
Hari pun telah sore dan waktunya mereka yang di sibukan dengan segala aktivitas sejak pagi untuk menghentikan segala kegiatannya dan pulang ke rumahnya masing-masing.
Sore itu, Jodi, Berlian dan Riksa menumpangi kuda besinya untuk kembali ke kediamannya setelah seharian lelah melakukan aktivitasnya.
Di dalam mobil, Jodi yang duduk di jok belakang bersama Berlian, terlihat mengotak ngatik ponselnya. Begitu pun dengan Berlian, ia pun sibuk dengan ponselnya. Seperti biasa ia menyandarkan tubuhnya pada dada bidang sang om.
“Sayang, mau bantu om gak?.” Tanya pelan Jodi pada Berlian.
“Bantu apa om?.” Berlian menengadahkan wajahnya.
“Begini, om diminta oleh partner perusahaan om untuk memilih model pria, model itu akan di jadikan brand ambassador produk yang akan kita luncurkan. Kira-kira menurut kamu siapa yang pantas dari puluhan kandidat model pria internasional tersebut?” Jodi memperlihatkan layar ponselnya pada Berlian.
Berlian memgambil ponsel yang Jodi berikan padanya. Nampak puluhan model pria dan beberapa artis mancanegara lengkap dengan biodatanya.
“Memangnya om tidak bisa memilih sendiri?.”
“Kalau model pria om kurang begitu paham sayang, biasanya yang paham betul kan wanita, kalau modelnya perempuan om paling jago milih hehe.”
“Ish.. om genit… awas aja kalau berani genit depan aku.” Berlian bangkit mencubit perut Jodi.
“Aw… sakit sayang.” Jodi meringis pelan memegang bekas cubitan Berlian dan membenamkan wajahnya pada perut gadis itu.
Sementara Riksa melihat kelakuan mereka dari kaca spion. ‘Yaelah… manja-manjaan depan gue.. udah lupa aja kalau gue ada di sini hadeh…’ bathin Riksa.
“Ya sudah coba kamu pilih kira-kira siapa yang cocok.” Kata Jodi lantas mendekatkan kembali tubuhnya pada gadis itu.
Berlian mulai melihat-lihat foto model pria tersebut dengan menyandarkan kembali kepalanya pada dada bidang Jodi.
Lama ia memilih dan akhirnya ia memilih model pria yang usianya diatas 40 tahun. Padahal banyak pilihan model pria yang masih muda.
“Ini om! Di antara sekian banyak model pria yang sudah aku lihat sepertinya model yang bernama Adam ini cocok untuk brand ambassador produk perusahaan kita.”
Kemudian Jodi melihat foto tersebut, terlihat ia mengernyitkan dahinya.
“Kenapa kau pilih dia sayang? Padahal masih banyak model lain yang lebih muda?.” Tanya Jodi menyelidik.
“Pria berusia dewasa terlihat lebih seksi om. lebih memberikan rasa aman dan memberikan tantangan dan perlindungan yang maksimal, mengingat pengalamannya lebih luas dan dalam. Kalau pria muda terlihat lebih egois dan kebanyakan dari mereka toxic. Aku kurang menyukainya.”Jelas Berlian. Secara tidak langsung ia mengungkapkan Apa yang berada dalam pribadinya.
Riksa yang mendengarkan percakapan mereka menyunggingkan senyum di sudut bibirnya, menandakan bahwa prediksinya benar tentang perilaku Berlian,
Jodi melihat Riksa pada spion depan, dan mata mereka berpandangan, terlihat Jodi sedikit menganggukan kepalanya yang berarti ia mengiyakan mengenai perilaku Berlian yang ia dengar dari Riksa.
“Oh, begitu ya sayang?.”
