
Dari hari kehari, minggu ke minggu, hingga bulan kebulan Arash belum juga mendapatkan kesempatan untuk melenyapkan Jodi, karena memang Jodi lebih sering tinggal di rumah, sementara akses untuk melakukan sesuatu pada Jodi di dalam rumah sepertinya sulit ia lakukan.
Namun Arash tidak patah semangat, rasa cinta yang begitu menggebu terhadap Berlian mampu membuatnya bertahan untuk tetap mencari kesempatan bagaimana caranya agar racun itu bisa melenyapkan Jodi.
Begitu pun dengan Jack yang di suruh Jodi untuk mengikuti gerakkan Arash tiada hentinya mengikuti pergerakan Arash.
Hingga sampailah pada suatu kesempatan dimana saat itu usia kandungan Berlian sudah berusia 7 bulan.
Hari itu Berlian ingin ke mall untuk membeli perlengkapan bayi.
“Papa… sekarang usia kandunganku sudah 7 bulan, aku ngin membeli perlengkapan bayi. Boleh ya aku ke mall sekarang bersama Maurin?.” Kata Berlian pada suaminya di ruang kerjanya yang tengah melakukan aktivitas bersama Riksa.
“Gak boleh! Nanti aja tunggu papa selesai kerja. Kita sama-sama ke mall.” Jawab Jodi dan itu membuat ia kecewa.
“Ih papa… boleh lah… aku sudah tidak sabar ingin membeli semua perlengkapan baby girl kita.”
“Tunggu sebentar sayang… sampai papa selesai kerjaannya, papa juga ingin memilih pakaian untuk baby girl kita sayang. Nanti kita sama-sama ke mall nya, sabar sebentar sampai papa selesai memeriksa laporan ini ya?.” Bujuk Jodi pada Istrinya itu. Namun lagi-lagi Berlian memaksa ingin pergi segera, karena kecewa tidak mendapat ijin, akhirnya Berlian meninggalkan Jodi di ruang kerjanya dengan membawa rasa kecewanya.
Melihat pemandangan itu, Riksa yang memperhatikan percakapan mereka dari tadi memberikan masukan pada Bossnya itu.
“Ya udah Boss, kita pergi aja yuk sekarang, kasihan tuh istri Boss udah gak sabar, kata orang tua, kalau istri lagi hamil perasaannya suka lebih sensitif. Laporan mah gampang, Kita bisa periksa lagi nanti setelah pulang dari mall.” Usul Riksa.
Setelah berfikir cukup lama, akhirnya, “Ok kalau gitu, gue ke kamar dulu sekarang, mau bilang ke bini gue, kalau kita berangkat sekarang, elo juga siap-siap ya Rik. Oya Maurinnya gimana?.”
“Maurin kita jemput aja ke kampusnya Boss sekalian kita lewat.” Balas Riksa.
“Ok kalau gitu.” Kata Jodi seraya pergi menuju kamarnya menemui istrinya.
Sesampainya di dalam kamar ia menemui istrinya tengah duduk bersandar di tempat tidur dengan mimik cemberutnya.
“Hei… kenapa? Kok mukanya di tekuk begitu?.” Tanya Jodi seraya mendekat. Tapi Berlian tak menyahut, ia malah memalingkan wajahnya. Kemudian Jodi duduk di samping istrinya itu. “Mau ke mall sekarang beli perlengkapan bayi nya?.” Sambung Jodi seraya memeluk kemudian membenamkan wajahnya diatas perut istrinya yang sudah membuncit.
“Kalau mau pergi sekarang, ayo kita sama-sama perginya, papa antar ya sayang?.” Bujuk Jodi. Seketika itu wajah Berlian berubah berbinar.
“Beneran boleh sekarang papa?.”
“”Hm…” Jawab Jodi sembari menciumi perut buncit itu.
“Horay…. Makasih papa.” Teriak Berlian kegirangan seraya mencium pucuk kepala suaminya yang tengah menciumi perutnya. Kemudian, “Ayo sekarang kita berangkat papa.” Ajak Berlian seraya mengangkat wajah suaminya itu.
“Sebentar… papa masih ingin menciumi bayi kita.” Kata Jodi yang terus mendekap perut buncit istrinya, namun tangannya sudah mulai bergerilya kemana-mana.
Berlian mengerti, jika sudah seperti itu, suaminya pasti meminta jatah padanya dan ia tidak bisa apa-apa selain melayaninya.
Dan mereka pun melakukan aktivitas penyatuan diri itu di siang bolong.
Sementara itu, Riksa yang sudah siap dengan pakaian rapinya, menunggu mereka di ruang bawah.
