Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Sweet seventeen


__ADS_3

Malam semakin larut, langit gelap yang di hiasi dengan bintang yang bertaburan menambah suasana malam begitu menampakan keindahan wajahnya.


Malam itu Jodi baru sampai di rumahnya, ia turun dari kendaraannya setelah memarkirkan kendaraan itu pada garasi rumah.


Ia masuk kedalam rumah, di dapatinya oma dan opa Berlian tengah duduk santai berbincang di ruang tengah, melihat Jodi datang sendiri oma merasa aneh,


“Loh Berlian kemana Jod? Bukannya tadi suruh kamu menyusul ke tempat kerjamu?.”


“Apa oma?! Saya gak nyuruh Berlian kesana kok.”


“Loh tadi dia berangkat katanya mau ke tempat kerjamu sama Maurin? Lalu kemana dia ya?.”


Mendengar kata-kata Irma, bergegas Jodi menghubungi ponsel Berlian namun tak ada jawaban, lalu Jodi menghubungi ponsel Maurin, namun Maurin menjawab Berlian tak menemuinya, malah Maurin mau ke rumahnya pun malam ini, Berlian menolaknya karena Berlian mengatakan kalau dirinya sedang tidak enak badan.


Setelah Jodi memutus hubungan ponselnya dengan Maurin, bergegas ia keluar kembali menuju garasinya dan masuk kedalam mobilnya serta membawa mobilnya itu meninggalkan kediamannya dalam kecepatan yang sangat tinggi.


Sembari menyetir kendaraannya, Jodi menghubungi Riksa dan mengatakan pada Riksa bahwa Berlian keluar rumah sendiri.


Kebetulan saat itu Riksa sudah akan pulang dari markas, Riksa pun bergegas meninggalkan markas untuk mencari Berlian.


‘Kemana perginya itu bocah! Bikin riweuh juga nih… lagian tuh lakinya di suruh pulang dari tadi malah ngeyel… jadi aja tuh bocah kabur ah.’ Gumam Riksa.


Sementara Jodi yang menyusuri jalanan ibukota mencari ke setiap sisi dengan harapan ia dapat menemukan mobil Berlian. Namun tak ia temukan juga.


‘Kamu pergi kemana sayang… tolong jangan seperti ini… apa yang akan kau lakukan di luar sana?.’ Bathin Jodi dengan pikiran kalutnya.


Semakin malam semakin lama ia mencari, membuat dirinya semakin kesal, kemudian ia menghubungi orang rumah, berharap Berlian sudah pulang ke rumah, namun orang rumah mengatakan bahwa Berlian belum pulang juga.


Akhirnya Jodi memutuskan untuk bertemu Riksa di salah satu titik untuk mencarinya bersama-sama.


........


Sementara itu disebuah apartemen Berlian tengah bahagia menikmati ulang tahunnya bersama Arash, mereka berdua berbincang dia atas balkon yang telah Arash setting menjadi suasana romantis.


Berlian bercerita banyak disana, sementara Arash dengan setia mendengarkan ocehan gadis itu, hingga membuat Arash merasakan perasaan yang lain.


Muncul dalam hatinya rasa nyaman kala dekat dengan gadis itu, wajah cantik Berlian semakin lama ia pandang semakin memikat hatinya. Lupa ia akan komitmen awal untuk menguasai gadis itu, yang ia rasakan kini justru rasa yang membuatnya terhanyut merasakan keindahan yang ada.


Kemudian ia merogoh sebuah kotak kecil dari saku celananya. Dan memberikannya pada Berlian.


“Selamat ulang tahun, sweet seventeen. Ini ambilah… sebagai kado ulang tahun spesialmu dariku.” Kata Arash. Kemudian Berlian mengambilnya dan membukanya.


Terpancar Rona kebahagian dari wajahnya, “Kakak.. ini indah sekali.” Nampak di dalam kotak tersebut sebuah kalung dengan liontin bentuk hati.


“Mau aku pakaikan?.” Tanya Arash kemudian Berlian mengangguk.


Perlahan Arash mengambil kalung tersebut, kemudian ia bangkit mendekat ke arah Berlian dan memakaikan kalung tersebut.


“Cantik.” Kata Arash pelan.


“Makasih kak.” Ucap Berlian dengan senyum indahnya.


“Kamu suka?.”

__ADS_1


“Sangat suka.”


“Syukurlah. Oya hari sudah malam, waktunya kau pulang, kasihan oma dan opa mu pasti sudah menunggumu pulang. Mau aku antar?.” Tanya Arash pelan.


