Affair With My Ex-wife

Affair With My Ex-wife
Liar


__ADS_3

Orang yang selalu ceria bukan berarti tidak pernah terluka. Ia juga memiliki luka, mungkin luka yang lebih menyakitkan dari yang orang tahu, karena selalu membohongi dirinya sendiri untuk pura- pura tertawa.


Wanda bersyukur karena Freya mau mendonorkan organnya untuk dia- namun, di sisi lain, ia juga cemburu karena Felix tampak menunjukkan kepeduliannya pada istrinya itu.


Cemburu?


Bukan cemburu yang berarti wanita itu menyukai Felix. Namun, ia memang cemburu pada apa yang di miliki Freya- apa yang tidak akan bisa di miliki seorang Wanda.


Freya- di mata Wanda adalah seorang nona besar yang bisa melakukan apapun- mendapatkan apapun yang ia mau. Lantas, mengapa wanita itu juga bisa dengan mudahnya mendapatkan Felix- pria yang dulu berjanji pada Wanda tidak akan mencintai istrinya itu. Namun, dalam hitungan hari- tampak jika Felix mulai peduli pada Freya dan mungkin, mulai mencintai wanita yang menjadi istrinya itu.


“ ingatlah janjimu, Fe.” jelas Freya kala mereka akan masuk ke meja operasi.


“ ya.” ucap Felix tersenyum lembut.


Mendengarnya, membuat Wanda penasaran.


“ Fe, janji apa yang di maksud?” tanya Wanda kala Freya lebih dulu masuk ke ruang operasi.


“ cuma janji kecil, ia ingin aku berada di sisinya agar saat terbangun- ia tetap dapat melihatku.” jelas Felix.


Mendengarnya, membuat Wanda lantas tersenyum.


Dan akhirnya, Wanda juga ikut di bawa masuk menuju ruang operasi. Entah apa yang terjadi di ruang operasi- yang tertutup rapat.


Sebelumnya, Felix bukanlah orang yang taat- namun, entah mengapa- di luar ruang operasi- entah apa yang merasuki Felix- hingga akhirnya tangannya saling tertaut- sebelum akhirnya membawa tangannya menyentuh dahinya- hatinya, bahu kiri dan di akhiri dengan bahu kanannya.


Untuk kali pertama, pria itu benar- benar berdoa untuk istrinya yang sedang berperang di meja operasi.


Meski, pria itu tidak benar- benar tahu apa yang terjadi di dalam ruang operasi.


“ aku tidak percaya. Sebelumnya, entah bagaimana aku mengatakannya pada anak itu- untuk belajar berdoa, namun, seolah apa yang aku katakan itu masuk melalui telinga kananya- keluar melalui telinga kirinya. Dan sekarang? Aku melihat ia berdoa tanpa di minta.” ucap ibunda dari Felix melihat melalui camera yang sengaja di pasang untuk mengawasi ruang operasi dan luar ruang operasi.


“ ia bahkan menyemangati istrinya dan bersikap lembut pada istrinya.” ucap ibunda dari Felix senang.


“ aku harap, ia berbuat baik bukan karena nona Freya mau mendonorkan organnya.” keluh ayah Felix.


“ aku rasa tidak. Kelihatannya, anak anda sudah mulai mencintai Freya. Hanya saja, sandiwara ini belum sepenuhnya berakhir sampai kita menghukum rubah itu agar ia jera.” jelas Bernard yang ikut mengawasi.


“ tapi, aku tidak menyangka jika dokter- dokter itu memerankan perannya dengan baik- mereka tidak benar- benar keluar begitu saja, hingga membuat orang akan mengira jika benar- benar terjadi operasi.” ucap Louis.


“ meski begitu, aku sedikit salut pada keloyalan dokter- dokter itu, awalnya, mereka tidak mau bekerja sama karena takut melanggar kode etik dokter.” ucap Agatha menyesap coffee hitamnya.


“ yah, biar bagaimanapun, tidak ada yang terluka di sini.” jelas Andre.

__ADS_1


“ lalu bagaimana dengan bekas operasi? Mereka pasti tetap akan merasa curiga jika tidak ada satupun bekas operasi bukan?” tanya Louis.


“ kita akan menggunakan sejenis tato, di tambah dengan bahan kimia akan seolah memperlihatkan benar- benar seperti bekas luka hidup.” jelas Ed.


“ apa itu yang sering di lakukan Mafia agar terlihat memiliki codet?” tanya Louis.


“ bisa di bilang seperti itu.” ucap Ed memilih mengiyakan.


Berbeda dengan Andre dan Bernard yang terbiasa pada dunia bawah, Louis lebih seperti orang yang cerdas namun polos.


