Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Mimisan


__ADS_3

Tanpa terasa malam bergulir kian cepat hingga sampailah waktu pagi. Jodi dan tim masih berada di markas kala pagi menjelang.


Seakan tak mengenal siang dan malam, tim Jodi selalu konsisten dalam pekerjaannya, karena yang mereka lakukan adalah menyelesaikan banyak kasus dari klien mereka, tidak hanya kasus Jodi saja yang mereka tangani tetapi banyak kasus-kasus dari klien mereka yang harus mereka selesaikan.


Jodi terjaga pagi itu di atas sofa ruang kerjanya, rupanya ia tidur pada sofa dari semalam. Mungkin karena terlalu lelah ia tidur sampai pagi diatas sofa tersebut.


Perlahan ia bangkit dan beranjak ke dalam ruang pribadinya hendak membersihkan diri.


Setelah beberapa waktu ia telah selesai membersihkan dirinya dan sudah berganti pakaiannya dengan pakaian yang baru.


Jodi melangkahkan kakinya menuju ruangan Riksa, setelah ia masuk kedalam ruangan Riksa, nampak olehnya Riksa tengah terlelap di atas sofa di ruangan kerjanya.


“Yah… dia juga sama ketiduran di sofa… Rik! Bangun! Udah jam berapa nih!.” Seru Jodi.


Terlihat Riksa membuka matanya dan ia masih memakai pakaian yang ia gunakan malam tadi.


“Eh Boss. Gue kira siapa. Gue baru tidur jam 3 Boss. Makanya masih ngantuk.”


“Pantas saja elo terlihat lelah. Oya gue mau balik ke rumah karena ada janji sama Philipe, elo mau ikut apa mau disini saja?.”


“Gue ikut deh Boss. Tunggu ya gue mandi dulu.” Kata Riksa yang kemudian berlalu menuju kamar pribadinya.


Selang 15 menit Riksa sudah kembali dengan pakaian rapinya.


Namun tiba-tiba saja Riksa terkejut melihat wajah Jodi, sementara Jodi sepertinya belum menyadari.


“Eh Boss. Itu Boss mimisan!.” Kata Riksa dengan cepat mengambil tisu pada meja kerjanya.


“Mimisan? Mana?.” Balas Jodi seraya memegang hidungnya, terlihat ia mengusap ujung hidungnya dengan telapak tangannya. Lalu ia melihat pada telapak tangannya, dan benar saja ia melihat tangannya ada bercak darah.


“Angkat Boss mukanya!.” Kata Riksa seraya menutup lubang hidung Jodi dengan tisu yang ia pegang.


“Kok gue mimisan gini ya? Seumur hidup baru gue mimisan kayak gini.” Ujar Jodi yang menyandarkan tubuhnya pada sofa dan menengadahkan kepalanya ke atas, sementara Riksa berusaha menutup lubang hidung Jodi dengan tisu.


“Gue juga baru lihat Boss mimisan gini selama kenal sama Boss. Apa yang di rasain Boss? Pusing gak?.” Kata Riksa yang terlihat sedikit panik.


“Gak kok Rik. Gue gak ngerasain apa-apa.”


“Apa sebaiknya ke dokter aja Boss di periksa.”


“Ah gak usah deh. Mungkin cuma panas dalam kali ya?!.”


“Iya tapi minimal kita tahu sebabnya kalau kita periksa Boss.”


“Entar deh. Kita selesaikan dulu urusan kita. Gak enak gue pagi ini udah janji sama Philipe dan Krista.”


“Kan bisa bilang sama mereka Boss, suruh nunggu aja bentaran, abis dari periksa baru menemui mereka.”


“Ah entar aja deh Rik, kita ke dokternya kalau udah ketemuan sama mereka.” Kata Jodi dengan posisi masih menengadahkan kepalanya dan menutupi lubang hidungnya dengan tisu yang Riksa berikan tadi.


“Ya terserah sih. Asal Boss baik-baik aja.”


“Gue baik-baik aja kok. Darah nya udah berenti ini Rik?.”


“Iya sih sepertinya udah gak keluar lagi.”


Riksa memandangi Bossnya terlihat seperti ada kekhawatiran dalam hatinya.


“Kenapa luh lihat gue kayak gitu?.” Tanya Jodi heran melihat Riksa yang khawatir pada dirinya.

