
Dan minuman rasa coklat yang telah di bubuhi racun oleh Arash tadi mendarat di bibir Berlian.
Jodi tersenyum saat melihat istrinya tengah kehausan dan menyeruput minuman miliknya, kemudian ia memesan kembali pada pelayan, minuman untuk dirinya dan untuk Maurin.
Di tempat lain, betapa terkejutnya Arash dan Sansan kala melihat Berlian yang datang menghampiri suaminya dan mengambil minuman yang telah ia bubuhi racun tersebut lalu meminumnya.
Bergegas ia hendak lari untuk menghentikan Berlian, namun Sansan menarik tubuhnya.
“Gila!!! Apa yang akan elo lakuin hah!.”
“Minuman itu San… racun itu di minum Berlian!.” Kata Arash yang berusaha melepaskan pegangan tangan Sansan.
“Ya terus elo mau ngapain kesana? Elo cari mati tahu gak? Ayo kita pergi dari sini.” Sansan menarik tubuh Arash meninggalkan tempat itu.
Sementara Arash terus memberontak dengan teriakan dan air mata yang mulai tumpah.
Sansan membawa Arash dengan berjalan cepat menuju basement mall, dimana mobil mereka terparkir.
Sebelum memasuki mobilnya, Arash tak kuasa menahan perasaan sesalnya karena racun yang ia masukan kedalam minuman Jodi malah di minum oleh wanita yang ia cintai itu.
Melemas kakinya, seketika ia runtuh terduduk bersandar pada dinding dengan meremas kasar rambutnya dengan kedua tangannya.
“Sialan!! Bodoh!!!… bodoh!!!… kenapa dia harus meminumnya!!.” Teriak Arash membentur-benturkan kepalanya pada dinding.
Melihat temannya yang terus merancau itu, Sansan memaksa Arash untuk masuk kedalam mobilnya, Sansan terus menarik Arash hingga mereka masuk kedalam mobil dan meninggalkan basement mall tersebut.
“Elo kalau mau ngamuk, mau marah, mau nangis guling-guling, nanti di apartemen. Jangan disini, itu sama saja elo bunuh diri. Semuanya sudah terlanjur.” Kata Sansan yang memacu kendaraannya dalam kecepatan yang sangat tinggi. Sementara Arash meraung-raung dalam penyesalannya.
Pada saat Jack sudah kembali dari toilet, ia melihat kearah tempat dimana Arash dan temannya tadi berada, namun mereka tidak ia temukan. Dan Jack menganggap mungkin Arash dan temannya sedang pergi ke tempat lain.
Kembali ke area food court, dimana Jodi, Berlian, Riksa dan Maurin tengah berbincang menunggu pesanan makanan untuk mereka, namun tiba-tiba saja, terlihat Berlian mengeluarkan keringat dari wajahnya dan mulai memucat, tangan kirinya memijat pelipisnya dan tangan kanannya mengelus-elus perutnya.
“Sayang… kamu kenapa?.” Tanya Jodi panik yang melihat penampakan istrinya seperti tengah menahan rasa tidak enak pada tubuhnya.
“Papa… kenapa tiba-tiba kepalaku pusing? Papa perutku sakit hiks… papa aku mual hiks.” Kata Berlian lemas dan tiba-tiba Berlian menyemburkan darah dari mulut dan hidungnya seraya menjerit.
Sontak membuat Jodi terkejut membulatkan matanya dengan cepat memeluk istrinya dan membawanya lari keluar dari food court.
“Ya Tuhan… sayang! Apa yang terjadi padamu!!.” Jodi berlari sekuat-kuatnya menuju basement sambil berteriak, “Riksa cepat… Jack!… Jack! Sisir food court!.” Teriak Jodi di ikuti oleh Riksa dan Maurin di belakangnya.
Sementara Berlian yang berada di dalam pangkuan Jodi, kejang-kejang dan terus mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya.
Melihat istri tercintanya yang tengah kepayaan di dalam pangkuannya, hancur hati Jodi, luluh bathinnya, tumpah airmatanya seketika, darah yang membasahi pakaian karena terkena semburan darah istrinya tak ia hiraukan, yang ada dalam pikirannya hanyalah bahwa ia harus cepat menyelamatkan istrinya, membawanya ke rumah sakit.
Ia terus berlari dengan kekhawatiran yang menyelimuti dirinya, ia tak peduli dengan orang-orang di sekitar yang memperhatikannya.
Sesampainya ia di basement ia berlari dengan tangan memangku tubuh ringkih Berlian yang semakin lemah dengan wajah yang pucat pasi dan darah yang terus mengucur dari mulut dan hidungnya.
