
Di suatu sore, dimana Jodi, Delima, dan Berlian sudah berada di rumah mereka setelah pulang dari beraktivitasnya.
Mereka tengah berkumpul di ruang keluarga membahas acara undangan makan malam dari keluarga Dae Jung.
“Sayang, nanti malam teman ibu mengundang kita untuk makan malam, kau ikut ya sayang?.” Kata Delima pada Berlian.
“Dalam rangka apa bu?.” Tanya Berlian yang kala itu tengah asik dengan ponselnya dan membenamkan kepalanya di atas pangkuan Jodi.
“Teman ibu itu donatur tetap di panti, beliau mau mengadakan syukuran atas pencapaian dalam usahanya.”
“Oh… om ikut?.”
“Tentu saja om ikut sayang, karena suaminya juga pengusaha dan sepertinya kenal juga dengan om kamu.” Jawab Delima.
“Baiklah.. aku ikut.”
“Jadi kalau om kamu tidak pergi, kau tak akan ikut kan?.”
“Del udah deh jangan mulai.” Kata Jodi.
“Iya ibu tuh gitu terus.” Berlian dengan wajah cemberutnya.
“Sayang… berkali-kali ibu bilang kan? jangan tergantung pada om kamu terus. Kamu harus sudah mulai mandiri. Apa nanti kalau kamu sudah punya cowok minta di dampingin sama om kamu juga? Enggak kan?. Kau bukan anak kecil lagi sayang.”
“Justru dari sekarang aku puas-puasin manja sama om bu, kalau nanti aku sudah punya cowok kan gak akan bisa lagi bu. Iya kan om?.” Ucap Berlian dan Jodi menganggukan kepalannya seraya tersenyum pada gadis itu.
“Kau harus belajar dari sekarang sayang.” Timpal Delima.
“Ibu makin cerewet aja Ish.” Gerutu Berlian
“Jangan dengar ibu mu sayang, biarkan saja. Masuk kuping kiri keluar kuping kanan aja hehe.” Bisik Jodi pada Berlian untuk menghiburnya. Kemudian Delima mengganti topik pembicaraannya.
“Oya kak, aku sudah pikirkan matang-matang sepertinya aku akan pindah ke kampus yang di Bandung agar bisa lebih dekat lagi dengan panti di sana. Jadi aku ngisi materi di kampus sini hanya sesekali saja, aku sudah bilang tadi sama pihak kampus. Gak apa-apa kan kak? Aku tinggal di rumah yang di Bandung?.”
“Ya kalau aku sih gak apa-apa, terserah kamu saja. Cuman gimana dengan anakmu ini?.” Ujar Jodi.
“Berlian kan sudah Besar, lagi pula ada kakak yang awasi dia. Iya kan Berlian? Kamu gak keberatan kalau ibu tinggal di rumah Bandung? Setiap seminggu sekali kan ibu balik ke sini.”
“Iya terserah ibu saja, asal ibu senang.” Jawab Berlian.
“Tapi di tinggal ibu, kamu jangan nakal ya sayang?.”
“Gak akan lah bu, om pasti marah kalau aku nakal.”
“Baiklah… ibu senang mendengarnya. Ya sudah sekarang ibu mau siap-siap untuk ke acaranya teman ibu itu. Kamu juga siap-siap sayang.”
“Iya bu.”
Kemudian Delima pergi meninggalkan mereka masuk ke dalam kamarnya. Di susul Berlian dan Jodi yang masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
.............
Sementara itu pada kediaman Dae Jung nampak Rosalia yang sudah rapi dengan gaun terbaiknya tengah mengarahkan para pelayan menyajikan hidangan di ruang makan yang lumayan cukup besar tidak jauh beda dengan ruangan makan pada kediaman Berlian.
Nampak beberapa pelayan sibuk mondar mandir ke dapur mengambil makanan yang di tata rapi di atas meja, lengkap dengan desserts nya.
“Mau ada acara apa nih? Kayak mau pesta aja.” Menara yang tiba-tiba datang mengambil buah pada meja makan dan menyuapkan pada mulutnya.
“Malam minggu ini kamu jangan kemana-mana dulu, ikut makan malam bersama mama dan teman mama.” Kata ibunya.
“Apa? Masa aku harus gabung sama emak-emak sih? Aku ada janji ma.” Sela Menara.
“Janji sama siapa? Malam mingguan sama Narita itu ya?.” Ketus sang mama, kemudian, “Melewatkan satu kali malam minggu saja tidak apa-apa kan?.” Sambung Rosalia.
__ADS_1
“Mama selalu saja begitu.” Ucap Menara kesal.
“Jangan membantah mama kalau kamu masih butuh uang jajanmu. Jadilah anak yang patuh. Apa susahnya ikut makan malam bersama kita Menara.”
