Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Hanya satu teman


__ADS_3

“Hallo Maurin!.” Sapa Berlian.


“Eh hey… Berli! Kau kemana saja? Ya Tuhan… kau menghilang bagai di telan bumi. Tak tahu nya kau di telan papamu sendiri haha.” Jawab Maurin di balik ponsel.


“Eh dasar gila kamu ya!.”


“Haha… tapi bener kan kabar kamu sudah menikah dengan papamu itu?.”


“Mau tahu ya? Hihi.” Cicit Berlian.


“Eh bocah! Berani main belakang ya sekarang sama aku!”


“Kalau kamu mau tahu, kamu kesini Rin, maen ke rumah aku.”


“Iya deh nanti abis mata kuliah terakhir selesai ya?.”


“Ok. Aku tunggu ya Rin. Aku mau cerita semua sama kamu.”


“Siap! Eh kamu gak ngampus lagi ya Berli?.” Tanya Maurin penasaran.


“Aku daring Rin. Pokonya entar deh aku cerita sama kamu disini.”


“Orkes kalau gitu. Tunggu aku ya? Oya, kamu mau dibawain apa? Mangga muda mau gak? Buat debay di perut kamu, Haha.” Kelakar Maurin.


“Eh sialan. Aku gak hamil tahu!.”


“Haha… ya udah, sampai ketemu nanti siang ya Berli.”


“Ok”


Berlian menutup sambungan ponselnya. Ia kembali mengikuti e-learning pada ruang perpustakaan di rumahnya di lantai tiga tepat sebelah ruang kerja Jodi.


“Kamu ngobrol sama siapa tadi?.” Tanya Jodi yang tiba-tiba masuk ke ruang perpustakaan karena mendengar Berlian bercakap-cakap dengan seseorang.


“Tadi aku telepon Maurin papa… aku kangen sama dia, aku suruh dia datang ke rumah, boleh kan?.”


“Apa yang tidak boleh buat kamu sayang?.” Kata Jodi seraya membungkuk lalu mencium tengkuk mulus istrinya itu.


“Ih papa diem.. aku lagi fokus!.” Kata Berlian seraya memonyongkan bibirnya.


“Hehe… ya sudah, papa kerja di ruang sebelah ya sayang.” Kata Jodi seraya menggigit pelan telinganya lalu bangkit dengan senyuman menggodanya.


“Ih papa geli…” Berlian menggosok-gosok telinganya bekas gigitan Jodi.


Melihat tingkah istrinya, Jodi mengulum senyumnya dan berlalu meninggalkan istrinya di ruang perpustakaan hingga tubuhnya hilang di balik pintu.


Jodi kembali ke ruang kerjanya. Nampak Riksa tengah sibuk dengan laptopnya.


Melihat Jodi datang, Riksa langsung memanggilnya. “Boss… ada klien baru nih!.”


Kemudian Jodi mendekat dan melihat pada layar laptopnya.


“Lihat dulu data-data nya yang bener Rik. Kita pelajari dulu siapa dia. Gue cuma mau maen sama orang luar.”


“Ok. Siap!.”


“Kalau bisa sih kita satu-satu aja dulu Rik, kalau urusan tuan Fu Shen sudah 90%, baru kita terima yang baru, bilang aja kita masih sibuk, kecuali kalau dia mau tunggu sampai satu bulan. Kalau dia gak mau, suruh cari agen yang lain aja.”


“Ya, ini gue lagi bilangin sama pihak mereka.” Kata Riksa sembari mengetikan sesuatu pada keyboard laptopnya.


“Kasus apa katanya mereka Rik?.”


“Pembunuhan anaknya Boss, sudah lebih dari 10 tahun kasusnya gak selesai-selesai.”


“Apalagi kalau urusan begituan males gue. Biasanya ada permainan sama oknum pihak berwajib. Dimana domisilinya Rik?.”


“Negara tetangga Boss.”


“Apa lagi negara tetangga… simpen aja deh itu mah.”


“Ok. Siap Boss. Oya? Kapan kita ke markas Boss?.”