Dengan cepat Riksa mengarahkan mobilnya tepat didepan Jodi. Setelah Jodi masuk mobil itu langsung melaju dalam kecepatan yang sangat tinggi.
“Papa… papa… selamatkan putri kita… aku mohon.” Ucap pelan Berlian dengan terbata-bata.
__ADS_1
“No baby… jangan bicara begitu. Aku pastikan kalian berdua akan selamat.” Kata Jodi dengan mulut bergetar sembari tidak lepas memeluk tubuh istrinya yang semakin melemah itu.
“Pa-papa… a-aku su-sudah tidak kuat…”
“Demi Tuhan sayang… bertahanlah… aku mohon… demi aku… demi putri kita…” Bisik Jodi yang terus membelai wajah istrinya yang sudah terlihat membiru.
“Hiks.. papa… rasanya sakit sekali.”
“Sabar sayang… demi Tuhan bertahanlah….”
“Pa-papa… a-aku mencintaimu.”
“Oh baby.. I love you too… please…” Jodi tak kuat melihat Istrinya yang menggigil dan kejang-kejang.
“Tuhan… tolonglah istriku…” teriak Jodi dengan bibirnya yang bergetar dan air mata yang telah tumpah ruah membasahi wajahnya.
Riksa dan Maurin menyaksikan pasangan itu tak kuasa menahan tangis dengan perasaan haru mereka berdua hanya bisa menangis tak mampu berkata apa-apa.
Terlihat Berlian semakin melemah dan sudah mulai menunjukan ketidak sadarannya. Melihat istrinya terkulai lemah, Jodi semakin hancur, dengan erat ia memeluk tubuh ringkih yang berlumuran darah itu. Ia meraung sejadi-jadinya mendekap erat sang istri yang sudah tak sadarkan diri.
Singkat waktu, mobil pun akhirnya sampai di sebuah rumah sakit besar. Belumlah Riksa menghentikan mobilnya, Jodi sudah membuka pintu dan bergegas keluar membawa tubuh istrinya yang lemah, dengan sekuat tenaga ia berlari sambil berteriak-teriak seperti orang kesetanan.
“Dokteeer!!!….. dokter….. toloooong istri sayaaa…. Toloooong.” Semua orang yang berada disana menyaksikan, begitu terkejut melihat Jodi memangku istrinya dengan berlumuran darah.
Dengan cepat dua orang petugas kesehatan membawa blankar dorong. Dengan sigap Jodi meletakan istrinya di atas blankar tersebut, ia berlari mengikuti kemana blankar itu pergi membawa istrinya.
Riksa dan Maurin pun ikut berlari menyusul di belakang Jodi.
Satu dokter menahan Jodi. “Maaf, tuan tunggu disini.”
“Saya harus ikut kedalam dokter, saya suaminya. Saya harus memastikan keadaan istri saya.”
“Tidak bisa tuan. Tunggulah di sini.”
“Tolong dokter! Selamatkan istri dan bayi saya.” Jodi memohon pada dokter tersebut.
“Saya akan berusaha tuan… sekarang tenanglah. Dan tunggu hasil observasi kami.” Kata Dokter.
Jodi yang terdiam di dekat pintu ruang pemeriksaan dengan penampilan yang kacau, di pegangi oleh Riksa dan Maurin. Kemudian di ajaknya duduk pada kursi tunggu yang tidak jauh dari ruang pemeriksaan itu. Namun baru saja mereka duduk, salah satu dokter keluar dari dalam ruangan tadi dan memanggil,
“Maaf, keluarga pasien….”
Bergegas Jodi mendekat di ikuti oleh Riksa dan Maurin.
“Saya suaminya dok..”
“Maaf tuan istri anda kritis dan bayinya harus segera di keluarkan sebelum racun di dalam tubuhnya menyebar.”
“Apa Racun dokter?!!.” Bagai mendengar petir di siang bolong Jodi terkejut mendengar penuturan dokter itu.
“Ya sepertinya istri anda terkena racun, bagaimana? Apakah anda menyetujui kalau kami melakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan bayi nya?.”
__ADS_1
“Lakukan yang terbaik dokter!.” Kata Jodi dengan perasaan yang hancur dan tubuh yang lemas seakan kakinya tak kuat menopang tubuhnya yang mulai bergetar.
Kemudian dengan cepat dokter dan beberapa asistennya juga perawat membawa tubuh Berlian yang tergolek lemah di atas brankar menuju ruang operasi.
Jodi berlari dengan deraian air mata mengejar brankar yang membawa istrinya itu,
“Please baby…. Bertahanlah.” Lemah tubuhnya terhunyung bersujud di atas lantai dengan tumpahan air mata yang mengalir deras tak tertahankan.
