Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Aku akan mencarimu!


__ADS_3

Langit gelap terlihat mulai meremang kala waktu subuh tiba. Kendaraan yang membawa Berlian dan putranya baru saja sampai di tempat tujuan.


Jodi membawa istri dan putranya keluar dari dalam mobil.


Setelah keluar dari dalam mobil Berlian seperti baru pertama kali menginjakkan kakinya di tempat itu.


Ia memandang takjub rumah bergaya etnik yang pernah dihadiahkan Jodi kepadanya pada saat usianya menginjak usia 18 tahun pada tahun lalu.


“Ini kah rumah kita?.” Tanya Berlian kepada sang suami.


“Iya sayang. Ayo kita masuk, mereka pasti sudah menunggu kita di dalam.” Ajak suami pada sang istri seraya menggandeng tangannya.


Sesampainya pada pintu utama, Jodi membuka pintu itu.


Nampak dalam pandangannya kedua orang tuanya, Delima dan opa oma Berlian berdiri menyambut kedatangan mereka dengan senyuman yang menghiasi bibir mereka masing-masing.


Mereka kompak menatap haru pada sosok putri yang telah lama hilang dengan remangan air mata yang menghalangi pandangan mereka.


Bergegas Eva dan Ferry mendekat kearah Jodi dan meraih bayi dalam gendongan Jodi. Lalu menatap nanar Berlian yang nampak tak mengenali mereka.


Kemudian Budi dan Irma Juga Delima menghampiri Berlian dengan air mata yang tak kuasa jatuh karena bahagia telah menyaksikan putrinya yang hilang telah kembali.


“Pa ma, saya akan membawa Berlian ke kamar dulu. Dia perlu istirahat. Nanti kita bicara kalau dia sudah cukup istirahat.” Kata Jodi seraya membawa sang istri masuk kedalam kamar di rumah itu pada lantai dua.


Sementara itu mereka yang sudah menanti kedatangan bayi yang mereka tunggu-tunggu mengerubungi bayi itu yang tengah di panggu oleh Eva ibunya Jodi.


“Dia tampan sekali mirip papanya.” Lirih Eva yang tak kuasa menahan air matanya.


“Iya. Sayang sekali kita tak dapat menemaninya saat anak ini lahir.” Di susul ucap haru Irma.


“Bersyukurlah kau masih dapat kembali pulang putra kesayangan.” Sambung Delima seraya mengelus kepala sang bayi yang tengah terlelap dalam pangkuan Eva.


Sementara Budi dan Ferry hanya dapat menatap bayi lelaki yang kini berada di hadapan mereka. Seakan tak percaya dengan kehadirannya, mulut mereka terkunci bagai terhipnotis dengan kedatangan bayi mungil itu.


“Cucuku tidak mengenali kita, aku sedih melihat dia seperti melihat orang asing pada kita.” Ucap haru Budi.


“Iya aku juga merasakan hal yang sama. Kapan dia akan mengenali kita lagi ya Bud?.” Sambung Ferry.


“Entahlah… semoga saja secepatnya dia pulih.”


“Alhamdulillah walau pun demikian putriku dapat kembali pulang. Itu yang lebih penting. Mengenai ingatannya kita obati ia sama-sama.” Ucap Delima yang kemudian meraih bayi mungil dari pangkuan Eva.


“Tampan sekali kau sayang… kakakmu pasti bahagia mendapatkan adik yang lucu sepertimu.” Sambung Delima.


“Dia sehat ya? Benar-benar mirip Jodi.” Ujar Irma.


“Ya mereka mewarisi ketampanan ku sebagai leluhur mereka.” Celoteh Ferry mencairkan suasana.


“Ish… tidak terlepas dari ketampanan aku juga kakek buyutnya.” Sambung Budi.


“Eh lihat dia tersenyum… dan senyumannya mirip seperti senyumanku.” Celoteh Delima.


“Ah sudah-sudah. Yang jelas wajah tampan anak ini perpaduan dari wajah kita semua sebagai leluhurnya.” Kata Irma.


“Iya. Delima, bawalah anak itu untuk istirahat bersama Miriam, kasihan dia harus istirahat.” Ujar Eva.


“Baiklah bu, saya permisi dulu ya mau menidurkan dia di kamar.” Kata Delima seraya berlalu menuju kamar, dimana Miriam tengah terlelap tidur di dalamnya.