__ADS_1


“Besok aja Rik. Tadinya gue mau hari ini kesana, cuman bini gue mau ada temennya kesini.”


“Yaelah, tinggalin aja kali Boss, kan ada temennya ini yang nemenin di rumah, terus banyak pelayan juga yang kerja.”


“Gue belum bisa tinggalin dia Rik. Gue udah janji sama opa nya.”


“Hadeh… gak ngerti gue.” Riksa tepok jidat.


Kemudian mereka berdua melanjutkan pekerjaannya.


............


Sementara itu di tempat lain, nampak Menara, Yosan dan Arash tengah berbincang di salah satu cafe yang tidak jauh dari kampus mereka.


“Gimana Ra kabarnya Berlian?.” Tanya Arash pada Menara.


“Mana gue tahu.”


“Ya kali aja elo denger dari nyokap elo gitu.”


“Gak ada. Setelah kejadian dia kabur itu, sepertinya nyokapnya Berlian jaga jarak sama nyokap gue, gak tahu kenapa.”


“Mungkin malu kali ya Ra?.” Tanya Yosan.


“Gak tahu juga sih.” Jawab Menara malas.


“Eh, nyokap Berlian cakep juga ya?.” Celoteh konyol Arash seraya mengangkat-angkat alisnya.


“Gila luh… penggila tante… gak bisa lihat emak-emak langsung aja tarik.” Ujar Yosan.


“Haha… dari pada kalian cuma berkutat dengan bocah! Gak ada kemajuan haha.” Kelakar Arash.


“Eh sialan luh. Mending bocah dari pada emak-emak, ikutan jadi tua luh. Coba aja deh elo ngaca… haha.” Balas Yosan.


“Eh anjir! Haha… .” Arash dengan menoyor kepala Yosan.


Namun tawa canda mereka terhenti kala melihat Maurin dari kejauhan.


“Mau ngapain?.”


“Ya ajak ngobrol aja bentar cari info si Berlian, katanya elo solider sama teman kita yang satu ini.” Kata Arash sembari menunjuk Menara dengan wajahnya.


“Ya udah kita panggil dia.” Kata Yosan kemudian ia memanggil Maurin. Dan Maurin pun menghampiri mereka.


“Eh Maurin! Kok sendirian, temen kamu mana?.” Tanya Arash.


“Oh Berlian? Dia udah gak ngampus lagi kak.”


“Serius! Kenapa katanya?.” Tanya Arash penasaran.


“Gak tahu juga sih. Ini aku mau ke rumahnya.”


“Oh… begitu. Eh bilangin salam sama dia dari… ini.” Kata Yosan menunjuk Menara dengan wajahnya.


“Ok… nanti aku bilangin sama dia. Aku pergi dulu ya kak!.” Kata Maurin sembari berlalu meninggalkan mereka bertiga.


“Ok. Hati-hati ya Maurin.” Kata Yosan dan Arash. Sementara Menara diam saja.


“Ya… makasih kak.”


Kemudian Maurin pergi meninggalkan mereka bertiga di cafe tersebut. Menuju mobilnya yang ia parkir tidak jauh dari cafe itu.


‘Gila tuh si Jodi… bisa-bisanya ngelarang si Berlian gak kuliah lagi. Dasar pedofil!.’ Bathin Arash.


......


Singkat waktu, sampailah Maurin di rumah Berlian. Setelah ia di persilahkan masuk oleh pelayan, ia pun langsung naik ke lantai tiga, diantar oleh salah seorang pelayan menuju perpustakaan dimana Berlian tengah e-learning di sana.


“Anteng banget penganten baru.” Kata Maurin yang tiba-tiba saja datang tanpa permisi nyelonong masuk kedalam, dan tentu saja mengejutkan Berlian yang tengah fokus pada laptopnya.


“Hay… Mauriiiin!!!.” Teriak Berlian lantas memeluk temannya itu.

__ADS_1


“Gila!! Bener-bener gila! Aku benci sama kamu tahu gak? Kamu jahat gak kasih tahu aku kalau kamu nikah, aku malah tahu dari orang lain.” Kata Maurin.


“Sorry Maurin aku gak kasih tahu kamu karena mendadak.” Kata Berlian seraya membawa Maurin duduk.


