
Pagi-pagi sekali Alfredo terjaga kala ia merasakan perih pada pelipisnya.
Ia tertidur di atas sofa di dalam kamar apartemennya. Terlihat ia bangkit dengan mengusap-usap halus rahangnya yang terasa ngilu.
Perlahan tangannya merogoh ponsel di atas meja. Terlihat beberapa pesan dan tanda nomor yang telah menghubunginya beberapa kali.
Kemudian ia buka pesan yang masuk dan terlihat satu kiriman video lantas ia membukanya dan melihatnya.
Nampak pada video itu Krista yang tengah tergelatak di depan sebuah panti. Ia amati tayangan itu hingga selesai kemudian menghubungi nomor si pengirim.
“Hallo tuan.” Suara dibalik ponsel.
“Ya… sudah selesai ya?.”
“Ya tuan, subuh tadi saya menghubungi tuan namun tak ada jawaban dari tuan.”
“Maaf… saya ketiduran. Ya sudah sekarang sisa pembayarannya saya transfer.”
Kemudian terlihat Alfredo mengirimkan sejumlah sisa pembayaran pada sebuah nomor rekening.
“Sudah ya saya kirim barusan, bisa di cek.”
“Ok siap. Terima kasih atas kerjasamanya tuan.”
“Ok.” Kemudian Alfredo menutup sambungan ponselnya, lalu meletakan kembali ponselnya pada meja dan ia berlalu menuju kamar mandi.
Selang beberapa waktu ia keluar dengan pakaian yang sudah rapi. Kemudian ia berlalu keluar kamar dan berhenti pada mini bar.
Ia duduk pada kursi mini bar tersebut dan merogoh ponselnya pada saku celananya dan menghubungi seseorang.
“Hallo Al apa kabar?.” Suara di balik ponsel.
“Kabar baik Dre.”
“Ada apa nih pagi-pagi menghubungiku?.”
“Aku mau tanya sama kamu, apa kamu punya kenalan orang yang hafal sama tukang bangunan disana? Aku mau renovasi rumah itu.” Kata Alfredo seraya beranjak dari tempat duduknya menuju dapur hendak memasak sesuatu.
“Ya udah nanti aku tanya-tanya ya?.”
“Ok. Thanks ya Dre.”
“Ya. Eh kapan kamu mau kesini lagi ngecek rumah barunya?.”
“Secepatnya Dre. Nanti kalau aku mau kesana pasti hubungi kamu.”
“Ok deh.”
Kemudian Alfredo menutup sambungan ponselnya dan meletakan ponselnya di atas meja.
Terlihat ia tengah memasak sesuatu, setelah selesai lalu ia menyimpannya diatas piring. Kemudian ia mengambil minuman, dan membawa minuman dan piring berisi sarapannya tadi ke atas meja dan mulai menikmatinya.
Sembari menikmati sarapannya, ia memandangi foto-foto pada galeri ponselnya. Foto-foto siapa lagi kalau bukan foto-foto wanita pujaannya yaitu Berlian. Ia pandangi dengan memasang senyuman pada sudut bibirnya dengan tatapan sayu penuh arti.
Namun tiba-tiba senyumannya terhenti saat ia menggulirkan layar galery ponselnya. Nampak pada layar ponsel itu Krista tengah memangku anak laki-laki berusia kurang lebih 2 tahun.
‘Aku tidak yakin kalau anak ini adalah putraku. Meski pun wajahnya mirip denganku. Kau terlalu banyak bergumul dengan lelaki lain hingga aku meragukannya. Mungkin saja kan dia putra hasil dari perselingkuhanmu dengan lelaki lain?.’ Alfredo membathin kala ia terus memandangi wajah anak laki-laki itu.
Pada saat dulu ia sudah menjalin hubungan selama setahun dengan Krista, kemudian Krista hamil dan melahirkan anak laki-laki, namun karena Alfredo tidak ingin mengakui anak itu dan kekeuh belum mau menikahi Krista, akhirnya anak laki-laki itu di berikan pada keluarga Krista yang berada di Prancis.
