
Dan hari pun berganti. Hari ini adalah hari dimana Alfredo akan datang melakukan kunjungan untuk yang terakhir kalinya ke rumah Berlian.
Alfredo pamit pada Krista untuk pergi ke rumah Berlian.
“Hati-hati ya Al?.”
“Ya.” Jawab Alfredo dengan anggukan, setelah mencium kening Krista yang terasa hambar ia rasakan kini, lantas ia berucap, “Nanti akan datang dokter temanku yang akan memeriksamu. Maaf aku tidak bisa menemanimu, tetapi mulai besok aku akan ada disisimu.”
“Ya Al tidak apa-apa, pergilah.” Jawab Krista, kemudian Alfredo pergi meninggalkan Krista.
‘Terima kasih Al, aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku sudah lelah menghianatimu terus. Saat ini lah waktunya aku berubah.’ Bathin Krista sembari memandangi kepergian Alfredo.
‘Kau bodoh atau memang dungu. Begitu tak menyadarinya kalau apa yang terjadi padamu itu adalah akibat perbuatanmu sendiri. Jangan pernah salahkan aku jika sebentar lagi aku akan membuangmu ketempat yang asing bagimu. Itulah ganjaran bagimu yang telah mempermainkan perasaanku.’ Bathin Alfredo seraya berlalu meninggalkan unit apartemennya.
Dokter muda itu memacu kendaraannya dengan santai. Hatinya berbunga-bunga sekaligus bergemuruh. Ia merasakan berbunga-bunga karena akan bertemu kembali dengan pasien istimewa yang di rindukannya. Namun gemuruh hatinya menderu karena tidak rela kalau hari ini adalah hari terakhirnya melakukan terapi di rumah itu.
Karena untuk waktu kedepan, tentunya akan berbeda kala ia harus melakukan cek kesehatan pada Berlian di rumah sakit.
Singkat waktu, sampailah Alfredo pada kediaman Berlian. Saat ia memasuki rumah itu sudah nampak keluarga Berlian berkumpul di ruang keluarga, sementara Berlian tak nampak pada pelupuk matanya.
Alfredo mendekat ke arah mereka kemudian menyalami semua yang ada diruangan itu.
“Eh dokter kemana saja tidak ada kabar beritanya hehe.” Tanya Delima.
“Kebetulan saya juga menangani pasien lain bu jadi waktunya di bagi-bagi.”
“Oh iya ya. Silahkan duduk dokter.” Irma mempersilahkan Alfredo duduk bersama mereka, kemudian Alfredo pun duduk dengan mereka.
“Ibu.. bapak.. sebelumnya saya minta maaf. Sekalian saja saya pamit pada bapak dan ibu karena hari ini adalah hari terakhir saya melakukan terapi dirumah ini pada nyonya. Untuk selanjutnya terapi dan cek kesehatan nyonya akan di lakukan di rumah sakit mengingat dari hari kehari nyonya semakin terlihat membaik, jadi sepertinya tidak perlu lagi melakukan terapi setiap hari di rumah. Jadi untuk kedepannya akan di lakukan di rumah sakit saja.” Jelas Alfredo membuka pembicaraan ditengah-tengah mereka.
“Oh syukurlah kalau begitu dokter, terima kasih ya sudah membantu menantu saya hingga pulih.” Ujar Eva.
“Sama-sama bu, ini sudah kewajiban saya karena rumah sakit menugaskan saya. Saya juga berterima kasih pada semua keluarga disini yang telah menerima saya dengan baik, dan mohon maaf jika dalam melakukan pengobatan terhadap nyonya banyak kekurangan dari saya. Maklum karena saya masih belajar.”
“Oh tidak kok dokter. Dokter sangat profesional sekali hehe… buktinya putri saya cepat sekali pulih.” Balas Delima.
Sementara Riksa dan Maurin hanya memperhatikan Alfredo dengan sorot mata menyelidiknya.
“Oya dokter, silahkan jika ingin menemui anak dan menantu saya, mereka sedang ada di taman.” Kata Eva.
“Baiklah.. bapak.. ibu, saya permisi dulu mau menemui tuan Jodi dan nyonya.” Kata Alfredo seraya berlalu menuju taman.
Dari kejauhan nampak dari pandangannya Berlian yang memakai tongkat tengah diajari berjalan oleh Jodi. Tak lama kemudian terlihat Jodi duduk dengan membawa Berlian di atas pangkuannya pada kursi taman.
