Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Cermin Retak


__ADS_3

‘Gue rasa.. elo bakal nyesel luh Boss setelah ada cowok yang deket sama dia.. hahay.’ Bathin Riksa.


“Sekarang elo balik ke ruangan elo! Sebelum jam makan siang elo jemput putri gue!.” Kata Jodi dengan nada kesalnya.


“Siap Boss!.” Kemudian Riksa berlalu menuju ruangannya.


Sementara itu Jodi duduk di kursi kejayaannya. Ia duduk di depan laptop namun entah apa yang ia lihat, sepertinya ia tidak fokus karena pikirannya terganggu, melanglang buana entah kemana.


‘Oh… putri kecilku… kenapa kau berubah sayang?…. Apa wajahku begitu menarik hem? Hingga membuat kau jatuh cinta pada om mu ini?’ Bathin Jodi seraya berlalu ke depan kaca untuk bercermin.


Sekalipun cermin itu retak seribu, wajah tampan itu akan selalu nampak pada hati yang tengah mendamba. Namun tidak selalu wajah yang dapat menarik hati, tapi suatu kekuatan di dalamnya lah yang membuat seseorang hingga lupa diri.



Lama ia memandangi wajahnya sendiri dalam cermin, ‘Benarkah aku terlihat masih muda? Mmh.. Tapi aku kira bukan karena wajahku ia menyukaiku. Aku rasa dia mewarisi sifat ayahnya. Dulu ayahnya sangat mencintai ibunya meski saat itu wajah ibunya rusak parah, padahal bisa saja ia mencari wanita lain diluar sana yang lebih cantik. Begitu pun dengan putrinya, sepertinya dia bukan menyukai rupaku tapi sesuatu dariku yang telah menyentuh hatinya. Mungkin benar prediksi Riksa, rasa nyaman dan aman yang aku berikan padanya yang telah Menarik hatinya.’ Bathin Jodi.


Lama ia mematuk diri di depan cermin. Berkata pada diri sendiri mengolah pikiran dan menimang rasa. Jika ia berpikir bagaimana cara menghindari putri kecil itu rasanya tak akan mampu ia lakukan. Tapi seandainya ia terus-terusan ada di dekatnya, ia khawatir rasa cinta putrinya terhadap dirinya akan semakin dalam.


Ini hanya sebuah perasaan. Ya…. perasaan seorang gadis yang tengah merasakan cintanya pada seseorang, jika di hindari akan membuat dirinya hancur, pun jika terus berada di dekatnya, mengingat jiwa nya masih terbilang labil.


Ini menjadi dilema bagi Jodi. Di sisi lain ia harus menjaga gadis itu, di sisi lain ia khawatir akan perasaan yang mungkin akan semakin dalam.


Tanpa ia sadari ia sudah cukup lama mematuk diri di depan cermin hingga ia tak menyadari pintu ruangannya di buka dari luar.


“Boss. Gue udah jemput nona, sekarang nona ada disini.” Suara Riksa membuyarkan lamunannya.


Ia terkejut saat Berlian sudah datang bersama Riksa, berarti ia di depan cermin sudah lama sekali. Kemudian ia berjalan ke sisi jendela, lalu putri kecilnya menghampiri dan mendekat.



‘Hadeh… tuan putri agresif sekali rupanya, kalau gue sih gak bakalan nolak, hoho.’Bathin Riksa.


Riksa menyimpan makan siang di meja yang Berlian bawa. Kemudian ia melihat tatapan Boss nya yang mengisyaratkan padanya untuk meninggalkan ruangan. Dan Riksa pun pergi meninggalkan mereka berdua.


“Om…” sapa Berlian mendekatkan tubuh dan wajahnya pada Jodi.


“Mh… sayang, cepat sekali kau datang?.” Jodi sedikit gugup.


“Ini kan udah waktunya makan siang om?.”


