Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Kok bisa??


__ADS_3

“APAAAA😳😳!!!!.” Semua yang berada di ruangan itu terkejut.


Tak ada yang tidak terkejut termasuk Jodi sendiri yang merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokter itu.


“Istriku hamil dok?.” Tanya Jodi seolah tidak percaya.


“Iya, melihat ciri-ciri fisiknya seperti itu, tapi ini belum pasti juga karena harus di lakukan pemeriksaan lebih lanjut.” Jawab dokter tersebut.


Tak lama seorang perawat yang tadi di suruh dokter mengambil sesuatu, datang dengan membawa alat USG porteble sebesar laptop.


Kemudian dokter mengambilnya dan mulai menyalakan alat tersebut, dokter itu meminta gel pada perawat, kemudian salah seorang perawat mengoleskan gel tersebut pada perut Berlian, lalu dokter meletakkan transduser pada perut Berlian dan menggulirkannya ke sekitaran perutnya, terlihat dari layar monitor apa yang berada di dalam rahim Berlian.


“Bapak dan ibu dapat melihat ini kan?.” Kata dokter seraya menunjuk pada layar monitor, dan seluruh keluarga Berlian semua melihat ke arah layar monitor dengan mimik masih dalam keadaan terkejut.


“Ini janinnya.” Sambung dokter, dan semua semakin terkejut. Kemudian,


“Usianya kira-kira 12 minggu, terlihat sehat dan ukurannya normal.” Kata Dokter kembali.


“Serius dok?.” Tanya Delima sedikit syok, karena masih tidak percaya Berlian bisa hamil lagi, sementara ia baru saja siuman dari koma nya.


“Ya, ibu dapat melihat kondisi janin di dalam kandungan putri anda pada monitor ini.”


“Iya tapi…. Maksudnya…. Memangnya bisa gitu orang yang alami koma hamil?.” Tanya Irma.


“Memang kasus seperti ini jarang terjadi, tapi jika seandainya orang yang tengah koma itu sistem reproduksinya baik dan sehat, dan sel indung telurnya berhasil di buahi, ini bisa saja terjadi, buktinya yang terjadi pada nyonya Jodi ini.” Jelas Dokter.


Dan semua mata mengarah pada Jodi, sementara Jodi merasa gugup karena semua melihat kearahnya, lalu ia memalingkan wajahnya.


“Hehe… selamat ya tuan Jodi… bapak… dan ibu… baby Miriam akan memiliki adik.” Kata dokter. Kemudian,


“Selain kabar kehamilan, saya juga akan memberikan kabar kondisi nyonya Jodi sampai dengan saat ini, saya melihat kondisi nyonya sekarang berangsur-angsur membaik, dan sepertinya racun yang tersisa dalam tubuhnya sudah hampir bersih. Untuk kedepannya tinggal pemulihan saja dan tentunya akan di lakukan teraphi pijat untuk melenturkan jaringan otot yang kaku dan mudah-mudahan sel-sel yang telah rusak dapat digantikan dengan sel yang baru, mengingat teknologi kedokteran sekarang semakin modern, kami akan melakukan usaha-usaha semaksimal mungkin, tidak ada yang tidak mungkin seandainya kita mau berusaha. Bukan begitu? Hanya saja perlu kesabaran karena tidak mudah mengembalikan kondisi tubuh menjadi seperti semula, tapi dengan usaha, semoga segalanya dapat teratasi.” Jelas dokter.


Setelah dokter berbicara panjang lebar, akhirnya dokter dan dua orang perawat itu meninggalkan mereka.


Tinggal lah, mereka di dalam kamar perawatan itu, semua terdiam saling pandang dan tidak tahu harus berkata apa, hanya bisa melihat kearah Jodi dan Berlian bergantian.


“Kenapa kalian memandangi aku seperti itu?.” Kata Jodi yang merasa tidak enak karena seluruh keluarga memperhatikannya.


“Hehe… bukan apa-apa sayang… kami semua syok mendengar dokter mengatakan kalau Berlian hamil lagi hehe.” Kata Eva.


“Kenapa harus syok? Wajar kan istriku hamil lagi? Tandanya dia memang sehat.” Ujar Jodi seraya memberikan Miriam pada Delima karena ia akan membantu Berlian untuk duduk bersandar.


