
Siang semakin menunjukan dirinya dengan panasnya yang terik.
Terlihat Alfredo dan Andre masih berada di kantin tengah mengisi perutnya.
Tak banyak yang mereka perbincangkan, apalagi Andre tahu kondisi yang di alami Alfredo, ia tak ingin banyak bertanya karena takut salah kata yang akan berakibat munculnya kecurigaan Alfredo padanya yang kini menjadi mata-mata Jodi.
Setelah mereka selesai menikmati makan siangnya, mereka pun kembali ke ruangannya masing-masing.
Kembali Alfredo duduk di ruangannya. Dan melakukan hal yang sama yaitu merenungi apa yang tengah ia alami.
‘Tanpamu aku lemah Lolita… gerangan siapa yang berani membawamu pergi? Aku benar-benar kesulitan untuk menemukanmu… kau tahu? Sebenarnya aku tak ingin menjadikanmu konten, awalnya aku iseng namun pengikutku begitu menyukaimu, niat awalku adalah aku ingin menjadikanmu istriku di saat usiamu telah matang. Namun kini kau hilang tanpa jejak… aku tak ingin kehilangan wanita yang aku cintai untuk kedua kalinya Lolita… aku menjatuhkan pilihanku padamu karena kau memiliki keistimewaan yang tak dimiliki oleh wanita lain. Kau tahu apa itu? Bukan karena kau memiliki banyak harta tapi kau memiliki Inner Beauty yang tidak wanita lain miliki. Itulah yang menarik hatiku yang terus memaksaku untuk dapat memilikimu seutuhnya. Tak perduli kau istri siapa dan sudah memiliki anak. Dorongan untuk memilikimu begitu kuat Lolita, hingga aku tak perduli dengan sekitar.’ Bathin Alfredo dalam renungannya.
Sampai suara perawat yang memanggilnya di balik pintu membuyarkan lamunannya. Kemudian ia menyuruh perawat itu masuk, dan perawat itu memberikan beberapa lembar berkas rekam medis pasien Alfredo.
Setelah memberikan berkas itu pada Alfredo, perawat itu pun pergi meninggalkan Alfredo di dalam ruangannya.
Waktu bergulir kian cepat, hingga sore menutup siang dengan cuacanya yang mulai meredup.
Diceritan di tempat lain, nampak kendaraan yang Jodi tumpangi telah sampai di perkebunan.
Bergegas Jodi masuk kedalam rumahnya untuk menemui Berlian.
Ia temukan di dalam kamarnya Berlian tengah tiduran membelakangi dirinya yang muncul dari pintu kamar.
Perlahan ia mendekat dan merebahkan diri di samping istrinya dan memeluknya dari belakang.
Berlian sedikit terkejut saat mendapati ada seseorang yang memeluknya dari arah belakangnya.
“Kau… sudah pulang?.”
“Hm…” Jawab Jodi dengan suara beratnya.
“Kenapa tak mengabariku dulu?.”
“Aku terlalu merindukan kalian hingga lupa untuk mengabari terlebih dahulu.”
Pada saat Berlian akan membalikan tubuhnya, Jodi menahannya.
“Diamlah dulu jangan bergerak! Aku masih ingin memelukmu seperti ini.” Bisik Jodi sembari mengecup kepala istrinya.
“Apa seperti ini kebiasaanmu dulu padaku?.”
“Ya sayang… jika aku merindukanmu aku selalu seperti ini.”
“Apa sebaiknya kau mandi dulu dan mengganti pakaianmu?.” Ucap Berlian sembari membalikan tubuhnya.
“Sebentar lagi aku akan mandi sayang… biarkan aku memelukmu dulu sebentar saja.” Bisik Jodi seraya mengecup kening istrinya yang sudah berhadapan dengannya.
Berlian mengangkat kepalanya dan memandangi wajah suaminya.
“Kau terlihat lelah, apa pekerjaanmu begitu berat?.” Tanya Berlian seraya membelai wajah suaminya itu.
“Ya aku lelah sekali sayang… aku ingin istirahat sehari saja dari rutinitasku, menghabiskan waktu bersamamu dan anak-anak.”
“Baiklah. Aku akan menemanimu seharian. Suamiku, kau terlihat sedikit pucat apa kau sakit?.” Tanya Berlian yang kala itu memang melihat wajah Jodi sedikit memucat.
Mendengar pertanyaan istrinya tentu saja Jodi mengelak.
