Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Dia telah pergi


__ADS_3

Hari bahagia adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh setiap insan yang telah berencana, hari dimana seharusnya sepasang insan yang saling mencintai untuk pertautan tali pertunangan di sambut dengan rona kebahagiaan.


Namun tidak dengan Berlian yang merasa bahwa hari pertunangannya adalah hari tersedih dalam hidupnya, bagaimana ia tidak bahagia karena ia bertunangan bukan dengan kekasih hatinya.


Dan hari pertunangan itu kini telah tiba. Dimana segala persiapan telah rampung dilaksanakan. Dan pagi itu kedua keluarga telah siap dengan pakaian terbaiknya.


Nampak anggota keluarga inti telah siap menyambut kedatangan pasangan pria yang tengah dalam perjalanan menuju hotel tersebut. Dan momen itu di gunakan Jodi untuk menyelinap masuk ke dalam kamar Berlian.


Ia berjalan sedikit cepat menuju salah satu kamar hotel. dimana kamar itu tempat Berlian mempersiapkan dirinya. Setelah sampai di depan pintu, perlahan ia buka pintu hotel itu, dan nampak dalam pandangannya sosok gadis tercintanya berdiri pada balkon kamar hotel itu membelakanginya.


Perlahan Jodi mendekati tubuh yang telah di balut gaun indah itu, hanya berjarak tiga meter ia menghentikan langkah di belakang gadis itu yang tengah memandangi hamparan gedung-gedung bertingkat.


“Baby…” Suara itu keluar dari bibir kokoh yang sedikit bergetar memandang nanar gadis tercantiknya, dengan cepat gadis itu menoleh melemparkan pandangannya kearah suara yang memanggilnya.


“Hiks…hiks…papa.” Menetes air mata di sudut pipinya yang merah.


Perlahan Jodi mendekat dan menghapus air mata itu.


“Please jangan menangis sayang… nanti kecantikanmu berkurang… .”


“Papa… hiks… aku… aku…” Belum sempat gadis itu melanjutkan kata-katanya, Jodi membungkam mulut manis itu dengan bibir kokohnya.


Sesaat bibir mereka saling berpaut di iringi air mata yang berderai membasahi pipi gadis itu.


“Jangan katakan apapun sayang… kau sudah janji padaku akan menungguku.. jika saat ini kau tengah terluka, aku pun sama sayang.. namun dengarkanlah kata-kataku, jika semuanya ingin berjalan dengan lancar, patuh lah. Sebentar lagi rombongan keluarga Menara akan sampai bersiaplah sayang.” Kata Jodi seraya mencium kembali gadisnya lalu meninggalkannya tanpa melihat kembali kebelakang, sembari berjalan terlihat ia menyeka air mata yang menetes pada pipi kanannya, pada saat ia mencapai pintu kamar, pintu itu di buka dari luar dan masuk lah Maurin teman Berlian.


“Maurin, tolong temani Berlian dan rapikan kembali riasannya.” Kata Jodi seraya keluar dari kamar itu. Sementara Maurin bergegas mendekat ke arah Berlian dan membawanya duduk di ujung tempat tidur seraya memeluknya.


Sementara itu di ballroom hotel mewah itu, satu persatu tamu telah berdatangan, menunggu acara pertunangan itu di mulai.


Sementara Jodi sudah kembali ketempat tersebut dengan menyembunyikan perasaannya seolah ia bahagia seperti keluarga lainnya yang hadir disana.


Terlihat opa dan omanya Berlian juga Delima tengah menyambut tamu-tamu yang datang. Terlihat pula beberapa saudara terdekat dan sahabat dari keluarga tersebut berjajar di antara mereka.


Ruangan yang luas itu selain di hiasi dengan bunga-bunga potong yang indah juga dihiasi senyuman bahagia dari semua yang telah hadir di sana.


Tak menunggu waktu lama, terlihat keluarga Menara bersama sanak saudaranya memasuki ballroom hotel tersebut disambut meriah oleh keluarga Berlian.


Semua berdiri menyambut kedatangan calon tunangan pria, deretan kursi di sebelah kanan depan yang di sediakan untuk keluarga dari pihak pria saling berhadapan dengan deretan kursi yang berjajar di depan sebelah kiri.


Kursi yang berjajar itu lambat laut telah terisi oleh pihak keluarga pria. Nampak paling depan Menara duduk dengan tampannya yang di apit oleh kedua orang tuanya.


