
Waktu yang bergulir kian cepat membawa suasana hati semakin menggebu kala hari yang di tunggu telah datang menyapa.
Hari ini adalah hari dimana Alfredo akan pergi ke kota P ditemani oleh Krista.
Singkat waktu setelah menempuh penerbangan kurang lebih 1 jam 50 menit, akhirnya mereka sampai di kota tersebut.
Alfredo langsung menuju hotel bersama Krista. Tak lupa ia pun mengabari pada Andre temannya yang bekerja di kota tersebut bahwa ia telah sampai di hotel tempat ia menginap.
Alfredo meminta Andre untuk melakukan pertemuan mereka di saat Krista sudah tidak sadarkan diri. Ia merencanakan untuk membuat Krista tertidur dengan memberikan obat penenang padanya. Karena kalau tidak, Krista akan terus mengikuti gerak Alfredo, sementara di dalam pertemuan dengan temannya, Alfredo akan membahas mengenai sesuatu yang dirahasiakannya dari Krista.
“Sebenarnya dalam rangka apa temanmu itu mengundang kita Al?.” Tanya Krista.
“Dalam rangka merayakan kesuksesannya sebagai dokter teladan di kota ini.”
“Oh begitu. Kapan acaranya?.”
“Besok, jadi seharian ini kita habiskan waktu untuk berjalan-jalan dulu.” Sahut Alfredo.
“Wah benar kah? Terima kasih Alfredo, aku semakin yakin, kau benar-benar telah memaafkan semua kesalahanku.” Ujar Krista dengan penuh kebahagiaan.
“Tentu saja aku harus melupakan semua itu karena kita akan memulainya dari awal lagi. Aku sudah melupakan semua yang terjadi di masa lalu.” Kata Alfredo berdusta.
“Seharusnya aku tidak menyakitimu dengan meninggalkanmu kala itu Al. Aku tersulut emosi karena aku cemburu pada kakakmu yang selalu kau bela.”
“Sudahlah jangan membahas itu lagi. Anggap saja semua itu tak pernah terjadi.”
“Ya Al. Sekarang aku ikut saja bagaimana maunya kamu hubungan kita ini akan dibawa kemana, asal aku selalu berada di sisimu aku sudah cukup bahagia Al.”
“Ya… percayalah, pada akhirnya nanti, aku pasti akan menikahimu.”
‘Jangan mimpi kau dapat menikah denganku Krista. Aku sudah ilfeel padamu. Yang akan aku lakukan padamu adalah aku hanya ingin membuatmu diam. Agar kau tak mencampuri segala urusanku lagi.’ Bathin Alfredo.
Akhirnya mereka sampai di sebuah hotel tempat mereka menginap. Setelah mereka sampai di dalam kamar, Alfredo lebih dulu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah Alfredo selesai baru lah giliran Krista masuk ke dalam kamar mandi hotel tersebut.
Disaat Krista tengah berada di dalam kamar mandi, Alfredo memesan makanan dan minuman kepada petugas hotel.
Tak lama apa yang di pesannya datang. Sementara Krista masih berada di dalam kamar mandi. Saat itulah Alfredo memanfaatkan waktu untuk membubuhkan obat penenang pada makanan dan minuman Krista dalam dosis tinggi.
Setelah Keluar dari dalam kamar mandi dan sudah berpakaian rapi, akhirnya Krista diajak makan oleh Alfredo.
“Makanlah dulu, karena sebentar lagi kita akan jalan-jalan menikmati suasana kota ini.”
“Kenapa kau pesan makanan Al. Bukankah sebaiknya kita makan diluar saja nanti sekalian jalan-jalan?.”
“Makan diluar itu lain lagi. Karena seharian ini aku ingin menghabiskan waktu untuk membawamu jalan-jalan sampai puas. Kalau bisa sampai pagi.”
“Hehe… baiklah.” Ujar Krista yang kemudian menikmati makanan yang telah Alfredo bubuhi dengan obat tadi.
“Bagaimana rasanya makanan khas kota ini?.” Tanya Alfredo seraya memperhatikan wajah Krista.
“Lumayan enak, tapi lebih enak lagi makanan yang biasa kita makan. Mungkin karena kita belum terbiasa aja kali ya?.”
“Sengaja aku pesan makanan khas kota ini biar kamu tahu, kalau aku pesan makanan yang biasa kita makan buat apa kita jauh-jauh datang kesini.”
