Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Hari yang berat


__ADS_3

Terlihat Eva kembali dari kamar mandi dan duduk kembali di samping suaminya seraya berbisik pada suaminya, “Berlian muntah-muntah seperti gejala orang yang lagi hamil muda.”


Mendengar penuturan istrinya seakan terbakar nyala api kepalanya memanas dan tanpa tendeng aling-aling langsung memukul putranya.


“Anak sialan! Apa yang telah kau lakukan padanya?! Kau pikir aku mendidikmu untuk menjadi manusia bejad hah?!.”


“Aw… papa… apa-apaan ini… hey… papa.” Jodi menutupi wajahnya dan menghindari pukulan ayahnya.


“Papa! Apa-apaan sih, berhenti… jangan seperti ini!.” Bela sang istri terhadap putranya sembari menghentikan tangan suaminya yang tengah memukuli lengan putranya.


“Lihat putramu! Siapa lagi yang menghamili gadis itu kalau bukan dia?!.”


“Apa??!!!.” Jodi terkejut seraya membulatkan matanya. Lalu, “Apa yang papa katakan?! Siapa yang hamil?!.” Jodi masih terkejut dengan prasangka ayahnya.


“Kau tidak lihat! Berlian muntah-muntah?!.”


“Ya Tuhan papa… kau pikir aku se-nista itu?! Mana mungkin aku melakukan hal itu papa?! Belum tentu juga Berlian muntah-muntah karena hamil, bisa saja dia masuk angin atau apa lah.”


“Masih saja kau mengelak hah!!.” Geram sang ayah.


Buk… buk… kembali Ferry memukul lengan putranya.


“Aw… papa… cukup papa… hentikan… aw.”


“Ah sudah-sudah! Kalian ayah dan anak seperti kucing dan an*ing saja. Aku pusing melihat kalian tahu!.” Kata Budi yang sedari tadi memperhatikan kelakuan ayah dan anak itu. Lalu,


“Sekarang coba kau jelaskan Jodi! Katakan segalanya dengan jujur.” Kata Budi dengan penuh penekanan.


“Baik. Papa juga tolong dengar dulu penjelaskanku! demi Tuhan aku tidak pernah melakukan hal itu pada Berlian, kalian bisa cek dan periksa ke dokter. Mana mungkin Berlian hamil. Aku memang selalu tidur bersamanya tapi aku tidak pernah melakukan itu padanya, siang malam aku menjaganya agar dia merasa aman. Aku juga tahu diri, dan tak akan pernah berani melakukan hal bodoh padanya. Tolong jangan dulu berprasangka sebelum tahu kebenarannya. Akan lebih baik kalau kita bawa Berlian dulu ke dokter dan kita dengarkan apa penjelasan dokter. Setelah itu kalian mau mencabik-cabik tubuhku pun silahkan!.” Jelas Jodi.


Kemudian terlihat Berlian berjalan ke arah mereka dengan di apit oleh oma dan ibunya. Lalu di bawanya ke tempat duduk semula.


Terlihat Jodi merogoh ponselnya dan menelepon seseorang. Sepertinya ia ingin menelepon dokter pribadi keluarga Berlian namun tidak ada jawaban. Ia ingin membuktikan kalau Berlian tidak hamil namun sayang karena dokternya tak bisa di hubungi, sepertinya ia gagal untuk membuktikan kebenarannya.


Sementara Delima terlihat keluar dari tempat berkumpul mereka, menuju kehalaman samping rumah, ia menemukan Riksa tengah duduk santai menikmati kopinya.


“Rik, saya minta tolong ya?.” Kata Delima seraya mendekati Riksa.


“Iya bu ada apa?.”


“Tolong kamu beli test pack ya?.”


“Test pack apaan bu?.”


“Itu alat uji kehamilan.”


“Memangnya siapa yang hamil bu?.”


“Berlian muntah-muntah. Kami menduga kalau Berlian hamil.”


“Apa?! Serius bu?.”


“Eh serius! Beneran ini. Eh Riksa, tolong katakan pada saya dengan jujur. Apa kau pernah melihat Boss kamu itu bersikap mencurigakan gitu dengan putriku?.” Selidik Delima.


“Maksudnya bagaimana ya bu? Saya tidak mengerti.” Kata Riksa menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Ah kau ini… ya maksudnya apa kamu pernah memergoki mereka melakukan sesuatu gitu di dalam kamar?.”


