Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Dalam posisi sulit


__ADS_3

Hati-hati dengan konten 17+ di dalamnya.


Di mohon bijak dalam menyikapinya.


Terima kasih🙏🏻


Dan malam pun tiba. Seperti biasa setelah makan malam, Jodi dan Riksa selalu berbincang di ruang kerja membicarakan masalah pekerjaan mereka.


Riksa menunggu, apakah Boss nya itu akan membicarakan masalah Berlian atau tidak?. Tapi ternyata sedikit pun Jodi tak membahas itu.


‘Waktu awal-awal aja… sudah seperti orang kebakaran jenggot minta solusi ke gue… udah ngerasa enaknya diem-diem bae! Dasar papa munafik, hahay… kena luh sekarang Boss. ‘Bathin Riksa.


“Kenapa luh!! Lihat gue kayak gitu?.” Tanya Jodi yang merasa di perhatikan oleh Riksa.


“Gak ada apa-apa cuman aneh aja, Kok akhir-akhir ini Boss Sensi hehe.”


“Sensi gimana?.”


“Ya gitu… pokoknya susah di ungkapkan dengan kata-kata, hehe… Seperti rasa cinta, sulit di katakan tapi efeknya dapat.”


“Jangan mulai luh!.”


“Tuh kan? Belum apa-apa Boss udah nyolot aja hehe.”


“Abisnya elo tuh suka mancing-mancing.. bikin gue emosi aja.”


“Jangan pakai emosi kali… pakai hati aja biar dapat menikmati prosesnya tanpa beban, hehe.”


Tanpa berkata-kata Jodi meninggalkan ruang kerjanya menuju kamarnya. Sedikit pun ia tak memperdulikan apa yang Riksa katakan.


Jodi masuk kedalam kamarnya lalu naik keatas tempat tidurnya dan mulai memejamkan matanya.


Jodi membalikan tubuhnya, betapa terkejutnya ia saat melihat Berlian sudah ada di sampingnya. Tubuh putih mulus itu tengah berbaring di atas tempat tidurnya seperti tengah menggoda imannya.


“Sayang.. kamu disini?.” Tanya Jodi seraya mendekat.


“Papa.. apa aku boleh tidur disini sama papa?.”


Jodi sedikit gugup, dia tidak tahu harus menjawab apa. Jika ia katakan tidak boleh, ia takut menyinggung putri kecilnya. Namun jika ia katakan boleh, ia risih karena mereka berdua bukan lah pasangan.


“Memang kenapa di kamarmu sayang?.” Jodi duduk di bibir tempat tidur.


“Aku takut mimpi buruk lagi papa.”


Lama Jodi memandangi Berlian. Akhirnya dengan terpaksa ia memperbolehkan Berlian tidur di kamarnya walau ia sangat khawatir sekali Berlian akan melakukan hal seperti malam yang telah lalu.


“Baiklah… kau tidur disini bersama papa.”


“Makasih papa.” Berlian memeluk Jodi dari belakang.


“Ayo sayang… kita tidur.” Jodi melepaskan tangan Berlian yang melingkar di perutnya. Lalu merebahkan putri kecilnya di atas tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Lalu ia pun masuk ke dalam selimut.


“Papa…”


“Iya sayang, ada apa? Tidurlah ini sudah malam.”

__ADS_1


“Aku kedinginan… mau kah papa memelukku?.”


Dengan perasaan yang campur aduk Jodi mengikuti permintaan putri kecilnya itu. Ia merapatkan tubuhnya pada tubuh gadis itu kemudian memeluknya dari belakang.


Keduanya merasakan gemuruh yang sama. Merasakan kehangatan yang sama dan tentunya merasakan kenyamanan yang sama.


“Apa papa tidak suka tidur denganku?.”


“Kenapa kau bicara begitu sayang?.”


“Aku merasa papa tidak senang.”


“Siapa bilang papa tidak senang sayang. Papa senang tidur bersamamu dan memelukmu. Percayalah.”


