
“Jika nanti saya berhalangan datang ke sini, kalian lakukan hal seperti yang saya lakukan tadi ya?.” Kata Alfredo pada kedua perawatnya.
“Baik dok.” Jawab kompak Aneta dan Julia.
“Mungkin untuk pertama kalinya nyonya tidak akan merasakan apa-apa, tetapi setelah beberapa kali terapi, anda akan merasakan efeknya, perlu kesabaran karena terapi yang kami lakukan bersifat alami dan berkala, anda tidak dapat merasakan langsung efeknya. Jadi anda harus sabar dan yakin, kalau anda akan kembali sehat.” Ujar Alfredo seraya melepaskan alat kesehatan itu. Kemudian,
“Tolong buka semua pakaian nyonya Jodi dan biarkan tubuhnya telungkup karena kita akan melakukan terapi pada area seluruh bagian belakang tubuhnya.” Titah Alfredo kepada kedua perawatnya.
Alfredo pergi ke sisi lain, membuang pandangannya karena kedua perawatnya akan membuka seluruh pakaian yang dikenakan oleh Berlian.
Setelah kedua perawatnya membuka seluruh pakaian Berlian dan memposisikan tubuh Berlian menelungkup lalu menutup tubuhnya dengan selimut, Alfredo mendekat kemudian menempelkan beberapa alat berbentuk kotak kecil. Ia menempelkan benda itu dari mulai tengkuk, punggung hingga pinggang bagian belakang.
Alat itu di sambungkan dengan menggunakan kabel, Alfredo akan melakukan terapi listrik. Terapi listrik adalah terapi fisik rangsangan elektrik. Terapi ini bekerja mengirim sinyal listrik dan menstimulasi saraf yang terganggu.
Setelah selesai melakukan terapi listrik, kedua perawat itu kembali memakaikan pakaian Berlian sementara Alfredo berlalu meninggalkan kamar Berlian.
Melihat Alfredo menuruni tangga, bergegas Ferry dan Eva menghampiri Alfredo,
“Bagaimana dok? Terapi nya sudah selesai?.” Tanya Ferry seraya membawa Alfredo ke ruang keluarga.
“Untuk sementara sudah pak, besok kita lanjutkan kembali, sekarang biar nyonya istirahat dulu, nanti sebelum kami pulang akan dilakukan pijat oleh kedua perawat kami.” Jelas Alfredo.
“Syukurlah.”
“Oya pak. Mungkin untuk sementara alat-alat terapinya kami simpan dulu disini ya, untuk memudahkan pengobatannya, biar kami tidak repot membawa kembali alat-alat terapinya.”
“Baik dokter, bagaimana baiknya saja.”
“Oya dokter, mungkin dokter bersama perawatnya mau makan siang dulu? Silahkan kami sudah menyiapkan.” Kata Irma.
“Baik bu, terima kasih, maaf jadi merepotkan.”
“Eh tidak apa-apa dokter, ini sudah menjadi kewajiban kami. Ayo mari dokter.”
Kemudian Alfredo menikmati makan siang nya di temani oleh Ferry dan Eva sembari berbincang.
Sementara kedua perawat itu masih di kamar mengurusi Berlian, kemudian Delima masuk ke dalam kamar itu.
“Suster, ayo makan dulu, dokter sudah menunggu dibawah.” Kata Delima kepada dua orang perawat itu.
“Kita makan nanti saja bu, mau ikut shalat dulu.”
“Oh ya sudah, sebentar ya. Saya panggil dulu pelayan untuk mengantar kalian ke mushola.” Kata Delima lantas memanggil salah seorang pelayan untuk mengantar dua orang perawat itu ke mushola.
Setelah pelayan itu masuk, kemudian pelayan itu mengantar dua orang perawat itu ke mushola yang letaknya di ujung kolam renang.
Tinggal lah Berlian dan Delima di kamar itu. Tak berapa lama Eva masuk membawa bubur cair untuk Berlian.