Terlihat Riksa seperti berpikir dan memang dalam pikirannya ia mengingat kalau ia pernah beberapa kali melihat Bossnya itu dengan Berlian bermesraan. Bahkan pernah di kantor mendengar suara-suara dari mereka berdua.

__ADS_1


Dan ternyata apa yang dia ketahui itu, Ia jadikan senjata untuk membantu Boss nya agar cepat di kawinkan dengan Berlian.


“Maaf bu… pernah sih beberapa kali, di kantor dan di rumah. Kalau saran saya sih mending nikahkan saja mereka sebelum perut putri anda semakin membuncit.”


Mendengar penuturan Riksa, Delima semakin yakin kalau Berlian memang hamil.


“Benar dugaanku. Ya sudah sekarang tolong kau belikan test packnya ya? Dan jangan kau katakan pada Boss kamu itu. Mengerti?.”


“Siap bu.”


Kemudian Delima kembali pada kumpulan keluarga.


Jodi terus menatap Berlian dan Berlian balas menatapnya.


Suasana semakin tegang kala mereka kembali berkumpul bersama, kemudian,


“Berlian! Tolong katakan apa yang telah om kamu itu lakukan padamu?.” Tanya Irma sang oma.


“Mh… tidak ada. Om memperlakukanku dengan baik.” Jawab pelan gadis itu menunduk.


“Iya oma tahu dia begitu baik padamu. Yang oma tanyakan apa om kamu pernah mencium mu? Atau bagaimana gitu?.” Irma sedikit sulit menjelaskan maksud dari prasangkanya.


Jodi terlihat pucat pasi dan menatap Berlian memberi kode agar gadisnya itu menjawab ‘tidak pernah’. Tapi sayang Berlian kurang mengerti dengan kode yang Jodi berikan, ia malah akan menganggukan kepalanya. Melihat itu Jodi pasrah, ia menundukkan pandangannya seraya memegang dahinya.


Namun tiba-tiba saja pak Budi bersuara, “Ah sudah! Saya benar-benar pusing dengan kelakuan kalian! Sekarang begini saja! Mau Berlian hamil atau tidak! Kau Jodi?! Kau harus bertanggung jawab terhadap cucu semata wayangku ini. Aku tidak mau tahu! Kalian harus menikah sebelum terjadi sesuatu yang lebih memalukan lagi.”


Mendengar apa yang pak Budi katakan Jodi menghela nafas panjang seolah ia baru terbebas dari sang algojo yang akan menjatuhkan hukuman penggal kepala padanya.


Sementara Berlian tersenyum sumringah karena keinginannya terkabulkan. Melihat tingkah Berlian pak Budi berkata, “Tapi kalian jangan senang dulu, ada beberapa syarat yang harus kalian penuhi. Yang pertama kau harus tetap melanjutkan sekolahmu, dan seandainya kau memang tidak hamil, sebaiknya tunda dulu kehamilanmu sampai kau berusia 20 tahun. Yang kedua, jika memang kamu hamil, biarkan saja janin itu tumbuh dan setelah itu kau jangan hamil lagi tunggu sampai beberapa tahun kedepan. Dan kau Jodi, kau harus kembali ke perusahaan. Kemudian yang terakhir, sepertinya pernikahan akan di gelar secara tertutup hanya keluarga dekat yang di undang mengingat saya masih harus menyembunyikan identitas Berlian, kenapa? Karena demi keselamatannya.”Ucap tegas pak Budi.


“Baik opa aku setuju dengan syaratnya hehe… lalu boleh kah aku menikah besok?” Kata Berlian cengengesan.


Kemudian Jodi mendekat kearahnya.


“Sayang… yang benar saja! Kau pikir pernikahan itu mudah? Kita harus melakukan persiapan terlebih dahulu, paling tidak cukup waktu satu bulan paling cepat dalam melakukan persiapannya.” Bisik Jodi pada gadisnya.


“Tidak mau! Itu terlalu lama papa. Aku ingin secepat mungkin. Titik!.” Paksa gadis itu.


“Ok. Bagaimana kalau minggu depan ya sayang?.” Rayu Jodi.


“Gak mau papa, aku ingin secepatnya.”


“Hei.. kenapa harus terburu-buru. Kita tidak sedang di kejar sesuatu kan sayang?.”


“Ok. Kalau begitu lusa.”


“Ya sudah! Lusa kalian menikah!.” Kata pak Budi memecah perdebatan mereka berdua.


“Horay… makasih opa.” Teriak Berlian kegirangan seraya loncat memeluk dan mencium kakeknya tersebut.