‘Yah… pasti nunggu lama ini mah… Hadeh, gak bisa nunggu malem gitu ya mantap-mantapnya?’ Gumam Riksa.
Namun tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, di lihatnya Maurin memanggil.
“Hallo kak Riksa! Bagaimana jadi gak kita ngantar Berlian ke mall?.” Kata Maurin di balik ponsel.
“Jadi lah. Cuma Boss pengen ikut jadi kita bareng-bareng ke mall nya. Sekarang aku lagi nunggu mereka dulu belum turun juga. Sepertinya lagi reproduksi dulu tuh.”
__ADS_1
“Hehe… ya udah aku ke situ aja dulu ya? Jadi nunggu disana bareng kakak. Aku udah selesai kuliahnya kok. Sekalian juga aku nyimpen mobilku disitu kan kita mau berangkat bareng.”
“Ya udah. Kamu kesini aja.” Kemudian mereka menutup sambungan ponselnya.
Riksa menunggu Maurin datang, juga menunggu Boss dan istrinya yang belum turun juga, akhirnya untuk menghilangkan kejenuhan sambil menunggu mereka, ia melihat-lihat informasi pada laptopnya.
Setelah beberapa lama akhirnya Maurin datang, Maurin memarkirkan mobil nya di rumah itu dan masuk kedalam, di dapatinya riksa tengah asik di depan laptopnya di ruang tengah.
Karena Riksa tengah fokus pada laptopnya, ia tidak tahu kalau Maurin datang mengendap-endap dari arah belakangnya.
Kemudian Maurin mendekat dan memeluknya dari belakang seraya berbisik, “Mereka belum turun juga ya kak?.”
“Eh kamu. Bikin kaget saja…. Belum, sepertinya kita akan lama menunggu disini.”
“Tidak apa-apa kak. Lagi pula kita kan menunggu berdua, kakak gak akan bosen kalau nunggu di temenin sama aku hehe.” Kata Maurin seraya melepaskan pelukannya kemudian duduk di sebelah Riksa.
Perlahan Riksa mengangkat tangan kanannya kemudian di rangkulnya pundak Maurin dengan tangannya itu hingga mereka sangat dekat merapat, berdegup jantung dari keduanya saat mereka saling berpandangan.
Kemudian wajah mereka saling mendekat hingga menautkan bibir keduanya.
Dan terjadilah kehangatan antara mereka, kedua bibir itu saling meraup mesra dan menyesap. Semakin dalam semakin membuat mereka melambung tinggi dalam gairahnya.
Ketika mereka tengah menikmati ciuman bergairah mereka. Tiba-tiba dari arah kamar keluar Jodi dan Berlian.
Pada saat mereka tengah menuruni anak tangga, mereka berdua menyaksikan pemandangan Riksa dan Maurin yang tengah beradu bibir, hingga mereka harus membungkam mulutnya masing-masing dengan langkah pelan karena takut mengejutkan mereka.
Jodi dan Berlian jalan pelan menuju ruang makan dan mereka duduk pada mini bar, mereka saling memandang sembari menangkupkan bibirnya dan sesekali melihat ke arah Riksa dan Maurin yang tengah bermesraan.
Setelah sekian lama, Riksa merasa kalau kebersamaannya dengan Maurin ada yang memperhatikannya. Benar saja, pada saat ia melihat ke arah mini bar, ia melihat Boss dan istrinya tengah duduk.
“Hehe… kalian sudah ada disini rupanya.” Kata Maurin seraya mendekat dan mengelus perut Berlian.
“Udah puas ciumannya?.” Sindir Berlian.
“Ish… kamu kayak gak pernah muda aja.” Balas Maurin.
“Sembarangan kau… aku masih muda tahu!.”
“Hehe… kalau wanita sudah hamil, dia menjelang tua karena akan menjadi orang tua, meskipun masih anak-anak seperti kamuh hehe.”
Sementara Riksa tetap duduk di tempatnya salah tingkah dan pura-pura mengotak-ngatik laptopnya karena ketangkap basah oleh Bossnya.
Jodi mendekat ke arah Riksa, “Udah yuk kita berangkat sekarang Rik.” Kata Jodi dengan menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya.
Lalu mereka berempat pun berlalu menuju mobil yang sudah terparkir di depan halaman. Dan mobil pun membawa mereka pergi meninggalkan rumah.
Sementara itu, Arash dan Sansan yang tengah mengintai dari kejauhan, melihat mobil Jodi keluar dari rumah, bergegas dia menyuruh Sansan untuk memacu kendaraannya.
“San, ayo ikutin mobil si Jodi, tuh si Jodi keluar dari rumahnya.” Kata Arash.