Meski saudara Krista sudah melakukan test DNA pada anak itu dan hasilnya menunjukkan bahwa DNA anak itu cocok dengan Alfredo, tapi Alfredo tetap menolak bahwa itu bukan putranya mengingat Alfredo beberapa kali menemukan Krista tidur dengan lelaki lain. Itulah yang membuat Alfredo tak ingin mengakui anak itu adalah hasil hubungan terlarangnya dengan Krista.
.................
Kita tinggalkan sejenak Alfredo dengan segala polemiknya.
Kembali pada Berlian yang terlihat tengah asik bermain dengan putrinya di atas tempat tidur.
Jodi memandangi kebersamaan putri dan istrinya, ia duduk pada sofa dengan laptop di hadapannya. Kemudian ia bangkit dan mendekat ke arah mereka berdua.
“Oya sayang? Putri kita belum sempat kau susui kan? Kasihan dia, harusnya dia mendapatkan ASI eksklusif.”
“Iya papa, karena kejadian itu, dia tidak sempat mendapatkan ASI.”
“Tidak apa-apa sayang… semua itu terjadi kan karena kecelakaan. Tapi tidak ada kata terlambat untuk kamu memberikan ASI padanya. Coba saja kau kasih sekarang sayang.”
“Tapi aku tidak bisa papa, bagaimana ya caranya?.”
“Sini papa kasih tahu, papa kan paling ahli dalam urusan minum ASI kamu, hehe.”
“Ish… papa.”
Kemudian Jodi memangku Miriam dan mengarahkan Miriam untuk mencoba meminum ASI pada Berlian, karena Miriam tidak terbiasa, ia seperti menolak dengan memalingkan wajahnya. Namun Jodi tetap memaksa agar Miriam menyesap pu*ing s*su yang sudah siap dihadapannya.
Miriam terlihat kesal dan menangis, meronta hingga akhirnya ia menggigit keras pu*ing itu, sontak membuat Berlian kesakitan dan menjerit, begitu juga dengan Miriam yang menjerit karena terkaget mendengar jeritan ibunya.
“Huaaaaa…. Aw…. Sakiiiiit.” Pekik Berlian disusul teriakan Miriam yang sontak membuat seluruh keluarga mendatangi kamar mereka.
“Ada apa!!!.” Kata kompak anggota keluarga yang masuk tanpa permisi ke dalam kamar itu.
“Hiks… oma… sakit.” Tangis Berlian.
Sementara Jodi menenangkan Miriam dengan memangkunya.
__ADS_1
“Ya Tuhan… ada apa Jod?.” Tanya Irma seraya memeluk Berlian yang keadaan dadanya masih terbuka, kemudian Irma membenahi pakaian Berlian.
“Itu… tadi mau coba ngasih ASI pada Miriam, tapi Miriam menolak.” Jawab Jodi.
“Ya jelas saja menolak karena kamu memaksanya, lagi pula Miriam kan terbiasa mimi di botol jadi dia asing kalau minum ASI langsung.” Jelas Eva.
“Kakak ini aneh-aneh saja sih. Lagipula yang Miriam minum juga bukan susu formula kok, meski minum di botol, itu ASI yang dikirim dari rumah sakit.” Jelas Delima.
“Ya aku kan gak tahu Del. Dikirain susu murni biasa.” Jawab Jodi.
“Hiks… dia menggigit ini aku oma… sakit banget hiks… aku gak mau menyusui lagi.” Berlian terus meringis kesakitan.
“Eh jangan begitu, dosa loh kalau ASI nya gak di kasihin sama baby nya. Miriam menggigitmu karena di paksa. Memang kalau anak sudah tumbuh gigi pasti pada saat menyusu akan menggigit tapi sakit nya gak lama.” Jelas Irma menenangkan Berlian.
“Ah dikirain ada apa… sampai kita semua kaget.” Kata Budi meninggalkan kamar mereka di susul Ferry di belakangnya.
“Seharusnya boss ajarin dulu putrinya bagaimana menyusu yang baik, boss kan ahlinya hehe.” Celoteh Riksa
“Sialan luh!!.” Balas Jodi.
