
Suara nyanyian burung mengiringi pagi yang mulai menjelang. Perlahan bola mata indah mulai terbelalak saat suara tangisan kecil dari seorang bayi mungil menggugah dari peraduan mimpinya.
Bergegas ia bangun dan meraih bayinya lalu membawanya kedalam pangkuan lantas menyusuinya. Meski matanya masih lengket dan malas untuk terbuka tapi kewajiban seorang ibu untuk memberikan asupan gizi pada sang bayi mengalahkan segalanya.
Merasakan terdengar sayup-sayup suara kecil di sampingnya, lantas Jodi pun membuka matanya dan memandang kearah suara itu berasal. Tersungging senyuman disudut bibirnya kala ia melihat sang istri tengah menyusui putranya.
“Yang sabar ya sayang… diusia mudamu kau habiskan untuk mengurusi anak, seharusnya kau bersenang-senang.” Kata Jodi dengan suara serak khas bangun tidur.
“Kau ini bicara apa? Mengurusi anak juga merupakan hal yang menyenangkan buatku. Aku tidak pernah menyesali semuanya, malah aku merasa sangat bahagia memiliki anak di usia muda. Bukankah kau bilang menikah muda adalah keinginanku?.”
“Ya sayang… dan bukan hanya keinginanmu saja tapi keinginan kita berdua.”
“Ya jadi kau tak usah bicara seolah aku merasa terbebani dengan semua ini. Aku bahagia dan aku tidak menyesalinya. Hanya satu yang aku sesali, aku belum dapat mengingat semuanya. Tapi perlahan mimpiku sering membawa ingatanku ke masa lalu.”
“Benar kah? Kau memimpikan masa lalumu?.” Tanya Jodi seraya bangkit seakan ingin tahu.
“Iya, akhir-akhir ini mimpiku selalu membawaku mengingat masa-masa dimana kita saat itu tengah menikah, kemudian membawaku juga pada kebersamaanku dengan opa dan opa juga ibu.”
“Oya?! Coba kau ceritakan bagaimana mimpi itu?.” Tanya Jodi penasaran.
“Kau menikahiku dengan begitu manis. Dalam hidupku, kau adalah lelaki pertama yang kucintai setelah ayahku benar kan?!. Bahkan waktu aku kecil kau sering membawaku ke makan kedua orang tuaku.”
“Ya itu benar sayang. Dan itu bukan hanya sekedar mimpi, tapi memori masa lalumu yang sedikit demi sedikit kembali mengingatkanmu. Lalu… apa lagi yang kau lihat di dalam tidurmu sayang?.” Jodi begitu antusias untuk mendengarkan kelanjutan apa yang Istrinya lihat di dalam mimpinya itu.
“Kau adalah cinta pertamaku. Meski sepintas aku lihat kita pernah menangis bersama karena suatu hal. Namun kita pun sering tertawa bersama, menikmati kebersamaan kita. Kita pernah berada di pantai lalu kembali ke perkotaan. Ada rumah besar disana…”
“Iya sayang… itu rumahmu. Suatu saat kita akan kembali kesana jika kau ingin mengingat segalanya lebih dalam.”
“Tapi aku masih ingin berada disini dulu… sepertinya di rumah itu banyak menyimpan kenangan yang menyedihkan, benarkah itu?.”
“Ya… itu benar sayang… tapi itu dulu, sekarang tidak lagi… karena kau telah kembali.”
“Papa… ya aku mendengar aku memanggilmu papa…”
“Hehe… apa sekarang kau tidak suka memanggil papa padaku?… sepertinya kau masih canggung, tapi tidak apa-apa.”
“Aku akan berusaha memanggilmu papa kembali.”
“Ya… belajarlah dari apa yang kau lihat dalam mimpimu itu, nanti juga kau akan terbiasa kembali.”
“Baiklah aku akan membiasakan kembali memanggilmu papa.”
“Terima kasih sayang. Oya? Hari ini aku ingin menghabiskan waktu bersamamu dan anak-anak saja, karena besok aku harus kembali bekerja.” Kata Jodi. Padahal sebenarnya ia akan melakukan serangkaian test kesehatan untuk membuktikan penyakit apa sebenarnya yang ia derita.