Sementara kursi di seberangnya tepat kursi paling tengah masih kosong karena Berlian masih berada di kamarnya.

__ADS_1


Setelah panitia acara mengisyaratkan acara pertunangan akan segera di mulai, dan meminta calon tunangan perempuan untuk segera di hadirkan, Delima yang akan mendampingi Berlian bergegas pergi menjemput Berlian di kamarnya di ikuti oleh empat orang bridesmaid.


Namun setelah sekian lama, orang-orang yang telah menunggu di ballroom tersebut tidak juga melihat kemunculan kembali Delima membawa Berlian.


Terlihat beberapa wajah mulai panik. Terutama wajah dari keluarga calon tunangan pria.


Tak terkecuali Jodi yang saat itu menghela nafas berharap Berlian muncul di gandeng oleh Delima. Namun semakin lama Berlian tak kunjung datang. Semua hening dan terlihat tegang. Saat itulah Jodi mulai curiga, pada saat ia akan berlari keluar ballroom tersebut hendak pergi ke kamar Berlian, tiba-tiba Delima muncul dengan deraian air mata dan tubuh yang melemas di pegangi oleh beberapa bridesmaid.


Melihat Delima terlihat syok, Jodi bergegas mendekat, “Del ada apa?!! Dimana Berlian?!.” Teriak Jodi.


Tapi Delima tidak menyahut hanya tangisan yang terdengar dari mulutnya.


“Del… mana Berlian!!!.” Jodi terlihat mulai panik mengguncang-guncang tubuh Delima.


“Hiks…hiks… Berli kak… Berli… hiks.”


“Iya ada apa?!! Cepat katakan!!.” Suara keras Jodi memecah keheningan seisi ballroom itu.


“Berli tidak ada di kamarnya kak! Hiks.”


“Apa!!!.” Dengan cepat Jodi berlari menuju kamar Berlian dengan tangan yang sibuk menghubungi Riksa dan Tim nya untuk menyisir seisi hotel.


Terjadilah ketegangan di ruangan tersebut, seluruh keluarga dan tamu undangan yang hadir saling berpandangan dengan pertanyaan dalam pikiran mereka masing-masing.


Seluruh keluarga Berlian melemas mendengar Berlian tidak ada di kamarnya, begitu pun dengan keluarga Menara yang tidak menyangka Berlian hilang disaat-saat acara pertunangannya akan segera di laksanakan. Hingga muncul berbagai macam spekulasi dalam pikiran mereka masing-masing.


“Dasar gadis bodoh!!.” Geram Jodi di tengah kepanikannya berlari sekuat tenaga menuju kamar Berlian.


Setelah sampai di depan pintu kamar itu,


BRAK!!!! Ia buka kasar pintu kamar hotel, tak nampak siapapun di dalam nya. Ia sisir kamar itu dari satu sisi ke sisi lain namun ia tak menemukan petunjuk apa pun. Lalu ia bergegas keluar dari kamar itu, berlari menyusuri setiap sisi ruangan. Dan bertanya kepada setiap pelayan hotel yang berpapasan dengannya, namun ia tak menemukan jawaban yang pasti.


“Sayang… kenapa kau bertindak bodoh seperti ini!!!.” Geram kembali Jodi seraya terus berlari tak peduli dengan keringat yang bercucuran membasahi wajahnya.


Sampailah ia kembali pada ballroom tempat acara pertunangan itu di gelar. Kemudian pak Budi dan bu Irma mendekat seraya bertanya, “Jod bagaimana ini? Dimana cucuku?.” Terlihat wajah yang pucat pasi dari keduanya.


“Bapak dan ibu tenang ya saya akan mencarinya sampai ketemu walau nyawa saya taruhannya.” Kata Jodi. Setelah menenangkan opa dan oma nya Berlian, Jodi Berlari ke arah pintu luar sembari menelepon tim nya menanyakan perkembangan pencariannya namun jawaban dari mereka, tetap saja mereka belum menemukan dimana Berlian Berada.


Hingga tiba-tiba saja terlintas dalam ingatannya, saat ia meninggalkan Berlian terakhir kali di kamarnya, ia meninggalkan Berlian bersama temannya yang bernama Maurin.