“Ya gak apa-apa deh, yang penting kamu bahagia. Aku ikut bahagia Berli. Oya? Gimana malam pertamanya? Hihi.” Cekikik Maurin.


“Ih apaan sih kamu….” Berlian terlihat malu-malu.


“Sakit-sakit enak ya kan rasanya? Haha.” Maurin tertawa lepas.


“Ih Ssssstt… jangan keras-keras nanti papaku denger loh.” Berlian menarik-narik tangan Maurin.


“Hihi… Oya. Berli, beneran kamu gak bakalan ngampus lagi?.”


“Iya Maurin, papaku kan sibuk, akhir-akhir ini kerjanya banyak ke luar kota, jadi aku harus nemenin dia kemanapun dia pergi. Makanya aku sekarang e-learning, biar saat aku berada dimana pun, aku masih bisa ngikutin kuliahku.”


“Oh begitu. Pantas saja kalau begitu. Oya, tadi sebelum aku ke sini, aku ketemu sama mereka di cafe dekat kampus.”


“Siapa?.”


“Biasa… trio drakor hehe.”


“Oh mereka… mereka bilang apa?.”


“Gak bilang apa-apa sih cuman kak Menara titip salam aja buat kamu.”


“Ya, sejak aku kabur dari pertunangan itu, aku gak pernah ketemu kak Menara lagi.” Ucap Berlian seperti merasa bersalah.


“Kelihatan lesu loh dia, kenapa ya?.”


“Mungkin dia lagi mikirin pacarnya. Kamu tahu gak? Pacar kak Menara kan selingkuh sama bapaknya!.”


“Apa!!! Serius??!.”


“Seriuslah! Tapi kamu jangan bilang-bilang lagi ya? Aku tahu karena waktu itu aku ngantar dia mau ketemuan sama ceweknya, eh gak tahunya dia menemukan ceweknya lagi begituan sama bapaknya kak Menara.”


“Ya Tuhan… kasian bener ya dia. Dasar cewek bodoh! Kurang apa coba kak Menara. Pantas saja kelihatan mukanya lesu banget.”


“Kamu pepet aja dia Rin haha… kali aja dia nyantol sama kamu.”


“Iya ya? Kalau aku jadi pacarnya gak bakalan deh aku sia-sia kan. Eh papa kamu kemana? Kok gak kelihatan.” Kata Maurin seraya melirik keluar pintu.


“Dia lagi kerja di ruang sebelah.”


“Oh. Eh Berli. Aku laper tahu! Aku belum makan, gimana sih kamu, datang tamu kehormatan di anggurin aja.”


“Oh haha… Sorry Maurin aku lupa. Ayo kita ke ruang makan. Kamu bisa makan sepuasnya.”


Kemudian Berlian membawa Maurin turun menuju ruang makannya. Setelah sampai ruang makan, Berlian meminta pelayan dapurnya membawakan makanan untuk Maurin.


Setelah makanan di sajikan oleh pelayan, akhirnya Maurin pun duduk di ruang makan di temani Berlian duduk di hadapannya.


“Kamu gak makan Berli?.” Tanya Maurin sembari menikmati makanannya.


“Gak Rin. Aku sudah makan tadi sama papa aku.”


“Oh baiklah kalau begitu. Aku habiskan ya ini semua? Haha.” Kelakar Maurin dengan makanan yang memenuhi mulutnya.


“Ya habisin aja. Semua buat kamu deh.”


Berlian terlihat senang Maurin berkunjung ke rumahnya. Dialah teman satu-satunya yang sangat mengerti dirinya.


Satu teman yang baik akan lebih berarti dari pada memiliki banyak teman yang tidak banyak memberikan manfaat bagi kehidupan kita.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Terima kasih para readers tersayang atas dukungannya😘


Sehingga novel ini lulus kontrak🤗 yeah💪🏻


Tanpa readers kesayangan othor gak ada apa-apanya. Luv yu pull pokonya😘😘

__ADS_1


Di tunggu aja give away nya ya? Muach 😘😘😘😘😘


__ADS_2