Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Menjadi putra yang baik


__ADS_3

Suasana sore yang sedikit mendung mengantar langkah kaki seorang gadis cantik memasuki gedung kantor.


Karena jadwal kuliah sedikit padat, sore itu Berlian baru pulang, namun sebelum pulang ke rumah nya seperti biasa ia akan menyambangi kantor seseorang yang ia kasihi.


“Papa…” Teriak gadis itu seraya menjatuhkan tubuhnya diatas pangkuan lelaki yang tengah fokus pada laptopnya di depan meja kerjanya.


Gadis itu duduk di pangkuannya sama-sama menghadap laptop yang bertengger di atas meja.


“Jadwal kuliahnya agak padat papa… jadi aku pulangnya sore.” Nampak terlihat raut yang sedikit lelah pada wajah gadis itu.


Sementara sang lelaki menyambutnya dengan senyuman kemudian memeluk pinggang gadis itu dan membenamkan wajahnya pada pundak kirinya.


Hari itu Jodi terlihat kurang bersemangat mungkin karena pengaruh dari pikiran yang mengitari isi kepalanya. Melihat perubahan pada sikap Jodi, Berlian sedikit merasa aneh lantas bertanya, “Papa kenapa? Apa papa baik-baik saja?.” Tanya Berlian mengarahkan pandangannya pada wajah yang tersembunyi di balik pundak kirinya.


Lama Jodi terdiam, kemudian, “Papa baik-baik saja sayang… hanya sedikit lelah.” Katanya seraya menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kerjanya.


“Apa papa sudah makan siang?.”


“Sudah sayang.”


“Lalu kenapa papa terlihat lemas.” Gadis itu mengarahkan tubuhnya ke belakang karena terlihat Jodi menyandarkan tubuhnya pada kursi. Ia pegang wajah lelaki itu, “Papa sakit?.” Tanya gadis itu.


“Tidak sayang… papa baik-baik saja. Sini berikan pelukanmu.” Jodi meraih tubuh gadis itu hingga lebih rapat dengan tubuhnya, kemudian


“Bagaimana perasaanmu sayang? Apa kau masih merasakan debaran pada jantungmu itu?.” Tanya Jodi seraya memeluk gadis itu.


“Sekarang udah gak lagi papa.”


“Syukurlah. Yuk kita pulang.”


“Memangnya kerjaan papa sudah selesai?.”


“Sudah sayang. Sebelum pulang kita beli sesuatu dulu ya?.”


“Untuk apa?.”


“Nanti malam opa dan omamu akan mengunjungi kita. Di rumah tidak ada kue kan?.”


“Benarkah?.. ya papa di rumah gak ada kue, apa kita akan mampir dulu ke toko kue?.”

__ADS_1


“Iya sayang.”


“Ya sudah ayo kita pulang sekarang.” Berlian bangkit dari atas pangkuan Jodi dan menarik tangan Jodi keluar dari ruangan tersebut.


Singkat cerita kuda besi mereka membawanya ke sebuah toko kue langganan mereka. Setelah mereka membeli beberapa kue kemudian mereka melanjutkan perjalanan pulangnya.


..........


Sementara itu di rumah Menara yang sore itu terlihat ibu nya baru datang, nampak memasuki rumah itu. Dan sang ibu melihat penampakan sang anak yang tengah berenang, dan kolam renang itu terletak di halaman belakang rumah mereka.


Sang ibu yang melihat penampakan anaknya di dalam kolam tersebut langsung mendekat.


“Tumben pulang kuliah langsung pulang ke rumah, biasanya sampai ke rumah malam-malam buta.” Kata sang ibu memulai pembicaraannya. Dan ia tidak tahu kalau sebenarnya putranya itu tidak masuk kuliah hari ini.


“Memangnya aku gak boleh pulang sore-sore? Bukan nya itu bagus?.” Jawab Menara seraya kembali menceburkan tubuhnya berenang untuk mencapai ujung. Sementara sang ibu berjalan di tepi kolam mengikuti pergerakan arah renang putranya.


“Ya bagus. Mama harap setiap hari kamu seperti ini. Oya? Kamu tahu apa saja yang mama lakukan di Bandung bersama ibunya Berlian?.”


Menara tidak menjawab ia malah berenang kembali kearah yang berlawanan. Setelah ia sampai di tepi sang mama melanjutkan kata-katanya,


“Kami berencana agar mengikat kalian dalam ikatan pertunangan sampai kalian cukup umur untuk menikah!.” Jelas singkat sang mama. Mendengar itu sontak membuat Menara terkejut dan membawa tubuhnya keluar dari kolam renang, dengan cepat menarik handuk lalu mengalungkan pada lehernya untuk menutupi tubuhnya karena ia tersadar akan beberapa tanda yang berada pada dadanya. Setelah menutup tanda itu dengan handuknya lantas ia mengejar sang mama yang berlalu ke dapur.


