Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Meski perih dan pedih, kita tetap mampu tegak berdiri di bawah matahari


__ADS_3

Mendung kini menyelimuti sepasang hati, ia datang tak pandang buluh, meluluh lantakkan perasaan yang sedang manis-manisnya merasakan suka cita.


Serasa badai yang menukik menghujam jantung hingga membelah hati seakan melebur. Mengguncang angan bagai duri yang mematikan. Kesedihan itu menghancurkan gairah dari keduanya.


Namun di sisi lain sepasang mata menyaksikan bahagia akan kekacauan yang terjadi itu. Tertawa lepas mengakak bagai gemuruh kepuasan yang telah lama di nanti.


‘Haha…. Kehancuran baru saja dimulai Jodi! Akan banyak lagi cerita yang akan gue ciptakan buat elo sampai Berlian jatuh kedalam pelukan gue… dan elo akan alami hidup yang tragis setelahnya, haha.’ Kelakar Arash kala ia mendengarkan apa yang telah terjadi di rumah itu.


Faradina menceritakan pada Arash semua yang telah terjadi kala ia mendatangi Jodi.


“Bagus Fara. Kau harus memberi pelajaran pada ayahmu itu. Kau dengar langsung kan dari mulutnya? Betapa jahatnya dia sampai mengatakan bahwa dia tidak mengenalmu dan ibumu? Ayah macam apa seperti itu?!.” Arash terus saja mempengaruhi Faradina agar wanita itu semakin membenci Jodi.


Dengan begitu, secara tidak langsung dia telah menghancurkan hubungan Jodi dan Berlian dengan tangan orang lain.


Sementara Menara dan Yosan yang menyaksikan Arash yang tengah berbincang dengan Faradina dari kejauhan, masih belum menemukan apa sebenarnya yang temannya itu rencanakan.


“Siapa cewek itu ya Ra? Aneh gue lihat dia sama cewek muda, biasanya kan sama tante-tante.” Ujar Yosan.


“Teman barunya kali Yos!.”


“Masa sih?, elo tahu sendiri bagaimana dia, mana mau dia temenan sama cewek biasa-biasa. Halu dia kan level dewa. Pengennya deket sama cewek tajir, biar kata itu nenek-nenek, kalau tajir di kejar sama dia mah, udah gitu bisa dapet juga.”


“Iya juga sih. Makanya biar kita tahu apa yang dia rencanakan, kita pantau dia aja terus.”


“Tapi anehnya kenapa dia sembunyi dari kita ya Ra? Gak biasanya dia gitu.”


“Kayaknya dia udah gak butuh kita lagi Yos, hehe.”


“Mungkin juga. Eh Ra gue ada janji sama cewek gue, udah yuk ah balik. Besok aja lagi ngintai si Arashnya.”


“Ya udah yuk.”


Lalu mereka berdua pun pergi meninggalkan tempat itu.


.........


Terlihat Maurin baru sampai di rumah Berlian. Ia parkirkan mobilnya di garasi rumah itu.


Kemudian ia masuk kedalam rumah, terlihat Riksa dan Jodi tengah berbincang di ruang tengah.


“Permisi om… kak Riksa hehe, aku mau ketemu Berlian.”


“Masuk aja Rin, dia ada di kamarnya. Oya? Dia tadi telepon kamu?.”


“Iya om, dia nangis-nangis, kenapa ya om?.”


“Tadi ada kesalah pahaman dikit Rin, kamu temani dia ya? Dia pasti butuh teman saat ini.”


“Baiklah om saya permisi dulu menemui Berlian.”


Kemudian Maurin langsung beranjak pergi menuju kamar Berlian.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, Maurin menemukan Berlian tengah membenamkan wajahnya di atas bantal.


Mendengar seseorang masuk kedalam kamarnya, perlahan Berlian bangkit, saat ia melihat Maurin yang datang, dengan cepat ia memeluk dan langsung meraung.