Jangan ditanya perasaan Alfredo kala melihat pemandangan itu, rasa cemburu sudah pasti bergemuruh dalam Hatinya. Namun ia harus dapat menguasai emosinya agar terlihat baik-baik saja.
“Selamat pagi tuan… nyonya.” Sapa Alfredo pada Jodi dan Berlian yang duduk membelakanginya.
Sontak Jodi menoleh, “Hai.. dok apa kabar? Sudah lama datang?.” Sahut Jodi yang berpura-pura tidak tahu akan kedatangan Alfredo, padahal sejak dokter itu masuk ke rumah ia sudah mengetahuinya.
“Belum lama tuan, saya tadi berbincang dulu dengan keluarga anda di dalam.”
“Oh iya. Silahkan duduk dok.” Kata Jodi mempersilahkan Alfredo duduk dihadapannya,
Sementara Berlian hanya diam saja seraya membenamkan wajahnya pada ceruk leher Jodi.
“Bagaimana kondisi nyonya sampai dengan hari ini tuan?.” Tanya Alfredo sopan.
“Alhamdulillah semakin membaik dokter, istri saya semakin rajin berolahraga dan sudah dapat berjalan meskipun belum lancar.” Jawab Jodi tak kalah sopannya.
“Syukurlah berarti nyonya sudah semakin sehat, tinggal sedikit lagi nyonya sudah bisa lari hehe.” Alfredo berusaha mencairkan suasana karena melihat perempuan yang dikaguminya begitu mesra duduk di atas pangkuan suaminya membuat kepalanya terasa panas bagai terbakar matahari.
“Ya sepertinya begitu dokter hehe.”
“Oya tuan maaf, boleh saya periksa nyonya sekarang?.”
“Silahkan dokter.” Kemudian Jodi mengangkat tubuh Berlian seraya membaringkannya di atas sofa.
“Maaf nyonya.” Alfredo menempelkan stetoskop pada dada Berlian. Setelah itu lalu mengecek titik-titik saraf dengan menggunakan alat.
__ADS_1
“Baik tuan… kondisi nyonya sudah sangat baik sekali, terus saja di latih agar semakin lancar jalannya.”
“Iya dok. Terima kasih.”
Karena memang sudah tidak ada lagi yang bisa Alfredo lakukan dirumah itu, akhirnya ia pamit pulang dan membawa alat-alat terapi yang ia simpan dirumah itu selama perawatan beberapa waktu kebelakang.
Di dalam perjalanan, Alfredo nampak bermuram durja. Betapa bencinya ia saat Berlian yang duduk mesra diatas pangkuan suaminya terbayang dalam ingatannya.
‘Kalian memang benar-benar membuatku cemburu. Entah kalian sengaja membuat kepalaku panas atau memang seperti itu lah kebiasaan kalian? Sungguh membuat aku semakin muak saja melihatnya.’ Gumam Alfredo seraya mengendalikan setir kendaraannya dengan kasar.
Ia terus memacu kendaraannya sedikit lebih cepat. Sepertinya ia akan langsung menuju kerumah sakit, meskipun hari itu tidak ada jadwal untuk dirinya bertugas disana. Tetapi setidaknya, diruangannya ia akan merasa aman untuk menumpahkan kekecewaannya. Karena jika ia pulang ke apartemennya, khawatir Krista akan melihat keadaan dirinya yang tengah dilanda kecewa berat.
..........
Singkat waktu, ke esokan harinya, Alfredo pergi ke kota P untuk melakukan transaksi pembelian hunian untuk dirinya sesuai dengan waktu yang mereka rencanakan tempo hari.
Setelah sampai di kota P, Alfredo langsung melakukan transaksi di bantu oleh notaris yang di tunjuk oleh Andre temannya itu.
Setelah beberapa jam akhirnya transaksi itu selesai dan kunci rumah dan sertifikat atas nama pemilik awal sudah berada di tangannya. Ia tinggal menunggu notaris memproses alih nama kepemilikan sertifikat rumah itu menjadi atas namanya.
Singkat cerita setelah selesai bertransaksi, ia pun kembali ke ibukota.
*
Semakin hari kondisi Krista semakin menurun. Satu minggu telah berlalu, kini Krista merasakan lidahnya kelu sehingga untuk berbicara saja ia merasa kesulitan. Ditambah kondisi tubuhnya yang semakin lemah dengan tangan dan kaki yang lambat dalam merespon.
Alfredo seolah menjadi penyelamat baginya, ia memberikan perhatian lebih dengan memanggil dokter khusus ke apartemennya untuk memeriksa kesehatan Krista setiap hari.