“Ok.” Sahut Sansan yang langsung tancap gas Mengikuti mobil Jodi.
Di dalam mobil, Jodi dan Riksa menyadari ada mobil yang mengikuti mereka, namun mereka tidak menunjukan pada wanita-wanitanya. Mereka hanya saling memberikan kode melalui bahasa tubuhnya.
Kali ini Jodi duduk di samping Riksa yang tengah mengemudi, sementara para wanita duduk pada Jok belakang.
Singkat waktu, sampailah mereka di sebuah mall terbesar di ibukota, Berlian dan Maurin langsung menyerbu toko perlengkapan bayi. Mereka berdua mengambil apa yang mereka suka untuk pakaian calon jabang bayi.
__ADS_1
Sementara Jodi dan Riksa mengikuti mereka di belakang sembari memilah milih pakaian bayi.
Lama sekali mereka di dalam sana dan terlihat semua perlengkapan bayi yang mereka beli cukup banyak.
“Sudah selesai sayang?.” Tanya Jodi pada istrinya seraya memeluknya dan mencium pucuk kepalanya.
“Sebentar lagi papa, masih ada yang belum aku beli.” Jawab Berlian yang tengah sibuk memilih aksesories bayi.
“Papa aus sayang… bagaimana kalau papa sama Riksa nunggu di food court depan situ ya?.” Tunjuk Jodi pada food court di seberang toko.
“Iya papa… nanti aku sama Maurin nyusul kesana. Ini tinggal dikit kok.”
“Baiklah kalau begitu.” Kemudian Jodi beringsut pergi dari toko perlengkapan bayi bersama Riksa menuju food court di seberang.
Sementara itu, Arash yang memperhatikan dari jauh, melihat Jodi dan Riksa berada di food court tengah memesan minuman, dan itu menjadi kesempatan untuk ia gunakan dalam melancarkan aksinya.
Arash menyuruh Sansan untuk diam di tempat itu, sementara ia mengendap-endap menyelinap masuk ke food court tersebut. Apa yang Arash lakukan kali ini lepas dari pengawasan Jodi dan Jack yang di suruh mengawasi Arash, karena pada saat Arash menyelinap masuk ke dalam food court, kebetulan Jack sedang ke toilet.
Karena hanya ada beberapa pengunjung di food court tersebut dan mereka tengah menikmati santapannya, sementara pelayan yang tengah membuat pesanan hanya membuat pesanan Jodi, Arash sudah dapat memastikan bahwa pelayan itu tengah meracik minuman yang di pesan oleh Jodi.
Pada saat pelayan itu akan mengambil sedotan dengan cepat Arash yang tengah bersembunyi mendekat ke arah minuman itu, namun ia bingung karena ada dua minuman disana, yang di pesan Jodi dan Riksa. Sementara dia tidak tahu, minuman yang mana milik Jodi.
Akhirnya dengan menggunakan insting ia meyakini bahwa minuman rasa coklat itu lah milik Jodi dan ia memasukan racun kedalam minuman itu.
Setelah ia memasukan racun itu, bergegas ia pergi dengan menyelinap dan kembali ke tempat asal dimana Sansan tengah menunggunya.
“Gimana udah selesai Ar?.” Tanya Sansan yang terlihat begitu tegang.
“Udah dong hehe… sebentar lagi kita akan melihat pertunjukan yang menegangkan haha.” Kelakar Arash.
Sementara itu, Berlian dan Maurin terlihat sudah selesai keluar dari toko perlengkapan bayi, setelah membayar semuanya dan menitipkan belanjaannya di penitipan barang, ia bersama Maurin berjalan menuju food court dimana suaminya berada.
Berbarengan dengan Berlian yang berjalan ke arah suaminya, bersamaan itu pula si pelayan membawa minuman untuk Jodi dan Riksa.
Pelayan itu pun meletakan dua cup minuman rasa coklat dan mocachino di atas meja. Tak berapa lama Berlian dan Maurin datang dan duduk bersama mereka. Karena merasa lelah dan haus, Berlian langsung mengambil salah satu minuman di atas meja tersebut.
“Punya papa yang mana?.” Tanya Berlian.
“Itu yang rasa coklat sayang.”
“Aku minum duluan ya? Nanti papa pesan lagi aja hehe.”
“Ya sayang minumlah.”
Dan minuman rasa coklat yang telah di bubuhi racun oleh Arash tadi mendarat di bibir Berlian.
Bersambung
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Bagaimana kelanjutan ceritanya?
Apakah racun itu malah di minum oleh Berlian?
Like, coment, vote, favorite dulu ya readers tersayang😍😍😍
Terima kasih😘
__ADS_1