Melihat Boss nya lemah, Riksa dan Maurin tak kuat menahan tangis.
Dipeluknya Boss yang tengah merasakan kesedihan yang hebat itu.
“Rik… gue hancur Rik… gue gak tahu bagaimana rasanya ia menahan sakit yang begitu hebat… kenapa bukan gue yang merasakan itu… kenapa harus istri gue… dia tidak pernah terluka Rik… dia pasti membutuhkan gue di sisinya saat ini.” Pecah air mata Jodi dalam pelukan sang asisten.
Riksa tak bisa apa-apa hanya bisa memberikan ketenangan pada Boss nya yang tengah merasakan kehancuran itu.
Kemudian Riksa membawa Jodi untuk duduk di kursi tunggu, lalu menyuruh Maurin untuk mengambilkan air minum.
Riksa langsung menelpon opa dan omanya Berlian, juga memberi tahu Delima dan orang tua Jodi.
Setelah selesai menghubungi mereka, kemudian Riksa kembali menenangkan Bossnya.
“Boss, istri Boss adalah wanita yang kuat meskipun dia adalah wanita manja. Yakinlah dia pasti kuat.” Di saat Riksa menenangkan Boss nya itu. Tiba-tiba ia ingat dengan apa yang di katakan dokter tadi bahwa Berlian terkena racun.
Bergegas Jodi menghubungi Jack yang masih ada di mall tersebut.
“Jack! Dokter bilang Nyonya Boss terkena racun, tolong elo amankan semua makanan dan minuman yang tadi di meja kita. Soalnya nyonya muntah darah di food court tersebut. Siapa tahu racunnya berasal dari makanan disana.”
“Siap Boss. Udah kita amankan. Sekarang saya sedang koordinasi dengan pihak kepolisian. Ada beberapa anggota polisi juga disini Boss.”
“Ya bagus! Elo urus disana ya? Gue lagi ngurusin di rumah sakit, sekarang gue lagi nemenin Boss, nyonya kritis, sekarang sedang di operasi.”
“Siap Boss.”
Setelah Riksa menutup sambungan ponselnya, terlihat Maurin datang membawakan beberapa botol air mineral. Diberikannya kepada Riksa kemudian Riksa memberikan satu botol pada Jodi.
Setelah Jodi meminum air mineral itu, ia mulai sedikit tenang. Kemudian,
“Rik. Gue jadi ingat… dulu saat dia dilahirkan, kerjadiannya persis sama, hanya saja ibunya berdarah-darah karena di bunuh pada saat akan melahirkan dia. Dan kini, ia merasakan apa yang ibunya alami, sementara ayahnya terhunyung kaku menunggu di depan ruang operasi sama seperti apa yang gue alami sekarang. Kini gue dapat merasakan, seperti inilah apa yang di rasakan ayahnya saat itu. Sangat menyakitkan Rik… bayi kecil gue yang malang pun harus merasakan proses yang dialami ibunya dulu… gue bener-bener hancur Rik.” Dengan tatapan yang kosong Jodi menceritakan masa lalu Istrinya pada saat terlahir kedunia, dengan air mata yang tiada hentinya mengalir.
Riksa mendengarkan curahan hati Boss nya itu. Dengan membayangkan bagaimana jika ia ada dalam posisi mereka. Tentunya rasa pedihnya tak mampu ia bayangkan.
‘Meratap dalam sunyi mengharap kebesaran Sang Maha Kasih Sayang akan keajaiban yang diberikanNya… menangis dalam diam seakan terbayang wajah peri kecil manja yang mengisi tawa di setiap hari… kini hilang tak berbekas.. mimpi yang terencana seakan pupus seketika, darah dan air mata bersatu laksana aliran sungai kepedihan.. tak ada lagi senyuman, tak ada lagi sapa manja… yang terlintas hanya air mata dan raut kesakitan… Duhai kehidupan, andai saja aku dapat memilih, tentu aku lebih rela menukar jiwa ini. Untuk kesekian kalinya aku tak dapat membebaskan dirinya dari kepedihan, untuk kesekian kalinya aku tak dapat menolakkan air mata dan darah meretas dari tubuhnya… hanya rasa tak berguna yang kini aku rasa… hanya satu yang kuharap kini… adalah memohon pada Sang Penguasa Alam atas belas kasihnya untuk mengembalikan senyumannya, meski harus di tukar dengar harga mahal yang harus terbayarkan.”
💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔
Bagaimana kisah selanjutnya?
Like, vote, favorite dan komen dulu ya gais🥰🥰
Terima kasih😍
__ADS_1