
Jodi keluar mengendap-endap melalui jendela yang terletak pada balkon kamar Berlian. Ia terus berjalan hingga sampai pada ujung jalan dimana mobilnya terparkir disana, kemudian mengangkat kelima jari nya diatas kepalanya, memberi kode pada timnya yang menyebar di segala penjuru untuk kembali pada kendaraannya masing-masing.
Terlihat Jodi masuk ke dalam mobil dan di dalam mobil sudah ada Riksa duduk di belakang kemudi.
“Ayo cabut!.” Titah Jodi pada Riksa, tanpa banyak bertanya Riksa pun langsung memacu kendaraannya. Di ikuti oleh tim mereka pada mobil yang berbeda.
Di dalam perjalanan, Jodi yang duduk di samping Riksa hanya menghening dengan tatapan lurus kedepan.
“Ehem.” Riksa berdehem memecah keheningan.
“Dia masih sama, masih hangat seperti dulu.”
“Sepertinya Boss sudah bisa memeluknya ya tadi?.”
“Tentu saja, kalau dia menolak gue akan terus memaksanya.”
“Pelan-pelan Boss, jangan gerasa gerusu. Boss kan sudah dapat memeluknya, besok-besok sepertinya akan terjadi pertempuran hehe.”
“Sudah terjadi!.”
“WHAT!!!” Riksa terkejut membulatkan matanya. “Tadi sempat terjadi pergulatan Bos?.” Sambung Riksa.
“Iya dong harus.. setelah lama berpisah gue harus memberikan nafkah Bathin sama dia, kalau gak nanti dosa.”
“Gak! Masalahnya kalian ada di kandang macan loh! Sempet gitu kalian melakukan pergulatan disana Boss?.”
“Kita jangan melewatkan kesempatan jika kesempatan itu ada di depan mata.”
“Gila! Gue gak bisa ngebayangin kalau saat itu si Alfredo menemukan kalian lagi begituan. Gimana ya jadinya? Haha bisa ***** sendiri dia.”
“Kalau tadi dia ada, gue mau suruh dia buat bikin video kita. Biar di viralkan di jagat dark web sekalian. Mampus-mampus dia kebakaran jenggot.”
“Anjir haha… bener-bener gila ya Boss gue ini. Hadeh.” Riksa tepok Jidat.
“Oya Rik. Kalau bisa, nanti suruh salah seorang tim buat nge datangin dokter yang pernah kerumah itu. Siapa tahu dia mau kerjasama bareng kita, buat melengkapi berkas bukti kejahatan si Alfredo. Karena kalau buktinya kurang, kita akan kesulitan buat nyergap dia.”
“Ok nanti gue suruh si Faisal aja yang datangin dokter itu.”
“Ya boleh. Si Faisal kan paling bisa nge bunglon.”
“Oya? Tadi Boss ketemu juga sama putra Boss?.”
“Gue sempet menggendongnya tadi, cuma gue lupa nanya namanya sama bini. Dia kan belum ngasih tahu gue nama putra gue siapa?.”
“Kapan-kapan kalau ketemu bini lagi, yang lebih utama tanyain dulu masalah anak deh jangan langsung belah duren aja. Aneh… bapak sendiri gak tahu nama anaknya. Sampe ada acara lupa segala nanya namanya sama bini,”
“Bener-bener lupa gue tadi. Tapi bersyukur anak gue sehat sepertinya. Tidurnya juga anteng, gak ganggu gue sama emaknya.”
“Pura-pura tidur kali dia haha… dia tahu emak sama bapaknya lagi kangen-kangenan.”
“Iya kali ya hehe.”
Dan tanpa terasa mobil yang membawa mereka telah sampai pada hotel tempat mereka menginap.
Mereka pun masuk kedalam kamar hotel mereka masih-masing untuk beristirahat.
Dewi malam tersenyum indah dalam pancaran cahayanya. Gulita malam menjadi lebih berwarna akan sinarnya yang meremang menyibak kegelapan. Di bawah naungan sang Dewi malam, ada sosok yang merasa berbahagia karena kerinduannya yang telah terlampiaskan.
Hingga malam pun melipat gelapnya dengan sang fajar yang menggantikan tugasnya memberikan hari baru bagi seisi bumi.
Di tempat lain, di dalam sebuah kamar, nampak sosok malaikat kecil menangis terjaga, bergegas sang ibu muda meraihnya dan memberikan pelukan hangatnya. Kemudian ia memberikan ASI pada bayi mungil itu.
