saat sakit.
__ADS_1
“ aku sudah menelphone dan meminta ijin pada dosenmu, kau hanya perlu istirahat, agar kau sembuh.” ucap Freya menaruh sebaskom air hangat di samping nakas dan beranjak dari kasur Felix menuju kamar mandi pria itu.
Tampak jika wanita itu membawa handuk dari kamar mandi.
“ mau kau apakan handuk itu?” heran Felix.
“ membersihkan tubuhmu.” ucap Freya meletakkan handuk yang ia ambil tadi di bawah tubuh suaminya.
“ Apa?”
“ hal pertama yang saat sakit adalah; membuat tubuh bersih, agar tubuhmu nyaman saat beristirahat.” ucap Freya mencoba membuka baju suaminya.
“ tidak perlu, Frey.” ucap Felix menghentikan istrinya membuka kancing kemeja yang ia pakai.
“ apa yang membuatmu malu? Aku sudah pernah melihat tubuhmu.” ucap Freya memaksa. Ya, Felix memang sudah pernah memperlihatkan tubuhnya, namun saat akan membuka segel- telephone pria itu berbunyi dan menggagalkan semuanya.
Namun, yang Felix tidak sangka adalah; istrinya itu masih mau merawatnya.
Entah bagaimana, hatinya seolah penuh dengan bunga.
Sebisa mungkin, Felix menahannya. Melihat wajah acuh istrinya- aneh rasanya jika Felix malah terang***g pada sentuhan istrinya.
“ ka.., kau terlihat biasa saja saat membilas badanku.” ucap Felix mencoba mengalihkan rasa.
“ aku terbiasa membantu ibuku dalam mengelap tubuh papa- kala papa mabuk. Aku juga terkadang membantu sepupuku saat kakak angkatku itu mabuk.” jelas Freya. Meski pertanyaan yang di ajukan Felix berbeda makna dengan yang di maksud.
“ Ap?” ucap Felix tidak terima. Ya, rasa terangsang itu benar- benar tergantikan sempurna dengan rasa kesal- sekarang.
“ kenapa?”
“ kenapa? Aku bisa memahami jika itu ayahmu, namun.., tuan Axel?” kesal Felix.
“ ia adalah kakakku, aku terbiasa melihatnya sedari aku lahir.” acuh Freya.
“ tapi dia tidak terikat hubungan darah denganmu, Frey.” kesal Felix.
__ADS_1
“ tapi, sampai sekarang juga tidak terjadi apapun. Ia mencintai sis Alice dan kak Axel juga tidak akan mengkhianati sis Alice dan murni hanyamenganggapku adiknya.” jelas Freya.
“...” Felix tidak bisa membantah lagi. Apa yang di katakan memang benar adanya. Bahkan, saat Freya berganti baju di hadapannya, raut wajah Axel tak juga berubah.
Dan tanpa terasa, acara membersihkan diri- Felix, selesai.
*
“ aku akan membeli bubur dulu, minum dulu tea hangat ini.” ucap Freya menaruh tea hangat di samping nakas agar suaminya leluasa meminumnya. Freya lantas beranjak dari kamar suaminya.
Felix hanya menatap ke arah tea yang di sediakan istrinya dan berusaha untuk duduk.
Sruput! Felix berusaha meminum tea hangat tersebut.
“ Manis!” keluh Felix.
“ aku memang sengaja membuatnya menjadi lebih manis.” jelas Freya.
“ kenapa?” heran Felix.
“ ada kemungkinan gula dalam darahmu turun- sehingga kau terasa lemah. Biasanya, lidahmu akan terasa pahit sehingga tidak nafsu makan. Satu- satunya cara meningkatkan staminamu adalah dengan membakar gula lebih banyak.” jelas Freya.
“ apa ini yang di ajarkan ibumu?” tanya Felix.
“ ya, cara ini selalu ampuh ketika aku sedang period. Aku akan terasa lemas seharian- meski tidak merasa sakit. Biasanya, aku akan meminum air gula agar menambah tenaga ku.” ucap Freya menaruh obat di samping nakas.
“ aku sudah memesan bubur secara delivery, maaf aku tidak bisa membuat bubur.” ucap Freya dengan semangkok bubur di tangannya.
“ itu lebih baik dari pada aku yang tidak bisa masak.” ucap Felix terkekeh kecil.
“ ya, aku masih ingat rasa lengkuas rebus itu. Sungguh konyol, seorang dosen killer tapi tidak bisa membedakan mana itu lengkuas dengan Jahe dan gula dengan garam.”
“ hei! Aku ini dosen- bukan koki. Aku mempelajari buku dan ilmu pengetahuan- bukan masalah dapur!” kesal Felix.
“ setidaknya, kau tidak membuat gosong pancinya saat memasak lengkuas rebus itu.”
__ADS_1
Sungguh, dulu- Felix merasa jengah akan obrolan yang bagi pria itu menyebalkan, namun, entah mengapa, sekarang ia malah merindukan obrolan- obrolan konyol ini. Meski sakit itu tidak nyaman, setidaknya, ia jadi bisa mengobrol seperti dulu lagi dengan istrinya.