__ADS_1


“Gak kenapa-napa Boss. Tapi bener kan Boss gak ngerasain apa-apa? Pusing atau mual gitu?.”


“Gak kok Rik, gue gak ngerasain apa-apa. Emang kenapa?.”


“Gak ada apa-apa kok. Syukur Alhamdulillah kalau Boss gak ngerasain apa-apa.”


“Ya udah yuk kita cabut. Takutnya mereka udah duluan datang ke rumah. Di rumah kan sepi gak ada siapa-siapa cuma ada pelayan doang.” Ajak Jodi.


“Ya udah ayo.”


Kemudian mereka berdua pun meninggalkan ruang kerja Riksa.


Setelah Jodi pamit pada tim nya, ia meninggalkan markasnya bersama Riksa.


Singkat waktu Jodi dan Riksa telah sampai pada kediaman yang menjadi tempat tujuan mereka untuk melakukan pertemuan dengan Philipe dan Krista.


Jodi masuk ke dalam rumah itu bersama Riksa.


“Rumah ini terlihat sedikit muram karena dia sudah merasa salah satu penghuninya tidak akan mengenalinya.” Kata Riksa seraya meminta di buatkan minuman pada seorang pelayan yang menyambut kedatangannya, lalu ia duduk pada kursi mini bar, di susul Jodi yang duduk di sampingnya.


“Ya, rumah ini menyimpan banyak kenangan bagi dia, di rumah ini dia tumbuh dan berkembang hingga menjadi ibu dari anak-anakku.” Sambung Jodi dengan pandangan mengitari sekitar.


“Ya, jauh di lubuk hatinya mereka pasti saling merindukan satu sama lain, anda beruntung Boss dapat hidup bersamanya, menemani hari-harinya karena Boss lah orang yang sangat ia butuhkan.” Ujar Riksa.


“Ya Rik gue adalah salah satu orang yang sangat beruntung di dunia ini. Gue menjadi cinta pertamanya sekaligus suaminya yang harus menjaganya seumur hidupnya.”


“Pantas saja banyak orang yang merasa iri pada Boss, disaat orang lain berlomba menginginkan hidup bersama putri yang sempurna, Boss malah mendapatkannya tanpa perlu bersusah payah.”


“Hey… tanpa bersusah payah gimana? Elo tahu sendiri gue di buat riweuh dari awal dia meminta gue jadi kekasihnya, apa elo lupa? Sampai ke negeri sebrang gue pertaruhkan hidup gue!.”


“Hehe… itu kan harga setimpal yang harus Boss bayar. Karena Boss mendapatkan perempuan yang luar biasa, jadi pengorbanannya pun tidak biasa. Penuh tantangan bahkan sampai dengan detik ini.”


“Ya betul, hidup memang tidak mudah Rik, resiko akan sesuai dengan yang kita dapatkan. Tapi walau demikian, gue sangat mensyukurinya. Bayi kecil gue ternyata sekarang jadi istri gue dan ia memberikan banyak bayi kecil buat gue dan gue bahagia Rik.”


“Ya Rik, gue juga sangat berterima kasih sama elo. Elo mau menemani gue dalam susah dan senang gue, dan elo sering jadi bulan-bulanan kemarahan gue kalau lagi ada masalah.”


“Itu resiko buat gue Boss dan gue menikmati itu.”


Dan perbincangan mereka tergugah oleh kehadiran Philipe dan Krista yang baru saja datang.


Terlihat Philipe masuk kedalam rumah itu dengan membawa Krista yang duduk diatas kursi roda, diantar oleh salah seorang pelayan.


Setelah Jodi mempersilahkan mereka duduk pada ruang tamu, akhirnya mereka pun berbincang disana.


“Anda tahu saudara Jodi? Di sini saya tidak hanya mendapat teman baru, tapi saya sudah seperti mendapatkan saudara, anda begitu banyak membantu kami.” Kata Philipe membuka pembicaraan diantara mereka.


“Itu sudah kewajiban saya saudara Philipe, kebetulan saja orang yang bermasalah dengan kita adalah orang yang sama. Justru dari istri anda lah saya mendapatkan petunjuk. Memang sudah ada catatan dari sananya kalau kita harus bertemu dalam kondisi seperti ini.” Balas Jodi.


“Bagaimana keadaan Krista sekarang?.” Sambung Jodi.


“Dia sudah semakin membaik.”