“Oh.. Mh.. iya sayang.. ayo kita duduk.” Jodi mengajak Berlian duduk pada sofa untuk menghindari hal yang mungkin saja terjadi jika ia lama-lama berdiri di tempel oleh putrinya itu.


“Om mau makan siang sekarang?.”


“Iya sayang… om sudah lapar.”


“Baiklah.” Kemudian Berlian membuka makan siang yang sengaja ia masak untuk om nya, Berlian memang pintar memasak karena dari kecil Delima sering membawanya ke dapur dan mengajarinya masak.


Sementara itu Jodi memperhatikan putrinya itu yang tengah mengambil makan siang untuk dirinya, tak lama Berlian memberikan padanya.


“Nah ini om, ayo di makan.”


“Iya sayang.” Kemudian Jodi mengambilnya dan mulai mencicipinya.


“Bagaimana? Enak gak om?.”

__ADS_1


“Mmmh… rasanya mantap sekali, kau memang hebat sayang.” Puji Jodi.


“Benar kah? Om bohong.” Ucap manja gadis itu.


“Benar sayang rasanya enak sekali… Kamu gak makan?.”


“Gak om… aku masih kenyang.”


“Ayo lah makan sayang… temani om. Masa om makan sendiri.”


“Kan aku nemenin om disini jadi om gak sendiri.”


“Satu suap saja ya sayang a…..” Jodi mendekatkan sendok pada mulutnya. Mau tidak mau Berlian membuka mulutnya, kemudian melahap makanan yang Jodi suapkan padanya.


“Enak kan?.”


“Hm um.” Jawab Berlian.


“Kamu harus banyak makan sayang biar tubuhmu sedikit berisi.”


“Aku gak mau gendut om, nanti om keberatan gendong aku nya.”


“Uhu… Uhu.” Jodi tersedak saat mendengar itu, kemudian dengan cepat Berlian mengambil minuman untuk Jodi.


“Om pelan-pelan makannya.” Kata Berlian seraya mengusap-usap punggung Jodi.


“I-iya sayang… ini karena masakanmu terlalu enak Hehe.” Kemudian,


“Oya sayang…. Besok kamu sudah mulai masuk kampus. Riksa sudah mendapatkan kampus untuk kuliahmu.”


“Benar kah?.”


“Iya om.. aku mau.”


“Cuman om minta kamu menyembunyikan identitasmu ya sayang?.”


“Maksud om?.”


“Kau tahu? Almarhum ayahmu banyak meninggalkan banyak harta untukmu, kalau mereka tahu kau anaknya Havan Hartawan dan kau adalah sebagai pewaris tunggal, om khawatir akan banyak orang yang mendekatimu bukan karena dia suka denganmu, tapi karena harta ayahmu sayang. Meskipun kau memang sangat cantik, dan mereka pasti banyak yang menyukaimu, tapi om sangat khawatir kau akan di manfaatkan. Dan yang sangat om takutkan kamu menjadi incaran para penjahat. Jadi disana identitasmu akan di samarkan. Ini untuk keselamatanmu sayang. Di depan teman-temanmu, aku adalah papamu dan ibu Delima adalah ibumu. Jadi di depan mereka kau panggil aku papa. Kau mau?.”


Berlian terdiam seraya memandangi Jodi. Setelah lama berfikir, “Baiklah.” Jawabnya.


“Di kampus kau jangan sembarangan bergaul ya sayang? Jangan terlalu banyak teman dekat, cukup kenal dan tahu mereka saja, jika kau ingin punya sahabat cari yang benar-benar klik dengan hatimu, kau mengerti sayang?.”


“Iya.” Berlian menganggukan kepala.


“Om gak suka kamu bergaul dengan banyak lelaki. Jangan terlalu percaya pada orang lain apalagi lelaki.”


‘Apa om cemburu ya jika aku dekat dengan lelaki lain? Ya sepertinya begitu… Oh Tuhan… ternyata perasaan om denganku sama. Aku senang sekali.” Bathin Berlian berbunga-bunga.


