
Di suatu hari, terlihat Arash tengah menunggu seseorang di apartemennya.
Tak lama seseorang itu datang dan duduk pada sofa bersama Arash.
Ternyata orang itu adalah seorang hacker yang pernah Arash bayar untuk meretas CCTV food court sebuah mall tempat kejadian Berlian meminum racun itu.
“Ada kerjaan lagi Boss?.”
“Iya. Gue minta sekarang elo retas CCTV salah satu rumah sakit besar ini.” Kata Arash sembari menunjukan beberapa lembar kertas. Kemudian seseorang itu melihat pada lembaran kertas itu.
Terlihat olehnya beberapa denah bangunan, tentunya denah rumah sakit yang akan menjadi target mereka.
“Ok siap!.”
“Tapi ada kerjaan satu lagi sebelum elo ngeretas CCTV rumah sakit itu.”
“Kerjaan apa Boss?.”
“Gue minta elo temenin gue besok kesana, kita akan menyamar jadi petugas rumah sakit untuk masuk kesalah satu ruangan President Suite.”
“Berarti bayarannya di gandakan dong hehe.”
“Itu gampang… gue akan bayar elo dua kali lipat.”
“Hehe… siap kalau begitu. Jam berapa kita akan ke rumah sakit itu Boss?.”
“Pokoknya elo pagi-pagi harus udah ada di sini, nanti kita berangkat bareng kesana. Sekarang elo survey dulu ke rumah sakit itu.” Titah Arash.
“Ok siap kalau begitu, sekarang juga gue akan pergi kesana Boss.”
“Bagus! Nih biar elo semangat, gue kasih DP.” Kata Arash memberikan satu gepok uang pecahan 100 ribuan.
“Haha… terima kasih Boss, senang berbisnis dengan anda haha.” Kata orang itu seraya mengecup uang itu dan berlalu pergi.
Sementara Arash kembali duduk di depan laptopnya, sepertinya ia tengah mencuri data nama dokter yang menangani Berlian di rumah sakit tersebut dan data-data petugas kesehatan di sana serta data-data pasien.
............
Ditempat lain, disebuah ruangan President Suite rumah sakit, nampak terlihat Jodi tengah membersihkan tubuh istrinya dengan wash lap, dengan penuh kelembutan ia membersihkan setiap inci tubuh itu.
“Sayang… aku senang dapat melakukan semua ini untukmu. Aku tidak ingin orang lain atau perawat-perawat itu melakukannya. Dan aku kira kau pun lebih senang aku yang melakukannya kan? Hehe… cepat lah bangun sayang… bukan kah kau sudah berjanji padaku akan memberikan banyak anak padaku? Aku yakin kau akan memenuhi janjimu itu.” Kata Jodi seraya mengeringkan tubuh istrinya itu dengan handuk.
Lalu ia memakaikan pakaian dalamnya serta pakaian pasien pada tubuh istrinya itu. Setelah selesai ia selimuti tubuh itu dan mengecup bibirnya.
Meskipun beberapa selang infus bertengger pada tubuh Berlian, karena jodi sudah terbiasa setiap hari memakaikan pakaian pada istrinya itu, jadi ia dapat melakukannya dengan mudah tanpa harus meminta bantuan perawat disana.
Setelah selesai membersihkan istrinya kemudian ia duduk pada kursi tidak jauh dengan tempat istrinya berbaring. Lalu ia menyalakan laptopnya dan mulai dengan pekerjaannya.
.............
Keesokan harinya, sesuai dengan waktu yang telah di rencanakan, pagi-pagi sekali hacker itu sudah ada di apartemen Arash, dan terlihat mereka tengah menyusun strategi.
“Hari ini, gue sama elo akan menyamar sebagai petugas cleaning service di rumah sakit tersebut, saat gue masuk kedalam sebuah ruangan yang menjadi target kita, elo berjaga-jaga di luar. Tadinya gue mau menyamar sebagai dokter, cuma hari ini sepertinya dokter sudah visit tadi subuh, jadi kalau tiba-tiba gue datang takutnya mereka curiga.” Kata Arash pada hacker itu.
“Ok siap Boss. Kalau gue sih sesuai perintah boss aja hehe.”
“Ya udah. Ayo kita berangkat sekarang.”
Kemudian mereka meninggalkan apartemen menuju tempat tujuan mereka.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Arash memang sudah mempersiapkan segalanya. Di dalam mobil ia dan hacker tersebut berganti pakaian sesuai dengan pakaian cleaning service rumah sakit tersebut, ia memakai topi dan masker hingga wajahnya tak di kenali.
Ia keluar dari dalam mobilnya, dan berlalu menuju ruangan yang di tuju yaitu ruangan Berlian, dia memang sudah mengetahui Berlian berada di ruangan itu, ia mengetahui dari hasil mencuri data-data rumah sakit tersebut.
Dari kejauhan ia memantau, terlihat yang menunggu Berlian adalah seorang wanita, sudah dapat di pastikan bahwa itu adalah Delima.