“Syukurlah.”


“Oya bagaimana dengan kasus dia? Apa sudah ada titik terang?.” Maksud Philipe adalah menanyakan mengenai proses penangkapan yang Jodi lakukan dengan tim terhadap Alfredo.


“Sudah. Kita tinggal menunggu pihak yang berwajib negara J saja. Setelah mereka menghubungi kita untuk sama-sama menangkapnya, saat itu juga kita akan melakukannya.”


“Syukurlah. Saya lega mendengarnya.” Jawab Philipe yang melihat ke arah Krista dan terlihat Krista menundukkan kepalanya seperti menahan sebuah perasaan.

__ADS_1


“Maafkan aku jika aku harus melukai perasaanmu karena hal ini.” Kata Philipe pada istrinya seraya memegang jemari tangannya.


“Tidak. Justru aku yang harus minta maaf padamu, seandainya aku tak menemui dia, tentunya hal ini tidak akan terjadi pada kita semua.” Jawab Krista.


“Sudahlah Krista. Ini sudah takdir bagi kita semua, dan hikmahnya adalah dari masalah ini kita jadi saudara.” Kata Jodi.


“Ya, terima kasih. Oya? Dimana Maurin? Aku rindu padanya.” Tanya Krista.


“Dia sedang dalam perjalanan menuju kesini nona, tadi saya sudah menelponnya.” Sambung Riksa.


“Kalian orang baik, kalian selalu menunggu dan menjagaku di saat aku dirawat di rumah sakit.”


“Itu sudah tugas kami nona.” Jawab Riksa.


“Semoga Tuhan membalas semua kebaikan kalian.”


Kemudian terlihat Maurin masuk dari pintu utama dan mendekat kearah mereka.


“Tuh orang yang kita bicarakan datang. Panjang umur kau Rin.” Kata Riksa.


“Hehe… lagi pada ngomongin aku ya?.” Kata Maurin yang langsung menyalami mereka dan duduk bersama pada ruang tamu itu.


Mereka terlihat akrab berbincang layaknya saudara sendiri. Hingga waktu telah menunjukkan siang hari akhirnya mereka mengakhiri pertemuannya.


Philipe dan Krista pamit pada Jodi karena mereka akan pergi berangkat ke negaranya memulai hidup baru mereka.


“Sesekali aku pasti akan mengunjungi kalian ke negara ini.” Kata Philipe.


“Baik saudara Philipe terima kasih.” Jawab Jodi.


“Kapan-kapan jika ada waktu main lah ke tempat kami disana.” Sambung Philipe.


“Ya nanti kami kabari kalau kami akan berkunjung kesana.”


Kemudian Philipe dan Krista meninggalkan Jodi, Riksa dan Maurin di rumah itu.


“Boss ayo kita ke rumah sakit, setelah itu gue mau antar Maurin ke perkebunan, dia udah kangen sama istri Boss.” Ujar Riksa.


“Ke rumah sakit? Siapa yang sakit?.” Tanya Maurin heran.


“Tadi pagi Boss mimisan, kita kan harus tahu penyebabnya apa? Karena baru kali ini Boss alami mimisan.”


“Gue cuma kecapekan aja kali Rik.”


“Ya mau kecapekan atau apalah tetap harus periksa Boss biar kita tahu, khawatir ada penyakit serius Boss.”


“Ah elo bawel Rik.”


“Tapi bener Boss, mending kita cek aja ke dokter biar jelas.” Sambung Maurin.


Akhirnya dengan terpaksa Jodi menerima ajakan Riksa dan Maurin, meskipun sebenarnya dia sedikit malas kalau harus cek kesehatan ke dokter.


“Sebenarnya gue males kalau harus cek kesehatan, entar ketahuan semua penyakitnya, jadi stress gue.”


“Justru kalau kita tahu penyakit kita dari awal, kita jadi bisa mengobatinya sedini mungkin Boss. Penyakit akan susah ngobatinnya kalau udah parah. Ayo brangkat! Mumpung masih siang.” Paksa Riksa.


Akhirnya Mereka pun pergi meninggalkan kediaman mereka menuju rumah sakit.


❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹

__ADS_1


Selamat berbuka puasa bagi reader yang menjalankan puasa sampai hari ini🥰


Semoga ibadah puasanya diterima oleh Allah SWT… Amiin🤲🏻🙏🏻


__ADS_2