“Iya hehe… cuma kita sedikit dibuat terkejut aja, baru siuman udah dinyatakan hamil 3 bulan, itu jabang bayi dibikinnya kapan ya? Hehe.” Celoteh Ferry yang kemudian Eva mengisyaratkan dengan memukulkan sikunya pada lengan suaminya, supaya suaminya tidak melanjutkan kata-katanya kearah yang lebih jauh lagi.

__ADS_1


“Sudah-sudah, kalian ini bicara jadi ngelantur kemana-mana. Harusnya kita senang anggota keluarga kita bertambah lagi.” Kata Budi untuk mencairkan suasana.


Sementara Berlian hanya terdiam kaku dengan mata yang terus memandangi putrinya yang tengah di pangku oleh Delima.


Melihat itu, Jodi langsung mengambil Miriam dari pangkuan Delima dan meletakannya di atas pangkuan Berlian.


“Sayang… ini putri pertama kita, namanya Miriam Jodi.” Bisik Jodi dan terlihat air mata Berlian mengalir disudut pipinya. Melihat penampakan itu, Jodi memeluk istrinya lantas mencium pucuk kepalanya.


“…… dan dia akan punya adik sebentar lagi, sekarang calon adiknya masih di dalam sini.” Sambung Jodi seraya mengusap perut Berlian.


“Aku bahagia kau sudah bangun sayang… Miriam rindu sekali padamu, setiap hari menanyakan kapan kau akan bangun. Dan sekarang lihatlah…dia terlihat bahagia karena melihat kau sudah bangun. Sabar ya sayang… suatu saat nanti kau akan dapat memeluk dan menciumnya, juga dapat berbicara dengannya. Sekarang kau belum bisa melakukan itu karena belum waktunya.” Sambung Jodi seraya mengeratkan pelukannya.


Semua yang melihat penampakan sepasang suami istri itu merasa terharu dan tak kuat hingga meneteskan air mata.


Di tengah kebersamaan mereka, tiba-tiba Riksa dan Maurin datang. Keduanya terkejut melihat Berlian sudah siuman dan tengah duduk bersandar diatas velbed dengan Miriam diatas pangkuannya.


“Ya Tuhan… kau sudah bangun Berli?!.” Maurin bergegas mendekat seraya memeluk Berlian dan menangis tersedu.


Terlihat Berlian pun meneteskan air matanya.


“Sayangku akhirnya kau bangun juga. Aku sudah rindu sekali padamu tahu! Kau tidur terlalu lama Berli, tega sekali kau membiarkan aku sendiri tanpa teman bicara.” Sambung Maurin.


“Hey Maurin. Apa kau tidak mau mengucapkan selamat pada istriku?.”


“Selamat untuk kehamilannya.”


“Apa hamil? Serius?.” Maurin membulatkan matanya.


“Seriuslah, tadi dokter sudah memeriksanya, usia kandungannya 3 bulan.”


“Kok bisa!!.” Maurin masih tidak percaya begitu pun Riksa yang berada di samping Jodi.


“Bisa lah… “ kata Jodi seraya tersenyum.


“Kita semua juga terkejut tadi, sama halnya sepertimu Maurin, nih hasilnya kalau kau tak percaya.” Kata Delima memberikan hasil foto USG yang dokter berikan tadi sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


Kemudian Maurin melihat hasil USG tadi, meski ia tak mengerti tapi ia terus mengamati,


“Ya Tuhan… calon bayi yang ini istimewa sekali, ia dibuat mandiri sama papanya, tanpa kerja sama dengan mamanya.” Kata Maurin sembari memandangi hasil USG itu, sontak saja kata-katanya membuat seisi ruangan tertawa.


“Bisa saja kau ngomong.” Ujar Jodi.


Kemudian Maurin meletakan hasil USG itu di atas meja. Dan duduk di samping Berlian memegangi Miriam karena Berlian belum bisa memegangnya.

__ADS_1


Sementara Jodi dan Riksa keluar ruangan kamar karena ada hal penting yang harus mereka bicarakan.


Eva, Delima dan Irma mendekat ke arah Berlian, sementara Ferry dan Budi berlalu menuju sofa.


“Kau hebat sekali Berli, dalam keadaan tidak sadar pun kau dapat memproduksi baby hehe.” Celoteh Maurin sembari mengusap air mata Berlian.


“Keren kan putraku, bisa bekerja sendiri, dan menghasilkan hehe.” Celoteh Eva.


“Keren sih keren bu, tapi kok kak Jodi bisa tega sih putriku yang sedang tidak berdaya di apa-apain.” Ujar Delima.


