
Dengan setia Riksa menemani malam Boss nya yang kelabu di sebuah ruangan pada markas tersebut.
“Gak asik suasana lagi kacau gini di temani kopi. Kopi itu buat nemenin kita di saat nyari inspirasi bukan lagi kayak begini.” Gerutu Jodi sembari memegang kepalanya dengan kedua terlapang tangannya yang meremas kasar rambutnya.
Kemudian ia bangkit dari duduknya menuju ke ruangan lain, dengan setia Riksa mengikutinya dari belakang. Sebelum sampai ruangan yang di tuju, ia melintasi salah satu ruangan yang terdengar suara anggotanya tertawa-tawa, Jodi merasa penasaran dan masuk kedalamnya.
Terlihat empat anggotanya tengah di atas sofa menyaksikan sebuah tontonan yang di sinyalir sebuah blue film.
Melihat Jodi berdiri di depan pintu dengan berkacak pinggang, sontak ke empat anggotanya terkejut dan mematikan tontonannya pada sebuah layar komputer.
Jodi tidak mengomentari apa yang di tonton anggotanya itu, namun ia menjuruskan pandangannya pada meja tepat di depan anggotanya terlihat tiga botol minuman beralkohol nampak di sana.
“Udah mulai bohong sama gue ya kalian? Katanya gak ada stok minuman, terus ini apa?.” Kata Jodi seraya mengambilnya dan langsung menenggaknya.
Melihat kelakuan Boss nya Riksa menggelengkan kepalanya. Kemudian mendekat, “Jangan banyak-banyak minumnya Boss nanti oleng.” Bisik Riksa.
“Udah oleng hidup gue!.” Balasnya seraya melanjutkan perjalanannya menuju sebuah ruangan dengan tangan memegang minuman yang di ambil tadi dari meja anggotanya.
Riksa hanya diam saja tak berani berkomentar.
Setelah sampai di salah satu ruangan yang nampak seperti ruangan berlatih itu, karena terlihat alat-alat gym di sekitarnya, Jodi terlihat berdiri menghadap samsak. Lalu memberikan botol minuman itu pada Riksa, kemudian,
BUG… BUG… BUG… dengan membabi buta Jodi memukul samsak itu melampiaskan kemarahannya. Setelah lemas ia terduduk dan meminta Jodi untuk memberikan minumannya kembali.
“Sudah puas Boss? Kita pulang yuk… udah larut malam nih.” Kata Riksa.
Tanpa menjawab dengan nafas yang tersengal-sengal Jodi keluar dari ruangan tersebut, setelah Riksa ijin pulang pada temannya, ia mengikuti Boss nya yang sudah berjalan lebih dulu sampai di pintu ke luar.
Singkat cerita, mereka sudah berada di dalam kendaraan mereka menuju rumahnya. Jodi terus menenggak minumannya sampai habis.
Sesampainya di rumah, “Elo istirahat aja Rik. Gue mau ke ruang kerja dulu.” Kata Jodi. Lantas masuk ke dalam ruang kerja sementara Riksa masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam ruang kerja Jodi memandangi sekitar, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju sisi kiri ruangan itu dan menjatuhkan tubuhnya terduduk dilantai.
“Gadis kecilku… tentu sekarang kau tengah terlelap tidur… mimpi lah yang indah.. jangan biarkan perasaanmu hancur sepertiku.” Bathinnya.
Tanpa ia duga perlahan pintu ruangan itu di buka dari luar dan masuklah gadis yang tengah ia pikirkan tadi.
Gadis itu memandangi tubuh lelaki yang tengah terduduk lalu perlahan ia mendekati dan ikut duduk di samping kirinya, kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu lelaki itu.
__ADS_1
Sejenak hening diantara mereka, kedua nya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Terlihat sembab pada kedua mata gadis itu.