Sementara itu di dalam kamar lain nampak Berlian yang selesai membersihkan diri telah memakai pakaian santainya dan terlihat naik keatas tempat tidur.


Jodi yang tengah duduk di atas sofa memperhatikan Berlian yang membaringkan tubuhnya. Kemudian perlahan Jodi mendekat dan duduk di sampingnya.


“Istirahatlah. Nanti saat kau sudah segar kita bicara bersama keluarga, kau harus mengenal mereka.” Kata Jodi seraya membelai wajah cantik itu.


“Lalu sekarang kau mau kemana?.”


“Aku akan menemui mereka dulu.”


“Bukankah kau juga perlu istirahat?.”


“Aku akan istirahat setelah berbicara dengan mereka. Kenapa? Kau takut sendirian di kamar ini?.” Tanya Jodi.

__ADS_1


Terlihat Berlian menganggukan kepalanya.


“Jangan takut. Rumah ini tempat teraman untuk kita sayang. Aku akan kembali setelah berbicara dengan mereka. Aku hanya sebentar saja berbicara pada mereka, gak apa-apa ya?.” Kata Jodi seraya mengecup wajah cantik itu.


“Aku masih merasa asing ditempat ini.”


“Lama-lama kau akan terbiasa sayang. Istirahatlah, sebentar aku akan kembali.” Ucap Jodi mengecup kembali kemudian berlalu keluar dari kamar itu.


Jodi menghampiri kedua orang tuanya yang tengah berbincang pada ruang keluarga dengan opa oma Berlian. Kemudian duduk di tengah-tengah mereka.


“Mana putraku?.” Tanya Jodi pada mereka.


“Delima membawanya ke kamar untuk istirahat bersama Miriam.” Jawab Budi.


“Oh… ya dia harus istirahat, walau pun tadi di perjalanan dia tidur nyenyak tapi tetap saja istirahat di jalan kurang nyaman.” Jelas Jodi.


“Bagaimana istrimu?.” Tanya Ferry.


“Dia sedang istirahat, nanti setelah segar aku akan membawa dia berkumpul dengan kita, karena ingatannya belum pulih, jadi dia harus mengenal anggota keluarganya.”


“Apa disana sudah dibawa ke dokter?.”


“Belum. Si Alfredo sengaja tidak mengobatinya agar istriku melupakan kita selamanya.”


“Dasar dokter gila! Apa maksudnya dari semua itu!.” Geram Budi.


“Namanya juga orang gila pak. Apa saja dia bisa lakukan.”


“Apa disana dia menyakiti cucuku dan cicitku?.”


“Tidak pak. Dia memperlakukannya dengan baik. Karena Berlian patuh padanya. Gak tahu kalau Berlian mencoba melawannya, pasti dia sudah melakukan hal yang tidak-tidak.”


“Syukurlah kalau begitu. Yang kita khawatirkan dia melakukan hal yang menyakiti cucu dan cicitku. Aku benar-benar tidak dapat tidur nyenyak.”


“Ya. Mimpi kami setiap malam selalu dihantui dengan mimpi buruk. Perasaan kami tidak pernah tenang meskipun kau menelepon setiap hari mengabari kami mengenai keadaan mereka.” Sambung Irma.


“Alhamdulillah mereka dapat kembali pulang dengan selamat.” Ujar Eva.


“Ya kami ikut saja bagaimana baiknya Jod.” Balas Budi.


“Lagi pula aku curiga, Alfredo akan mendatangi kita ke rumah yang di Jakarta. Jadi kemungkinan, besok saya dan tim akan berjaga-jaga disana. Saya juga akan menyuruh sebagian tim untuk berjaga-jaga di kantor bapak. Bisa saja kan? Alfredo juga datang menemui bapak?.” Kata Jodi pada Budi.


“Ya Jod. Kita hadapi orang gila itu sama-sama.” Ujar Budi.


“Untuk sementara, mama sama papa disini dulu temani Berlian ya ma pa?.” Kata Jodi pada orang tua nya.


“Iya Jod, mama sama papa akan jaga anak dan Istrimu disini.” Jawab Ferry.


“Saya titip mereka dulu untuk sementara, nanti jika kondisinya sudah kondusif kita atur lagi dimana Berlian akan tinggal.”