Kemudian ia mendekat kearah ruangan target dengan membawa alat pel dan ember yang sudah ia persiapkan, sementara temannya hacker itu berada 15 meter jaraknya dari ruangan tersebut sembari mengamati sekitar.
“Cleaning service bu.” Kata Arash pada Delima.
“Oh iya silahkan.” Delima mempersilahkan Arash masuk.
Bergemuruh hati Arash kala ia memasuki ruangan itu, sekilas pandangannya melihat ke arah kamar perawatan, dilihatnya tubuh perempuan yang ia cintai tergolek lemah.
Sembari Arash mengepel ruangan yang memisahkan kamar perawatan, ia melihat melalui kaca penampakan Berlian, ia pandangi wajah dan tubuh itu dengan perasaan sesalnya.
“Maafkan aku Berlian, kau jadi begini karena aku. Aku tidak pernah menduga kalau kau akan meminum racun itu.” Bathin Arash.
Kemudian perlahan ia masuk kedalam kamar itu, sementara Delima tengah duduk diatas sofa dengan laptop di hadapannya, jadi ia tidak begitu fokus memperhatikan cleaning service itu.
Arash yang sudah berada di dalam kamar perawatan, kini lebih dekat dan lebih leluasa memandangi Berlian, terus ia pandangi wajah yang pucat itu sembari sesekali ia menggerak-gerakan gagang pel.
“Semoga kau baik-baik saja Berlian, aku harap kau tidak akan membenciku, seandainya kau tahu bahwa racun itu berasal dariku.” Bathin Arash kembali.
Karena ia takut di curigai, akhirnya ia bergegas menyelesaikan tugas cleaning service nya. Sebelum ia keluar dari kamar itu, ia pandangi leket wajah Barlian, kemudian berlalu,
“Sudah selesai bu.” Kata Arash pada Delima.
“Oh iya mas makasih ya?. Ini…” Delima hendak memberikan selembar uang kertas namun Arash menolaknya, tetapi Delima memaksanya, akhirnya Arash menerimanya dan bergegas pergi meninggalkan ruangan President Suite itu.
Di luar ruangan, Arash berpapasan dengan cleaning service yang akan membersihkan ruangan Berlian, kemudian Arash menariknya,
“Gue udah Bersihin ruangan ini, jadi elu gak usah kesitu.” Tunjuk Arash pada ruangan Berlian.
“Gue temen elo! Nih duit buat elo.” Arash memberikan uang pada cleaning service tersebut, uang yang ia berikan itu uang dari Delima tadi ditambah beberapa lembar lagi uang miliknya yang ia rogoh dari kantong celananya, tentu saja cleaning service itu merasa senang.
“Beneran nih bang? Duit sebanyak ini buat gue?.”
“Iya…. udah elo pergi sana, tugas elo udah gue beresin, tapi elo jangan bilang-bilang ya?.”
“Siap bang. Makasih ya bang. Sering-sering aja kesini hehe.” Kata cleaning service itu seraya mencium 5 lembar uang pecahan 100 ribuan. Kemudian berlalu dari tempat itu.
Arash bergegas pergi dan memberikan kode pada hacker itu dengan tangannya untuk mengikuti dirinya meninggalkan rumah sakit itu.
Sesampainya di parkiran rumah sakit, ia menuju mobilnya dan membuka atribut cleaning service itu, lalu ia pun memacu kendaraannya meninggalkan rumah sakit itu.
Selang lima menit, terlihat mobil Jodi memasuki halaman parkir rumah sakit.
Setelah memarkirkan mobilnya, ia turun bersama ayah dan ibunya dari mobil tersebut. Kemudian mereka berlalu menuju tempat Berlian di rawat.
Singkat cerita sampailah Jodi dan kedua orang tuanya di ruangan tempat Berlian di rawat. Terlihat Delima tengah duduk di depan laptopnya pada sofa, ayah dan ibu nya Jodi menyalami Delima, sementara Jodi langsung masuk kedalam kamar menemui istrinya lantas langsung mencium keningnya.
“Sayang… tadi aku jemput papa sama mama dulu di rumah karena Riksa lagi ke markas. Kamu gak apa-apa kan ditinggal sebentar?.” Kata Jodi pada Berlian. Lalu terlihat Eva dan Ferry masuk ke dalam kamar.
“Sampai kapan ya menantuku seperti ini?.” Lirih Eva sembari mendekati Berlian dan memegangi jari tangannya.
“Mudah-Mudahan dia cepat bangun. Kita berdoa saja ma.” Kata Ferry.
“Kamu yang sabar ya Jod? Mama kasihan lihat kamu.” Kata Eva.
__ADS_1
“Mama gak usah khawatir, aku baik-baik saja ma, mama doakan saja agar kita mampu melewati masalah ini. Oya? Bukannya mama dan papa mau melihat Miriam? Biar Delima yang antar.” Kata Jodi.