“Hatiku patah papa… aku tidak tahu apa yang aku katakan tadi benar atau tidak. Yang jelas, bukankah menjadi anak yang patuh itu baik? Kadang kita harus berpura-pura bahagia agar orang lain tidak tahu kehancuran yang kita rasakan. Kadang kita harus rela mengorbankan kebahagiaan kita demi kebahagiaan orang lain. Bukan ingin mendapat pujian tapi agar suasana tetap kondusif. Akan buruk seandainya saja kita berbuat sekehendak hati kita.” Tutur gadis itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Kemudian Jodi meraih jemari tangan kanan gadis itu lalu menciumnya dengan penuh perasaan. “Apa yang kau katakan tadi tidak salah sayang… kau telah melakukan yang terbaik, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti jalan cerita ini. Kau tahu? Aku pun sama patah nya sepertimu bahkan mungkin lebih parah. Namun lagi-lagi aku tak dapat melakukan apa pun karena tak mampu menentang batu cadas di hadapanku. Bisa saja aku melakukan hal bodoh seandainya saja aku mau, namun akan kah itu baik untukmu?… jadi, biarkan saja dulu seperti ini, berpura-pura untuk menutupi rasa sakit agar terlihat tenang.” Balas Jodi dengan terus memegangi jemari gadis itu.
Perlahan gadis itu mengangkat kepalanya dari bahu sang kekasih, dan melepaskan kecupnnya pada pipi kiri lelakinya seraya memeluknya dengan erat.
“Bawalah aku pergi jika memang ada kesempatan untuk lari dari kenyataan ini… aku siap walau balasannya harus melepaskan jiwa ini dari raganya. Aku tak bisa hidup tanpamu. Tak ada yang dapat menggantikan mu di hatiku. Hiks… kenapa dunia seolah tak memberiku kesempatan untuk memilikimu. Mengapa nasibku tak sebaik ayah dan ibuku yang indah dalam pengalaman cintanya hingga maut memisahkan mereka. Seandainya ada warisan teristimewa, aku akan meminta pada mereka untuk memberikan pengalaman berkasihnya. Tolong bebaskan aku dari derita ini papa hiks… aku tidak bisa bayangkan bagaimana hari-hariku kelak jika jauh darimu. Aku tak inginkan apa-apa papa selain selalu ada di dekatmu hiks.” Gadis itu terhanyut dalam tangisan di atas pelukan sang cinta.
“Berhentilah menangis sayang… karena itu membuatku tambah sakit. Aku janji tak akan pernah meninggalkanmu. Aku janji akan selalu ada di sisimu meski aku harus mati. Hentikan air matamu gadisku.. bukankah kau ingin membuatku bahagia? Dan kau tahu kebahagiaanku apa? Adalah melihatmu tersenyum bahagia. Kita nikmati rasa sakit ini sayang… bersyukur lebih baik dari pada mengumpat kenyataan. Percayalah, aku akan memperjuangkan cinta kita, namun sekarang bukan saatnya. Suatu saat nanti kau akan melihat bukti bahwa aku akan memperjuangkanmu. Ingatlah kata-kataku ini.” Jodi mengeratkan pelukannya. Tanpa ia sadari mengalir air matanya di sudut pipi kirinya.
Keduanya saling memeluk dalam pedih dan perih. Meratap dalam diam di keheningan malam, hanya isak tangis yang terdengar dari bibir gadis itu mengiringi derita yang mereka rasa bersama.
Perlahan Berlian melepaskan pelukannya dan menautkan bibir mungilnya pada bibir kokoh sang cinta, dibalasnya tautan itu hingga saling mengecap dan menyesap. Semakin dalam dan semakin hangat hingga rasa sakit yang mereka rasa sedikit mendapatkan penawarnya.
Mereka begitu menikmati kehangatan itu, mereka begitu meresapi penyatuan itu hingga membawa mereka terbang melintasi bumi. Jodi bangkit membawa gadis itu dalam pangkuannya ke luar dari ruang kerja menuju kamar tidur dengan bibir yang masih terpaut.
Sesampainya di kamar gadis itu. Jodi membaringkan tubuh gadis itu dengan perlahan melepaskan tautan bibirnya.
