
Waktu terus berputar dalam perjalanan kehidupan setiap insan, semangat sembuh bagi si sakit membawa perkembangan kesehatan yang semakin baik. Segalanya tak lepas dari orang-orang terdekat yang selalu mensuport dengan penuh kasih sayang, juga sang dokter yang selalu gigih memberikan perawatan terbaiknya.
Hari ini adalah hari libur bagi semua orang yang terbiasa beraktivitas dalam lima atau enam hari kerja.
Jodi dan Riksa berada di rumah saat ini. Pagi-pagi sekali mereka sudah menghibur Berlian di taman rumah mereka sembari berolahraga.
Ditengah-tengah kehangat mereka, mereka kedatangan Maurin, tentu saja menambah keseruan suasana pagi itu.
“Asyiiiik… teman terbaikku berangsur-angsur pulih nih.” Kata Maurin yang baru datang seraya memeluk Berlian.
“Ini semua karena suport dan doa dari kalian, termasuk kau Maurin.” Balas Berlian.
“Tentu saja Berli… kau tahu? Aku lah yang paling kental do’anya, makanya kau cepat sekali pulih.”
“Enak saja! Tentunya orang yang lebih dekat lah yang paling kental do’anya, yaitu aku suaminya.”
“Eh itu sih sudah pasti. Tapi diluar itu, setelah pasangan hidup, tentulah sahabat sejati yang turut berperan.”
“Turut berperan apaan, sebulan kemarin kau kemana? Gak nongol-nongol kesini hah?!.” Tanya Jodi.
“Bulan kemarin kan aku ada ujian, jadi aku harus konsen biar gak bikin malu asisten Boss tuh. Boss aja yang tidak tahu. Meskipun aku jarang kesini tapi aku berkomunikasi dengan istri boss setiap hari.”
“Iya papa… Maurin setiap hari telepon aku menanyakan kesehatanku.” Sambung Berlian seolah membela temannya itu.
“Oya bagaimana dengan kakimu? Apa sudah dapat di gerakan?.” Tanya Maurin.
“Sudah sih cuman belum bisa dipakai buat berdiri.”
“Oh begitu. Ya sudah, coba sini berikan tanganmu.”
“Hei mau apa kau Maurin.” Tanya Jodi.
“Aku akan mencoba mengajarinya berjalan.”
“Jangan Rin ah.. nanti dia jatuh.” Larang Riksa.
“Gak kok cuma pelan-pelan aja.”
“Gak usah deh Rin, nanti aja kalau dokter sudah memperbolehkan aku belajar jalan. Sekarang dia masih belum bilang.”
“Baiklah kalau begitu. Oya? Apa hari libur dokter juga memberikan perawatan Berli?.” Tanya Maurin kembali.
“Kadang-kadang sih, tapi sepertinya hari ini dia tidak akan datang deh.”
“Iya mungkin hari libur ini dia punya acara sendiri.” Sambung Jodi.
“Oya? Lalu bagaimana dengan kandunganmu? Apa kau sudah memeriksakannya?.” Tanya Maurin.
“Sudah. Dia baik-baik saja di dalam. Sekarang usianya menginjak 5 bulan.” Jawab Berlian.
“Udah USG juga? Cewek apa cowok nih Ade nya Miriam?.”
“Kemarin udah USG cuma gak kelihatan alat kelam*nnya.”
“Kok gak bisa kelihat gitu? Ngumpet apa gimana dia?.” Tanya Maurin sembari mengelus-elus perut Berlian yang sudah mulai kentara membulat.
“Kehalangin paha, ngempit gitu pahanya jadi bener-bener gak kelihatan.”
“Sengaja kali dia ya? Mau ngasih kejutan sama kita-kita hehe.”
__ADS_1
“Mungkin.” Jawab Berlian yang juga mengelus perutnya.
Sementara itu, Jodi dan Riksa sedikit menjauh membiarkan mereka berdua berbincang.
Jodi dan Riksa duduk pada gazebo dengan nafas yang tersengal sisa-sisa melakukan olah tubuh.
“Boss, gue mau ngomong sama boss.”
“Ngomong apaan?.”
“Masalah dokter ahli saraf yang nanganin istri boss itu.”
“Emang kenapa dia?.”
“Dari ekspresinya gue lihat ada yang aneh deh.”
“Aneh bagaimana?.”
“Akhir-akhir ini gue jadi sering merhatiin dia kalau mau berangkat kerja saat dia datang, dari gelagat dia yang aku lihat, sepertinya dia tidak suka sama Boss?.”
“Masa iya sih?.”