Kemudian Berlian membalikan tubuhnya hingga mereka saling berhadapan dan wajah mereka saling berdekatan. Kemudian


“Papa…”


“Iya sayang.”


“Aku….” Berlian memutus kata-katanya seperti ragu untuk mengatakannya.


“Kenapa? Katakan pada papa.”


“Ah.. tidak… lain kali saja..”


“Ya sudah.. tidurlah sayang…”


“Ya… selamat malam papa.” Perlahan Berlian mencium pipi Jodi.


“Mimpi indah sayang.” Dan Jodi pun mencium kening Berlian.



Keduanya tidak dapat tertidur hanya berpura-pura memejamkan matanya saja.


Mereka saling merasakan kehangatan dari keduanya. Jodi menahan segenap rasa yang semakin membuncah, sebenarnya ia ingin menghindari jika ia mengingat bahwa yang tengah ia peluk adalah putri kecilnya. Namun tubuh nya menolak seolah enggan pergi karena wangi tubuh gadis itu memaksanya untuk tetap terbenam.


Hingga tanpa ia sadari bibir dan hidungnya mengendus ceruk leher gadis itu, membuat gadis itu merasakan aliran darahnya mendidih dan memanas.


Gadis labil itu, tak kuat menahan gelora jiwanya hingga membuat tubuhnya repleks berbalik, ia dekatkan wajahnya pada wajah Jodi, terus ia pandangi wajah lelaki yang begitu menggodanya. Sementara Jodi berpura-pura tertidur.


Entah mengapa ia berpura-pura. Apa karena ia ingin merasakan bibir manis gadis kecil itu kembali? Atau memang semua itu ia lakukan untuk menjaga perasaan agar tak membuat gadis itu malu?. Entahlah… yang jelas, Jodi kini tengah merasakan gejolak yang hebat.


“Papa… aku menginginkannya lagi.”


Semakin bergemuruh dada Jodi kala gadis itu berbisik dengan suara paraunya.


Perlahan Berlian tempelkan bibirnya pada bibir kokoh itu. Lalu ia lu*at perlahan dengan lidahnya hingga rasa manis yang ia rasakan membawa jiwanya melambung tinggi.


Merasakan bibir hangat nan ranum itu membuat Jodi tak kuasa menahan segala rasa yang terbendung.


Imannya goyah kala gadis itu menggila memainkan lumayan bibirnya hingga tanpa sadar ia pun memainkan bibirnya, membalas raupan itu dengan nafas yang memburu terguncang nafsu.


Mendapat balasan dari Jodi, gadis itu semakin dan semakin menggila meraup bibir kokoh lelaki yang kini berada di bawah kungkungannya. Entah ia sadar atau tidak kini ia tengah mendominasi diatas sana.


Jodi tak bisa menahannya, ia terhanyut dalam buaiannya, ia pasrah seolah lupa kala sang gadis mencumbunya dan merasakan bibir mungil itu kini merambah pada lehernya.

__ADS_1


“Oh… putri kesayang… tolong hentikan sayang…” Suara serak itu bukannya menghentikan malah membuat lum*tan demi luma*an gadis itu makin menggila.


“Hentikan sayang… jangan seperti ini…”


Namun kata-kata yang samar terdengar tak ia hiraukan, yang ingin ia lakukan adalah meluapkan hasratnya hingga kembali ia mengunci bibir kokoh sang lelaki hingga tak mampu berkata-kata lagi.


Entah datang kekuatan dari mana tiba-tiba Jodi membanting tubuh kecil itu hingga kini posisinya berbalik, gadis itu kini berada di bawah himpitan tubuhnya. “Hentikan sayang… jangan seperti ini!.” Dengan mata berkaca-kaca Jodi katakan itu memandangi tatapan polos putri kecilnya.


“Aku mohon sayang… sadarlah…” Jodi membenamkan wajahnya di atas dada gadis itu, menahan penyesalan hingga menjatuhkan buliran bening dari matanya.