Padahal yang ia panggil bukanlah benar-benar dokter, melainkan hanya petugas kesehatan biasa yang ia bayar mahal untuk berpura-pura menjadi dokter.
Meski Krista merasa kondisinya semakin hari semakin menurun karena setiap waktu di jejali obat yang menyebabkan terjadi kontraindikasi pada tubuhnya, ia tak curiga sedikit pun pada Alfredo, karena kehangatan Alfredo telah membutakan prasangkanya.
Apa lagi dokter gadungan yang memeriksanya itu setiap hari sudah di perintahkan oleh Alfredo untuk memberikan diagnosa palsu pada Krista.
Seperti itu lah awal dari balasan untuk Krista dari seorang Alfredo yang dulu begitu memuja kekasihnya itu.
Hari itu, Krista hanya bisa tertidur di atas tempat tidur. Setelah Alfredo memastikan Krista terlelap, ia berlalu meninggalkan Krista di dalam kamarnya.
Alfredo yang berada pada ruangan lain di apartemennya terlihat tengah menghubungi seseorang melalui sambungan ponselnya.
“Saya akan bayar mahal kalian, bagaimana? Kalian sanggup melakukannya?.” Kata Alfredo setengah berbisik karena khawatir akan menggugah Krista meskipun ia ada diruangan lain.
“Berapa orang yang anda butuhkan untuk mengeksekusinya tuan?.” Suara di balik ponsel.
“Empat orang sudah cukup sepertinya. Jika kalian sanggup, saya akan langsung transfer uang mukanya pada kalian. Sisanya akan saya bayar setelah kalian berhasil membawa target ke tempat lain. Lakukan saja seperti suatu penculikan, seolah-seolah yang melakukan semua kejahatan itu adalah suaminya.”
“Siap tuan.”
“Baik. Saya akan kirim alamat target dan tempat tinggal lain untuk target.”
“Kapan waktunya tuan?.”
“Kalau bisa malam ini.”
“Siap tuan.”
Melihat dari percakapan Alfredo dengan seseorang, sepertinya ia tengah menghubungi orang bayaran untuk melakukan aksi penculikan.
Ia langsung mentransfer uang muka pada orang yang di hubunginya itu dan mengirim dua alamat. Satu alamat tempat penculikan yang kedua alamat tempat lain untuk tempat tinggal target penculikan.
*
Malam semakin larut, terlihat Alfredo begitu gelisah di atas tempat tidur. Sesekali ia memandangi wajah pucat di sampingnya.
‘Maafkan aku Krista… aku terpaksa melakukan semua ini karena inilah caraku untuk membebaskan diriku juga membebaskan dirimu dari belenggu yang membuat kita berdua tersakiti… aku harap setelah ini, kita tak akan pernah bertemu lagi.’ Bathin Alfredo, terlihat buliran bening menetes pada sudut pipinya.
Selang setengah jam tiba-tiba saja BRAK!!!! Terdengar suara pintu kamar mereka dibuka kasar dari luar. Sontak membuat Krista terjaga dan terkejut, begitu pun dengan Alfredo.
Terlihat dua orang bertopeng masuk kedalam kamar mereka dengan membawa senjata di tangannya.
__ADS_1
Alfredo bangkit mundur beberapa langkah seraya berkata, “Siapa kalian?!!!.” Teriak Alfredo.
“Siapa pun kami! Anda tidak perlu tahu! Diamlah jika anda ingin selamat.” Seseorang itu dengan cepat melangkah ke arah Alfredo dan meletakan mulut senjata pada pelipisnya.
“Aaaaa…. Toloong!!.” Teriak lemah Krista kala salah seorang membekap mulutnya, Krista tak mampu melawan karena tubuhnya yang lemat.
“Diamlah jika kau tak ingin mati! Suamimu menyuruh kami untuk melenyapkanmu!.” Bisik seseorang tepat di telinga Krista yang membekap mulutnya.
“Lepaskan dia!!.” Teriak Alfredo seraya menangkap tangan seseorang yang menodongkan senjata pada pelipisnya.
Terjadi baku hantam di antara Alfredo dengan seseorang itu, hingga Alfredo tersungkur di atas tempat tidur.
Krista melihat Alfredo yang hendak berusaha membebaskan dirinya dengan melakukan perlawanan pada orang itu, hingga Alfredo mendapatkan beberapa pukulan pada wajahnya.
Terlihat dari ujung matanya Krista di bawa oleh dua orang itu keluar dari kamar.
Sesaat Alfredo dan krista saling menatap kala tubuh Krista di bawa keluar kamar oleh orang-orang itu.