“Iya om. Pria muda biasanya bertindak sesuai dengan keinginannya dan sekehendak hatinya tanpa melihat dulu apa keinginan pasangannya, Makanya banyak diantara mereka timbulnya permasalahan dan keributan yang tidak berarti. Beda dengan pasangan pria yang sudah berusia dewasa, ia akan sering mengalah dan menjadi orang yang paling mengerti dan kasih sayang juga kehangatannya akan di rasakan seperti kasih sayang orang tua pada anaknya. Kasih sayang yang tanpa pamrih, kasih sayang yang menyiratkan kejujuran dan kehangatannya menenangkan jiwa.” Ucap Berlian yang kemudian mengeratkan pelukannya pada pinggang Jodi dan mengenduskan hidungnya pada dada bidang yang kini tengah menjadi sandarannya.
__ADS_1
Sejenak hening diantara mereka, Jodi memejamkan matanya seolah ia meresapi apa yang gadis itu katakan dan menikmati pelukan dan endusannya. Ia belai rambut panjang itu dengan segenap perasaan yang ada.
Riksa melihat penampakan tersebut, ‘Mulai kena tuh si Boss hehe.. makanya hati-hati dengan lidahmu Boss.. ujung lidah lebih tajam dari mata pedang... Dan harga diri seseorang terletak disana… iya katakan iya.. tidak katakan tidak.. Hoho.. drama mulu sih depan gue.” Bathin Riksa.
“Om….” Suara lembut Berlian.
“Hm.. kenapa sayang?.”
“Apa om akan menjagaku selamanya?.”
“Tentu saja sayang.. om akan selalu ada di sampingmu.”
“Om janji?.”
“Ya.. om janji sayang.” Jodi mencium pucuk kepala gadis itu.
‘Hadeeeh… jadi san*e gue lihatnya hahay.. giliran urusan kantor sama rumah tangga, gue yang handle. Kenapa gak sekalian aja urusan ngelonin dan gendong tuh si putri gue yang handle juga, gue gak akan nolak kok Boss, hoho..’Bathin Riksa kembali sembari memperhatikan kaca spion melihat penampakan mesra mereka.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di halaman rumah mereka. Terlihat. Berlian tertidur di atas dada Jodi.
“Rik, tolong buka pintu mobilnya?.” Titah Jodi.
“Biar gue saja yang gendong nona ke kamarnya Boss hehe.”
“Mau mati luh!.” Bentak pelan Jodi karena khawatir akan membangunkan Berlian.
Sesampainya di dalam kamar, Jodi membaringkan tubuh Berlian di atas tempat tidur.
Merasakan tubuhnya lepas dari gendongan om nya perlahan matanya terbuka.
“Mh.. om.. kita sudah sampai rumah?.” Berlian melingkarkan kedua tangannya pada leher Jodi.
“Iya sayang… Istirahatlah….” Kata Jodi pelan dengan posisi tubuhnya masih membungkuk karena tangan Berlian masih melingkar di lehernya.
Perlahan Berlian melepaskan tangannya lalu di letakan tangannya pada dasi yang melingkar di leher Jodi, perlahan ia longgarkan lilitan dasi itu dan membukanya.
Mendesir darah Jodi mengalir lebih kencang kala sentuhan tangan dari gadis itu terasa menghanyutkan nya.
Dengan suara sedikit serak ia berbisik, “sayang… Istirahatlah… om mau ke kamar dulu ganti pakaian.” Jantungnya berdegup tak tentu nada.
“Hm…” Berlian menganggukan kepalanya pelan, lantas menarik sedikit tengkuk Jodi dan mencium lembut pipi om nya itu.
Bersamaan dengan itu, Riksa yang akan menuju kamarnya melintas ke depan pintu kamar gadis itu dan melihat penampakan tersebut, ‘hadeeeh.. abis peluk-pelukan terus gendong-gendongan sekarang ciuman… udah, romantisnya ngalahin drama manapun ini mah hahay.’ Gumam Riksa.
Berlian lama sekali menempelkan bibirnya pada pipi Jodi hingga hembusan nafasnya membuat gairah Jodi bangkit. Dengan cepat Jodi tersadar lalu mencium kening gadis itu dan berlalu meninggalkan kamar itu menuju kamarnya dengan membawa gairah yang melambung.
Bergegas Jodi masuk kamarnya dan melucuti semua pakaiannya lalu masuk ke dalam kamar mandi dan membenamkan dirinya di dalam bathtub untuk menetralisir rasa yang muncul tadi.