“Ayo pak… bu… kita keruang perawatan bayi.” Kata Delima mengajak Eva dan Ferry.
Lalu mereka bertiga pun berlalu menuju ruang perawatan bayi. Tinggalkan Jodi di kamar Berlian.
“Sayang… aku tidak tahu apa yang kau rasakan. Aku harap kau tidak merasakan sakit dalam tidur panjangmu ini. Kau tahu? Kau tetap terlihat cantik meski kau tetap tidur seperti ini. Aku akan menunggumu sampai kapan pun hingga kau terjaga.” Kata Jodi yang terus membelai rambut istrinya seraya menciumi punggung tangannya.
..............
Waktu terus berlalu hingga bulan berganti. Sembilan bulan pun telah berlalu. Artinya kini Berlian koma sudah menginjak 10 bulan. Begitu pun dengan putrinya yang kini sudah berusia 10 bulan.
Berlian masih di rawat intensif di rumah sakit tersebut, sementara putrinya telah tumbuh menjadi anak yang sehat.
Hari itu, seperti biasa Jodi selalu membersihkan Tubuh Berlian tiap pagi, setelah Berlian sudah rapi, Jodi mengambil Miriam yang di gendong Delima untuk di dekatkan dengan ibunya.
Miriam di letakan di samping tubuh Berlian dan Jodi duduk memeganginya. Tanpa di duga perlahan mata Berlian terbuka sedikit demi sedikit sementara Jodi tidak menyadarinya. Ia tengah fokus pada Miriam putrinya yang terus tertawa lucu melihat wajah ibunya.
Terlihat dari sudut matanya Berlian meneteskan air mata kala tatapannya terus berpandangan dengan putrinya. Ingin rasanya ia berkata namun lidahnya kelu. Ingin rasanya tangan lemahnya membelai putrinya itu namun tangan itu kaku.
‘Ya Tuhan… apakah aku masih hidup? Tapi kenapa lidahku seakan kelu dan tubuhku tidak dapat bergerak….. lalu, siapa putri kecil itu? Apakah dia putriku? Hiks… apa aku sedang bermimpi?… papa tolong lihatlah aku… apa yang telah terjadi padaku?.’ Berlian membathin.
“Sayang senang ya dekat mama? Ayo coba panggil mama… mamamu masih tidur sayang… kita tunggu sampai mama terbangun nanti ya?.” Kata Jodi pada putrinya.
‘Ya benar… ternyata putri kecil itu adalah anakku hiks… ya Tuhan. Ternyata aku telah melahirkan putriku. Aku ingin memeluknya… aku ingin menciumnya… tapi kenapa aku tidak bisa menggerakkan lidahku dan tubuhku hiks… papa… lihat aku….’ Jerit Bathin Berlian.
Tiba-tiba pada saat Jodi akan menciumkan putrinya pada pipi istrinya, betapa terkejutnya ia melihat mata istrinya terbuka dengan deraian air mata.
Sejenak Jodi terdiam memandangi mata yang saling bertatapan itu,
“Oh baby…. Benarkah ini nyata? Kau telah bangun sayang?.” Kata Jodi yang tak dapat menahan harunya.
Dengan cepat ia memeluk dan menciumi wajah istrinya itu, sembari berteriak. “Delimaaaa… cepat panggilkan dokter!!.”
Karena terkejut mendengar Jodi berteriak, Delima masuk ke dalam kamar perawatan itu, betapa terkejutnya ia saat melihat Berlian sudah siuman.
“Ya Tuhan… putriku sudah bangun…” Ucap Delima dengan air mata yang mengalir.
“Cepat panggil dokter!.” Kata Jodi yang terus mendekap wajah istrinya dengan tangan kanan memeluk putrinya.
Dengan cepat Delima memijat tombol, tak lama salah seorang perawat masuk,
“Perawat tolong panggilkan dokter!.” Kata Delima.
Bergegas perawat itu berlalu meninggalkan mereka yang tengah terharu memeluk Putri tidur yang telah terjaga dari tidur panjangnya.
Orang tua Jodi dan opa oma nya Berlian yang baru datang pun begitu terharu menyaksikan Berlian yang sudah siuman.
Tak lama dokter bersama dua orang perawat masuk dan langsung memeriksa Berlian.
Cukup lama dokter memeriksa Berlian, namun dokter itu sempat terlihat sedikit terkejut saat ia memeriksa bagian perut Berlian berkali-kali dan berbisik pada salah seorang perawat, sepertinya dokter itu menyuruh perawat untuk mengambil sesuatu.
Jodi menangkap wajah dokter yang terkejut tadi, lantas bertanya, “Ada apa dok?.”
Dokter itu terdiam dan memandangi Jodi dengan leket, kemudian berkata, “Saya mendiagnosa istri anda tengah berbadan dua!.”
“APAAAA😳😳!!!!.” Semua yang berada di ruangan itu terkejut.
❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya gais😍
Terima kasih😘