Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Sad memories


__ADS_3

Warning!!!


Area 21+


Terdapat konten yang membuat pikiran mengembara kemana-mana😂


Disarankan anak belum cukup umur menyingkir🤭


Khusus emak-emak riweuh dan abah-abah ini mah!!!!


Happy Reading!!!!😉


............


Jodi benar-benar kalap, sakit hati dan kecewa yang diakibatkan oleh kata-kata dan tingkah istrinya telah membuat dirinya menjadi liar dan buas.


Deru nafas yang di penuhi dengan rindu dan dendam mengiringi serangannya bagai singa lapar yang terus mencabik-cabik hingga Berlian tak mampu melawannya.


“Kali ini, aku tidak hanya akan membawamu ke pintu sorga, tapi akan membawamu memasuki surganya. Bersiaplah.”


Berlian menangus, ingin rasanya ia menghempas tubuh yang kini menghimpitnya. Namun ia tak kuasa karena kehangatan yang ia rasakan mengalahkan kebenciannya pada sosok yang kini tengah mengukungnya.


Teriakannya berubah menjadi nyanyian sorgawi, tatapan bencinya berubah menjadi tatapan sayu, cakaran dan pukulan tangannya berubah menjadi sentuhan lembut.


Sesaat ia memandangi wajah istrinya kemudian mendekatnya wajahnya tepat diatas wajah istrinya hingga dekat tanpa batas. Perlahan ia berbisik, “Bersiaplah! Mungkin rasanya akan menyakitkan seperti apa yang sedang hati ini rasakan. Tapi setelahnya akan memabukan hingga menjadi candu bagimu.”


Benteng pertahanan Berlian melebur kala itu.


“Oh… sakiiit hiks.” Tangis Berlian pecah.


“Menangis lah… aku tak akan peduli!.”


“Lepaskan hiks… aku mohon.”


“Tak akan aku lepaskan!.”


Namun Rasa sakitnya seketika berubah rasa menjadi rasa yang luar biasa. Rasa yang tidak dapat di lukiskan dengan kata-kata. Rasa yang membawanya melambung tinggi hingga ia lupa diri. Lupa akan kebencian, lupa akan rasa marah dan lupa segalanya. Yang ada hanyalah nyanyian sorgawi yang terlontar dari bibirnya.


Jodi menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh wanitanya yang layu. Kini keduanya melemas dengan tubuh bersimbah peluh membasahi sekujur tubuh.


Sesaat hening diantara mereka, hanya deru nafas lelah yang terdengar. Perlahan Jodi memalingkan pandangannya ke arah samping, di lihatnya wajah sayu dengan tetesan air mata yang mengalir pada kedua pipinya.


Kemudian Jodi bangkit dari atas tempat tidur dan meraih pakaiannya yang bertebaran di mana-mana. Setelah ia memakai pakaiannya kembali. Ia dekati istrinya dan duduk di sampingnya, lalu ia selimuti tubuh ringkih itu dan berbisik,

__ADS_1


“Aku telah melanggar janjiku pada diriku sendiri untuk tak menyentuhmu sampai kau siap. Tapi kau yang telah memaksaku untuk melakukan ini semua. Sekarang terserah padamu. Mulai saat ini aku tak akan pernah ikut campur lagi urusanmu, seperti apa yang kau minta. Mungkin dengan membiarkamu bebas, akan membuatmu lebih bahagia. Lakukanlah sesuka hatimu. Kita sudah sama-sama saling menyakiti. Dan kita sudah sama-sama saling terluka. Jika memang sudah tak dapat di obati, sudahlah… biarkan saja semuanya mengalir.” Bisik Jodi tepat di daun telinga wanitanya.


Kemudian ia merogoh sesuatu pada saku celananya, terlihat di tangannya sebuah kotak kecil berwarna merah jambu. Lalu ia letakan kotak kecil itu di atas meja nakas seraya berkata, “selamat atas usia 17 tahunmu, semoga kau lebih dewasa. Terima kasih untuk malam ini, dan maafkan aku.” Kata Jodi seraya mengecup kening wanitanya dan berlalu meninggalkannya.


Terlihat ia mengusap buliran bening dari sudut matanya. Entah apa yang di rasakannya saat ini. Menyesalkah? Bahagia kah?… entahlah… yang jelas kini ia telah merasakan sakit karena luka yang tak berdarah.


Sementara Berlian hanya diam seribu basa melihat kepergian Jodi yang berlalu dari kamarnya hingga punggungnya di telan daun pintu.


Rasa sakit di hati dan di area sensitifnya bersatu menjadi satu. Entah apa yang tengah ia rasakan kini, apakah semakin membencinya? Atau ia mau berdamai dengan masa lalu suaminya?. Entahlah… yang jelas kini ia hanya ingin menangis.


...........


Di tempat lain. Nampak Arash tengah terbaring di atas tempat tidur kamarnya. Matanya menatap keatas langit-langit dan sesekali terlihat senyuman di wajahnya, membayangkan peristiwa malam romantisnya yang telah ia lalui bersama Berlian.