“Tidak sayang… aku hanya sedikit lelah saja.” Jawab Jodi seraya membenamkan wajahnya pada dada istrinya.
“Baiklah kalau begitu kau diamlah dulu, biar aku yang menggantikan pakaianmu.” Kata Berlian seraya membuka kancing baju Jodi satu persatu.
Jodi memandangi wajah sang istri yang tengah membuka pakaiannya.
__ADS_1
Setelah membuka pakaian sang suami, Berlian beranjak dari atas tempat tidur untuk menyimpan pakaian kotor sang suami dan membawakannya pakaian yang baru.
“Kalau kau lelah nanti saja mandinya, tapi pakaian kotor harus tetap diganti.” Kata Berlian yang kemudian memakaikan t-shirt pada tubuh suaminya.
Melihat Berlian memperlakukannya dengan baik Jodi merasa begitu bahagia, karena dalam kondisi lupa ingatan pun Berlian masih ingat untuk mengurusnya.
“Sayang… terima kasih. Kau masih ingat dalam hal mengurusiku.” Kata Jodi seraya membelai wajah sang istri.
“Ya. Bukankah ini adalah bagian kecil tugas istri pada suaminya?… Oya apa kau tidak rindu pada anak-anak?.”
“Tentu saja aku rindu pada mereka sayang… dimana mereka?.”
“Mereka sedang bersama mama dan ibu dibelakang. Sebentar aku akan bawa mereka, kau tunggulah disini.” Kata Berlian seraya berlalu keluar dari kamar itu.
Tak lama ia kembali dengan putranya di atas pangkuannya, dan Miriam ia bawa dengan tangan kanannya membiarkan putri kecil itu berjalan.
Melihat kehadiran sang ayah, terlihat Miriam senang dan menghampirinya lantas naik keatas tubuh sang ayah.
“Papa pulang?.” Kata cadel tercetus dari putri kecilnya.
“Hay sayang papa… iya papa pulang, papa kangen kamu sayang.” Kata Jodi seraya mencium putri kecilnya.
Kemudian Berlian duduk di atas tempat tidur bersama Noah bayinya.
“Oya sayang? Tadi aku datang bersama Riksa dan Maurin, katanya Maurin kangen ingin bertemu denganmu, dan dia akan menginap beberapa hari disini.” Kata Jodi.
“Kenapa kau tak bilang dari tadi kalau Maurin datang?.”
“Aku lupa saking rindunya padamu.”
“Baiklah kalau begitu aku akan ke bawah menemuinya, apa dia tahu kondisiku yang mungkin sekarang akan terasa asing baginya?.”
“Ya dia tahu sayang… Riksa sudah cerita banyak padanya kalau kau amnesia jadi pasti saat bertemu nanti kamu akan sedikit canggung tidak seperti biasanya.”
Kemudian Berlian meninggalkan Jodi dan Miriam di kamarnya menuju lantai bawah.
Berlian menuju halaman belakang dan nampak dari pandangannya sang asisten bersama seorang perempuan, dan ia sudah dapat memastikan bahwa dialah Maurin teman kuliahnya sekaligus sahabatnya seperti yang di ceritakan suaminya itu.
Melihat Berlian menghampiri dengan menggendong sang anak, Maurin memandanginya dengan tatapan haru lantas mendekatinya dan memeluknya.
“Aku tahu kini kau tak mengenali aku. Tapi perlu kau tahu bahwa aku adalah sahabat terbaikmu yang selalu ada di dalam hatimu.” Lirih Maurin dalam pelukan Berlian.
“Ya… aku merasakan itu Maurin, aku tak perlu mengingatmu, dari pelukanmu saja aku merasakan kedekatan kita dulu. Maafkan aku Maurin, aku belum dapat mengingat jelas semua tentangmu.”
“Tidak apa-apa sayangku. Selama aku disini, aku akan membantumu mengingat kembali masa lalumu. Hey… ini kah putra kecil tampanmu itu? Coba sini aku ingin memangkunya.” Kata Maurin seraya meraih bayi Noah dalam pangkuan Berlian.
“Ulu… ulu… ganteng sekali keponakan Aunty yang satu ini.” Kata Maurin seraya membawanya dalam pangkuan dan menciuminya.
Kemudian ditengah kebersamaan mereka Eva dan Delima menghampiri mereka.
“Kalian belum makan kan? Ayo makan dulu.” Kata Eva pada Maurin dan Riksa.
