Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Safe me papa


__ADS_3

Warning!!!


Area 21+


Harap bijak menyikapinya. Terima kasih🙏🏻


Selamat membaca🥰


..................


Untuk beberapa hari Jodi dan tim bekerja keras mengumpulkan data-data dan informasi mengenai organisasi Sunrise tersebut.


Dan informasi terakhir yang mereka temukan adalah bahwa menjelang akhir di putuskannya hukuman terhadap profesor Liby, ternyata profesor Liby telah terlebih dulu mengakhiri hidupnya dengan melakukan bunuh diri di dalam tahanan sementaranya.


Profesor Liby berakhir diusia 50 tahunan. Ia mendirikan Organisasi Sunrise kira-kira sudah dari dua puluh tahun yang lalu, setelah Organisasi Sunrise itu mendapat banyak pengaduan hukum, karena banyaknya pihak orang tua yang anak-anaknya setelah di tangani organisasi itu menemui kejanggalan pada kesehatannya bahkan banyak ditemukan anak-anak yang berakhir meninggal.


Salah satunya adalah pengaduan seorang ibu yang bernama Monica yang kehilangan anaknya, setelah anaknya ditangani oleh organisasi profesor Liby, anaknya meninggal dunia dan menurut keterangan mereka penyebab kematiannya adalah karena penyakit bawaan sejak lahir yang di derita oleh anak tersebut. Padahal sepengetahuan mereka anaknya tidak memiliki riwayat penyakit apa pun.


Dan yang lebih mencurigakan pada saat anak mereka akan di kebumikan, pihak dokter Liby melarang Monica membuka peti jenazah anaknya. Sementara budaya mereka pada saat anggota keluarga mereka ada yang meninggal, ada tradisi penghormatan terakhir dengan melihat wajah jenazah. Tetapi profesor Liby melarang pihak keluarga untuk membuka peti jenazah tersebut.


Timbul lah perdebatan antara pihak keluarga dan pihak profesor Liby. Dan setelah melakukan perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Monica dapat membuka peti jenazah tersebut untuk memeluk anaknya yang terakhir kalinya.


Namun pada saat ia melihat kondisi anaknya di dalam peti jenazah itu, betapa terkejutnya ia, yang membuat dirinya juga keluarganya syok, dimana mereka menemukan kondisi mayat anak itu sangat mengenaskan. Mereka melihat kondisi mayat anak itu dengan penuh luka operasi pada tubuhnya dan yang paling mengerikan salah satu tangannya telah di putus.


Dari kejadian itu lah dokter Liby beserta organisasinya di gugat ke pengadilan, hingga terkuak lah riset terselubung di dalam tubuh organisasi tersebut. Dengan mengatas namakan organisasi Sunrise itu sebagai organisasi yang menangani anak korban depresi. Padahal yang sebenarnya awalnya organisasi Sunrise itu adalah sebuah organisasi yang merupakan tempat para ilmuwan negara J melakukan eksperimen yang korban uji cobanya adalah anak-anak kecil.


Lalu bagaimana dengan organisasi Sunrise yang telah menyebar ke beberapa negara maju lainnya? Tentunya menurut data dari badan dunia yang khusus menangani masalah anak-anak, bahwa organisasi yang sudah tersebar luas ke negara lainnya adalah pure sebagai wadah untuk mengatasi anak-anak depresi tanpa embel-embel keterkaitan dari eksperimen pihak profesor Liby, karena organisasi yang telah tersebar luas di bangun setelah profesor Liby terjerat kasus hukum.


Sementara keterkaitan Alfredo dengan organisasi tersebut adalah bahwa ia merupakan salah satu ilmuwan baru sebagai generasi penerus yang akan mengembalikan identitas organisasi Sunrise sebagai pusat riset virus dan vaksin juga obat-obatan yang mereka ciptakan khusus di negara J tersebut.


Jodi dan tim telah mengantongi segala bukti autentik yang dapat menjerat Alfredo. Mereka semakin percaya diri dalam menghadapi Alfredo dengan data kejahatan Alfredo yang telah mereka miliki.


