Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Pertemuan Berlian dan Lucy


__ADS_3

Malam itu Riksa akan menemui Bossnya di ruang kerja rumah itu. Namun pada saat ia sampai di depan pintu, ia mendengar suara-suara berisik di dalamnya. Tentu saja suara itu berasal dari suara Berlian dan Jodi yang telah melakukan aktivitas gilanya.


“Yaelah… kayak gak ada tempat lain aja. Dasar pasangan gila.” Gumam Riksa yang mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalamnya dan balik badan kembali ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, Riksa merasa ia merindukan seseorang, mungkin karena pengaruh suara-suara tadi yang membuat bathinnya jadi terganggu. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi seseorang yang di rindukannya itu.


“Hallo kak, ada apa malam-malam telepon?.” Suara Maurin di balik ponsel.


“Hallo… gak boleh aku telepon kamu?.”


“Ih bukan gitu, tumben aja telepon malam-malam gini.”


“Kamu belum tidur?.”


“Udah kak, ini lagi mimpi ketemu sama pangeran tampan hehe.”


“Hehe bisa aja kau! Eh besok malam kita kencan yuk?.”


“Serius kak?!.”


“Gak cuma becanda!.”


“Ih kakak mah gitu.”


“Ya Seriuslah! Mau gak?.”


“Mau dong. Siapa yang gak mau kencan sama Coke kayak kakak hehe.”


“Eh Coke apaan sih?.”


“Cowok kece… cowok keren… hehe.”


“Oh… dikirain cowok kempes.”


“Haha… kakak bisa aja. Oya? Kita mau kencan kemana kak?.”


“Kamu mau nya kemana?.”


“Mh… kemana ya? Oya! Kita nonton bioskop aja yuk kak! Kita ajakin Berlian sama suaminya.”


“Yah kok ajak mereka sih, kita kan mau kencan, kalau kencan berdua aja, ngapain ajak mereka. Entar riweuh lagi ah.”


“Iya deh iya… kita berdua aja.”


“Oya? Kamu suka film genre apa?.”


“Horor sama pembunuhan kak.”


“Hah! Apa?! Gila aja, masa kencan pertama nonton film yang gituan sih Rin? Yang romantis napa?!.”


“Iya deh terserah kakak aja. Yang banyak adegan ciumannya ya kak biar seru nontonnya hehe.”


“Ya abis nonton kita praktek ya? Hehe.”


“Haha.. mau banget huhuy. Oya? Boss sama istrinya udah tidur ya kak?.”


“Gak! Mereka lagi oh yes di ruang kerja.”


“Oh yes apaan kak?.”


“Ya begitu.. reproduksi!.”


“Haha… serius?! Masa begituan di ruang kerja sih, ada-ada aja.”


“Eh beneran, makanya aku telepon kamu juga, tadi nya mau ngobrolin kerjaan sama Boss, gak tahunya pas sampe pintu dengar suara-suara goib di dalam sana.”


“Haha… gila ya mereka!. Oya? Emang mereka udah baikan ya?.”

__ADS_1


“Ya makanya mereka bisa oyes juga, udah lah.”


“Syukur deh kalau gitu.”


“Eh kamu tidur sana udah jam berapa nih? Besok kan kamu harus kuliah.”


“Yah kakak… bentar dulu dong, aku kan masih kangen.”


“Hehe… beneran kangen?.”


“Ya iya lah… kakak itu ngangenin tahu! Emangnya kakak gak kangen sama aku.”


“Ya sama lah kangen, makanya telepon juga.”


“Hehe iya deh… oya kak, kok mereka cepet banget bisa baikan lagi? Terakhir aku tanya Berlian, dia masih males-malesan gitu, saat aku tanya masalah papanya. Emangnya udah ketemuan sama keluarga perempuan itu?.”


“Belum sempet ketemu sih. Mungkin mereka baikan karena sama-sama sadar aja kali. Bahwa memang masalah itu akan selalu ada di setiap rumah tangga.” Jelas Riksa.


“Ya memang agak sulit juga sih ngasih masukan ke Berlian, keras kepala dia. Mikirnya lama.”


“Ya sama kayak si Boss juga gitu. Gak bisa dibilangin, tapi giliran minta pendapat larinya ke kita.”


“Hehe… sabar aja kak, punya Boss kayak gitu, yang penting dia baik sama kakak.”


“Kalau masalah baik sih gak usah di bilangin dia mah, cuma ya itu kalau udah menyangkut urusan pribadinya musingin.”