“Baiklah. Makasih atas makan malam romantisnya ya kak. Tapi aku pulang sendiri aja, aku kan bawa kendaraan.”


“Kalau begitu, aku akan mengikutimu dari belakang ya? Aku harus memastikan kamu pulang sampai rumah dengan selamat.”


“Baiklah. Terima kasih ya kak.”


Kemudian Mereka berdua mengakhiri malam romantisnya.


Berlian naik kedalam mobilnya begitupun Arash naik kedalam mobil miliknya, mobil Berlian melaju di ikuti mobil Arash di belakangnya.


..........


Sementara Jodi yang telah bertemu dengan Riksa di suatu tempat merasa bingung harus mencari kemana lagi, namun pada saat ia melihat ke jalanan, sekelebat ia melihat mobil Berlian, dengan cepat ia mengejar mobil itu. Benar saja itu adalah mobil Berlian.


Arash yang melihat di depan ada sebuah mobil yang mengejar mobil Berlian, sejenak ia mengamati dan sepertinya dia hafal kalau itu adalah mobil Jodi.


Arash menepikan mobilnya pada sebuah parkiran toko untuk menghindari agar tidak di curigai.


‘Hehe… ini baru permulaan Jodi! Selanjutnya akan membuat elo tak bisa berbuat apa-apa haha.’ Bathin Arash dengan sorot mata pembunuhnya.


Singkat cerita, sampailah mobil Berlian di halaman rumahnya, tak lama kemudian, mobil Jodi di belakangnya.


Berlian masuk kedalam rumah, lalu di susul Jodi di belakangnya, pada saat Berlian berhenti melangkah karena ingin menyapa oma dan opanya, Jodi yang datang dari belakangnya langsung menarik tangannya dan menyeretnya naik ke lantai dua menuju kamar mereka.


Opa dan oma nya yang melihat itu, membiarkannya karena tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga mereka.


Jodi terus menyeret Berlian sampai pintu kamar Mereka, setelah sampai ke dalam kamar, ia mendorong tubuh Berlian kemudian menutup pintu kamar dan menguncinya. Lalu ia bersandar pada pintu itu dengan melipat kedua tangan di dadanya.


Ia pandangi terus Tingkah gadis itu yang terlihat salah tingkah.


“Dari mana?.” Tanya Jodi datar.


“Apa pedulimu?.” Sahut Berlian yang berjalan menuju meja rias dan membuka jaketnya.


“Aku tanya sekali lagi, kau dari mana?.”


Tapi Berlian tak menjawab pertanyaan itu, ia malah duduk di depan cermin Menghapus make up nya.


“Oh begitu ya? Sekarang kau sudah berani berbohong. Siapa yang mengajarimu berbohong?.” Kata Jodi seraya mendekat dan berdiri di belakang tubuh Berlian.


“Kau pikir hanya kau yang bisa berbohong? Aku juga bisa! Lalu kau tanya padaku?, siapa yang mengajari aku berbohong! Tentunya kau sendiri lah yang mengajariku untuk berbohong.” Kata Berlian datar.


“Sedari kau kecil aku tidak pernah mengajarimu untuk berbohong.”


“Aku sedang tidak ingin berdebat, aku lelah, aku mau istirahat!.” Kata Berlian yang kemudian beranjak dari tempat duduknya hendak mengganti pakaiannya. Kemudian Jodi mendekat dan tanpa di duga, Jodi menyeret Berlian ke tepi dinding hingga tubuhnya merapat.



“Kau memakai pakaian seperti itu? Siapa yang telah kau temui? Katakan padamu.” Tanya Jodi dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Sepertinya ia mulai curiga kalau Berlian sudah menemui seseorang.


“Siapa pun yang sudah aku temui, itu bukan urusanmu.” Berlian mencoba melepaskan himpitan tubuh Jodi.


“Aku suamimu! Jadi aku berhak tahu kemana kau pergi? Dengan siapa kau pergi? Apa yang kau lakukan di luar sana? Dan ingat! Kau harus meminta ijinku.”


“Kau tidak perlu tahu dengan siapa aku pergi dan kemana aku pergi! Sebagaimana aku tidak perlu tahu siapa perempuan itu!.”


“Aku sudah katakan, dia bukan anakku!.”


“Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api!.”


“Tapi yang terlihat seperti asap belum tentu bersumber dari api! Aku akan buktikan padamu kalau dia bukan anakku!.”