Langkah selanjutnya adalah kini mereka tengah menyusun strategi penangkapan Alfredo. Dan tentunya menyusun rencana membebaskan Berlian dan putranya dari rumah putih itu.


Hari-hari yang telah mereka lewati tidak sia-sia. Pengorbanan yang mereka lakukan telah membuahkan hasil.


...............


Di dalam keremangan malam, di bawah cahaya sinar rembulan yang diiringi nyanyian binatang malam yang bersahutan. Nampak sosok bayangan memasuki jendela sebuah balkon kamar.


Jodi berdiri di depan jendela menatap sang istri yang tengah berdiri menatap kedatangannya.


Bergegas sang istri berlari dan naik keatas pangkuannya, melingkarkan kedua kakinya pada pinggang kokoh sang suami serta melingkarkan kedua tangannya pada leher tegap itu.


Sang istri memeluk erat tubuh gagahnya. “Aku merindukanmu. Kemana saja kau beberapa hari ini?… aku hampir gila menunggumu. Ku kira kau tidak akan kembali lagi.” Bisik sang istri dalam pangkuan sang suami.


“Benarkah kau merindukanku?.” Balas Jodi seraya mengecup wajah cantik itu.


“Ya.. beberapa malam saja kau tak datang… sudah membuatku hampir gila.” Desir sang istri.


Kemudian Jodi membawa tubuh itu kedalam, lalu ia duduk di atas sofa dengan tubuh sang istri di atas pangkuannya yang semakin mengeratkan pelukannya.


“Aku sibuk sayang. Tapi sekarang aku sudah ada di hadapanmu. Kau dapat melepaskan kerinduanmu padaku malam ini.”


“Aku mohon jangan pergi lagi.. bawa aku saat kau pergi nanti.”


“Kau tahu? Seperti inilah dirimu yang sebenarnya. Aku tidak perduli ingatanmu akan kembali atau tidak, asal kau selalu merindukanku, itu Sudah cukup bagiku baby.” Bisik Jodi seraya membelai mesra wajah indah yang terus memandanginya itu.


“Ya aku pun tidak perduli akan ingatanku. Yang aku inginkan kau selalu ada disisiku. Kau suamiku atau bukan, aku tidak perduli. Aku hanya ingin seperti ini, saat ini dan selamanya.” Ucap Berlian seraya mengecup bibir kokoh sang suami.


Semakin lama kecupan itu berubah menjadi ciuman yang menghangatkan saling membalas dan saling menyesap hingga dalam.


“Bawa aku pergi.. aku ingin selalu bersamamu. Jangan kau pergi lagi tanpa membawaku, aku tak ingin gila lagi menunggu seperti hari-hari kemarin.”


“Tentu saja aku akan membawamu kemana pun aku pergi. Aku rindu aroma tubuhmu baby… berikanlah segalanya malam ini untukku sebelum aku membawamu pergi.” Ucap Jodi seraya memulai aksinya. Secepat kilat tangannya melepas segala yang istrinya kenakan.


Ia rebahkan tubuh polos sang istri yang pasrah di atas sofa itu lalu menghimpitnya.

__ADS_1


Nyanyian surgawi mengiringi keindahan malam penyatuan diri mereka. Tak perduli akan angin dingin yang menusuk dan menghempas tubuh polos mereka, yang ingin mereka lakukan saat ini adalah melepaskan hasrat yang telah menggebu dan mengobati rasa rindu yang telah menghantui mereka beberapa hari kebelakang.


Semakin lama semakin dalam, semakin membawa mereka ke angkasa menuju langit nirwana.


“Baby… kau suka sayang? Panggil lah namaku seperti hari-hari kemarin saat kita selalu menikmati rasa ini.” Bisik Jodi dengan nafas yang menderu.


“Hm… papa.”


“Sangat indah baby… I love You…” Desir Jodi dengan jurus ampuhnya melakukan serangan bertubi-tubi membuat tubuh sang cinta menggeliat dalam kenikmatannya.


“Safe me… papa.”


“Ok… baby.”


Semakin dalam semakin membawa mereka membumbung tinggi hingga keduanya merasakan buncahan yang menghangatkan, menciptakan lantunan kepuasan kemudian sesaat membuat keduanya melemas.