__ADS_1
Jodi tidak ingin istri dan keluarganya tahu kalau ia sedang tidak baik-baik saja pada kesehatannya. Walau pun pada akhirnya mereka akan tahu juga, namun untuk saat ini ia masih ingin merahasiakan segalanya.
“Selama aku tidak ada. Kau jaga anak-anak dengan baik ya sayang?.” Sambung Jodi.
“Iya papa… aku akan menjaga mereka dengan baik. Kau juga baik-baik di tempat kerjamu ya? Jangan terlalu lelah kerjanya. Aku akan selalu mendoakanmu agar kau selalu sehat.” Jawab Berlian.
Kemudian ia beranjak dari atas tempat tidurnya untuk memandikan bayi mungilnya.
“Kalau kau lelah mengurusi anak-anak, mama bisa untuk menggantikan kamu memandikan putra kita sayang.”
“Tidak papa… selama aku bisa, aku akan memandikannya sendiri. Kecuali kalau aku benar-benar sedang repot.” Balas Berlian.
“Kau memang istri dan ibu yang baik.” Kata Jodi sembari terus memandangi istrinya yang tengah membuka pakaian bayinya.
Setelah ia membuka pakaian bayinya kemudian ia memandikan bayi mungil itu.
Setelah beberapa waktu akhirnya ia selesai memandikan bayinya lalu menyusui bayinya hingga tertidur. Dan setelah bayinya tertidur barulah ia membersihkan diri.
Sementara itu terlihat pada ruangan lain, Riksa dan Maurin tengah menikmati sarapan paginya bersama Delima dan orang tua Jodi.
“Mereka belum keluar dari kamarnya?.” Kata Ferry.
“Belum, mungkin lagi pada mandi.” Jawab Eva.
“Anak-anak mereka dimana?.” Tanya Ferry.
“Iya. Mereka bilang tadi malam mereka sedang ingin tidur bersama anak-anak. Kak Jodi lagi kangen sama Miriam dan Noah. Mungkin karena besok dia akan pergi kerja kembali jadi hari ini mereka ingin menghabiskan waktu bersama.” Kata Delima.
Maurin dan Riksa saling berpandangan. Mereka berdua tahu keadaan Jodi yang sebenarnya. Tentu saja Jodi sedang ingin bersama mereka karena besok ia akan menjalani serangkaian test pada tubuhnya, yang tentunya membuat Jodi stress karena pada saat itulah ia akan mengetahui penyakitnya yang sesungguhnya.
Sebenarnya Maurin dan Riksa ingin memberitahukan kepada keluarga mengenai apa yang terjadi pada Jodi, tapi janjinya pada Jodi telah membungkam mulut mereka.
Tak berapa lama, terlihat Jodi yang memangku Miriam dan Berlian yang memangku baby Noah keluar dari dalam kamarnya menghampiri mereka yang tengah menikmati sarapannya.
Sebenarnya Jodi merasakan sedikit sakit pada persendian di tubuhnya, namun ia tak ingin memperlihatkan pada istri dan keluarganya yang lain. Ia bertingkah seperti tidak merasakan apa-apa.
Tapi Riksa dan Maurin dapat melihat dari mimik wajahnya. Lalu Maurin berinisiatif mengambil Miriam dari pangkuan Jodi.
“Aih… ini kesayangan aunty sudah cantik rupanya. Sini aunty gendong dan makan disuapin aunty ya sayang.” Kata Maurin meraih tubuh Miriam dari pangkuan Jodi.
Kemudian Maurin mendudukkan Miriam diatas pangkuannya lalu membuat sarapan untuk gadis kecil itu dan menyuapinya.
“Pa, ma… besok pagi aku akan berangkat kembali ke Jakarta, aku titip istri dan anak-anakku ya?.” Kata Jodi kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
“Iya. Kau tenang saja. Kami akan menjaga mereka disini. Kamu konsentrasi saja sama kerjaan kamu.” Jawab Ferry.
