
Siang itu di dalam kampus, Berlian dan Maurin tengah berbincang di taman menunggu mata kuliah berikutnya setelah mereka beristirahat.
Di tengah perbincangan mereka, tanpa mereka tahu Menara dan kedua temannya, Yosan dan Arash mendekati mereka dari arah belakang.
Pada saat Berlian tengah asyik dengan ponselnya, tiba-tiba Menara dari arah belakangnya merebut Ponsel dari tangannya.
“Hey… apa yang kamu lakukan! Kembalikan ponselku.” Berlian berdiri kemudian berjalan ke arah Menara. Ia hendak mengambil ponselnya dari tangan Menara, namun menara menyembunyikan tangannya yang memegang ponsel Berlian di belakang tubuhnya.
“Coba saja kalau kau bisa mengambilnya.” Kata Menara dengan menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya.
“Kembalikan!.” Berlian berusaha mengambilnya namun Menara mempermainkannya.
Menara menjauh dari Berlian kemudian membelakangi Berlian dan dengan cepat seperti mengetik sesuatu pada ponsel Berlian.
“Apa yang kau lakukan pada ponselku! Kembalikan.” Pinta Berlian menarik bagian belakang pakaian Menara.
Menara malah mempermainkannya berusaha menghindari sembari tangannya masih mengetik sesuatu, setelah selesai ia mengembalikan ponsel itu pada Berlian.
Dengan cepat Berlian merebutnya dan memeriksa ponselnya.
“Aku tidak melakukan apapun pada ponselmu, hanya melihat foto-foto mesramu saja bersama ayahmu.” Bisik Menara tepat di telinga Berlian.
“Kau…” Berlian mengepalkan tangannya dan mengangkatnya.
“Jangan melawanku kalau skandalmu sama ayahmu tidak mau menyebar di kampus ini.” Ancam Menara.
“Sialan kau! Coba saja kalau kau berani…”
“Berani apa hah!… hehe, kamu takut?! Oya? Nanti malam aku akan menemui kekasihku di apartemennya, hanya saja aku pasti tidak dapat ijin dari mamaku kalau aku keluar menemui dia, jadi aku akan katakan pada mamaku kalau aku keluar bersamamu.”
“Apa! Kenapa kau bawa-bawa aku dalam urusanmu?.”
“Karena mamaku akan mengijinkan jika aku mengatakan pergi bersamamu.”
“”Aku tidak mau!.”
“Coba saja kalau kau menolak. Siap-siap saja besok pagi berita skandalmu menyebar.” Ancam Menara kembali.
“Kau mengancamku?.”
“Menurutmu?!… Kau tenang saja, lagi pula kamu tidak sendiri mengantarku, ada Arash dan Yosan yang menemanimu.”
“Papaku tidak akan mengijinkan aku keluar malam!.”
“Dia akan mengijinkan karena aku yang mengajakmu.”
“Ish… kenapa harus aku?!.” Kesal Berlian Meninggalkan Menara menuju kelasnya.
Melihat Berlian pergi meninggalkan tempat itu, Maurin mengejar Berlian. Sementara Menara tersenyum sinis melihat kepergian Berlian dengan wajah kesalnya.
“Apa yang elo lakukan sama dia?.” Tanya Yosan pada Menara.
“Gue mau jadikan dia alat nanti malam?.” Jawab Menara dengan senyum sinis nya.
“Alat? Buat apaan?.” Yosan tidak mengerti.
“Iya buat apaan Ra?” Tanya Arash heran.
“Kalian kan tahu kalau gue mau keluar malam nyokap gak bakalan ngijinin. Dia pasti nyangka gue terus ketemuan sama Narita. Dan malam ini gue kangen sama dia, udah lama gue gak mantap-mantap di apartemennya haha.”
“Terus maksud elo jadiin si Berlian alat maksudnya apa?.” Tanya Arash.
“Gue mau bilang sama nyokap kalau gue jalan sama Berlian biar nyokap ngijinin gue keluar.”
“Terus! si Berlian mau elo ajak juga ke apartemennya Narita gitu? Dan lihat elo sama cewek elo mantap-mantap? Yang bener aja luh.” Ujar Yosan.
“Ya gak lah anjir haha… kasian dong nanti dia ***** haha.. jadi gini, pergi sama pulang kita antar dan jemput si Berlian biar nyokap percaya gue pergi sama dia, nah sementara gue lagi sama Narita, elo temenin si Berlian, ajak kemana kek temenin dia, nunggu sampai gue selesai ketemuan sama si Narita!.”