“Eh.. eh… sayang! Jangan loncat-loncat nanti janin di dalam kandunganmu gugur.” Panik Delima.


“Ya Tuhan Del… dia tidak hamil!.” Tegas Jodi.


“Ah kakak tahu apa urusan perempuan! Sudah kakak diam saja.”


“Heh bagaimana aku bisa diam kalau kau berkata yang tidak-tidak. Nanti kita buktikan!.” Kesal Jodi.


“Sudah.. sudah! Kalian seperti anak kecil saja! Mana Riksa? Suruh dia mengurus pernikahan kalian!.” Bentak pak Budi.

__ADS_1


“Siap pak!” Kata Riksa yang baru saja sampai karena tadi dia di suruh Delima membeli test pack.


“Kau urus pernikahan mereka lusa!.” Perintah pak Budi.


“Baik pak.”


“Dan kau Ferry! Sampai mereka menikah kau menginap lah di sini. Delima suruh pelayan menyiapkan kamar untuk mereka.” Perintah pak Budi.


“Baik pak.” Kemudian Delima beranjak dari tempat duduknya dan memerintahkan pelayan untuk menyiapkan beberapa kamar untuk tamu mereka.


“Dan kamu Jodi! Mulai malam ini, kamu tinggal kembali di rumah ini juga asistenmu!.” Perintah pak Budi kembali.


Semua keluarga menarik nafas panjang. Satu persatu masalah yang terjadi dapat mereka selesaikan dengan baik meskipun ada ketegangan sedikit mengiringi perjalanannya.


Kemudian mereka semua beranjak ke kamarnya masing-masing untuk istirahat. Karena masalah yang di timbulkan anak cucu mereka begitu menyita pikiran mereka hingga mereka perlu istirahat untuk merefresh otak mereka.


Saat orang tuanya dan beberapa orang penghuni rumah sudah masuk kedalam kamarnya, Jodi berbincang dengan Riksa di ruang kerja rumah itu.


“Rik, elo bisa gak bawa baju-baju kita kembali ke rumah ini malam ini juga?.”


“Wah kayaknya gak bisa Boss, mending besok pagi aja ya? Sebelum gue ngurus-ngurus pernikahan Boss, gue capek banget.”


“Capek abis ngapain emang luh? Elo kan dari tadi cuma duduk sama ngopi doang di taman. Emangnya gue seharian di sidang sama algojo-algojo bengis itu!.”


“Tadi gue abis muter-muter nyari test pack, gue pikir cuma ada di apotik doang, gak tahu nya di mini market juga banyak.”


“Test pack? Buat siapa?.”


“Ya buat siapa lagi kalau bukan buat calon istri Boss, udah hamil berapa bulan dia ya Boss?.”


“Apa?! Elo gila!! Siapa yang nyuruh elo beli gituan?!.”


“Tadi bu Delima nyuruh gue.”


“Ah dasar emak-emak riweuh!. Elo lagi mau aja di suruh-suruh gak jelas. Elo denger baik-baik ya?! Dia gak hamil! Gue belum ngapa-ngapain dia! Ngerti gak sih lo!.” Sentak Jodi.


“Yaela gak usah nafsu juga kali Boss. Hamil juga gak apa-apa kan? Orang lusa mau kawin ini. Ribet banget ni bapak debay hahay.” Ledek Riksa.


“Heh! Kunyuk!! Gue pecat luh!.”


“Bawaan bayi tuh emosi mulu haha.”


“Sialan luh!!.” Jodi melempar buku ke arah Riksa dengan cepat Riksa mengambil langkah seribu.


Kemudian Jodi masuk ke dalam kamarnya, pada saat ia melihat ke arah tempat tidur, sudah nampak Berlian tidur disana. Perlahan Jodi mendekat seraya duduk di bibir tempat tidur. Ia pandangi gadisnya lalu ia belai wajah cantik itu.


‘Hari ini begitu berat sayang… tapi akhirnya masalah yang kita hadapi satu persatu terlampaui juga. Kau pasti bahagia…’ Gumam Jodi seraya mengecup keningnya.


Kemudian ia baringkan tubuhnya di samping gadis itu. Selang beberapa waktu gadis itu terjaga, dengan raut kantuknya ia benamkan wajahnya pada dada bidang sang kekasih.


Lalu keduanya pun menari-nari di alam mimpi.



💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Terima kasih atas dukungannya untuk readers tersayang, love you pull buat semuanya😘😘


Jangan lupa komen, Like, vote dan lain-lainnya😍😍

__ADS_1


__ADS_2