Sepanjang ia memberikan ASI pada sang anak, jiwa nya mengembara entah kemana. Ingatannya kembali pada peristiwa semalam.
‘Benarkah sosok semalam yang hadir dalam mimpiku adalah suamiku? Wajah dan suaranya seakan tak asing bagiku. Sentuhannya masih terasa hingga kini. Lalu kenapa dia tak datang menemuiku di dunia nyata? Kalau aku dengar dari ucapannya malam itu di dalam mimpi, sepertinya dia memiliki hubungan yang tidak baik dengan Alfredo. Dan jika benar Alfredo bukan suamiku, lalu siapa dia? Kenapa dia ada bersamaku dan dia mengaku juga sebagai suamiku.” Bathin Berlian.
Setelah merenung cukup lama, akhirnya dia membersihkan dirinya dan memandikan putranya. Setelah keduanya rapi. Lalu mereka berlalu meninggalkan kamar menuju ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, Berlian menemukan Alfredo tengah sibuk di dapur membuat sarapan untuk mereka.
“Yang mau kerja belum ada juga ya?.” Tanya Berlian seraya duduk di tempat itu dengan mata terus memperhatikan Alfredo tampak belakang.
“Kau sudah bangun? Ya kemarin aku baru mengatakan pada temanku itu untuk mencari orangnya.” Jawab Alfredo yang tengah fokus memasak tanpa menoleh pada orang yang berbicara dengannya.
__ADS_1
Setelah beberapa waktu, akhirnya Alfredo selesai memasak sarapannya dan mereka berdua pun menikmati sarapan paginya.
Setelah menghabiskan sarapannya Alfredo pamit untuk berangkat ke rumah sakit tempatnya bekerja. Berlian mengantarnya sampai pintu. Setelah Alfredo sudah hilang dari pelupuk matanya, Berlian masuk kembali kedalam, namun belum sempat ia mengunci pintu, sosok lelaki memaksa masuk, dan kini ia sudah berada di dalam, menyandarkan tubuhnya pada pintu masuk itu dengan senyum manisnya.
“Kau…” Berlian mengacungkan telunjuknya.
“Ya aku shadow husbandmu. Kenapa? Kau tidak suka aku datang ke dunia nyatamu?.” Kata Jodi seraya mengunci pintu masuk itu dan memasukan kuncinya pada saku celananya.
“Hei… kembalikan kuncinya!.”
“Ambil lah sendiri.” Goda Jodi seraya mendekat meraih tangan istrinya.
“Kau…” Berlian menepis seraya berlalu pergi.
Kemudian Jodi berjalan menyusuri rumah itu dengan kedua tangan di masukan kedalam saku celananya.
“Mau apa kau kemari?.” Tanya Berlian sembari membereskan meja makan.
“Mau menemui putraku. Dia pasti rindu padaku, dimana dia?.” Kemudian Jodi melihat putranya yang di letakan pada kereta dorong tidak jauh dari meja makan.
“Ow… rupanya putraku disini.” Kata Jodi seraya memangkunya, sementara Berlian hanya memperhatikan tingkah Jodi di sampingnya sembari sibuk membereskan piring kotor.
“Kau beri nama apa padanya? Kau belum sempat memberitahukan padaku.”
“Noah..”
“Hm. Nama yang bagus, semoga di hari depan dia dapat membangun bahtera kehidupan.” Ujar Jodi seraya mengajak putranya bermain dalam pangkuannya.
“Kau kerjakan saja pekerjaan rumahmu. Biar aku yang menjaga putra kita.” Sambung Jodi.
“Apa?! Pergilah… kau tidak takut nanti suamiku kembali!.”
“Jangan sebut nama dia di depanku. Dan ku beritahu padamu, dia bukan suamimu. Jika kau tak percaya, lihatlah semuanya disini.” Kata Jodi seraya memberikan ponselnya pada Berlian.
“Lihat semuanya di galeri ponsel ini,” Sambung Jodi. Kemudian Berlian mengambil ponsel itu dan melihat-lihat isi galerinya.
Nampak dalam pandangannya wajah dirinya bersama keluarga dan orang-orang terdekatnya. Ia amati satu persatu, foto dan video dirinya dalam galeri ponsel itu.