“Ok.. ok.. baiklah mama tersayang, aku akan ikut makan malam bersama kalian. Puas!.”
“Nah gitu dong baru anak mama namanya hehe.” Rosalia sedikit lega mendengar apa kata putranya.
“Ada apa sih ribuuuut terus kedengarannya.” Kata sang ayah menghampiri mereka.
“Biasa pap, mama lagi ceramah.” Ledek Menara.
“Hehe… dengarkan saja dan jangan membantah dari pada nanti gendang telingamu pecah Menara.” Sambut sang ayah.
“Kalian sama saja! Kalau mama ngomong gak pernah di dengerin.”
“Loh kok papa jadi kebawa-bawa sih mah.”
“Ya memang kalian sebelas dua belas! Depan mama iya iya aja, di belakang lain lagi.” Sang mama merajuk.
“Ya sudah. Sekarang mau nya mama apa?.” Rayu sang suami.
“Suruh anakmu ganti pakaiannya dengan pakaian yang pantas karena tamu kita sebentar lagi datang.”
“Baiklah.” Jawab sang suami patuh.
“Papa juga.”
“Iya. Iya.” Kemudian Dae Jung memberi isyarat dengan matanya pada Menara untuk lekas mengganti pakaiannya. Dan Menara pun patuh karena tidak ingin berdebat lagi dengan ibunya.
Selang beberapa waktu terdengar suara mobil memasuki gerbang mereka. Sudah dapat di pastikan bahwa Delima beserta suami dan putrinya sudah sampai di tempat mereka, itu lah yang ada dalam pikiran Rosalia.
Kemudian ia berjalan menuju pintu utama rumahnya lantas membukanya. Benar saja ia melihat Delima dan lelaki gagah serta putri cantik keluar dari dalam kendaraan yang sudah terparkir di halaman rumah mewahnya.
Ketiga tamunya menghampiri Rosalia yang menyambutnya di depan pintu utama rumahnya.
“Oh iya, terima kasih bu Rosa telah mengundang kami di acara makan malamnya.” Ujar Delima.
“Mari masuk pak.. bu… oya? Ini putrinya ya? Wah cantik sekali.”
“Hehe iya tante.. makasih.” Jawab Berlian dengan senyum manisnya.
Kemudian mereka pun masuk ke dalam rumah dan duduk pada ruang tamu rumah mewah tersebut. Tak lama terlihat tuan Dae Jung menuruni anak tangga dan menghampiri mereka di ruang tamu. Jodi terkejut pada saat melihat Dae Jung di rumah itu karena memang Jodi belum tahu kalau suami dari teman Delima itu adalah ternyata partner bisnisnya.
“Loh tuan Dae Jung? Anda….??.” Belum sempat Jodi melanjutkan kata-katanya Dae Jung menghampiri dan menyalaminya.
“Hehe selamat datang di rumah kami tuan Jodi, istri saya tadi cerita kalau istri anda akan berkunjung kemari.”
“Oh iya tuan, tadi dia juga cerita pada saya kalau kami di undang makan malam, hanya saja saya tidak tahu kalau tuan Dae Jung adalah suami teman Delima. Senang bertemu anda kembali tuan.”
“Baiklah tuan Jodi dan ibu, karena ini sudah waktunya makan malam, mari kita ke ruang makan saja. Kita lanjutkan ngobrolnya sambil kita menikmati makan malam hehe.” Ajak Rosalia.
Sementara Berlian sudah sedikit ilfil karena ternyata teman ibunya adalah ibunya Menara yang notabene dia adalah lelaki yang menyebalkan karena selalu mengganggunya di kampus. Namun ia dapat menutupi kekecewaannya itu.
Setelah mereka duduk di atas kursi makan. Terlihat Menara menuruni anak tangga menuju ruang makan. Betapa terkejutnya ia pada saat pandangannya mengarah pada Berlian yang duduk di antara Delima dan Jodi.
Dengan malas ia menghampiri mereka dan duduk di sebelah ayahnya.
“Nah, tuan Jodi dan bu Delima kenalkan ini putra kami. Menara.” Kata Rosalia.
“Oh iya, benar ya putra tuan Jung tampan pantas saja menjadi idola di kampus.” Ujar Delima.
Jodi mengarahkan pandangannya pada Berlian karena ia tahu bahwa Menara adalah orang yang selalu mengganggu putrinya itu. Berlian tidak ingin orang tuanya dan orang tua Menara tahu kalau Menara itu menjengkelkannya, jadi ia berpura-pura seolah tidak pernah terjadi pertikaian diantara mereka dan untuk menutupinya ia tersenyum ke arah Menara begitu pun dengan Menara.