“Eh gak mau gue! Gue juga ada janji sama ABG gue.” Tolak Yosan.
“Ya Berarti elo yang nemenin dia Ar.” Kata Menara pada Arash.
“Apa gue???!.”
“Iya! Kenapa? Apa elo juga ada janji lagi sama tante kriting itu hah?!.”
__ADS_1
“Gak sih kebetulan dia lagi ke luar negeri.”
“Ya udah berarti elo yang jagain si Berlian.”
“Ah gila luh! Males gue jagain tuh bocah.”
“Bentar doang kali Ar, bantu gue please, gue dah kangen sama si Narita, gue udah lama gak ketemuan malam-malam. Ya? Elo bantu gue malam ini aja.” Pinta Menara.
“Ok deh tapi gak gratis ya?.”
“Iya siap!.”
Kemudian mereka berlalu dari tempat itu menuju kelas mereka.
Sementara itu di ruang kelas lain, Berlian nampak tengah di brendel pertanyaan oleh Maurin.
“Eh Berlian! Tadi si Menara ngapain kamu? Apa yang dia lakukan sama ponsel kamu? Ngomong apa aja dia sama kamu? Apa dia ngerjain kamu lagi? Apa dia ngancam-ngancam gitu? Apa dia…”
“Gak ada! Dia cuma seneng aja bikin aku kesal kali.”
“Sumpah! Dia gak ngapa-ngapain kamu?.”
“Gak Maurin… gak ada..”
“Syukur deh kalau gitu.”
Maurin sedikit lega namun Berlin terlihat bingung memikirkan bagaimana nanti malam. Di sisi lain dia takut dengan ancaman Menara yang akan menyebar luaskan hubungan dirinya dengan Jodi, karena Menara pernah melihat Berlian dengan Jodi bersikap mesra pada saat nonton bioskop.
Disisi lain Berlian merasa gak enak kalau harus pergi malam-malam bersama Menara dan ia sama sekali tidak pernah keluar malam dengan orang lain. Akhirnya dia memutuskan untuk mengatakan pada Jodi tentang ancaman Menara itu.
Singkat cerita, jam kulian selesai dan Berlian pun meninggalkan kampus yang telah di jemput Riksa sang asisten menuju kantor Jodi.
Sesampainya di kantor, Berlian langsung masuk ke ruangan Jodi di susul Riksa di belakangnya.
Melihat Berlian datang, Jodi yang tengah duduk di atas kursi kerjanya langsung tersenyum dan berdiri seraya merentangkan kedua tangannya, “come to papa baby.”
Bergegas Berlian menghampiri dan langsung naik ke atas pangkuan Jodi melingkarkan kedua tangannya pada leher dan melingkarkan kedua kakinya pada pinggang lelaki itu, serta langsung meraut bibir kokoh lelaki itu. Tanpa memperdulikan Riksa yang menyaksikan aksi mereka.
Riksa hanya bisa geleng-geleng kepala kemudian berlalu dari ruangan Boss nya menuju ruangan pribadinya.
Sementara Jodi yang menggendong Berlian, membawa tubuh gadis dalam pangkuannya itu ke kamar pribadinya di ruangan itu dengan bibir yang masih berpaut.
Di baringkannya tubuh gadis itu di atas tempat tidur, lalu perlahan ia lepaskan tautan bibirnya. Berlian melepaskan Jas serta melonggarkan dasi yang melilit di leher lelaki itu.
“Kau sudah mulai nakal ya sayang hehe.” Kata Jodi seraya menciumi ceruk leher gadis itu.
“Oh… papa…Hm..” Berlian mendesah pelan sembari meremas kepala lelaki yang berada di atas tubuhnya itu.
“Kau suka sayang?.” Bisik Jodi dengan suara seraknya.
“Mh…” Berlian tak kuasa mengatakan apapun selain menggeliat karena merasakan sensasi yang luar biasa yang baru pertama kali ia rasakan itu.
Sementara Jodi terus menciumi setiap inci leher gadis itu hingga kembali pada bibir mungilnya, bagai singa lapar mereka berdua terus bergumul memainkan bibir dan lidahnya hingga Jodi melepaskan pagutan itu dan keluar dari atas tubuh gadis itu dan menjatuhkan dirinya di sampingnya.
“Kenapa berenti papa?.” Berlian menoleh kesamping dimana Jodi tengah merebah memandangi langit-langit ruangan.
“Sayang.. untuk saat ini sudah dulu ya? Kalau diteruskan bahaya.” Jawabnya.