“Kau paham sayang?.” Jodi memastikan karena terlihat Berlian tengah merenung.


“Paham papa hehe.”


“Hehe pinter.. belajar dari sekarang panggil om papa ya sayang?.”

__ADS_1


“Iya papa sayang.”


Kemudian Jodi merogoh ponselnya untuk menghubungi Riksa, tak lama Riksa masuk.


“Ada apa Boss.”


“Sini duduk Rik. Udah makan belum?.”


“Kebetulan belum Boss hehe.”


“Ya udah kak Riksa makan aja bareng, ini aku masak banyak.” Sambung Berlian.


“Iya Rik, ayo sini makan bareng.”


“Baik Boss makasih.” Kemudian Riksa makan bersama mereka sembari berbincang.


“Oya Rik, nanti data-data Berlian elo manipulasi ya? Mungkin hanya orang penting di kampus yang tahu siapa Berlian sesungguhnya.”


“Siap Boss udah gue siapin semuanya sesuai dengan konsep yang kemarin Boss kasih.”


“Bagus!”


“Sayang… gak apa-apa kan kalau om yang memilih jurusan untukmu? karena ilmu yang kamu dapat harus sesuai dengan kebutuhan perusahaan? Dimasa depan kau lah yang akan meneruskan perusahaan ayahmu ini.”


“Iya om, kalau aku sih terserah om saja. Bagaimana baiknya, aku ikut saran om.” Kata Berlian patuh.


“Pinter. Anak patuh.” Jodi membelai pucuk kepala Berlian.


“Kamu jangan memikirkan apa pun, konsentrasi saja pada kuliahmu ya sayang?.”


“Iya om.”


“Kok kamu iya iya aja sayang… gak mau protes? Hehe.”


“Gak om, aku yakin apa yang om berikan semuanya untuk kebaikanku.”


Jodi memandangi putri kecilnya itu, ada rasa haru dalam hatinya melihat dia patuh padanya. Kemudian Jodi memeluknya dan mencium keningnya.


‘Aku begitu menyayangimu sayang… aku hanya berharap kau pun menyayangiku seperti kau menyayangi ayahmu. Dan aku tidak ingin mempercayai kalau kau menyayangiku sebagai wanita dewasa pada pasangannya. Kau terlalu baik sayang… tidak pantas rasanya kau memcintaiku. Kau cantik, baik, pintar dan kau punya segalanya. Kau harus mendapatkan seseorang yang sepadan denganmu sayang.’ Bathin Jodi.


Sementara Riksa memperhatikan apa yang mereka berdua lakukan dengan ujung mata menyelidiknya sembari menikmati makan siangnya.


“Ayo sayang.. waktunya Bobo siang.” Jodi mengajak Berlian ke kamar pribadinya.


“Rik, elo tunggu di situ ya? Jangan kemana-mana, tunggu gue, ada yang perlu kita bahas.” Kata Jodi berlalu menuju ruang pribadinya.


Di dalam ruang pribadinya Jodi merebahkan tubuh Berlian kemudian ia merebahkan dirinya di samping gadis itu. Apabila sudah dalam posisi seperti itu, seperti biasa Berlian membenamkan wajahnya di dada bidang Jodi.


“Om…”


“Mh.”


“Aku ngantuk.”


“Tidurlah sayang… om akan menjagamu disini.” Kata Jodi sembari membelai rambutnya. Kemudian Berlian naik sedikit membenamkan wajahnya pada ceruk leher Jodi dan mulai memejamkan matanya.

__ADS_1


Jodi tidak bisa menolak karena rasa sayangnya begitu besar pada putri kecil itu. Meskipun ia khawatir akan suatu hal tapi ia berusaha menepisnya. Ia tempelkan bibirnya pada kening gadis itu. Hingga mereka berdua terlelap.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2