Langsung Jodi berlari kembali kedalam ballroom mencari keberadaan Maurin, yang ia harap mungkin saja Maurin ada di antara tamu undangan untuk ia tanyai, ketika ia tengah mencari di antara para tamu yang hadir, tiba-tiba Menara dan kedua temannya Arash dan Yosan mendekat,


Dengan napas yang tersengal-sengal, “Menara! Cari dimana keberadaan Maurin, terakhir Berlian ditemani oleh Maurin di kamarnya.” Kata Jodi.

__ADS_1


Lalu mereka berpencar mencari keberadaan Maurin. Sementara tamu undangan yang hadir terlihat ada yang berbisik-bisik membicarakan hilangnya Berlian, ada yang berusaha menenangkan opa dan omanya Berlian, terlihat pula beberapa kolega tengah menenangkan Delima yang terus saja menangis dengan tubuh yang melemas di atas sebuah sofa.


Suasana yang kacau nampak menghiasi pemandangan di dalam ballroom hotel mewah tersebut mengubah pemandangan awal yang sebelumnya penuh dengan tawa bahagia.


Yang seharusnya ballroom tersebut menjadi saksi kebahagiaan dua keluarga yang tengah mengawali ikatan persaudaraannya dengan menjalin tunangan putra putrinya, namun kenyataan yang mereka hadapi adalah sebuah kekacauan yang di sebabkan hilangnya calon tunangan wanita.


Terlihat pula pimpinan hotel dan beberapa managernya melakukan rapat dadakan untuk menunjukan profesionalismenya, bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi meskipun kekacauan itu bukan dilakukan oleh pihak hotel tersebut.


Kembali kepada Jodi beserta tim nya yang tengah menyisir seisi hotel yang mewah dan besar itu, di bantu oleh puluhan orang pihak hotel. Tapi tetap saja Berlian juga temannya Maurin tak juga mereka temukan. Namun Jodi tak pantang menyerah, karena ia telah berjanji kepada opa dan omanya Berlian, kalau ia akan mencari Berlian sampai dapat.


Berkali-kali juga Jodi menghubungi ponsel Berlian namun sepertinya Berlian sengaja mematikan saluran ponselnya, entah ia telah merencanakan sendiri pelariannya atau memang ada orang lain yang membawanya lari, itu lah yang menjadi pertanyaan dalam benak Jodi juga dalam pikiran keluarga dan yang lainnya.


Kemudian Jodi meminta tim nya untuk melacak keberadaan Berlian melalui ponselnya, yang mungkin saja suatu saat ponsel itu akan aktif kembali.


Namun, lagi-lagi kembali terlintas dalam pikiran Jodi pada salah satu tempat di hotel itu yang menyimpan kenangan baginya bersama Berlian yaitu rooftop hotel tersebut.


Dengan cepat Jodi berlari menuju lif di ikuti beberapa orang anggotanya. Dalam pikirannya ia menduga-duga mungkin saja Berlian bersembunyi di atas rooftop bersama Maurin.


Lantai demi lantai yang di lalui lif itu terasa lambat membuat Jodi membuncahkan amarahnya dengan menendang pintu lif itu.


Hingga akhirnya ia sampai pada lantai paling atas dari hotel tersebut.


Dengan cepat ia berlari menuju pintu yang menghubungkan lantai paling tinggi itu menuju rooftop dimana ia pernah bersama Berlian di sana.


Pada saat ia membuka pintu itu, nampak pada ujung rooftop itu Maurin terduduk di lantai dengan membenamkan wajahnya pada kedua lulut yang ia tekuk.


Perlahan Jodi mendekati Maurin dengan nafas yang tersengal-sengal. Lalu berdiri di hadapan Maurin.


“Katakan! Kemana Berlian pergi!.” Kata Jodi yang kemudian berjongkok tepat di depan Maurin.


Perlahan Maurin mengangkat kepalanya menjuruskan pandangannya pada Jodi, terlihat matanya yang sembab habis menangis dan mulai menangis kembali.


“Saya mohon… katakan kemana dia pergi.” Jodi memohon dengan mata merahnya yang hampir menjatuhkan buliran bening pada bola matanya yang dengan cepat ia pupus dengan punggung tangannya.


“Maafkan saya om hiks… saya tidak bisa mencegahnya.” Ucap lirih Maurin.


Bersambung


💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔


Kamana atuh si berlian teh??🤭


Ada yang tahu gak Berlian kemana??

__ADS_1


Yuk Like, vote & favorite dulu sebelum baca slide berikutnya.


Makasih🥰


__ADS_2