“Iya sih. Oya? Temanmu memang betah tinggal di kota ini? Kota ini lebih panas dari Jakarta kalau menurutku.”
“Katanya sih dia betah karena disini tidak banyak saingan dalam berkarier meski pun cuacanya panas sekali.”
“Oh begitu.”
“Dan penghasil disini lebih besar di bandingkan dengan di ibukota.” Sambung Alfredo.
“Benar kah?.”
“Coba saja kau lihat nanti, disini petani saja pakai pajero.”
“Serius?!.”
“Ya, karena kota ini merupakan ibu kota provinsi yang sangat kaya akan sumber daya alamnya. Dan kebanyakan pengusaha disini sudah bekerja sama dengan pihak asing. Makanya eksploitasi bumi terjadi besar-besaran disini.”
“Aku pernah dengar sih kalau provinsi ini adalah merupakan primadona bagi pengusaha asing, bahkan kota ini menjadi salah satu kandidat sebagai perpindahan ibu kota nantinya.”
“Ya itu benar. Entah akan seperti apa nantinya kota ini di sepuluh tahun atau di dua puluh tahun yang akan datang. Sebenarnya aku pribadi merasa sayang sekali alam provinsi ini di eksploitasi hingga ribuan hektar bahkan lebih. Padahal menurut para ahli, provinsi ini adalah jantung dari bumi ini. Terlepas itu benar atau tidak, aku pribadi merasa miris menyaksikan kenyataan yang terjadi disini.”
Sepanjang perbincangan mereka, terlihat Krista yang mulai menunjukan ekspresi kantuk yang berat.
“Kok aku merasa kepalaku berat begini ya Al?.”
“Mungkin kamu lelah Krista.”
“Ya mungkin juga.” Jawab Krista seraya memijat-mijat dahinya dengan mata yang mulai berat.
“Minumlah mungkin setelah minum kamu akan merasa sedikit segar.”
Kemudian Alfredo memberikan minuman pada Krista, tentu saja minuman itu pun yang telah ia bubuhi dengan obat penenang.
__ADS_1
Terlihat Krista semakin tak terkendali setelah diberikan minuman oleh Alfredo. Hingga akhirnya lambat laut kesadarannya mulai hilang.
Kini Krista benar-benar tidak sadarkan diri. Setelah Alfredo memastikan Krista sudah tidak dapat di ajak bicara lagi. Ia bawa tubuh Krista keatas tempat tidur.
‘Tidurlah kau sampai puas haha.’ Kelakar Alfredo seraya meninggalkan tubuh lemah itu di dalam kamar hotel.
Sementara dirinya pergi keluar hendak menemui temannya yang bernama dokter Andre itu.
Singkat waktu, Alfredo telah sampai di salah satu cafe di kota tersebut. Terlihat dari kejauhan Andre sudah duduk menunggunya pada salah satu table.
Setelah mereka saling menyapa dan bersalaman akhirnya mereka pun duduk bersama dan Alfredo langsung membicarakan tujuannya datang ke kota tersebut.
“Bagaimana menurutmu kota ini?.” Andre membuka pembicaraan diantara mereka.
“Sangat menyenangkan, sepertinya prospek kedepannya akan bagus kalau aku bisa buka praktek disini.”
“Tentu saja Al, aku yakin kamu akan betah disini.”
“Oya? Kira-kira di mana ya tempat yang cocok untuk aku tinggal?.”
“Ada banyak. Disini banyak lahan-lahan yang akan dijual dan pemiliknya kebanyakan pengusaha besar. Atau seandainya kamu mau mencari rumah yang siap tinggal juga banyak, aku bisa bawa kamu untuk lihat-lihat sekarang juga.”
“Ok. Kalau gitu, sekarang saja kau bawa aku mencari rumah yang layak untuk ku jadikan rumah sekaligus tempat aku praktek.”
“Ayo!.”
Kemudian Andre membawa Alfredo untuk melihat hunian-hunian yang akan di jual di tempat itu.
Setelah Andre membawa Alfredo berkeliling kota, akhirnya Alfredo tertarik pada salah satu hunian yang sedikit jauh dari keramaian kota.
‘Aku kira tempat ini cocok untuk aku tinggal.’ Bathin Alfredo seraya tersenyum penuh misteri.
...............