“Hihi… kasihan bener temanku ini. Pasti gigitan putrinya lebih sakit daripada gigitan papanya ya? hehe.” Celoteh Maurin seraya mengelus rambut Berlian.
“Mauriiiin Ish….” Kata Berlian menepuk tangan Maurin.
“Susah sih dibilanginnya pasangan ini… yang satu ketuaan, yang satu laginya kemudaan, jadi sama-sama belum cukup pengalaman dalam merawat anak.” Kata Delima.
“Hei… aku sudah cukup pengalaman, ibunya Miriam dari bayi aku urus, cuma satu aja yang aku gak tahu, kasih ASI buat anak.” Ujar Jodi.
“Sudah-sudah ah, kok jadi ribut. Sekarang ayo turun semua kita rapat dibawah.” Kata Eva.
“Rapat apaan ma?.” Tanya Jodi.
“Rapat buat acara 7 bulanan kandungan istrimu.”
“Ya ampun ma, gak usah pake rapat segala kali ma buat acaraan gituan mah, seperti acara kenegaraan saja.”
“Heh! Kau lupa? Kalau opa Berlian itu pensiunan pejabat pusat. Di acara 7 bulanan nanti, kita rencananya akan mengundang presiden.”
“Apa!!! Ya Tuhan ma… mana mau presiden datang ke acara ginian, halu banget mama ah… gak usah deh malu-maluin aja. Udah aja undang ibu-ibu pengajian komplek sebrang tuh!.” Kesal Jodi.
“Ya kalau gak, ngundang istri-istri pejabatnya aja Jod.”
“Ah terserah deh… repot emang kalau ngomong sama emak-emak!.” Kata Jodi seraya menyerahkan Miriam pada Delima, kemudian ia berlalu membawa laptopnya menuju ruang kerjanya.
Riksa mengikuti Jodi yang masuk ke dalam ruang kerjanya.
“Haha dasar emak-emak riweuh aja kerjaannya.” Kelakar Riksa seraya duduk pada sofa.
“Iya ada-ada aja kelakuannya. Acara 7 bulanan mau ngundang presiden, Emangnya itu yang mau brojol putra mahkota apa?!.” Ucap kesal Jodi.
“Mereka kan tahu, gue sama bini itu paling anti sama acara yang ngundang banyak orang, apa lagi cuma acara 7 bulanan. Udah kalau mau ada selamatan undang aja emak-emak pengajian, bereskan?! Rese emang tuh emak-emak!.”
“Udah Boss biarin aja, itu mah urusan emak-emak. Mending sekarang kita urusin kerjaan kita. Ada klien baru nih Boss, gimana? Mau diterima gak?.”
“Siapa? masalahnya apa?.”
“Klien kita kali ini adalah janda kaya dari Eropa namanya Norah Josefin, usia 40 tahun. Dia ingin tahu siapa sebenarnya pembunuh suaminya. Karena sudah lima tahun belum terungkap juga. Suaminya bernama Daniel Josefin, berusia 70 tahun, yang terbunuh secara misterius. Si Norah merupakan istri ke dua dari Daniel, istri pertamanya sudah lama meninggal, dia curiga bahwa pembunuhnya adalah anak tirinya yang usianya sama dengan dia. Biasalah ujung-ujungnya perebutan masalah kekuasaan dan warisan.”
“Coba gue lihat data-datanya.”
Kemudian Riksa memberikan laptopnya, dan Jodi pun mulai melihat sejarah keluarga calon kliennya itu.
Setelah ia mempelajari sekilas. Kemudian, “Ok. Kita terima Rik.”
“Siap. Huhuy… klien baru… janda kaya, hehe hati-hati Boss, ini godaan.”
“Ah.. me*um luh!.”
“Hehe… becanda Boss. Ok kalau gitu gue balas dulu email nya ya?.”
Kemudian terlihat Riksa mengetikan sesuatu pada laptopnya, dan langsung mendapatkan jawabannya.
“Boss, katanya di mau bayar di muka, Bagaimana?.”