Diatas sofa kedua tubuh yang polos itu mematung, hanya sisa-sisa nafas yang terdengar dari keduanya.


“Baby… kau siap sekarang ikut denganku?.”


“Hm… iya papa.”


“Bersiaplah! Aku akan membawa putra kita dulu.” Kata Jodi seraya menghampiri putranya yang tengah terlelap di atas box bayi.


Sementara Berlian merapikan dirinya, kemudian menuju lemari mengambil long coat dan memakainya.


Terlihat Jodi sudah memangku putranya. Dan mendekat kearah istrinya.


“Kita pergi sekarang sayang.” Bisik Jodi pada sang istri lalu tangan kanannya Meraih pundak sang istri, sementara tangan kirinya memangku putra kesayangannya.


“Kita pulang papa?.”


“Iya sayang kita pulang…. Tempat mu bukan disini.” Jawab Jodi seraya membawa istri dan putranya dalam pangkuan, meninggalkan kamar itu melalui pintu keluar pada balkon kamar tersebut.


Kini mereka sudah berada di luar rumah itu, mereka berjalan menyusuri samping rumah putih itu hingga sampai di tepi jalan. Lalu menyusuri jalanan hingga sampai ujung jalan dimana mobil mereka telah menunggunya di sana.


Berlian masuk kedalam Jok belakang setelah Jodi membuka kan pintu untuknya, di susul dengan dirinya yang memangku putranya dan duduk di sebelah istrinya.


“Siap Rik. Ayo jalan.”


Kemudian kendaraan yang membawa mereka pun berlalu meninggalkan tempat itu.


Mobil melaju dalam kecepatan sedang. Saat mobil mereka melintasi rumah putih yang mereka tinggalkan itu, sesaat Berlian memandangi rumah itu dalam laju kendaraan yang membawanya.


“Kenapa? Kau berat meninggalkannya?.” Tanya Jodi pada istrinya saat ia melihat penampakan istrinya tengah memandangi rumah itu yang semakin jauh tertinggal di belakang mereka.


“Tidak… aku hanya ingin melihat rumah itu untuk yang terakhir kalinya.” Jawab Berlian.


“Aku pastikan kau tidak akan kembali lagi kesana.” Ucap Jodi.


“Ya… itu lebih baik. Lalu, sekarang kau akan membawaku kemana?.”


“Aku akan langsung membawamu pulang kerumah. Rumah impianmu di tengah perkebunan. Aku rasa rumah itu aman untuk kau tinggal sementara waktu disana. Ada ayah dan ibuku yang akan menjagamu disana, juga putri kita yang telah menanti kita.”


“Lalu… kau akan kemana? Kau akan meninggalkanku disana?.”


“Untuk sementara waktu aku akan tinggal di ibukota bersama opa dan oma mu. Aku harus menjaga mereka untuk sementara waktu. Kemungkinan setelah Alfredo tahu kau menghilang dari rumahnya, pasti ia akan mencarimu. Dan tempat pertama yang menjadi tujuannya adalah rumahmu yang berada di ibu kota itu. Tapi kau jangan khawatir, aku akan sering datang mengunjungimu.” Jelas Jodi.


“Aku takut.”


“Apa yang kau takutkan sayang?.”


“Aku takut dia melakukan sesuatu padamu.”


“Tenang saja. Suamimu ini punya banyak pasukan yang siap mati menjagaku. Jadi kau tak perlu khawatir.” Kata Jodi seraya memeluk sang istri.


“Jika Alfredo benar datang menemuiku di rumah itu, di sanalah kami akan menangkapnya, kau doakan saja semoga berjalan lancar.” Sambung Jodi.

__ADS_1


“Berhati-hati lah. Aku benar-benar khawatir.”


“Ya aku akan berhati-hati.”


Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu, akhirnya mereka sampai di suatu tempat, dimana jet pribadi mereka telah menunggu.


Setelah mereka turun dari dalam mobil, mereka menaiki jet pribadi itu.


Berlian duduk pada Jok di sisi jendela pesawat, kemudian Jodi menyelimutinya.