Saking fokusnya Berlian melihat-lihat isi galeri ponsel Jodi, sampai ia tidak menyadari kalau Jodi tengah mengitari rumah itu dengan putranya diatas pangkuannya.
Jodi iseng mencari pintu masuk bunker itu, namun belum juga ia temukan tiba-tiba suara Berlian membuyarkan konsentrasinya.
“Apa yang kau cari?.”
“Hey sayang… tak bisa kah kau bersikap manis padaku seperti kemarin-kemarin? Panggil lah aku dengan Panggilan sayang yang selalu kau ucapkan.”
“Aku tidak tahu.”
“Kau biasa Memanggilku papa.”
“Benar kah?.”
“Tentu saja karena aku suamimu, maka kau panggil aku papa.” Kata Jodi seraya berlalu meninggalkan ruangan belakang menuju kamar Berlian, ia berlaku seperti di dalam rumahnya sendiri.
Sesampainya di kamar itu ia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan putranya diatas dadanya. Berlian mengikuti pergerakan Jodi sembari mengamati tingkah lakunya.
‘Benarkah dia suamiku? Kelihatannya dia memang begitu akrab denganku.’ Bathin Berlian.
“Kenapa? Kau Juga ingin naik ke atas tubuhku seperti putra kita, hem? Kemarilah!.” Kata Jodi yang melihat Berlian terus menatapnya. Kemudian Berlian memalingkan pandangannya dan berlalu menuju sofa yang terletak tidak jauh dengan tempat tidur itu. Lalu ia duduk diatasnya dengan mata yang lagi-lagi mencuri pandang, memperhatikan kelakuan Jodi yang tengah bermain bersama putranya itu.
“Apa hubunganmu dengan Alfredo?.” Tanya Berlian menyelidik.
“Kau tanya saja pada dia. Kalau dia tak mau menjawab, akan aku jawab nanti.” Jawab Jodi tanpa menoleh pada lawan bicaranya.
“Apa susahnya kau jelaskan sekarang?.”
“”Memangnya jika aku jelaskan segalanya, kau akan percaya? Aku akan mengatakan segalanya setelah kau mempercayaiku. Aku tahu kau masih ragu padaku dan sedang menyelidik, benar kan?.”
“Karena aku benar-benar tidak tahu. Dan aku perlu tahu masa laluku yang sebenarnya.”
“Pelan-pelan akan aku beritahu kamu. Santai saja tak usah buru-buru.”
“Kalau memang kau benar suamiku. Kenapa kau tidak bawa saja aku pergi sekarang? Mumpung dia tidak ada di rumah.”
__ADS_1
“Kau tahu? Dia mengambil dirimu saat kau sedang bersamaku. Maka aku pun akan melakukan hal yang sama untuk membawamu pergi. Aku ingin peristiwa yang akan terjadi lebih dramatis dari apa yang dulu dia lakukan padaku. Jika aku membawamu sekarang, tentunya sakitnya akan kurang berasa.”
“Apa?! Kau tahu! Aku semakin pusing mendengar kata-katamu. Pergilah! Aku ingin istirahat.”
“Jika kau ingin istirahat, Istirahatlah. Jangan merasa terganggu olehku, apalagi sampai mengusirku. Hari ini aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama putraku. Kau bebas sekarang, beristirahatlah!.”
“Mana bisa begitu?. Bagaimana aku bisa beristirahat kalau ada kau di tempat tidurku.”
“Kau tahu? Dulu kau selalu minta merapat di tubuhku dimana pun kita berada. Kau tidak rindu berebah disini.” Kata Jodi seraya menepuk-nepuk dada bidangnya. Kemudian, “Kemarilah!.” Titah Jodi.
Berlian terdiam, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Namun ia melihat putranya sudah mulai rewel, kemudian ia mendekati putranya yang berada di atas tempat tidur bersama Jodi. Lalu ia duduk pada bibir tempat tidur dan meraih tubuh bayinya, memangkunya kemudian menyusuinya.
Pada saat ia tengah menyusui bayinya, dari arah belakang, Jodi mendekat dan melingkarkan tangannya pada pinggang yang sekarang terlihat lebih berisi pasca melahirkan itu. Lalu perlahan Ia jadikan pundak sang istri sebagai topangan dagunya, sementara tangan kanannya membelai kepala sang bayi yang tengah menyusu pada ibunya itu.