“Gak bisa, apa dia gak baca dulu prosedur kerjasama sama kita? Kalau mau pakai jasa kita, bilangin ikuti aturan maen kita. Kalau dia menolak, suruh cari agen lain. Katakan padanya, kita terbiasa ngeluarin keringat dulu baru dibayar.”
“Ok siap!.” Jawab Riksa seraya mengetikan sesuatu kembali pada laptopnya. Kemudian, “Boss, dia minta ketemu sama kita.”
“Katakan besok kita kirim dua orang anggota agen kita.”
“Jangan gue ya Boss, gue belum bisa ninggalin Maurin jauh-jauh, soalnya lagi anget-angetnya, hehe.”
“Si Tomy sama si Jack yang pergi ke sana, si Tomy kan lumayan bisa ngomong bahasa mereka.”
“Ok. Deal Boss.” Kata Riksa setelah melakukan perjanjian dengan pihak kliennya itu.
Waktu terus berjalan hingga petang menutup dirinya dengan kegelapan yang melambaikan Atmosfiernya pada jiwa-jiwa yang hendak beristirahat.
Terlihat Jodi masuk ke dalam kamarnya, ia melihat istrinya sudah terlelap. Kemudian ia mendekat dan duduk di sampingnya seraya mencium keningnya.
“Hm… papa.”
“Kembalilah tidur sayang. Papa mau cuci muka dulu.” Bisik Jodi seraya berlalu menuju kamar mandi.
__ADS_1
Tak lama ia kembali dan naik ke atas tempat tidur hanya dengan memakai celana boxer saja. Kemudian Berlian membenamkan dirinya diatas dada bidang suaminya.
Karena lelah perlahan Jodi memejamkan matanya. Tak lama dari itu tiba-tiba saja Jodi menyuarakan igauannya.
“Hm… Norah Josefin… janda kaya itu….” Desis Jodi.
Sontak saja membuat Berlian terhenyak mendengar suaminya merancau. Dengan cepat ia bangkit lalu mengambil bantal.
“Ih…. Genit!… dasar lelaki!!.” Ucap Berlian sembari memukul-mukulkan bantal pada tubuh Jodi.
Jodi terkejut, karena baru saja ia terlelap ia mendapatkan serangan pukulan bantal dari istrinya.
“Hei sayang kamu kenapa?.” Jodi menangkis bantal yang menghujam wajah dan tubuhnya itu.
“Sebel… suami genit!… siapa janda itu!!.” Ucap kesal Berlian.
“Janda apa sayang?!.” Jodi tidak mengerti akan apa yang di katakan istrinya itu.
“Kau sampai membawanya ke dalam mimpi, papa selingkuh ya?.”
“Janda mana sayang? Demi Tuhan papa tidak pernah selingkuh.”
“Bohong… tadi papa bilang janda kaya… papa jahat! Papa udah hianati aku!.” Berlian dengan amarahnya terus memukulkan bantal pada tubuh Jodi.
“Demi Tuhan papa tidak pernah menghianatimu sayang.”
“Bohong! Tadi papa menyebutnya dalam mimpi… siapa dia? Siapa perempuan yang bernama Norah Josefin? Hah!.”
“Aduh… sayang, hei dengar dulu. Papa akan jelasin.” Kata Jodi seraya menangkis pukulan dari istrinya.
“Gak mau! Papa udah selingkuh. Papa jahat! Hiks… ibuuuu.” Teriak Berlian.
“Ssssstt…. Sayang papa akan jelaskan semuanya. Udah ssstt…. jangan teriak-teriak!.”
“Gak mau! Pergi sana sama janda kaya itu… oma….” Teriak Berlian yang sudah terlihat mulai menangis.
“Ah… kalau kau begini, nanti mereka semua datang kesini. Papa akan jelaskan tapi kamu harus tenang dulu sayang.” Jodi berusaha menenangkan sang istri dengan mencoba hendak memeluknya.
“Gak mau! Dasar lelaki buaya! Ih… sana jangan pegang-pegang.” Belian terus saja memukul-mukul wajah dan tubuh Jodi.