“Hei Delima.. masih untung dia melakukannya dengan istrinya, bukan dengan orang lain, hasrat lelaki kan tidak bisa di bendung, apalagi putraku itu kan masih sehat, wajar kalau dia melampiaskan pada istrinya.” Sahut Eva.


“Sudah-sudah ah kalian bukannya senang rumah kita nanti akan semakin ramai.” Ujar Irma.


“Iya tapi aku kasian juga sama Miriam bu, masih kecil sudah punya Ade.” Kata Delima.


“Putraku itu sudah tidak muda lagi Delima, dia harus kejar tayang, mengingat usianya sudah hampir setengah abad, lagi pula ada kita-kita yang mengurus anak-anak mereka. Aku juga mau ngurus cucu-cucuku.” Sambung Eva.


“Bukan masalah ngurusi anak-anaknya, tapi lihatlah kondisi Berlian masih belum normal. Lagi pula usianya masih 17 tahun.”


“Justru bagus punya anak sedari muda biar nanti tinggal membesarkannya.”


“Sudah, syukuri semua yang terjadi, Ini sudah ketetapan Tuhan tidak bisa di bantah, kita nikmati saja. Dan fokus pada kesehatan Berlian. Mungkin saja dengan dia hamil lagi, itu merupakan sebuah obat yang akan mempercepat ia pulih.” Ujar Irma.


Dan semua terdiam, tak lama Jodi masuk membawa kursi roda dan menghampiri Berlian.


“Sayang… kita jalan-jalan di taman yuk, sekalian berjemur, sinar matahari pagi baik untuk kesehatan.” Kata Jodi seraya menggendong Berlian dan mendudukkannya di atas kursi roda.


Sementara Miriam di pangku oleh Maurin. Kemudian Jodi membawa Berlian menuju taman, di ikuti oleh Maurin dan Riksa.


Sesampainya di taman Jodi duduk pada kursi taman berhadapan dengan Berlian yang duduk di atas kursi roda. Maurin meletakan Miriam pada pangkuan Jodi sehingga Berlian dapat memandangi putrinya itu dengan leluasa.


‘Terima kasih Tuhan… KAU masih memberiku hidup, sehingga aku dapat menyaksikan tumbuh kembang anak-anakku meski aku tak bisa memeluk dan menciumnya juga merawatnya. Terima kasih KAU telah memberiku suami yang baik dan sabar, juga orang-orang yang begitu menyayangiku. Aku tahu kini aku tak sempurna lagi, jangankan melakukan aktivitas, untuk berbicara pun aku kesulitan, tapi semua itu tidak jadi masalah bagiku karena KAU telah menempatkan aku pada orang-orang yang penuh kasih sayang. Aku sangat bersyukur akan semua ini… jika Tuhan memberiku kesempatan untuk dapat berbicara kembali, tentunya kata yang akan aku ucapkan pertama kali adalah berterima kasih pada mereka… dan jika Tuhan memberiku kesempatan untuk dapat menggenggam kembali, tentunya yang akan aku lakukan pertama kali adalah memeluk putriku dan memeluk mereka.’ Bathin Berlian.


“Sayang… meski kau tak dapat berkata-kata, aku akan selalu mengerti apa yang ada di dalam hatimu, meski kau tak dapat menyentuhku dan menyentuh putri kita, aku tahu hatimu menyentuh kami. Seperti apa pun dirimu kini, itu tak masalah bagiku, asal kau tetap berada bersama kami, itu sudah cukup bagiku. Kau tahu? Aku adalah lelaki terbahagia di bumi karena memilikimu… terima kasih kau telah memberikan putri cantik Miriam, terima kasih kau selalu ada untukku, maka tak ada alasan untuk aku selalu berada di sisimu. Di mataku kau tetap wanita sempurna… dan di hatiku kau tetap bidadariku.” Ucap Jodi seraya mencium kening istrinya itu.


‘Terima kasih suamiku… tak salah aku mencintaimu, aku pun wanita terbahagia di bumi karena memilikimu. Meski separuh lelaki di bumi berlomba menujuku, rasanya tak akan ada yang dapat menggantikanmu. Kini aku tak perlu risau… dan tak perlu menumpahkan air mata kesedihan karena kebahagiaanku ada bersamaku.’ Bathin Berlian.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih readers tersayang yang sudah setia sampai episode ini🥰


Semoga kita semua selalu sehat dan bahagia😍

__ADS_1


__ADS_2