“Gue pakar micro ekspresi Boss, gue tahu muka seseorang pada saat menyukai kita dan pada saat seseorang itu gak suka sama kita.”
Mendengar penuturan Riksa, Jodi terdiam seakan memutar kembali ingatannya, ia mengingat-ingat akan awal pertemuannya dengan Alfredo sampai terakhir dia bertemu.
Dan memang terasa oleh Jodi, sejak awal-awal dia merasa kalau Alfredo itu dokter yang hangat dan sering menceritakan hasil perawatannya, namun akhir-akhir ini Alfredo lebih banyak diam dan tertutup padanya.
“Mh.. memang akhir-akhir ini gue ngerasa dia lebih tertutup sama gue sih Rik. Dulu dia setiap hari laporan mengenai perkembangan kesehatan bini gue, sekarang-sekarang jarang, paling kalau gue tanya langsung atau lewat telepon baru dia menjelaskan. Cuma gue gak curiga sampai ke arah sana.”
“Mungkin itu salah satunya ya, nanti deh kalau Boss ketemu dia, Boss perhatiin aja bagaimana sikap dan kata-katanya sama Boss.”
Kemudian Riksa terdiam seolah memikirkan sesuatu, kemudian ia menjuruskan pandangannya kesamping tepat kearah Berlian yang tengah berbincang dengan kekasihnya.
“Boss. Bisa saja kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah sama sekali kita bayangkan terjadi kan?.”
“Maksud elo?.” Tanya Jodi yang tidak mengerti arah pembicaraan Riksa.
“Bisa jadi dia mulai merasa tertarik pada istri Boss.”
“Gila! Yang bener aja luh Rik!.”
“Maaf Boss ini seandainya ya? Bagaimana jika dokter itu mulai tertarik pada bini Boss? karena seringnya mereka bertemu dan berbincang, bisa saja kan? Salah satu faktor itu yang membuat dia merasa tidak suka dan cemburu pada Boss.”
Jodi terdiam memikirkan apa yang baru saja Riksa katakan padanya, dan memang setiap prediksi Riksa diakui Jodi selalu tepat tanpa cela.
“Untuk kedepannya Boss harus hati-hati sajalah. Buat jaga-jaga. Syukur-syukur kalau memang prediksi gue salah. Kalau bener bagaimana?.”
“Ya Rik, sepertinya kita harus mengawasi dokter itu mulai saat ini.”
“Terus yang gue bikin aneh, biasanya kan dia di temenin sama dua perawatnya, kok akhir-akhir ini dia sendiri aja, memang dia beralasan perawatnya lagi diperbantukan ke tempat bencana, memang perawat cuma dua orang aja gitu? Gak ada yang lainnya? Kan bisa saja di gantikan sama perawat lain kalau memang kedua asistennya itu sedang diperbantukan. Gue jadi mikir yang enggak-enggak loh Boss, seolah-olah dia ingin melakukan sendiri karena jika di bantu dengan orang lain, dia merasa terganggu gitu mungkin?.”
Kata-kata Riksa sedikit demi sedikit membuka pikiran Jodi. Kemudian ia melirik kearah istrinya yang tengah tertawa-tawa bersama Maurin.
“Gue yakin, kalau misalkan dokter itu pernah melakukan hal-hal aneh pada bini gue, bini gue pasti laporan sama gue.”
“Ya Mungin saja belum. Tapi bisa jadi kan dia akan melakukan apa pun pada istri Boss itu? Seseorang yang lemah akan lebih muda diperdaya karena tidak akan cukup melakukan perlawanan. Apalagi di rumah sekarang lagi sepi, cuma ada ibu Irma aja. Dan ibu Irma sibuk ngurusin baby Miriam, gak mungkin sempat ngawasin dokter itu selama dia melakukan perawatan.”
“Terus apa yang harus gue lakuin Rik? Apa kita lapor pada pihak rumah sakit minta ganti dokter?.”
__ADS_1
“Tapi kan nanti rumah sakit nanya alasannya apa, meminta ganti dokter. Sementara kita belum punya bukti apa-apa. Kalau menurut gue sih mending biarkan saja dulu dokter itu merawat istri Boss dengan catatan kita diam-diam mengawasi dokter itu selama ia ada di rumah ini.”
“Ok kalau begitu.”
...............
Sementara itu ditempat lain, nampak Alfredo tengah gelisah di dalam apartemennya. Ia memikirkan ke khawatirnya pada mantan kekasihnya itu yang tiba-tiba saja muncul kembali.