“Sayang sekarang mama yang akan memberimu makanan dan vitamin, sepertinya suamimu sibuk, tadinya kalau dia tidak sibuk, dia akan pulang dulu untuk menyuntikan makanan dan vitamin ini, tapi sepertinya dia tidak bisa.” Kata Eva lantas mendekat kearah Berlian dan duduk di sampingnya.
Kemudian Eva melakukan langkah-langkah yang biasa Jodi lakukan pada Berlian untuk memasukkan makanan dan vitamin pada tubuh lemah itu melalui selang yang menggantung di ujung lubang hidungnya hingga selesai.
“Sekarang Istirahatlah sayang, nanti saat kau terbangun, mereka akan melakukan terapi pijat padamu.” Kata Eva. Sementara Delima hanya menyaksikan di sampingnya sembari memangku Miriam.
Berlian terus memandangi putrinya itu. Tentu saja Delima mengerti, kemudian ia meletakkan tubuh Miriam di dekat ibunya.
Betapa senangnya Miriam saat ia duduk disamping ibunya yang terbujur kaku. Sesekali anak itu tertawa lalu membenamkan wajahnya pada tubuh ibunya membuat mereka yang melihat merasa terharu.
Lalu terlihat Alfredo masuk kedalam kamar tersebut, ia ikut menyaksikan pemandangan yang menurutnya adalah pemandangan yang baru ia lihat seumur hidupnya.
‘Kasihan sekali gadis ini… gerangan siapa yang tega membuat dirinya begitu menyedihkan seperti ini. Hanya gadis yang kuat yang mampu bertahan dalam situasi seperti ini.’ Bathin Alfredo.
__ADS_1
Alfredo terus memandangi ibu dan anak yang tengah bercengkerama di atas tempat tidur itu, meski ibunya hanya bisa menatap dalam diam pada putrinya itu. Namun ia yakin hati dan bathin mereka saling bertaut.
‘Sosok seperti apakah suaminya itu?… aku harap suaminya adalah sosok orang yang sangat menyayanginya, karena jika tidak.. tentulah hanya kehancuran yang ia dapat.’ Kembali Alfredo membathin, namun lamunannya tergugat oleh suara yang memanggilnya.
“Eh dokter ada disini?.” Kata Delima.
“Sudah lama dokter berdiri disitu?.” Tanya Eva yang melihat dokter itu berdiri di ambang pintu.
“Tidak bu, saya baru saja masuk. Mereka begitu hangat ya? Hehe.” Alfredo menanggapi pemandangan Berlian dan putrinya.
“Iya dok. Suka sedih kalau lihat anaknya mengajak ibunya berbicara. Sementara ibunya tidak bisa apa-apa.” Ujar Delima.
“Ibu jangan berkecil hati. Saya akan bekerja keras agar putri anda dapat berbicara kembali, juga dapat menggerakkan seluruh tubuhnya kembali.” Hibur Alfredo yang melihat air muka Delima berubah menjadi sedih.
“Maaf bu bisa ibu meninggalkan kami disini? Kami akan melanjutkan kembali terapinya.” Kata Alfredo.
“Baiklah.” Jawab Eva dan Delima kompak, kemudian Delima hendak meraih Miriam untuk membawanya keluar kamar.
Namun Alfredo meminta, “Biarkan saja putrinya disini bu. Mungkin saja kehadirannya dapat membantu proses terapi.”
“Oh baiklah.” Kemudian Eva dan Delima meninggalkan kamar itu. Kini tinggallah Alfredo di kamar itu menyaksikan Berlian dan putrinya di atas tempat tidur.
Alfredo terus memandangi keduanya.
“Kalian sangat mirip.” Kata Alfredo seraya duduk bersama mereka diatas tempat tidur lalu ikut menggoda Miriam.
Tak berapa lama, perawat itu masuk dan siap melakukan terapi pijat pada Berlian.
Alfredo mengarahkan pada salah satu perawatnya bagaimana cara memijatnya dan di titik-titik mana saja pijatan itu harus dilakukan.