“Oya kak? Siapa ya kira-kira yang janjian sama Berlian malam itu? Aku tanya sama dia juga, dia gak bilang.”


“Aku juga gak tahu, si Boss kayaknya belum nanya juga sama istrinya. Tapi aku menduga orang itu pasti yang sudah dia kenal, yang bikin marah si Boss karena seseorang itu ngasih hadiah kalung.”


“Oh begitu.. pantes saja Berlian di buat tak berdaya hehe.”


“Eh udah sana kamu tidur!.”


“Ih kakak bentar lagi dong… kan kakak belum cup aku hehe.”


“Hehe.. iya iya…makasih kak. Mmuach.”


Dan sambungan ponsel pun terputus. Kemudian Riksa meletakan ponselnya di atas meja nakas, lalu ia merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Membayangkan wanita yang telah ia hubungi baru saja. Terlihat senyuman di wajahnya kala ia membayangkan wajah wanita itu, hingga semakin lama semakin membawa ia ke alam bawah sadarnya.


.............


Sementara itu di tempat lain, nampak Faradina dan Lucy tengah berbincang pada ruang tengah rumah sederhana mereka.


Faradina berniat membicarakan pada ibunya, mengenai pertemuannya dengan Jodi, ia merasa bersalah pada ibu nya karena telah menemui Jodi tanpa membicarakannya terlebih dulu dengan ibu nya.


“Bu… aku mau jujur sama ibu.”


“Apa maksudmu nak?.”


“Aku mau mengatakan sesuatu.”


“Ada apa? Katakanlah.”


“Maaf sebelumnya jika aku tak mengatakan pada ibu terlebih dahulu, karena rasa penasaranku yang terus membayangi aku hingga aku terpaksa mendahului ibu.”


“Maksudnya apa sayang?.”


“Teman baruku itu mengatakan padaku bahwa dia mengetahui semuanya tentang masa lalu seseorang yang bernama Jodi Pratama itu.”


Dug!!! jantung Lucy berhenti kala itu, namun ia mampu menguasai dirinya. Kemudian, “Dia yang bilang padaku kalau aku adalah putranya Jodi, karena dia tahu hubungan ibu dengan Jodi. Kemudian temanku itu memberikan alamat tempat tinggal Jodi dan tempo hari aku datang kesana bu, menemui Jodi.” Sambung Faradina.


Mendengar kata-kata putrinya sontak membuat Lucy terkejut seraya berdiri.


“Ya Tuhan! Apa yang kau lakukan itu?! Kenapa kau tak tanya dulu pada ibu? Kenapa kau lebih percaya pada teman barumu itu Fara?.” Dengan mulut bergetar Lucy katakan itu.


“Maafkan aku bu, rasa penasaranku terus mendorong diriku untuk menemuinya.”

__ADS_1


“Lalu apa yang kau lakukan disana hah?!.”


“A-aku… aku katakan pada Jodi kalau aku adalah putrinya yang ia tinggalkan dulu.”


“Apa!!!!.” Lucy membulatkan matanya kemudian menangkup mulutnya yang menganga.


“Demi Tuhan… apa yang kau lakukan itu tidak benar Fara! Kenapa kau mengatakan hal itu padanya?!.”


“Aku sudah tidak kuat bu… aku benci melihat kehidupannya yang serba ada sementara kita kekurangan!.”


“Tapi tidak sepantasnya kau melakukan itu tanpa kau bertanya dulu pada ibu Fara. Kau tahu! Ayahmu bukan dia! Tidak sepantasnya kau membenci dia!.”


“Lalu siapa ayahku bu? Tolong katakan padaku! Aku ingin tahu siapa ayahku!? Hiks.”


“Baik kalau kau memaksa! akan ibu katakan siapa ayahmu! setelah kita mendatangi rumah Jodi untuk meminta maaf padanya.” Kata Lucy dengan mulut yang bergetar serta air mata yang menetes dari kedua netranya.


Dengan penuh rasa kecewa, Lucy beranjak pergi masuk kedalam kamarnya dan membenamkan dirinya di atas tempat tidur dengan bantal di bawah wajahnya.


Melihat reaksi ibunya, Faradina sedikit terkejut karena tidak menyangka ibunya akan semarah itu. Ia diam terpaku di ruangan itu dengan berjuta pertanyaan di dalam kepalanya.