“Iya Jod. Kamu jangan khawatir mama akan mengurusi menantu dan cucu-cucu mama dengan baik.” Sambung Eva.
“Makasih ma, pa… Oya Del bagaimana kerjaan kamu?.” Tanya Jodi pada Delima.
“Sekarang kan perkuliahan lagi daring kak jadi dimana pun aku masih tetap dapat memberikan materi.” Jawab Delima.
“Oh syukurlah kalau begitu. Aku juga titip mereka sama kamu ya Del? Karena sepertinya pekerjaanku beberapa waktu kedepan akan sibuk dan sepertinya aku akan jarang pulang karena banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.”
“Iya kak. Aku akan menjaga mereka bersama papa dan mama disini. Jadi kakak tenang saja.” Ujar Delima.
“Ke aku gak nitipin juga nih?! Hehe… aku juga akan tinggal beberapa waktu untuk nemenin istri Boss sama anak-anak.” Timpal Maurin.
“Tentu saja Maurin… aku juga titip mereka ke kamu pastinya. Kalau terjadi apa-apa pada mereka, kamu yang akan saya salahin duluan.” Kata Jodi.
“Yaaak. Giliran nyalahin kok ke aku sih Boss?.” Singgung Maurin.
“Udah jangan Protes. Nasibmu sama denganku Rin. Pastinya jadi bulan-bulanan si Boss kalau terjadi apa-apa.” Ujar Riksa.
“Iya kalian memang berjodoh hehe.” Celoteh Delima.
“Ish… ibu sama aja ah.” Balas Maurin.
“Sudah-sudah jangan pada berisik. Yakin saja aku dan anak-anak, dibawah penjagaan kalian akan baik-baik saja. Suamiku adalah lelaki yang baik, dia tidak akan marah-marah kalau terjadi apa-apa kok. Percaya deh.” Kata Berlian.
Mereka begitu berbahagia menikmati sarapannya sembari bercengkerama. Kehangatan mereka membuat suasana hati Jodi begitu tenang karena istri dan anak-anaknya di kelilingi oleh orang-orang yang penuh kasih.
...............
Sementara itu ditempat lain, terlihat Alfredo tengah melakukan pemeriksaan kepada pasiennya.
Setelah beberapa pasien ia tangani akhirnya ia dapat beristirahat di ruangannya. Ia duduk pada kursi kerjanya sembari memandangi sesuatu pada layar laptopnya.
Apa yang ia lihat-lihat adalah foto-foto Berlian yang ia simpan didalamnya. Ia terus memandangi foto Berlian satu persatu.
“Kau dimana Lolita… aku sangat merindukanmu… ku harap kau berada dengan orang yang baik. Tapi tidak dengan lelaki tua itu… ingin rasanya aku memastikan bahwa kau sedang tidak bersamanya. Namun jika aku memaksa datang kesana, aku khawatir dia akan melakukan sesuatu yang membuat aku semakin jauh denganmu. Aku harus mencari cara untuk memastikan mu, apakah kau ada di rumahmu atau tidak?… ya, aku harus pikirkan itu.’ Bathin Alfredo.
Kemudian Alfredo diam sejenak dan terlihat ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Terdengar dari pembicaraannya, ia tengah meminta pada seseorang untuk mengamati sebuah rumah di daerah Jakarta.
Sudah dapat di pastikan ia menyuruh orang untuk memata-matai rumah Berlian yang ada di Jakarta. Ia ingin memastikan apakah Berlian ada di rumahnya atau tidak. Dan entah apa lagi yang akan Alfredo lakukan dengan memasang mata-mata di rumah Berlian.
Padahal di rumah itu tidak ada siapa-siapa selain pelayan dan penjaga rumah itu. Karena opa dan oma Berlian tingga di rumah pribadinya yang berada di lokasi lain. Sementara Berlian beserta orang-orang yang menjaganya berada di rumah yang berada di daerah puncak dan Alfredo tidak tahu itu.
__ADS_1
❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹
Terima kasih untuk reader yang masih setia sampai dengan episode ini😍