“Iya Jod. Yang penting untuk sekarang, biarkan dia aman dulu disini. Tidak banyak yang tahu kan tempat ini? Termasuk si Alfredo itu?.” Ujar Eva.


“Tidak ma, makanya aku bawa dia kesini juga biar dia tenang dan disini tidak akan ada yang mengganggu dia.”


“Baiklah kalau begitu. Kau istirahat sana, kau juga pasti capek.” Titah Ferry.


“Oya? Dimana Riksa dan Faisal ya?.” Jodi baru sadar akan keberadaan asistennya itu.


“Mereka tadi berada di halaman belakang bersama beberapa orang tim lagi ngopi.”


“Oh ya sudah, aku menemui mereka dulu ya.” Kata Jodi seraya berlalu menuju halaman belakang.


Sesampainya di halaman belakang, Jodi melihat penampakan asisten dan tim nya tengah menikmati kopi dalam menyambut pagi mereka.


“Kalian disini rupanya.” Kata Jodi seraya duduk di tengah-tengah mereka.


“Iya Boss kami lagi menikmati kopi, mau Boss?.” Balas Riksa.


“Gak Rik, gue mau istirahat dulu sebentar. Oya? Kalian kalau mau istirahat di paviliun aja ya?.”


“Siap Boss tenang aja kalau kita mau istirahat, nanti kita ke paviliun.”

__ADS_1


“Ya sudah, gue tinggal dulu ya?.” Kata Jodi seraya seraya berdiri dan berlalu meninggalkan tim nya menuju kamarnya.


Begitu hangat suasana di rumah perkebunan itu, pulangnya putri yang hilang, telah kembali membawa senyuman kebahagiaan bagi anggota keluarga mereka.


..................


Sementara itu nun jauh disana tepatnya di kota P. Terlihat Alfredo begitu sibuk, sampai pagi dirinya berada di dalam bunker meracik obat-obatan yang ia buat sendiri, sampai dia tidak sadar bahwa Jodi semalam telah menyelamatkan istri dan putranya di rumah putih itu.


Alfredo terlihat begitu lelah. Ia keluar dari dalam bunker itu dengan masih memakai pakaian APD nya berjalan menuju kamarnya.


Di dalam kamar ia membuka APD nya juga pakaiannya dan berlalu ke kamar mandi hendak membersihkan diri.


Setelah membersihkan diri lalu ia berpakaian rapi dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur untuk beristirahat sejenak karena rasa lelah akibat sepanjang malam berada di bunker meracik obat-obatan.


Ia langsung terlelap karena rasa kantuk benar-benar sudah menyerangnya.


Entah sudah berapa lama ia terlelap. Hingga jam menunjukkan pukul 10, ia terjaga dan keluar dari kamarnya.


Ia memandangi sekitaran ruangan yang terlihat sepi, biasanya ia selalu mendengar suara Berlian dan putranya tapi hari ini tidak.


“Kemana mereka?.” Gumam Alfredo yang kemudian berjalan menuju ruangan lain namun tak dapat ia temukan juga penampakan orang yang ia cari.


Lalu ia berlalu menuju kamar Berlian dan mengetuk pintu seraya memanggil-manggil, namun tak ada jawaban dari dalam kamar tersebut.


Alfredo terlihat mulai panik dan tegang. Ia semakin mengencangkan suaranya dan ketukan pada pintu kamar itu.


“Lolita… Lolita… apa kamu di dalam?… Lolita!!… Lolita!.” Tak jua ia mendapatkan jawaban dari dalam sana.


Terlihat Alfredo semakin panik dan wajahnya mulai menyiratkan kekhawatiran.


Akhirnya ia berusaha membuka paksa pintu kamar itu dengan mendobraknya.


Setelah pintu itu berhasil ia dobrak, perlahan ia masuk kedalam kamar itu, di dalam kamar nampak terlihat sepi. Alfredo memanggil-manggil nama Berlian dengan masuk kedalam kamar mandinya namun tak juga ia temukan wanita itu beserta bayinya.


Alfredo sudah mulai curiga kalau Berlian kabur dari rumah itu membawa putranya, apa lagi setelah ia melihat penampakan pintu balkon yang terbuka lebar.