“Beristirahatlah, kau akan terjaga setelah kita sampai di tempat tujuan.” Bisik Jodi seraya mengecup kening istrinya itu.


Sementara dirinya duduk di samping istrinya dengan memangku putra kesayangannya.


“Putra kita pintar sekali. Dia tidak rewel sejak kita membawanya keluar dari rumah hantu itu.” Kata Jodi seraya membelai wajah putranya.


“Ya dia memang putra yang baik.”


“Sama baiknya seperti aku papanya hehe.”


“Iya dia mirip denganmu.”


“Miriam putri kita pasti bahagia memiliki adik selucu Noah.”


“Oya? Berapa tahun usia Miriam putri kita?.”


“Satu tahu enam bulan. Dia putri yang sangat cantik, sama seperti dirimu. Lihatlah.” Kata Jodi seraya memperlihatkan video Miriam dalam ponselnya.


Kemudian Berlian mengambil ponsel itu dan melihat video putrinya.


“Ya dia lucu sekali. Apa dia mengenalku?.”


“Tentu saja dia mengenalmu, kau kan ibunya. Saat kau menghilang, dia terus saja mencarimu dan memanggil-manggil namamu.”


“Kasihan sekali putriku, dia pasti sangat merindukanku.”


“Ya dia sangat merindukanmu. Tapi setelah ini dia akan bahagia karena sudah menemukan ibunya. Dia juga pasti bahagia mendapatkan adik yang akan menemaninya bermain.”


“Sayang sekali aku tidak ingat momen-momen saat aku bersamanya dulu.”


“Jangan di pikirkan. Lambat laun ingatanmu akan kembali. Percayalah. Aku akan membawamu untuk mengobati amnesiamu.”


“Kau baik sekali. Terima kasih sudah menyelamatkanku dan maafkan aku, kemarin aku sempat melupakanmu dan menganggap lelaki itu adalah suamiku.”


“Ya… aku mengerti. Jangan kau pikirkan itu. Sekarang kan kau sudah kembali. Jadi, lupakanlah hari-hari kemarin. Sekarang yang harus kita lakukan kedepannya, mari kita perbaiki segalanya. Dan aku minta, lupakanlah lelaki itu, karena dia hanyalah bagian kecil yang mengusik hubungan kita. Dia hanya memanfaatkan situasi sulit kita.”


“Aku tidak akan mengingat-ingat lelaki itu. Aku sudah cukup bahagia memiliki suami sepertimu. Aku akan berusaha segera pulih dari semua ini.”


“Ya aku juga bahagia memilikimu. Sekarang Istirahatlah… biar aku yang menjaga putra kita.”


Kemudian mereka menikmati penerbangannya. Pesawat yang membawa mereka membelah gelapnya langit di atas kota P. Mereka terbang meninggalkan kota itu dengan mengubur peristiwa pahit yang terjadi di dalamnya.


Berharap di hari depan tak ada lagi peristiwa yang menyesakkan hati mereka.


Setelah menempuh penerbangan kurang lebih 2 jam, akhirnya mereka sampai di ibukota, kemudian tanpa menunggu waktu, mereka melanjutkan perjalanannya langsung ke daerah perkebunan dengan kendaraan mereka yang sudah menjemput mereka.


“Apa perjalanannya masih jauh papa?.” Tanya Berlian.


“Tidak sayang… kurang lebih 2 jam lagi kita akan sampai di rumah kita. Istirahatlah.” Kata Jodi seraya memeluk istrinya.


Sementara Riksa dan Faisal yang duduk pada Jok depan hanya dapat memperhatikan pasangan itu melalui kaca spion.


Waktu sudah menunjukan sepertiga malam saat mereka menikmati perjalanan dari ibukota ke perkebunan tempat tujuan mereka.


Rasa lega mereka rasakan bersama karena satu masalah telah dapat mereka atasi yaitu membawa Berlian dan putranya kembali. Tinggal masalah lain yang harus mereka selesaikan yaitu menghadapi Alfredo yang mungkin saja akan menyusul mereka ke ibukota.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya say🥰


Terima kasih😍


__ADS_2