‘Maafkan aku telah membuat ibu kecewa… maafkan aku telah membuat ibu menangis… tapi bukankah aku berhak tahu siapa ayahku? Jika benar bukan Jodi, lalu siapa sebenarnya ayahku? Kenapa ibu menutup rapat semua ini?… apa ayah biologisku terlalu jahat hingga ibu bungkam seribu basa? Kau tahu ibu? Siapa pun ayahku, aku berhak tahu siapa dia? Seperti apa pun dia. Dia adalah tetap ayahku. Dan aku ingin bertemu dengannya, walau hanya sekali dalam seumur hidupku.’ Bathin Faradina dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya.


Sesaat ia terdiam, kemudian beranjak pergi menuju kamarnya. Lalu membenamkan dirinya di atas tempat tidur dengan berjuta harapannya.


...........


Keesokan paginya, Lucy dan Faradina berniat akan pergi menemui Jodi di kediamannya. Lucy ingin meluruskan masalah yang di timbulkan oleh putrinya itu meski dia tidak tahu, akibat kedatangan putrinya waktu itu menimbulkan sedikit kekacauan.


Singkat cerita sampailah mereka di kediaman Jodi. Kedatangan mereka di sambut ramah oleh bu Irma. Bu Irma sepertinya tahu siapa yang menyambangi rumah cucunya itu.


Bu Irma mempersilahkan mereka duduk pada ruang tamu sembari membuatkan minuman untuk mereka.


Tak lama Jodi turun dari lantai atas bersama Berlian dengan berpegangan tangan. Pada saat Jodi dan Berlian melihat ada tamu di rumahnya, keduanya terkejut, apalagi pada saat melihat keduanya tidak asing bagi Jodi. Sementara Berlian hanya mengenal Faradina saja, namun dugaannya tepat bahwa yang bersama Faradina itu adalah wanita yang pernah menjadi kekasih suaminya.


Berlian merasakan gemuruh pada dadanya, pada saat ia akan pergi naik kembali, Jodi mengeratkan pegangannya, kemudian


“Sayang… jangan pergi! Ini saatnya kau mengetahui kebenarannya.” Kata Jodi seraya mencium pucuk kepala istrinya untuk menenangkannya.


Dan benar saja, Berlian sedikit tenang dan mau di ajak kerja sama oleh Jodi untuk membicarakan masalah mereka.


Kemudian Jodi bersama Berlian mendekat ke arah tamunya yang tengah duduk di ruang tamu.


Sesaat Jodi berpandangan dengan Lucy, muncul kembali ingatan pada keduanya saat mereka dulu masih menjalin hubungan.


Mereka saling melempar senyum, dan penampakan itu di saksikan oleh Berlian yang membuat kepalanya sedikit memanas, namun untungnya dia masih bisa tenang.


Kemudian Jodi duduk bersama Berlian di hadapan tamunya itu. Dan mulai melakukan pembicaraan seriusnya.


“Maaf kalau kedatangan kami mengganggu.” Kata sopan Lucy. Kemudian, “Kami datang kesini tidak ada maksud lain selain ingin meluruskan kedatangan putri kami beberapa waktu lalu kemari. Saya khawatir kedatangannya tempo hari membuat gaduh.” Sambung Lusy.


“Mh… oh tidak kok Ci, sama sekali tidak membuat gaduh.” Balas Jodi.


‘Oh… dia masih ingat panggilan itu…. walau puluhan tahun telah memisahkan kita.’ Bathin Lucy.


“Oh syukurlah.” Kata Lucy dengan senyuman ramahnya, sementara Berlian diam tidak berkata apa-apa. Ia terus saja memandangi Lucy dan Jodi bergantian seperti menelisik sesuatu.


Dan mereka pun bicara bersama meluruskan permasalahan mereka dari awal hingga akhir, termasuk sedikit masa lalu mereka yang di buka di hadapan Fadina dan Berlian. Yang akhirnya membuat Faradina dan Berlian mengerti.


Mendengar penjelasan dari Jodi dan Lucy, Berlian yakin kalau Faradina bukanlah putri Jodi dan ia pun yakin kalau Jodi sudah tidak ada apa-apa lagi dengan Lucy.


Berlian merasa lega dengan keterangan yang sudah mereka dengar bersama-sama.


Hingga akhirnya Faradina dan Lucy pamit dari rumah tersebut dan meninggalkan rumah mewah itu.


❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹


Terima kasih atas dukungannya readers tersayang😘😘😘

__ADS_1


Tetap kawal ceritanya sampai akhir ya?😍


__ADS_2