“Kau perhatikan wajahnya baik-baik. Dia mirip sekali denganku. Aku kira itu sudah cukup untuk membuktikan kalau dia benar-benar putraku, dan kau harus mulai percaya padaku bahwa akulah suamimu.” Kata Jodi seraya mengecup ceruk leher istrinya dari arah belakang.
“Jangan seperti ini.” Kata Berlian merasa risih di pepet terus oleh Jodi.
“Loh kenapa? Dulu kau selalu minta padaku.”
“Tapi aku sudah tidak ingat lagi semuanya.”
“Karena itu aku akan terus mengulang dan mengulang kemesraan kita agar kamu dapat mengingatnya kembali. Jadi diamlah. Jangan banyak bicara.” Kata Jodi yang sudah mulai melancarkan aksinya.
Tangan yang sudah bergerilya kemana-mana, terus menjalar kesana kemari seperti tangan copet yang tengah mencari letak dompet di tubuh sasaran. Sementara bibir kokohnya mengembara tidak jelas pada area leher sang istri.
“Cepatlah buat putra kita tidur. Agar aku bisa menemanimu beristirahat.” Bisik Jodi tepat di telinga kanan sang istri.
Kebersamaan yang membawa mereka berdua terhanyut, membuat mereka lupa bahwa mereka sedang berada di kandang musuhnya.
Sementara itu, di ujung jalan, nampak Riksa dan Faisal tengah berbincang di dalam kendaraan mereka, menunggu Bossnya kembali.
“Kira-kira, sedang apa ya mereka sekarang?.” Tanya Faisal sembari memperhatikan sekitar.
“Ah kayak yang gak tahu kelakuan Boss kita aja luh Sal!.”
“Masa iya mereka melakukan mantap-mantap di siang bolong ya?.”
“Lah dia mah gak kenal malam gak kenal siang, kalau lagi pengen terus ada kesempatan, bisa langsung di sikat sama dia mah. Sebelas dua belas juga tuh sama bini nya.” Terang Riksa.
“Hehe… Iya pasangan yang unik. Tapi kasihan ya hidupnya? Selalu ada saja masalah. Kayaknya masalah yang mereka hadapi gak berenti-berenti.”
“Ya sesuai dolarnya yang juga gak berenti-berenti Sal. Beda sama kita, kalau kita yang gak berenti-berenti itu yang nagih utang sama kita haha.”
“Iya bener bang. Najis gue sama orang yang nagih, bawel kayak emak-emak mulutnya haha.. udah gitu gak sabaran, dibilangin belum ada duit gak ngerti juga. Padahal apa susahnya ikhlasin aja ya itung-itung ibadah haha.”
“Gila luh. Haha… salah kita juga, mau-maunya terlibat riba.”
“Eh bang, itu gimana ya rasanya? kayak si Boss jagain jodohnya dari bayi. Udah hafal semua berarti ya luar dalamnya?.”
“Ya pastilah… Sal, gue ngikutin mereka dari awal loh, Sejak dari mereka sebelum menikah. Dan memang yang kegatelan awalnya bini si Boss itu.”
“Serius bang?.”
“Iya. Orang itu anak dari masih kecil tidurnya sama si Boss, ngapa-ngapain sama dia, gimana gak kena dihati. orang tiap hari sampe gede gitu tidur masih di kelonin.”
“Anjir gue juga gak bakalan nolak kalau di suruh ngelonin hahaha.”
“Makanya, tapi memang awalnya si Boss menolak Sal, malah gue yang nyuruh dia supaya menikmatik prosesnya, karena dihindari juga sulit kan?. tapi akhirnya lama-lama di pepet terus sama ABG labil, iman si Boss goyah juga Sal hahaha.”
“Haha… kacau ABG labil mepet ABG kadaluarsa, bikin iman jadi labil, haha.”
“Ya… begitu lah mereka. Eh Sal mending kita cari makan dulu yuk. Kalau udah ketemu, mereka gak akan bisa sebentar. Mending kita makan siang dulu di pusat kota dari pada nunggu di sini bisa kelaparan kita.”
“Ok.”
Dan akhirnya mereka berdua pun meninggalkan tempat itu menuju ke pusat kota. Untuk sekedar mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.
❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹
Terima kasih untuk reader yang tetap setia mantengin cerita ini🥰
Selamat beribadah puasa bagi yang menjalankan 🙏🏻
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya😍
Terima kasih😘