“Tidurlah sayang… malam sudah larut… berjanji lah padaku untuk menutup rapat cinta kita ini hingga tak seorang pun tahu. Agar kita tetap dapat seperti ini selamanya. Tak akan Kubiarkan siapa pun menyentuhmu. Sampai aku dapat memilikimu seutuhnya. Bersabarlah sampai hari itu tiba, kau mengerti?.” Bisik Jodi, kemudian perlahan gadis itu menganggukan kepalanya.
“Iya papa… aku berjanji.”
“Berjanji lah hanya aku kekasihmu. Berpura-pura lah seolah kau senang akan perjodohan ini. Dan simpan baik-baik kecewamu jangan sampai terlihat dari wajahmu, aku pun akan menyimpan rapat luka ini. Hingga nanti waktu yang tepat kita buktikan pada mereka.” Bisik Jodi kembali.
“Ya papa… papa kau minum alkohol?.”
“Kenapa sayang?.”
“Aku mencium aroma alkohol dari mulutmu.”
“Tadi aku minum sedikit sayang.”
“Jangan lakukan itu lagi.”
“Baiklah sayang.”
“Papa… jangan pergi dulu, temani aku tidur.”
__ADS_1
“Baiklah.” Kemudian Jodi naik keatas tempat tidur dan membiarkan gadis itu membenamkan wajahnya pada dada bidangnya.
Ia peluk gadis itu dan ia belai rambut panjangnya hingga gadis itu perlahan menutup matanya. Setelah gadis itu terlelap dalam buaian mimpi, perlahan Jodi melepaskan tubuhnya dari kungkungan gadis itu dan membaringkan tubuhnya serta menyelimutinya kemudian ia berlalu meninggalkan kamar gadis itu setelah mengecup keningnya.
Jodi memasuki kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dan mulai mencoba memejamkan matanya.
..........
Pagi telah tiba. Suara burung dengan nyanyian alamnya seolah memberi salam mengucap selamat pagi pada jiwa yang terjaga dalam pelukan mimpinya.
Setiap diri beranjak dari pembaringannya membasuh diri menyambut pagi untuk memulai aktivitasnya.
Terlihat pada ruangan makan formasi kumplit tengah menikmati sarapan paginya.
“Berlian… Opa dan oma pagi ini akan kembali kerumah kami. Kamu baik-baik di rumah ya?.” Kata pak Budi membuka pembicaraan diantara mereka.
“Baik opa.” Jawab gadis itu dengan senyuman.
“Kau harus rajin belajar ya sayang?.” Sambung bu Irma.
“Tentu saja oma. Oma jangan khawatir aku akan menyelesaikan pendidikanku dengan cepat.”
“Ibu juga akan kembali lagi ke Bandung sayang.”
“Baik bu. Jaga diri ibu disana.”
“Iya sayang pasti.”
Selesai mereka menikmati sarapan paginya kemudian Mereka saling berpamitan.
Pak Budi dan bu Irma naik kedalam mobilnya untuk kembali ke rumahnya, kemudian Delima bersama supirnya menggunakan mobilnya bersiap hendak melakukan perjalanan nya ke Bandung. Sementara Jodi dan Berlian berada pada mobil yang sama untuk membawa mereka melakukan aktivitasnya.
Mereka berpisah di parkiran rumah itu, dengan mobil masing-masing meninggalkan rumah mewah tersebut.
Di dalam mobil, Berlian tak melepaskan pelukannya barang sedetik pun dari kekasihnya itu. Jodi menikmati kehangatan itu dengan sesekali mengecup pucuk kepala gadis itu.
Riksa yang melihatnya dari spion mesem-mesem mengulum senyumannya. ‘Kalau masih bisa peluk-pelukan sama cium-ciuman gitu, ngapain juga semalam kaya orang setengah gila merutuk diri, sampai minum-minum dan marah-marah gak jelas… dasar ABG kadaluarsa huh! Drama mulu nih si Boss kerjaannya.’ Bathin Riksa.
Dan mobil mereka pun akhirnya sampai di tempat tujuan mereka masing-masing.
❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹
__ADS_1
Terima kasih atas jejaknya yang tertinggal readers tersayang😍😍😍