Kembali ke ibukota, terlihat di rumah mewahnya, Berlian menagih janji pada sang suami atas kejutan yang akan ia dapatkan yang sudah di janjikan oleh suaminya.
“Papa… ini sudah waktunya papa memberikan kejutan itu padaku, papa lupa? Minggu lalu papa akan memberikan kejutan padaku di hari ulang tahun Miriam putri kita.”
“Mana mungkin papa lupa sayang… nanti akan papa berikan kejutan itu malam hari di perkebunan, sekalian kita kumpul keluarga disana merayakan ulang tahun Miriam yang ke 1 tahun. Saat itulah papa akan memberikan kejutan itu padamu.”
“Miriam yang ulang tahun kok mama nya yang di kasih kejutan.” Kata Delima yang baru datang di tengah-tengah mereka.
“Papa kan janjinya memberi kejutan padaku di hari ulang tahun Miriam bu.. kalau hadiah ulang tahun buat Miriam beda lagi, ya kan papa?.”
Mendengar ocehan istrinya Jodi hanya mengangguk seraya melemparkan senyuman.
“Anak ibu kan memang masih kecil. Anak kecil yang sudah pintar membuat anak kecil hehe.” Celoteh Maurin.
“Ish… Mauriiiiin!!.”
“Emang bener kan? Usiamu masih 17 tahun.” Ledek Maurin.
“Bulan depan aku 18 tahun tahu!!.”
“Iya tapi tetap saja usiamu masih di bawah umur haha.” Kelakar Maurin.
“Papa…..” Rengek Berlian mengadu pada Jodi.
“Udah ah kalian ini kayak anak kecil saja. Rin udah dong jangan ganggu istriku terus.”
“Abisnya istri Boss itu lucu. Sama putrinya maen sirik-sirikan aja! Kayak Ade sama kakak saja haha.”
“Ssstt… ah udah.” Riksa melerai dengan membawa Maurin ke taman.
“Ada apa sih ribuuuut aja kedengarannya.” Kata Budi yang baru keluar dari kamanya.
“Biasa itu bumil pada ngegodain.” Balas Irma.
“Oh dikirain ada apa. Gimana nanti malam Jod? Kita jadi berangkat ke perkebunan?.” Tanya Budi.
“Jadi dong opa, aku kan sudah gak sabar pengen tahu kejutan apa yang akan aku terima dari suamiku hehe.” Celoteh Berlian.
“Kalau opa sih udah tahu kejutannya apa.” Kata Budi.
“Beneran opa sudah tahu?! Kok opa dikasih tahu sih papa?.”
“Ya kalau kamu di kasih tahu! udah bukan kejutan lagi dong.” Jawab Jodi.
“Ya udah ayo, sekarang aja kita berangkat ke perkebunannya?.” Paksa Berlian.
“Sabar dong sayang… kan biar lebih indah dan romantis kalau ngasihnya malam-malam hehe.”
“Iya deh, terus kapan kita jalan kesananya?.”
“Nanti sore ya? Sekarang ayo kita latihan jalan dulu ditaman.”
__ADS_1
Kemudian Jodi membawa Berlian yang duduk di atas kursi roda ke taman samping rumah.
Di taman terlihat Delima tengah mengajari Miriam berjalan, Miriam sebenarnya sudah bisa berjalan hanya saja belum lancar.
“Ayo ibu sama anak belajar jalan yang bener ya?.” Goda Maurin kembali yang melihat Berlian tengah di papah untuk berjalan oleh suaminya tidak jauh dari sisi Miriam.
“Ish Maurin bisa diem gak!!.” Kata kesal Berlian.
“Hehe.. gitu aja kok marah.” Colek Maurin yang mendarat tepat di hidung Berlian.
“Udah biarin aja sayang jangan di dengerin, anggap saja itu godaan.” Hibur sang suami.
“Iya memang godaan setan!.” Balas Berlian.
“Hei… tega sekali kau bilang begitu padaku Berli.”
“Abisnya kamu godain aku terus sih.”
“Hadeh… gak ada bosennya nih berantem mulu, gilirannya lagi akur, lengketnya gak ketulungan. Rin ayo deh ikut aku daripada berisik mulu.” Ajak Riksa menarik tangan Maurin.
“Kemana kak?.”
“Kamu mau ikut ke perkebunan gak entar malem?.”
“Ya ikut lah masa aku mau ditinggal sendiri di rumah ini.”