“Iya, pasti kalian lapar, ayo Riksa bawa Maurin makan sana.” Sambung Delima.
“Iya bu sebentar lagi, nunggu si Boss dulu.” Jawab Riksa.
“Ah… gampang, nanti saya panggil dia, biar turun buat makan bareng kalian.”
“Ya sudah aku saja yang panggil dia bu.” Kata Berlian yang beranjak menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar ia mendapati Jodi terlelap tidur bersama putrinya yang juga tertidur di atas dadanya. Karena Berlian tidak ingin mengganggu istirahat suaminya, ia kembali lagi ke ruang bawah.
Sesampainya di bawah, “Dia tidur bersama Miriam, nanti saja dia makannya, sekarang kalian duluan saja makan, ayo!.” Kata Berlian.
__ADS_1
“Iya dia capek kali. Biar dia istirahat dulu saja.” Kata Eva.
“Ayo sana Maurin, Riksa makan dulu gih. Sini Noahnya.” Kata Delima seraya mengambil tubuh bayi mungil itu dari pangkuan Maurin.
Dan Riksa Bersama Maurin pun menuju ruang makan untuk menyantap makanan yang sudah di siapkan oleh Eva dan Delima.
Riksa dan Maurin duduk berdampingan pada meja makan ditemani oleh Berlian.
Berlian memandangi kedua orang itu yang tengah menikmati makanannya.
“Kalian pasangan yang serasi.” Celoteh Berlian sembari terus memandangi keduanya.
“Hehe… kamu kayak baru lihat kita berduaan saja.” Ujar Maurin.
“Hey… istri Boss kan baru lihat kita lagi berdua-duaan kayak gini.” Kata Riksa sembari melahap makanannya.
“Oh iya aku lupa. Berli… kamu paling sering lihat kita berduaan loh.”
“Oya?!.”
“Iya… kemana pun kamu dan suamimu pergi, kan kita yang selalu mendampingi.”
“Hehe… aku kan belum ingat semuanya Maurin jadi harap di maklum.”
“Iya aku ngerti kok. Tapi aku bahagia kamu dapat kembali pulang meskipun kamu belum mengingat aku seutuhnya.”
“Ya. Makanya tolong kau doakan aku agar cepat pulih.”
“Pastinya lah, setiap aku berdoa selalu menyematkan namamu. Oya? kalau di drama-drama orang yang terkena amnesia karena cidera di kepalanya, akan sembuh lagi kalau alami cidera lagi loh!.. mau gak kamu aku getok biar ingatanmu kembali? Hehe.” Celoteh Maurin.
“Hey… itu kan cerita di film-film. Aneh-aneh saja kau mau getok kepala istri Boss aku ini! Kau tahu? Aku bisa di pecat kalau itu terjadi.” Kata Riksa.
“Hehe.. kalau memang di getok bisa membuat ingatanku kembali, aku mau kok!.” Balas Berlian.
“Ah… nyonya jangan denger kata temanmu ini deh! Dia tuh halu kebanyakan nonton drama.”
“Tapi bener kan kalau di cerita-cerita begitu?.” Canda Maurin.
“Iya tapi gak bener itu ah! Mending kalau abis di getok sembuh, kalau gak gimana hah?!.” Kata Riksa.
“Hehe… kalian lucu, pasangan kok kayak kucing dan anjing.” Kata Berlian menanggapi tingkah kedua orang dihadapannya itu.
“Lagian nih anak aneh-aneh aja ngomongnya.” Ucap kesal Riksa.
“Heh! Kalian ini tiada hari tanpa berantem ya! Ayo abisin makannya. Abis itu sana pada istirahat.” Kata Delima.
“Bu… biarin aja. Aku senang kok lihat mereka kayak gini hehe.” Ujar Berlian.
“Kau senang tapi ibu yang pusing denger nya!.”
“Ibu biar gak pusing pergi aja sana ke kebun hehe.” Sahut Berlian.
“Ah kamu sama aja.” Ujar Delima seraya berlalu membawa baby Noah ke ruangan lain.
Berlian yang duduk bersama Maurin dan Riksa, tersenyum-senyum melihat kehangatan keluarganya.
Tanpa terasa waktu bergulir kian cepat membawa mereka pada suasana malam yang dingin. Seolah memanggil mereka untuk beristirahat dalam pelukan sang Dewi malam.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Tetap tinggalkan sesajennya ya kesayangan🥰
Terima kasih😍
__ADS_1