__ADS_1
Singkat cerita mereka sudah menikmati santapan makan malamnya. Kini saatnya Rosalia melancarkan aksinya untuk mendekatkan putranya dengan Berlian.
“Menara! Ajaklah putri teman mama ini ngobrol-ngobrol sana di taman. Mama sama mamanya Berlian mau ngobrol penting.” Ujar Rosalia.
Karena Menara tidak ingin berdebat dengan ibunya di depan tamu, akhirnya ia menuruti apa kata ibunya. Sementara itu Berlian yang juga merasa malas harus ngobrol bersama Menara, ia melirik pada Jodi, dan Jodi menganggukan sedikit kepalanya, seolah mengatakan ‘pergilah’ dan Berlian pun pergi mengikuti langkah Menara yang berjalan menuju taman rumahnya.
Sesampainya di taman, Menara berdiri membelakangi Berlian yang berdiri di belakangnya.
“Kamu tahu? Kalau mamaku mengajak keluarga temannya makan malam, artinya apa?.” Kata Menara masih dalam posisi membelakangi Berlian.
“Tidak.”
“Memangnya ibumu tidak mengatakannya padamu?.”
“Tidak.”
“Biasanya kalau ibuku mengundang resmi keluarga temannya untuk makan malam, itu tandanya ia akan menjodohkan aku dengan putri temannya itu!.”
“Begitu? Tapi ibuku tidak bilang apa-apa padaku.” Jawab Berlian yang sedikit terhenyak saat Menara mengatakan semua itu.
“Mungkin belum. Dan perlu kamu tahu, aku tidak pernah menerima itu karena aku sudah punya kekasih dan aku sangat mencintainya.”
“Oh begitu… baguslah kalau begitu.” Kata Belian merasa lega.
“Lalu apa yang akan kamu katakan pada ibu kamu kalau ia mengatakan kamu akan di jodohkan denganku.”
“Tentu saja aku juga akan menolaknya. Ngapain aku di jodohin. Aku kan masih ingin sekolah. Belum mau menikah.”
“Heh! Di jodohin belum tentu di nikahin tahu!.”
“Ya kalau namanya di jodohin ujung-ujungnya kan akan kesana.”
“Jadi jangan harap kamu bisa berjodoh dengan aku ya! Apa lagi untuk menikah.”
“Ih siapa yang berharap, amit-amit deh aku berjodoh sama kamu kak. Mungkin kakak idola bagi mereka, tapi tidak bagi ku. Aku juga sudah memiliki seseorang dalam hatiku yang tidak akan dapat tergantikan oleh siapa pun.”
“Aku tahu siapa orangnya! Papamu kan?.”
Berlian hanya terdiam, tidak mengiyakan juga tidak mengatakan tidak.
“Ada ya di dunia ini orang aneh kayak kamu.” Kata Menara seraya tersenyum sinis.
“Aku gak perduli kakak mau ngomong apa juga. Karena ini adalah hidupku, sama halnya aku tidak akan pernah perduli dengan hidup orang lain, termasuk kehidupan kak Menara. Aku tidak mau mengusik hidup orang karena aku tidak mau orang mengusik hidupku.” Kata Berlian lantang.
Menara terdiam, kemudian ia membalikkan badannya.
“Lalu, rencana kamu bagaimana? Apa yang akan kamu katakan pada orang tuamu seandainya mereka mengatakan akan menjodohkan kita?.”
“Aku adalah orang yang sangat sayang pada orang tua dan selalu ingin membuat mereka bahagia. Jika perjodohan ini membuat mereka bahagia aku iya in aja depan mereka biar mereka senang.”
“Artinya kamu menerima perjodohan ini?.”
“Hatiku tentu tidak. Karena kita sama-sama tidak saling menyukai. Artinya aku akan pura-pura menerima perjodohan ini demi mereka. Dan kakak tidak perlu khawatir, kakak bersama pacar kakak aman. Bagaimana?.”
Menara terdiam dan berfikir, mungkin ide Berlian masuk akal juga baginya. Kemudian, “Lalu aku juga harus sepertimu pura-pura menerima perjodohan ini?.”
“Terserah kakak, mau kakak bagaimana, aku tidak perduli. Entah kakak mau menolak terang-terangan atau berpura-pura seperti aku, itu bukan urusanku.”
Setelah lama berfikir sepertinya Menara sudah mendapatkan jawabannya.
“Ok. Aku juga tidak ingin membuat mereka kecewa. Kali ini aku akan menerima perjodohan ini, berpura-pura seperti apa yang kamu lakukan.”
“Ya itu lebih baik.” Jawab Berlian datar.
__ADS_1
❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹
Terima kasih readers tersayang yang sudah meninggalkan jejaknya💖💖🥰