Setelah selesai terapi pijat dilakukan, kemudian mereka merapikan pakaian Berlian kembali, lalu Alfredo mengangkat tubuh Berlian membawanya ke lantai bawah dan mendudukkannya di atas kursi roda yang berada di ruang keluarga. Kebetulan keluarga tengah berkumpul disana.
“Baiklah dokter, terima kasih atas bantuannya.” Sahut Ferry.
“Ya sama-sama pak, besok kami kembali lagi, sekarang kami permisi dulu.” Kata Alfredo yang berlalu bersama dua orang perawatnya meninggalkan mereka menuju mobil mereka.
Setelah Alfredo meninggalkan rumah mereka, seperti biasa mereka berkumpul pada ruang tengah hanya untuk sekedar berbincang.
Selang satu jam Jodi dan Riksa pulang dari pekerjaannya. Ia langsung menghampiri putrinya Miriam lantas memangkunya kemudian mendekat kearah istrinya lalu menciumnya.
“Bagaimana tadi terapinya?.” Tanya Jodi pada istrinya.
“Alhamdulillah berjalan lancar.” Delima yang menjawab.
“Dokter dan dua orang perawatnya profesional, betul-betul menangani istrimu dengan rinci.” Sambung Ferry.
“Syukurlah kalau begitu.”
..........
Tanpa terasa waktu bergulir kiat cepat, menggulung hari hingga sebulan telah berlalu. Dengan perawatan yang di berikan oleh Alfredo sedikit demi sedikit kondisi Berlian menunjukan perubahan yang signifikan.
Sekarang Berlian sudah dapat menunjukan ekspresi wajahnya, ia sudah dapat tersenyum dan sedikit dapat berbicara meski masih terdengar pelo.
Setiap hari selama sebulan itu, Alfredo bersama perawatnya betul-betul menangani Berlian dengan intensif, sehingga kemajuan perkembangan kesehatan Berlian dapat dengan cepat terlihat.
Namun tanpa di duga, karena seringnya mereka bertemu dan bersama, lambat laun timbul lah rasa simpatik dalam hati Alfredo terhadap Berlian. Kini muncul perasaan nyaman dalam diri Alfredo kala Ia dekat dengan Berlian.
Rasa itu semakin tubuh dan berkembang hingga Alfredo tak bisa lepas dari jangkauan Berlian. Jika sehari saja tak bertemu dengan gadis itu, ia akan merasa gundah dan tidak tenang.
Bersama Berlian seolah sudah menjadi candu baginya. Namun kepada orang lain ia tidak memperlihatkannya, karena ia selalu memiliki alasan bahwa semakin ia sering menangani Berlian, akan semakin cepat Berlian sembuh.
__ADS_1
Hari itu Alfredo datang sendiri tanpa di temani oleh dua asistennya. Karena sudah terbiasa di rumah itu, semakin hari ia sudah seperti keluarga. Ia tidak canggung lagi untuk keluar masuk rumah itu, masuk dari satu ruangan ke ruangan lainnya.
Alfredo masuk kedalam kamar Berlian, kali ini ia di temani oleh Irma, sementara Eva dan Ferry harus kembali pulang dulu karena ada keperluan yang sangat penting. Sementara Delima harus kembali ke Bandung karena ada urusan dengan kampusnya tempat ia bekerja.
Jodi dan Budi juga Riksa sudah berangkat ke tempat kerjanya, jadi hanya Irma yang kala itu berada di rumah bersama para pelayan.
“Pada kemana orang-orang bu? Kok terlihat sepi?.” Tanya Alfredo pada Irma.
“Mereka semua sedang sibuk dengan urusannya dok, jadi hanya saya yang berada di rumah. Oya? Dokter datang sendiri?.” Tanya Irma heran karena tidak melihat dua perawat yang biasa membantu Alfredo.
“Iya bu, asisten saya tengah di perbantukan ke daerah bencana, jadi untuk beberapa hari kedepan, saya tidak ditemani mereka, paling juga nanti ada pengganti mereka yang akan menemani saya.”