“Kalau mau ikut, ayo tolongin packing baju aku. Kamu juga belum packing kan?.”
“Ok kalau gitu.” Jawab Maurin seraya berlalu bersama Riksa kedalam rumah.
Sementara Berlian masih di papah Jodi untuk latihan berjalan bersama putrinya Miriam yang sedang diajari berjalan juga oleh Delima.
Terlihat Berlian sudah dapat melangkahkan kakinya walau hanya baru beberapa langkah saja.
“Bagus. Sekarang udah mulai lancar sayang… terus dilatih ya kakinya.” Jodi memuji sang istri sembari membantu memegangi walker.
“Papa… aku capek.”
“Ya udah. Kita istirahat dulu ya sayang.” Kata Jodi seraya membawa Berlian dalam pangkuannya masuk ke dalam rumah.
Setelah sampai di dalam rumah, Jodi mendudukkan Berlian pada kursi yang berada di ruang keluarga.
“Papa… kok dokter Alfredo gak kesini-sini ya?.”
“Kenapa? Kamu kangen ya sama dia.” Kata Jodi dengan senyumannya seakan menggoda.
“Ish… bukan begitu. Aku kan cuma nanya aja.”
“Dia akan hubungi papa dulu kalau mau datang kesini untuk kontrol kesehatanmu, tapi sampai sekarang dia belum menghubungi papa juga.”
“Syukur deh, mudah-mudahan aja dia gak datang lagi.”
“Loh kok gitu sayang… tadi kamu nanyain dia. Kalau dia gak datang lagi, bagaimana kita tahu sejauh mana perkembangan saraf-saraf di tubuhmu itu.”
“Dokter ahli saraf kan masih banyak papa… ganti aja dari pada papa cemburu terus.”
“Hei papa bukan cemburu. Tapi gak suka aja sama cara dia, karena dia udah gak jujur sama kita.”
“Sudah jangan berisik. Nanti opa akan interogasi dia kalau dia datang kesini lagi.” Ujar Budi memotong perdebatan diantara suami istri itu.
“Memangnya dokter Itu sudah ngapain kamu aja sayang?.” Tanya Delima yang datang menghampiri mereka.
“Gak ngapa-ngapain aku, si papa aja yang ketakutan aku di apa-apain sama dia. Dia kan cuma terapi aku doang.”
“Iya tapi, aneh aja dia tiba-tiba saja memberhentikan asisten yang bertugas melakukan pijat padamu, dan dia sendiri yang melakukan pijatan itu padamu akhir-akhir ini. Suami mana yang gak cemburu lihat tubuh istrinya di pegang-pegang sama lelaki lain hah?!.”
“Ya namanya di pijat pasti di pegang-peganglah.” Unggah Delima.
“Gak ada seperti itu dalam pernyataannya waktu pertama kali dia datang kesini Del. Awal-awal dia bilang yang melakukan pijatan itu asistennya, sementara dia melakukan terapi menggunakan alat khusus pada titik-titik sarafnya saja. Tapi akhir-akhir ini dia yang melakukan pijat itu sendiri. Dokter itu bilang pada kita kalau asistennya gak bisa ikut dia lagi karena di perbantukan ke tempat bencana, tapi kenyataannya, perawat itu gak kemana-mana. Kita melihat mereka, saat mereka kita datangin pada ketakutan dua-duanya.”
“Begitu ya? Iya sih aneh juga kalau gitu kenyataannya.” Sambung Delima.
“Ya kedepannya kalian harus lebih hati-hati aja nanti.” Ujar Irma.
Mereka sekeluarga menghabiskan kebersamaan mereka dengan membahas dokter Alfredo itu hinggga tak terasa senja sudah menyapa mereka.
Tibalah saatnya mereka akan melakukan perjalanan ke tempat orang tua Jodi di perkebunan puncak.
Semua barang yang akan mereka bawa telah siap masuk kedalam kendaraan yang akan mengantarkan mereka.
Sebenarnya Jodi sudah mempersiapkan surprise itu jauh-jauh hari. Tujuannya agar istrinya semangat sembuh dalam kesakitannya.
Dan benar saja dengan semangatnya, juga dukungan dari orang-orang terdekatnya, semua itu dapat membantu membuat Berlian cepat pulih dari kondisi yang semula tidak dapat melakukan apa-apa.
❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya gais🥰
Makasih😍