“Bahaya bagai mana?.”
“Aku takut lupa diri sayang.” Kata Jodi balas memandangi wajah gadis itu.
Kemudian perlahan Berlian baik keatas tubuh Jodi dan duduk diatas perutnya seraya mendekatkan wajahnya.
“Baiklah… oya papa, ada yang ingin aku katakan padamu.”
“Katakan sayang ada apa?.”
“Papa ingat waktu kita terakhir nonton bioskop?.”
“Mh.. kenapa?.”
“Di bioskop itu aku menciumi papa.”
“Iya sayang terus?.”
__ADS_1
“Ternyata di sana juga Menara dan kekasihnya ada dan melihat kita.”
“Oya? Lalu?.”
“Dia selalu mengolok-ngolok aku dan mengatakan kalau aku memiliki skandal dengan papa.”
“Itu karena dia tidak tahu tentang kita sayang.”
“Dia mengancamku papa.”
“Mengancam bagaimana?.”
“Kalau aku tak menuruti kemauannya, dia akan menyebarkan gosip itu ke semua orang di kampus.”
Mendengar semua itu, Jodi bangkit dari pembaringannya dengan menopang kan kedua tangannya di atas tempat tidur.
“Macam-macam saja dia! Coba saja kalau berani melakukan sesuatu.”
“Bagaimana dong papa?.”
“Kamu jangan takut sayang, ada papa yang akan menghentikan kelakuannya.”
“Terus, nanti malam dia minta aku untuk mengantar dia papa.”
“Kemana?.” Jodi sedikit terkejut.
“Dia mau menemui kekasihnya, sepertinya mamanya melarang dia bertemu dengan kekasihnya itu, jadi dia akan berasalan pada mamanya akan pergi denganku agar dia dapat ijin dari mamanya.”
“Oh jadi dia sudah berani memperalat kamu sayang?.” Jodi mulai kesal dengan kelakuan Menara.
“Iya papa, kalau aku gak mau bantu dia, dia akan menyebarkan skandal kita.”
“Sialan tuh anak!.” Jodi mengeratkan giginya, lalu diam memikirkan sesuatu, dan setelah beberapa waktu berpikir, kemudian, “Ya sudah.. kamu ikuti saja kemauan dia.”
“Maksud papa, nanti malam aku ikut sama dia?.”
“Iya sayang… kamu jangan takut papa akan mengikuti kalian.”
“Apa papa marah padaku?.”
“Hehe kenapa kau bicara begitu sayang?.”
“Karena hubungan kita diketahui orang lain.”
“Tidak sayang… Menara Tahu kan karena dia melihat kita, bukan kamu yang bilang sama dia.”
“Jadi papa tidak marah padaku?.”
“Tentu saja tidak. Aku tidak akan pernah marah padamu sayang.”
“Makasih papa.” Kembali Berlian melayangkan serangan bibirnya pada bibir lelaki itu. Kemudian, “Kenapa papa tidak membalas?.” Tanya Berlian karena Jodi hanya diam saja.
“Hehe.. kau ini lucu sayang.. kau tahu? Aku sedang berpikir. Aku masih tidak percaya dengan semua ini. Dulu kau adalah bayi kecil yang selalu tidur diatas pelukanku. Kini bayi mungil itu menjadi kekasihku. Aku tidak bisa bayangkan seandainya ayah dan ibumu tahu.. seperti apa marahnya padaku.” Kata Jodi seraya membelai rambut gadis itu yang terbenam di atas tubuhnya.
“Kalau ayah dan ibu marah padamu, aku akan membelamu.”
“Betul kah? Hehe… Lalu apa yang akan kau katakan pada mereka?.”
“Aku akan katakan pada mereka, aku sangat mencintaimu, dan siapa pun tak akan ada yang dapat memisahkan kita.”
“Hehe.. bagaimana kalau ayahmu membunuhku?.”
“Itu tidak akan terjadi.. karena aku tidak akan pernah rela ayah lakukan itu padamu.”
“Hehe sebesar itu kah cintamu padaku sayang?”
“Ya… aku tidak bisa bayangkan kalau kau pergi dari hidupku. Apa kau mau berjanji padaku? Kau tak akan Pernah meninggalkanku?.”
“Ya sayang… aku janji tidak akan meninggalkanmu sampai kapan pun.” Ucap Jodi seraya mengecup pucuk kepala gadis itu.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya sayang😍😍
Makasih🥰🥰
__ADS_1