‘Apa yang harus aku lakukan pada Krista? Aku sungguh khawatir dia akan melakukan sesuatu pada Berlian, seandainya dia tahu kalau aku kini menyukai wanita lain dan itu adalah Berlian. Akan jadi rumit urusannya. Bisa saja dia akan menghentikan semua rencanaku. Aku harus melakukan sesuatu padanya.’ Bathin Alfredo dengan tatapan bimbangnya.
Kemudian Alfredo merogoh ponselnya pada saku celananya. Dan berusaha menghubungi Krista.
“Datanglah ke apartemenku. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu.” Kata Alfredo.
“Hal apa? Bukannya kau bilang kemarin bahwa aku sudah tidak berarti lagi untukmu? Kau sampaikan saja di telepon, bisa kan?.” Jawab Krista dibalik ponsel.
Sepertinya Krista sudah terlanjut sakit karena menerima penolakkan dari Alfredo waktu itu, sehingga dia enggan untuk datang ke Apartemen Alfredo.
“Aku minta maaf, dan aku ingin menyampaikan langsung sesuatu padamu.”
“Kau kemarin tidak menerima maafku, lalu sekarang apakah aku harus memaafkan permohonan maafmu? Tidak semudah itu Alfredo. Haha… apa kau takut aku akan nekad melakukan sesuatu padamu atau pada seseorang?.” Kelakar Krista.
Mendengar apa yang di katakan Krista, Alfredo sedikit terhenyak. Ternyata dugaannya benar.
“Bukan begitu. Tidak ada seseorang yang patut kau cemburui Krista, datanglah… aku akan ceritakan segalanya padamu disini.”
“Tidak Alfredo, aku sudah terlanjut sakit hati dengan ucapanmu, dan aku sudah berjanji akan mencari tahu, siapa orang yang telah berani merebut hatimu dariku. Jadi kau tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi padaku.” Kata Krista seraya menutup sambungan ponselnya sepihak.
“Aaaaarrrrgh…. Sial!!! Bodoh! Kenapa aku tidak berfikir dulu sebelum mengatakan sesuatu padanya?!.” Geram Alfredo seraya melemparkan ponselnya.
Alfredo menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dengan memandangi langit-langit ruangan.
Alfredo terus berfikir mencari cara untuk melunakkan hati Krista, agar dia tak melakukan hal-hal yang tidak di inginkan padanya apalagi pada Berlian.
Akhirnya Alfredo menemukan ide, mungkin dalam beberapa hari kedepan ia tidak akan mendatangi rumah Berlian, karena khawatir Krista akan mengikutinya. Dan jika Krista mengikutinya lalu ia tahu rumah Berlian yang selalu Alfredo datangi, ia menduga Krista akan membuat kekacauan disana dan tentu saja itu akan membuatnya malu dan yang lebih membuat ia khawatirkan adalah, ia takut Krista mengetahui bahwa hati Alfredo sudah tertambat pasa salah seorang penghuni rumah itu yaitu Berlian. Maka dengan cara itulah ia mengalihkan prasangka Krista.
Terlihat Alfredo mengambil kembali ponsel yang ia lempar tadi, lalu menghubungi Jodi.
“Hallo tuan Jodi, maaf saya mau menginformasikan, mungkin dalam beberapa hari kedepan saya tidak bisa berkunjung kerumah anda untuk melakukan perawatan lanjutan pada Nyonya, karena saya sedang sakit dan harus dirawat intensif, dan saya akan hubungi anda kembali jika kondisi saya sudah memungkinkan.” Kata Alfredo
“Oh begitu ya dok? Ya sudah tidak apa-apa. Semoga dokter cepat pulih ya? Lagi pula sekarang kondisi istri saya sudah sangat sangat membaik. Terima kasih dok atas bantuannya.” Jawab Jodi dibalik ponsel.
“Iya tuan Jodi. Terima kasih atas doanya. Baiklah nanti saya hubungi kembali jika saya sudah pulih dan telah siap melakukan perawatan kembali untuk nyonya.”
“Baik dokter.”
Dan sambungan ponsel pun terputus.
Setelah menghubungi Jodi, kembali Alfredo melemparkan ponselnya.
Sementara itu ditempat lain nampak Krista tengah memasang wajah murkanya di depan cermin.
“Enak saja kau minta maaf setelah kau hina aku Alfredo! Aku tahu kau ketakutan setelah mengusirku haha… lihat saja apa yang akan aku lakukan Alfredo! Tak akan ku biarkan siapa pun memilikimu.. kau hanya milikku! Haha.” Kelakar Krista di depan cermin
Lalu ia pergi meninggalkan Apartemennya. Ia memacu kendaraannya dalam kecepatan yang sangat tinggi. Hingga sampailah ia di sebuah pemakaman elit.
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Terima kasih untuk readers yang tetap setia🥰
__ADS_1