Dengan sorot mata pembunuhnya ia mengeratkan giginya. “Kau sudah mulai berani denganku Lolita! Kau benar-benar sudah mengkhianati aku! Aku akan menemukanmu sampai dapat, lihat saja! Kau tak akan cukup untuk dapat berlari jauh Lolita.” Geram Alfredo yang kemudian berlari keluar dari dalam rumah menuju kehalaman depan dengan memanggil-manggil nama Lolita seperti orang kesetanan.


Ia berteriak-teriak mengelilingi rumah dengan amarahnya yang membuncah. Melolong bak gonggongan anjing yang mencari mangsanya.


Untuk beberapa waktu ia memanggil-manggil nama Lolita di sekitar rumahnya hingga ia merasa lelah. Dengan nafas yang tersengal dari dalam dadanya ia terdiam mengeratkan giginya, “Kau tidak akan pernah bisa lari Lolita! Aku akan mencarimu sampai aku mendapatkanmu!.” Teriaknya, kemudian ia masuk kedalam rumahnya mengambil kunci mobil, setelah mendapatkan kuncinya ia memacu kendaraan dalam kecepatan yang sangat tinggi.


Ia mengira Berlian kabur dengan putranya padahal kenyataannya adalah bahwa Berlian telah di bawa pulang oleh suaminya.


Alfredo berniat mencari Berlian dengan berkeliling kota, di dalam pikirannya, Berlian kabur sendiri dan bersembunyi di dalam kota tersebut dan tidak mungkin jauh-jauh dari sekitaran kota itu. Ia sama sekali tidak mengira kalau Berlian sebenarnya telah di selamatkan oleh Jodi dan timnya.


“Apa yang kau lakukan Lolita? Kenapa kau bisa berubah secepat itu! Kau sudah mulai melawanku! Aku pasti akan menemukanmu Lolita. Aku akan mengurungmu kembali Lolita! Tidak mungkin ingatanmu pulih secepat ini!.” Geram Alfredo sembari memacu kendaraannya dengan membabi buta hingga hampir saja ia menabrak pengendara motor di depannya.


Alfredo tak dapat mengendalikan dirinya. Amarah telah menguasai dirinya. Terlihat dalam penampakannya jiwa-jiwa psikopatnya muncul kala itu. Sorot mata tajam yang memerah dengan bibir yang terus bergumam tak jelas mengiringi gerak geriknya.


Entah apa yang akan ia lakukan seandainya pada saat itu ia menemukan Berlian dan putranya. Tak dapat dibayangkan apa yang akan ia perbuat kala amarah sudah mengukung jiwanya.


Sungguh penampilannya sangat mengerikan saat itu. Dengan sorot mata merahnya pandangannya terus mengitari sekitar, berharap ia dapat menemukan sosok yang ia cari. Namun semakin jauh kendaraannya membawa dirinya, semakin tak dapat ia temukan wanita yang di carinya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kediamannya.


Ditempat lain, nampak Andre temannya Alfredo tengah menerima panggilan masuk pada ponselnya dari Faisal.


Andre yang kala itu akan berangkat ke rumah sakit tiba-tiba saja menerima panggilan masuk dari Faisal. Faisal memberi kabar padanya bahwa istri klien dan putranya telah di bawa pulang tadi malam tanpa sepengetahuan Alfredo.


Faisal meminta pada Andre untuk memperhatikan tingkah laku Alfredo selepas ia tahu Berlian dan putranya telah meninggalkan rumah itu. Dan Faisal meminta agar Andre memberitahu mereka sepak terjang Alfredo selanjutnya agar mereka dapat berjaga-jaga.


Andre menyanggupi akan hal itu karena ia telah membuat kesepakatan dengan Faisal akan bekerja sama dalam menghentikan kejahatan Alfredo. Dan sebisa mungkin Andre tetap berpura-pura seolah ia tidak tahu apa-apa dengan semua yang terjadi.


Andre kini tengah bersiap, kalau-kalau Alfredo akan menceritakan padanya kejadian yang tengah ia alami itu. Tentunya Andre sudah mempersiapkan jawaban dan reaksi seperti apa yang nanti akan ia perlihatkan pada Alfredo, agar dokter psikopat itu tak curiga padanya, kalau sebenarnya Andre telah bekerja sama dengan pihak Jodi.


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan🙏🏻


Dan tetap semangat dalam membaca.💪🏻


Terima kasih🥰

__ADS_1


__ADS_2