“Hey, cup.. cup..cup.. kamu kenapa Berli? Ayo cerita sama aku.” Maurin membawa kembali Berlian ke atas tempat tidurnya, lalu duduk berhadapan dengan bersila.


“Katakan padaku pelan-pelan, apa yang membuatmu hingga seperti ini?.” Tanya Maurin.


“Aku sakit hati Rin, ternyata papaku punya rahasia dimasa lalunya hiks.”


“Rahasia apa?.” Tanya Maurin penasaran.


“Tadi seorang wanita datang kerumah dan mengaku kalau dia adalah anaknya papaku hiks.”


“Apa!! Yang bener Berli? Seusia siapa anaknya itu?.”


“Kira-kira seumuran kamu.”


“Lalu bagaimana reaksi papamu?.”


“Tentu saja dia mengelak dan aku tidak percaya begitu saja! Kenapa mereka datang di saat aku dan papa sedang bahagia! Aku benar-benar kecewa Maurin.” Kembali Berlian meraung.


“Tapi papamu bilang itu hanya kesalah fahaman saja katanya.”


“Kesalah fahaman bagaimana? Jelas-jelas wanita itu menangis Rin. Coba kalau kita yang berada di posisi dia, tentu perasaan kita akan sama. Sejak lahir papa sudah meninggalkannya dan sekarang dia datang, tapi papa tetap tidak mengakuinya.”


“Lalu bagaimana papamu menjelaskan itu padamu?.”


“Tentu saja papaku tetap mengatakan kalau dia tidak mengenal mereka dan tidak tahu mereka. Tapi aku tidak percaya Rin. Semuanya jelas aku dengar tadi, bahkan nama wanita itu pun aku hafal. Namanya Faradina Laras dan ibunya Lucy Gayatri. Coba kau bayangkan seandainya kau ada di posisiku hiks… rasanya sakit Rin. Hiks.”


“Aku bingung Rin. Tapi wanita itu sangat meyakinkan. Bagaimana kalau wanita itu memang benar anaknya papaku, hiks… terus ibunya adalah istri papaku atau bisa saja pacarnya papaku, atau siapanya lah hiks… aku sebel.. aku benci papaku.. hua…” Berlian menangis kembali.


“Ah itu kan hanya prasangkamu saja Berli. Belum ada bukti juga kan? Agar kita yakin dan percaya! Ayo kita cari kebenarannya. Bila perlu kita datangi rumahnya sekalian kita bertemu dengan ibunya dan minta penjelasan dari ibunya itu, bagaimana?.”


“Entahlah Rin. Aku masih ingin menangis hiks..”


“Ya sudah kalau maumu seperti itu. Kau teruskan saja nangismu. Aku numpang ke kamar mandi ya? Mau wudhu. Maghriban dulu, nanti kita lanjut lagi ceritanya.”


“Hm um.” Berlian mengangguk.


“Setelah puas nangismu, mintalah petunjuk sama Allah Berli… aku yakin Allah akan menunjukan kebenarannya.”


“Iya sana kamu dulu shalatnya hiks… nanti aku belakangan hiks.”


Kemudian Maurin berlalu ke kamar mandi untuk berwudhu. Sementara Belian melanjutkan aktivitas menangisnya.


........


Faradina baru sampai halaman rumahnya, ia pulang diantar oleh Arash, melihat putrinya pulang di antar oleh seseorang menggunakan mobil mewah, Lucy bertanya pada putrinya itu, “Siapa yang mengantarmu pulang Fara?.”


“Hanya teman baru bu.” Jawab Faradina melangkah masuk kedalam rumahnya, di ikuti oleh ibunya.

__ADS_1


“Oh… ibu kira pacarmu.”


“Aku tak mau punya pacar.” Jawabnya seraya menyimpan tas gendongnya dan membuka sepatu kets nya.


“Loh kenapa?.”


“Aku tidak siap bernasib seperti ibu!.” Jawabnya sembari melangkahkan kakinya ke dapur.