“Oh begitu ya?. Baiklah kalau begitu saya tinggal dulu ya dok? Saya mau memberi Miriam sarapan dulu.” Kata Irma yang tengah memangku Miriam dan berlalu meninggalkan mereka berdua.
Sepeninggalan Irma, Alfredo terus memandangi wajah Berlian yang tengah duduk di atas tempat tidur.
“Bagaimana keadaan nyonya hari ini?.” Tanya Alfredo seraya duduk pada kursi yang terletak di samping tempat tidur yang menghadap ke arah Berlian.
“Sudah lebih baik dokter.” Suara pelo tercetus dari bibir merahnya, tetapi masih dapat di mengerti oleh Alfredo.
“Syukurlah. Hari ini saya datang sendiri, asisten yang biasa membantu saya, dikirim menjadi tenaga bantuan ke tempat bencana. Tidak apa-apa kan nyonya? jika saya menangani anda sendiri?.”
“Ya tidak apa-apa dokter.” Cetus Berlian dengan senyum indahnya.
‘Semakin hari kau terlihat semakin cantik nyonya Jodi… dan semakin bertambah hari, aku pun merasa semakin tertarik padamu, entah ini benar atau salah, yang jelas aku merasa nyaman berada di dekatmu… jika malam tiba, aku selalu ingin malam itu cepat berlalu karena aku ingin bersegera bertemu denganmu, dan jika aku sudah berada disini, aku Ingin menghentikan sang waktu agar aku bisa berlama-lama dekat denganmu.’ Bathin Alfredo.
“Dokter…. Dokter…” Panggilan dari pasiennya itu membuyarkan lamunannya.
“Oh maaf nyonya.” Kemudian Alfredo merogoh saku jas dokternya mengambil alat, lalu perlahan ia meraih tangan Berlian dan menempelkan ujung alat yang seperti ballpoint itu ke titik saraf pada tangan tersebut.
“Apa dokter sedang sakit?.” Tanya Berlian.
“Tidak nyonya.”
“Lalu kenapa?.”
“Tidak kenapa-napa nyonya. Saya hanya….” Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba masuk salah seorang pelayan membawa wadah berisi air hangat yang sudah dibubuhi garam untuk merendam kaki Berlian.
“Dokter, air hangat ini disimpan dimana?.”
“Oya teh, simpan saja di dekat kursi balkon.”
“Baik dok.”
Setelah pelayan itu menyimpan wadah itu di balkon, kemudia ia berlalu meninggalkan kamar itu.
Setelah Alfredo merefleksi kedua tangan Berlian lalu ia memangku Berlian, kali ini dadanya berdegup kencang saat memangku tubuh pasiennya itu, ritme jantungnya tak terkendali kala wajah mereka begitu saling dekat.
Dengan menahan rasa yang berkecamuk dalam hatinya ia membawa tubuh pasiennya itu ke balkon kamar dan mendudukkan nya di atas kursi, lalu perlahan ia meraih kaki mulus itu dan meletakannya di atas wadah berisi air hangat itu.
Kemudian Alfredo berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada pagar balkon sembari matanya terus menatap wajah pasiennya itu, sesaat mata mereka saling berpandangan, lalu dengan cepat Alfredo membalikkan tubuhnya membelakangi pasiennya itu.
‘Semakin lama… perasaanku semakin menggebu padanya. Aku ingin segalanya cepat berakhir, namun ia belum sembuh total.’ Bathin Alfredo sembari menatap jauh kedepan.
Sementara Berlian tidak mengerti dengan apa yang Alfredo rasakan, meski ia menyadari bahwa akhir-akhir ini Alfredo terlihat tidak seperti biasanya, ia terlihat lebih banyak diam, tak banyak bicara dan seperti menanggung beban di dalam otaknya.
Berlian berpendapat mungkin dokternya tengah memikirkan masalah pribadinya padahal seandainya ia tahu bahwa dokter itu tengah memikirkan dirinya, tentunya ia akan merasa bingung menghadapi dokter itu.
❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹
Terima kasih untuk readers yang tetap setia 🥰
__ADS_1