“Apa yang harus aku katakan pada ayah dan ibumu sayang… jujur aku sangat menyukainya… perlu kau tahu aku sangat menikmatinya. Tapi perlu kau sadari sayang, ini akan membuat kita ada dalam posisi yang sulit.. tolong mengerti lah.”


“Hiks..hiks… aku sayang padamu papa.. aku tidak ingin jauh darimu... aku ingin semua yang ada di dirimu papa…”


“Aku mengerti sayang… sangat mengerti… tapi tidak harus seperti ini.”


“Hiks.. hiks… aku gak mau papa pergi….”


“Aku tidak akan pernah pergi darimu sayang… aku akan selalu ada di dekatmu… aku akan menjagamu, tapi kau harus sadar sayang… usiamu masih sangat muda, jika kau ingin lakukan itu, nanti akan ada saatnya, kau hanya perlu menunggu sebentar saja. Dan harus kau ingat jangan lakukan hal tadi dengan siapun, karena akan merusak dirimu dan masa depanmu, kau paham sayang?.”


Dengan tetesan air mata Berlian mengangguk pelan.


“Baik. Kemarilah.” Jodi meraih Berlian dalam pelukannya. “Tidurlah sayang…”


Jodi sedikit lega karena dapat mengendalikan Berlian dan dirinya. Ia menyadari akan jiwa anak yang masih labil itu, dan ia pun mengerti akan keinginan dari anak seusianya yang selalu ingin mencoba hal-hal baru. Hanya saja jika menyangkut sesuatu seperti yang tadi gadis itu lakukan padanya tentunya sangat meresahkan dirinya. Terlebih jika dilakukan dengan orang lain.


Tiba-tiba saja DUARR!!!! Suara petir yang seolah menusuk telinganya membuatnya terkejut, sontak ia terbangun dari mimpinya. “Oh ternyata hanya mimpi.” Ia menghela nafas panjang. Rupanya kehadiran Berlian dalam kamarnya adalah bunga tidur yang menghiasi malam dinginnya yang diguyur hujan serta petir yang bersahutan.


Ternyata pada saat ia tadi masuk kekamarnya dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur, ia langsung terlelap karena penat di kepalanya.


*


Sementara itu, nampak di tempat yang berbeda, Menara bersama Yosan dan Arash tengah mencari Informasi mengenai Berlian. Mereka berada di sebuah cafe dengan fokus pada laptop dihadapannya. Meski sesekali petir menggelegar dan hujan tiada henti menumpahkan rincikannya, tidak meruntuhkan kegiatan mereka.


Karena Jodi telah memanipulasi identitas Berlian, tidak banyak yang mereka ketahui, informasi yang mereka dapatkan Hanyalah data-data terbaru dimana disitu dijelaskan bahwa Berlian adalah putri dari pasangan Jodi Pratama dan Mustika Mirah Delima. Serta data-data mengenai sejarah pendidikan Berlian.


Jodi adalah pemilik dari perusahaan yang bernama Berlian group. Dan Berlian group adalah anak cabang dari perusahaan Hartawan group milik Harvan.


“Tidak banyak informasi yang kita dapat tentang dia.” Menara.


“Ya.. tidak ada yang istimewa juga.” Timpal Arash.


“Jadi ngapain juga kita nge bully dia ngabisin waktu saja.” Sambung Yosan.


“Gue cuma aneh aja karena dia berani nantangin kita.” Menara terus memperhatikan foto gadis itu dalam laptopnya.


Arash yang melihat itu berkata. “Hati-hati luh liatin foto dia terus. Nanti jadi suka.”


“Cih.. mana ada gue suka sama bocah haha, apa lagi masih lugu gitu.”


“Tapi bocah juga udah bisa bikin bocah haha.” Sambung Yosan.


“Gue gak akan berpaling dari Narita Yos, dia gak ada tandingannya.”


Sejenak Yosan dan Arash berpandangan, seolah mengetahui sesuatu tentang Narita dan menutupinya dari Menara.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞

__ADS_1


Yuk ditandai dulu readers sayang🥰


Makasih💝💝💝


__ADS_2