DUG!!!!! Kata-katanya seakan menampar wajah Lucy. Namun ia tak mau menanggapi kata-kata yang di lontarkan putrinya itu, ia hanya diam seraya menggelengkan kepalanya.


Kemudian ibunya menghampiri kala Faradina berada di dapur tengah mengambil air minum untuk dirinya.


“Akhir-akhir ini, ibu merasa kau berbeda Fara.”


“Benarkah?!… itu hanya perasaan ibu saja kali.”


“Fara… apa kau marah pada ibu sayang?.”


“Aku tidak pernah marah sama ibu, aku hanya marah pada kehidupanku yang kurang beruntung.”


“Sayang… janganlah berucap seperti itu, apapun yang telah kita lalui bersama, kita harus mensyukurinya.”


“Aku sangat-sangat bersyukur akan hidupku bu, aku bersyukur memiliki ibu yang baik sepertimu, aku bersyukur sampai detik ini kita masih bisa bertahan hidup. Meski perih dan pedih, kita tetap mampu tegak berdiri dibawah matahari. Lalu jika aku katakan kenapa aku marah pada hidupku? Itu karena aku belum bisa membuat ibu bahagia.”


Mendengar kata-kata putrinya, dengan lembut Lucy memberikan pelukan terhangatnya.


“Maafkan ibu nak. Maaf kan ibu yang tak mampu menjadikan dirimu gadis seperti gadis lain yang mendapatkan segala yang mereka inginkan dan mendapatkan seperti yang mereka butuhkan. Jangankan hal itu, untuk memberitahumu sesuatu pun ibu tak mampu. Namun bukan berarti ibu menutupinya darimu nak, tapi karena memang belum saatnya kau tahu.”


“Aku mengerti kok bu. Aku tidak akan memaksa ibu lagi menanyakan hal yang tidak bisa ibu jawab. Aku tidak ingin menyulitkan ibu. Benar kata ibu. Tidak penting kita mengetahui sesuatu, yang terpenting adalah kebahagiaan yang kita ciptakan untuk diri kita sendiri.”


“Terima kasih sayang… suatu saat nanti, saat waktu membawa kita untuk mengetahui segalanya, saat itulah segalanya akan terbuka dan kita akan mengerti.”


“Ya bu… maaf jika pertanyaanku menjadi beban buat ibu. Aku janji tidak akan bertanya lagi apa pun pada ibu. Aku sayang ibu.” Faradina memeluk ibunya dengan mata yang meremang.


‘Aku sudah tahu dan sudah bertemu dengan Seseorang yang bernama Jodi Pratama itu bu… aku sudah lihat sosok lelaki yang pernah hadir di masa lalumu bu… dan aku sudah melihat wajah ayahku itu bu, meski dia tak mengakuiku. Tidak apa-apa… aku terima kemalanganku demi kau ibu.’ Bathin Faradina.


“Sudah sayang… ayo kamu lekas mandi, kita makan malam bersama, tadi ibu membeli rendang kesukaanmu.” Kata Lucy seraya menyeka air mata yang menetes di sudut matanya.


Kemudian Faradina mengambil handuk yang tergantung pada pintu kamarnya dan berlalu masuk kedalam kamar mandi dekat dapur sederhananya.


Sementara Lucy beranjak ke dapur untuk menghangatkan makanan untuk makan malam mereka.


Sembari memasak makanannya itu, ingatan Lucy mengembara pada dua puluh tahun silam, dimana ia mengenang kenangan manis bersama seorang lelaki yang sangat ia cintai. Namun nasib baik tidak berpihak padanya, untuk dapat bisa hidup bersama dengan kekasih tercintanya itu.



💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Penasaran kan siapa kekasihnya itu? Jodi kah? Atau lelaki lain?


Jawabannya ada di episode-episode selanjutnya!!

__ADS_1


Terimakasih readers yang tetap setia ngawal cerita ini🥰🥰🥰


Lup yu pull🥰🥰🥰


__ADS_2