“Lalu bagaimana dengan ibunya?.” Tanya Berlian yang membuat Jodi terdiam, “Kau tidak bisa jawab kan?.” Sambung Berlian.


Hening sesaat diantara mereka, kemudian tiba-tiba pandangan Jodi mengarah pada leher Berlian, dimana ia melihat sebuah kalung melingkar dengan liontin hati, sontak membuat Jodi tersulut emosi karena ia tidak pernah membelikan kalung seperti itu, kini kecurigaannya mulai jelas, bahwa ia menduga seseorang telah memberikan kalung itu pada Berlian.


Dengan penuh emosi dia menarik kalung itu dan melemparnya ke sembarang arah, dan tentu saja membuat Berlian marah.


“Berani-beraninya kau merusak kalungku!.”


Plak!!!! Tamparannya mendarat pada pipi kiri Jodi. Betapa terkejutnya Jodi saat mendapatkan tamparan itu! Ia tidak pernah menduga kalau perempuan yang ia cintai, sekarang telah berani menamparnya yang membuat ia semakin naik darah.


“Kau sudah berani main kasar denganku! Seumur hidupmu aku tidak pernah melakukan hal yang menyakitimu! Dan sekarang kau telah berani menamparku hanya karena kalung itu! Sekarang katakan padaku! Kau dapatkan dari mana kalung itu?! Siapa yang telah berani memberikannya padamu?! Katakan padaku! Akan kubunuh lelaki itu!.” Dengan muka merah padam dan mata yang berkaca-kaca Jodi menyeret Berlian keatas tempat tidur dan menghimpitnya.


“Lepaskan aku! Lepaskan! Aku akan teriak kalau kau berani menyentuhku lagi!.”


“Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau katakan siapa lelaki itu! Silahkan kau berteriak kalau kau tidak malu!.”


“Lepaskan! Aku akan laporkan kau ke polisi kalau kau memperkosaku!.”


“Silahkan kau laporkan pada polisi! Aku tidak takut! Mana ada suami yang memperkosa istrinya. Ingat itu!.” Dengan amarah yang membuncah Jodi melepas kasar pakaian Berlian dan pakaiannya.


“Lepaskan aku! Aku tidak mau kau sentuh! Aku benci padamu! Kau pendusta! Kau bohongi aku! Aku sudah tak ingin lagi hidup bersamamu, ceraikan aku sekarang juga.” Berlian terus berontak berharap dapat terbebas dari kungkungan Jodi.


“Apa kau bilang? Katakan sekali lagi?! Kau sudah tak ingin hidup bersamaku? Kau ingin cerai dariku?!.” Betapa menyakitkannya kata-kata itu bagi Jodi, kata-kata yang bagai pedang menghunus jantung dan merobek hatinya semakin memancing kemarahan yang sudah di ubun-ubun. Kemudian,


“Kau dulu yang seolah menggodaku. Kau yang selalu memaksaku untuk selalu dekat denganmu, bahkan kau yang meminta untuk dinikahi olehku. Dan sekarang kau meminta cerai dariku??! Setan apa yang telah merusak dirimu hingga kau berkata demikian hah! Jika suatu saat aku temukan karena seorang lelaki hingga membuat kau jadi begini! Aku bersumpah akan ku bunuh lelaki itu! Dengar itu! Dan sampai mati aku tidak akan pernah menceraikanmu! Ingat itu!!!.”


Melihat nafsu amarah Jodi bak singa lapar, membuat Berlian sedikit takut. Ia tak menyangka kalau suaminya akan semarah itu, melebihi kemarahannya. Ia diam tak bisa berkata apa-apa.


“Ok. Sekarang kau sudah tak mencintaiku lagi! Bahkan mungkin kau akan membenciku selamanya. Tapi perlu kau tahu! Aku bersumpah akan membuat dirimu tidak akan pernah lupa seumur hidupmu, atas kenikmatan yang akan aku berikan ini. Aku pastikan itu. Bahkan akan membuatmu gila dan merengek meminta kembali padaku.”


Dengan membabi buta Jodi melancarkan serangan bibirnya pada bibir istrinya itu hingga istrinya meronta tak mampu melepaskan diri.


Ia tak mampu berteriak karena mulutnya di sumpal dengan bibir kokoh yang terus memainkan gigitan-gigitannya.


Bersambung


💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔


Jangan lupa tinggalkan jejaknya dulu ya kesayangan😘

__ADS_1


Terima kasih😍


__ADS_2