Karena Berlian semakin membabi buta, akhirnya Jodi merebut bantal dari tangan istrinya itu dan melemparkannya ke sembarang arah, kemudian dengan cepat menangkup mulut istrinya dengan bibirnya.
“Diem gak?!.” Jodi melepaskan bibirnya kemudian meraup bibir istrinya kembali, Berlian terus berusaha melepaskannya.
Karena Berlian masih juga meronta akhirnya Jodi memegang kedua pergelangan tangan istrinya dan menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh istrinya.
“Tenang dulu sebentar! Papa akan jelaskan… kalau kamu begini, bagaimana papa menjelaskannya padamu sayang.” Bisik Jodi tepat di telinga sang istri dan terlihat istrinya sedikit mereda.
Namun tiba-tiba terdengar suara ketukan pada pintu kamar mereka, Tok…Tok…
“Kak Jodi…. Berli…. Kalian baik-baik saja?.” Suara Delima terdengar memanggil nama mereka di balik pintu.
Pada saat Berlian akan membuka mulutnya hendak berteriak, Jodi kembali menangkupkan bibirnya pada mulut istrinya itu.
“Kak… kakak… Berli… kalian tidak apa-apa?.”
“Kami baik-baik saja Del.” Jodi melepaskan bibirnya dari mulut Berlian.
“Kenapa terdengar ribut tadi? Berli memanggil ibu ya?.”
“Dia cuma mengigau Del, sekarang sudah tenang.” Jawab Jodi.
“Oh syukurlah. Dikirain ada apa.” Suara Delima di balik pintu kemudian hening, tanda Delima sudah kembali kedalam kamarnya.
“Sayang… tenang ya? Papa akan jelaskan semuanya.”
“Hiks… papa menyebut nama janda itu.”
“Maaf sayang… tadi papa bersama Riksa sedang membahas dia. Dia adalah klien baru kami.” Jodi berusaha menjelaskan semuanya pada sang istri.
“Kenapa sampai terbawa dalam mimpi? Pasti wanita itu sangat cantik sekali.”
“Tidak sayang… lebih cantik kamu, dia sudah tua dan jelek. Mana mungkin papa suka sama dia. Papa menyebutnya dalam tidur mungkin karena seharian tadi banyak membahas tentang dia bersama Riksa.”
“Papa bohong!.”
“Papa bersumpah tidak berbohong padamu sayang. Percayalah. Kalau kau tak percaya. Kau boleh lihat apa yang papa kerjakan tadi bersama Riksa.”
“Hiks… awas saja kalau papa bohong!.”
“Papa tidak akan pernah membohongimu sayang, percayalah… papa tidak kenal dia, dia hanya klien baru bagi kami, tidak lebih… Kau segalanya buatku, kau tidak akan tergantikan dengan siapa pun sayang…” Bisik Jodi seraya melancarkan jurus pamungkasnya memainkan jari-jarinya yang mengembara kesegala sisi diatas tubuh istrinya.
Terlihat Berlian mereda, rasa cemburunya terkikis oleh buayan dan sentuhan yang membuatnya melambung tinggi.
“Papa kangen sama kamu sayang… sudah beberapa hari tidak menemui calon putra kita… boleh ya? Sekarang papa menemui dia.” Bisik Jodi semakin membuat sang istri tak dapat berkata apa-apa, rayuan dan kecupan yang menjalar kemana-mana menghipnotis amarah menjadi tatapan sendu.
‘Dasar wanita… harus di kasih enak dulu, baru bisa diem dia.’ Bathin Jodi seraya melancarkan aksinya dengan memainkan lidahnya di atas gundukan kenyal kemudian merambah semakin turun ke bawah.
Tidak ada lagi terdengar perdebatan disana, hanya hening yang sesekali di iringi lenguhan mesra dari keduanya.
Jodi memang ahlinya dalam melunakkan hati sang istri. Rayuannya begitu ampuh melumpuhkan amarah yang membuncah menjadi des*han yang menggoda.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
__ADS_1
Tetap tinggalkan jejaknya ya reader sayang😍
Terimakasih😘