Di depan pintu masuk sudah menunggu dua orang lagi dengan menggunakan atribut yang sama.
Hingga orang-orang itu membawa Krista pergi, Alfredo masih terdiam membenamkan wajahnya di atas tempat tidur.
Sesaat ia bangkit lalu berjalan ke depan cermin, terlihat di dalam cermin pipinya yang memar dan goresan tipis dengan sedikit darah pada pelipisnya.
“Dasar manusia jalanan! Mereka terlalu keras memukulku, ah…” Desis Alfredo kala ia mengusap bagian wajahnya yang terluka.
Ternyata orang-orang yang membawa Krista itu adalah orang-orang suruhannya yang sebelumnya ia hubungi untuk membawa Krista dari apartemennya ke panti milik keluarganya yang berada di luar kota.
Sengaja Alfredo melakukan itu seolah-olah bahwa Krista seperti dalam keadaan diculik agar Krista tidak mencurigai bahwa Alfredo lah yang sengaja mengirimnya ke panti.
Alfredo terus memandangi wajahnya dalam cermin, ia menatap tajam matanya, sesaat ia tersenyum dan bergumam, “Semoga di tempat yang baru, kau dapat menemukan ketenangan Krista.”
Deert…. Dert…. Suara ponsel menggugah lamunannya.
“Hallo tuan!! Apa wanita ini langsung di bawa ke panti?!.” Suara di balik ponsel.
“Ya langsung saja di bawa ke tempat tujuan! Tapi usahakan agar tak terlihat bahwa dia memang sengaja akan di kirim kesana. Kalian berpura-pura saja alami kecelakaan pada saat di sekitar panti, seolah-olah wanita itu terlempar dari dalam kendaraan kalian.”
“Wah kalau begitu kami tidak berani tuan, karena van ini kami sewa, jadi kami tak bisa menjamin kerusakan pada van yang kami bawa.”
“Saya akan mengganti kerusakan pada van itu!!! Bagaimana pun caranya buat seolah-seolah wanita itu masuk panti bukan karena unsur kesengajaannnya!.”
“Siap kalau begitu tuan!.”
“Ok. Sisa pembayaran beserta biaya van itu akan saya transfer setelah kalian memastikan bahwa perempuan itu sudah diambil oleh orang panti!.”
Kemudian Alfredo menutup sambungan ponselnya, dan kembali memandangi wajahnya dalam cermin.
..........
Van yang membawa Krista melaju dengan kecepatan sedang, Krista yang tergolek lemah memandangi ke empat orang yang membawanya.
Sayang ia tak mendengar percakapan salah seorang dari mereka yang menghubungi Alfredo, karena pada saat salah seorang itu menghubungi Alfredo, posisi orang itu duduk di depan, sementara dirinya duduk pada Jok tengah dengan di apit oleh dua orang lainnya.
Dalam pikiran Krista, bahwa orang-orang yang membawa dirinya itu adalah orang suruhan suaminya. Ia menangis sejadi-jadinya meratapi nasib yang terjadi pada dirinya, dan membayangkan Alfredo yang terluka karena pukulan dari orang jahat itu.
Entah sudah berapa lama van itu menembus jalanan yang nampak sepi karena waktu telah menunjukan dini hari.
Tibalah van itu pada sekitaran panti yang mereka jadikan target untuk membuang Krista.
Dengan kecepatan penuh van itu melaju, sengaja si pengemudi memutar van itu 180 derajat tepat di depan panti sehingga membuat tubuh Krista terlempar keluar tepat di halaman panti. Setelah tubuh Krista terlempar keluar, dengan cepat van itu melaju kembali dan berhenti di ujung jalan pada jarak 100 meter.
Mendengar keributan yang terjadi terlihat salah seorang wanita paruh baya keluar dari dalam panti, ia terkejut melihat sosok wanita terkapar tepat di halaman panti. Terlihat ia memanggil seseorang, keluarlah dari dalam panti dua orang lelaki yang kemudian membawa tubuh Krista masuk kedalam panti.
Pemandangan itu lah yang terlihat oleh keempat orang dalam van itu yang mengamati dari kejauhan, tentunya dengan mendokumentasikan kejadian itu untuk di kirim langsung kepada Alfredo. Setelah memastikan korbannya di bawa masuk kedalam panti, mereka pun pergi meninggalkan tempat itu dengan bersorak sorai.
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Terima kasih kepada reader yang selalu setia mengawal cerita ini 🥰😍😍
__ADS_1