“ mama.” panggil Gavin.


“ hem?” heran Irish.


“ kenapa aunt itu berada di ruang operasi? Apakah ia akan membuat dirinya agar bisa mengganti- ganti kelaminnya seperti yang mama lakukan waktu itu?” tanya Gavin dengan polosnya, membuat semua yang ada di sana hampir saja tertawa dengan keras. Sampai mereka ingat jika mereka sedang berada di kawasan rumah sakit.


“ Gavin, sayang. Yang mama lakukan tempo hari itu namanya; menyamar.” jelas Irish.


“ooo? Tapi mama hebat sekali, Gavin pikir makanan Gavin hilang- waktu itu.” sekali lagi, ucapan anak berumur dua tahun itu membuat semua orang menahan tawanya.


‘ ia benar- benar sepertimu.’ keluh Irish menyenggol perut suaminya yang sedang menahan tawa atas apa yang di katakan anak kandungnya tersebut.


“ tapi milik mama rakus sekali.” celoteh Gavin.


“ erm. Milik mama selalu memakan milik papa tengah malam- sampai membuat papa menggeram kesakitan pun tidak mama lepaskan- baru sampai milik mama muntah baru karena kekenyangan baru di lepas.” ucapan anak kandungnya sontak membuat Ed menutup mulut putranya tersebut.


“ selama ini, kau pura- pura tidur ya!?” ucap Ed malu.


“ erm.., tapi Gavin tidak mau mengganggu kalian. Soalnya, Gavin tahu, milik mama juga butuh makan biar bisa menghasilkan makanan untuk Gavin.” ucap Gavin dengan polosnya- membuat para orang dewasa yang ada di sana berdehem pelan dengan wajah merona.


...🕛🕧🕐🕝🕒...


Beberapa jam setelahnya, tampak jika kedua wanita itu telah keluar dari ruang operasi. Lantas, kali pertama yang pria itu datangi adalah istrinya yang masih tertidur.


“ terima kasih.” ucap Felix mengelus rambut istrinya.


‘ terima kasih, karena kau tetap keluar dalam keadaan selamat.’


Setelahnya, Felix juga mengucapkan terimakasih kepada dokter yang pria itu kira melakukan operasi.


Tampak jika dokter- dokter itu tersenyum canggung- setelah akhirnya meninggalkan Felix bersama kedua wanitanya.


Felix- lalu berinisiatif memesan kamar untuk istri dan Wanda dengan kamar yang berbeda.

__ADS_1


Sepanjang waktu, Felix terus menggenggam tangan istrinya, ia berusaha menepati janjinya. Namun, beberapa jam setelahnya, tampak jika handphone pria itu berdering.


“ Wanda?” heran Felix.


“ Ada apa?” jawab Felix.


...“ Fe, kau di mana?” tanya Wanda....


“ aku di kamar istriku.” jawab Felix jujur.


...“ kau memesankan kamar yang berbeda?” heran Wanda....


“ ya.” ucap Felix jujur. Membuat Wanda mengigit jarinya karena kesal.


“ bolehkkah kau mengantarku ke kamar nona Freya?” tanya Wanda ingin melaksanakan idenya.


“ untuk apa?” heran Felix.


...“ aku hanya ingin berterimakasih, Fe.”...


Felix lantas melihat Freya yang masih tertidur pulas sebelum akhirnya mengiyakan perkataan Wanda.


Dengan pelan, keluar dari kamar istrinya- bertepatan dengan efek obat bius Freya yang habis.


Ia lantas melihat ke sekeliling dan tidak mendapati ada siapapun di sebelahnya.


“ Fe?” panggil Freya.


“ kakak Felix?” ucap Freya meninggikan suaranya- karena berharap jika Felix hanya ke kamar mandi di ruang rawatnya saja.


“ nona sudah bangun?” perawat datang.


“ apa anda tahu kemana suami saya?” tanya Freya.


“ tadi, ia menunggu di ruangan anda, namun, kelihatannya, dia menuju ke ruang sebelah.” jelas suster tersebut.


“ ruang sebelah? Siapa yang di rawat di sana?” tanya Freya.


“ atas nama nona Wanda.” ucapan perawat itu membuat Freya terluka atas apa yang di lakukan suaminya.


Entah bagaimana, air mata yang selama ini selalu di sembunyikannya tumpah memenuhi matanya.


“ pembohong.”

__ADS_1


‘ sudahlah..., lagi pula..., lagi pula ini juga salahku..., salahku karena mencintai pria yang takkan pernah bisa aku gapai bagaimana kerasnya aku berusaha.’ batin Freya menutupi wajahnya.


__ADS_2