‘Ternyata semakin dekat mengenalmu. Kamu semakin membuat aku nyaman. Kau tahu Berlian? Awalnya aku tidak begitu tertarik padamu, aku hanya memikirkan tumpukan uangmu saja. Tapi semakin aku mengingat senyumanmu, semakin aku lupa akan misi ku. Dan sepertinya aku mulai menyukaimu Berlian. Hanya aku yang pantas buatmu, bukan lelaki yang bernama Jodi itu. Aku pastikan kau akan menjadi milikku seutuhnya dan selamanya.’ Bathin Arash.


Ia terus membayangkan wajah cantik itu yang mengitari pikirannya hingga ia terlelap tidur.


.............


Jodi masuk ke dalam kamarnya dan langsung membuka seluruh pakaiannya lalu beranjak ke kamar mandi dan membenamkan tubuhnya di atas bathtub.


Ia sandarkan tubuhnya dan ia pejamkan matanya, bayangan tangisan gadisnya sekaligus des*hannya mengitari seluruh pikirannya.


‘Kekasih yang telah ternoda mencair pasrah… mengutuk diri membelah rasa yang melebur menjadi serpihan kaca yang menyayat pada urat nadi. Gerangan siapa yang bersalah? Rupanya keadaan yang memaksa diri membuka paksa demi hasrat yang meledak. Demi apa pun itu… namun semua telah terjadi.’


Hingga fajar menyingsing kengerian itu masih membayangi Berlian hingga ia dapati tubuhnya menggigil kala ia membuka matanya.


“Hiks…hiks… sakit.” Ia merasakan sakit yang begitu hebat pada area sensitifnya hingga sulit menggerakkan kakinya.


Harapannya bahwa dalam keadaan seperti ini Jodi peduli padanya namun ia malah pergi meninggalkan dirinya sendiri.


Sekuat tenaga ia bangkit, menahan perih yang ia rasakan di bawah sana, perlahan ia bawa dirinya hendak ke kamar mandi dengan langkah terpatah-patah.


Sementara itu, Jodi, Budi, Irma dan Riksa tengah asik menikmati sarapannya. Irma yang heran karena tidak melihat Berlian, lantas bertanya,


“Kemana istrimu Jod?.”


“Masih di kamarnya kali bu.”


“Kok gak makan bareng?”


“Mungkin sebentar lagi dia turun bu.” Ujar Budi suaminya.

__ADS_1


Namun tiba-tiba saja Jodi merasa bathinnya seperti ada yang menariknya untuk melihat istrinya itu.


Bergegas ia naik ke kamar istrinya, pada saat ia membuka pintu, nampak istrinya tengah berdiri dengan tangannya berpegangan pada meja rias dan wajah yang meringis seperti kesakitan.


Meski ia tengah merasakan kemarahan dan kecewa, namun melihat istrinya seperti itu, ia tidak tega menyaksikannya.


Lalu dengan cepat ia memangku istrinya ala-ala bridal style membawanya ke kamar mandi dan meletakkan tubuhnya di atas bathtub.


Ada rasa bahagia di dalam hati Berlian karena melihat suaminya masih peduli padanya meskipun mereka tak saling bicara.


Setelah meletakan istrinya pada bathtub, ia berlalu ke kamar tidur hendak mengambil handuk baru dan pakaian untuk Berlian namun pada saat pandangannya melirik pada sprei nampak bercak darah di atasnya.


Lalu ia memanggil pelayan untuk mengganti seprei nya dan ia kembali ke dalam kamar mandi.


Setelah Berlian selesai membersihkan diri, kemudian Jodi memakaikan pakaian dalamnya. Berlian memandangi wajah suaminya yang tengah sibuk mengurusi dirinya tanpa berkata dan bertanya.


Setelah Berlian selesai berpakaian rapi, lalu Jodi membawanya kembali ke kamar tidur dan membaringkannya di atas tempat tidur dengan sprei yang sudah diganti oleh pelayan tadi lalu menyelimutinya.


Tak lama bu Irma masuk, “Kamu kenapa sayang? Kamu sakit?.” Tanya bu Irma kala melihat Berlian berbaring di atas tempat tidur.


“Hanya lelah mungkin bu.” Jodi menjawab Pertanyaan bu Irma, kemudian, “Semalam kan habis berkencan dengan seseorang sampai malam. Sepertinya masuk angin.” Sambung Jodi dengan sindirannya.


Kemudian Irma mendekat dan duduk di samping Berlian.


“Hiks…hiks…oma..” Berlian dengan tangisannya.


“Saya berangkat dulu bu… sudah telat.” Kata Jodi.


“Iya Jod, hati-hati ya?.”


Kemudian Jodi melirik ke arah Berlian lalu pergi meninggalkan kamar itu.


Tak ada pelukan dan kecupan hangan seperti dulu, hanya tatapan dingin yang kini tersisa.


“Hiks… oma.” Berlian menangis dengan memeluk sang oma.


Entah penyesalan atau kecewa atas sikap suaminya yang kini begitu dingin ia rasakan. Yang jelas kini ia hanya ingin menangis.


💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔


Like ya? Favorite & vote juga komen🥰🥰


Makasih😘

__ADS_1


__ADS_2