__ADS_1
“Oh putri kecilku… kenapa jadi begini??… Ah.. sial!! Kenapa gairahku muncul saat dekat dengannya?.. ini tidak boleh terjadi… tolong hentikan ini putriku… aku tidak bisa terus-terusan begini…” Gumam Jodi merasa kesal terhadap dirinya sendiri.
Di dalam buaian air dingin di atas bathtub, Jodi menengadahkan wajahnya dan mencoba memejamkan matanya. Berharap dapat merelaks kan pikirannya dari godaan yang semakin hari semakin melambaikan tangannya seolah memaksanya untuk masuk ke dalam jeratan yang ia anggap adalah hal yang mustahil.
Namun semakin ia pejamkan matanya, semakin terlihat wajah putri kecil itu. Bergegas ia bangkit dan membasuh tubuhnya menyelesaikan mandinya.
Setelah selesai, ia gunakan pakaian santainya dan berlalu meninggalkan kamarnya menuju ruang kerja di lantai tiga.
Melihat penampakan Jodi masuk ke dalam ruang kerja. Riksa mengikutinya dari belakang.
“Kenapa Boss? Kok terlihat seperti memikirkan sesuatu?.” Tanya Riksa.
“Rik, sini… tutup pintunya, gue mau ngomong sama elo.”
Kemudian Riksa menutup pintu ruang kerja itu dan duduk di atas sofa. Riksa mengamati tingkah Boss nya yang sedikit terlihat gugup. Jodi duduk di sisi Riksa dan menyandarkan tubuhnya dengan kepala menengadah ke atas langit-langit.
Melihat gelagat Boss nya Riksa tersenyum tipis, “Bagaimana Boss? Prediksi gue gak salahkan?.”
Jodi menarik tubuhnya dan menjuruskan pandangannya pada Riksa lalu menganggukan kepalanya.
“Hehe… jangan lupa juga prediksi gue yang satu lagi Boss?.”
Jodi mengernyitkan dahinya kemudian mencoba mengingat-ingat. “Yang mana?.” Tanya Jodi yang belum menemukan jawabannya.
“Rasa gerah yang akan Boss hadapi setelah ini hehe.. siap-siap saja Boss akan berjibaku dengan perasaan yang mengganggu.” Jawab Riksa.
“Rik, gue pengen elo kasih solusi buat gue. Apa yang harus gue lakukan??.”
“Nikmati saja prosesnya Boss, hasilnya biar Tuhan yang urus.”
“Maksud elo??!.”
“Ya dihindari juga gak akan bisa… yang harus Boss lakukan adalah jaga iman dan jaga aja tongkat komando Boss jangan sampai ia kehilangan arah haha.”
“Eh bocah sialan! Ngomong yang bener anjir!.”
“Semakin lama waktu akan semakin membawa kalian pada situasi yang Sulit yang tak mungkin dapat di hindari. Semakin dalam akan semakin sakit jika terlepas… semakin ingin di lupakan akan semakin mendekat.. cinta datang tanpa di duga, ia seperti makhluk astral yang siap menghantui rasa dan pikiran.. perlakukan ia dengan bijak.. maka kau akan mendapatkan keindahannya.”
“Heh! Gila!! Ngomong apaan sih luh!! Ngelantur aja!.” Bentak Jodi.
“Duhai peri kecil yang kini menggoda… lepaskanlah aku dari jeratan indahmu.. karena jiwa ini telah terhanyut bersamamu dalam buaian mesra yang tak berujung… Duhai kekasih kecil.. semakin lama aku semakin tertusuk oleh aroma tubuhmu.. ingin ku raup tapi tak kuasa… ingin di hempas tapi semakin menggoda.. haha.” Ledek Riksa.
“Anjiiiir!! Pergi luh!!!.” Jodi melemparkan buku pada Riksa membuat Riksa kabur meninggalkan Jodi di ruangan kerja itu sendiri.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Duhai… Readers tersayang tinggalkan lah jejak kalian🤣🤣
__ADS_1
Terima kasih🥰