“Oh tentu saja mama tahu sekarang era milenial dan kau adalah termasuk generasi Z, mama faham itu. Tapi kamu tidak faham dalam berbagai macam pilihan yang Tuhan kasih. Kalau di luar sana masih banyak perempuan yang baik bebet bibit bobotnya, kenapa kamu harus memilih si Narita itu! Tolong jelaskan dengan menggunakan isi kepalamu yang encer itu! Putraku yang tampan!.”


Mendengar penuturan sang ibu, Menara terdiam. Kemudian ia berusaha menenangkan hatinya lalu, “Aku sama Narita sudah putus mam.” Ujarnya dengan nada pelan.


“Benar kah? Apa kau sedang berdusta pada wanita yang pernah letih menjagamu sembilan bulan di dalam tubuh ringkih ini?.”


“Aku tidak berdusta mam, aku jujur sejujur-jujurnya di hadapan surgaku.”


“Jika itu memang benar. Mama sangat berterima kasih padamu nak. Lalu kalau kau memang sudah tidak ada apa-apa lagi dengan si Narita itu, kenapa kamu menolak perjodohan ini hah?!.”


“Mam kita masih terlalu muda untuk di jodohkan, masih banyak mimpi yang harus aku raih mam, aku masih ingin melanjutkan sekolahku hingga lulus S2 begitu pun dengan Berlian!.”


“Sambil jalan kalian masih bisa meraih impian itu sayang… kau tahu? Mamanya Berlian sangat khawatir akan kedekatan Berlian dengan om nya itu, semakin lama di biarkan mamanya semakin takut Berlian akan jauh tenggelam dalam perasaan cintanya pada om nya itu. Karena itu dia meminta sama mama untuk mengenalkan kalian berdua. Dan menurut mama Berlian itu anak yang baik, selain cantik dia anak yang pintar dan patuh. Mama heran sama kamu, gadis se paripurna itu masih saja kamu tolak. Bukankah lebih baik jika wanita seperti itu kamu ikat dari sekarang. Kami tidak menuntut kalian untuk menikah cepat. Tapi minimal gadis yang memiliki masa depan yang cemerlang kita tandai dari sekarang, agar semua orang tahu, biar mereka berpikir seribu kali untuk mendapatkannya.”


Menara terdiam terlihat ia sedang berpikir dalam diamnya. Sepintas ia ingat akan kata-kata Berlian saat wanita itu mengatakan akan patuh pada keinginan orang tuanya sekali pun hatinya tak menerima, hanya demi membahagiakan orang tuanya.


Dan rupanya ucapan Berlian itu sedikit memperngaruhi hatinya hingga kemudian, “Mam, jika memang mama akan dibuat bahagia dengan bertunangannya aku sama Berlian, baiklah… aku terima mam.” Ucap Menara.

__ADS_1


Bagai mendengar bisikan dari malaikat yang menghangatkan hati dan jiwanya, sang ibu menatap kagum pada sang anak, perlahan ia mendekati putra semata wayangnya itu, terlihat mata yang berkaca-kaca menatap nanar wajah tampan putra tercintanya. Lalu menyentuh wajah tampan itu dan berkata, “Menara putraku… jika ada kata-kata yang paling indah yang pernah ibumu ini dengar… tentulah kata-kata yang kau ucapkan baru saja. Benarkah itu keluar dari mulutmu nak? Tidak salahkan dengan gendang telingaku ini?.”


“Tentu saja tidak mama. Aku sudah lelah mendengar tangisan dalam hatimu. Aku ingin bertaubat dari titel anak durhaka. Jika selama ini aku selalu membuatmu susah dan sedih, mulai saat ini aku akan membuatmu tersenyum dalam suka cita mama.”


Dengan penuh haru sang ibu memeluk erat putra tercintanya itu. Ia seperti merasa sedang bermimpi melihat perubahan pada putranya itu. Tak ada yang membuat seorang ibu merasa bahagia kala buah hatinya membuatnya tersenyum bahagia.


Seorang ibu tak inginkan apa pun dari anaknya, ia hanya ingin yang terbaik bagi anaknya. Merupakan kebahagiaan seorang ibu jika melihat anaknya bahagia. Dan itu yang tengah mereka rasakan kini.


Suasana yang tercipta membawa Menara lupa akan rasa sakit hatinya dari penghianatan yang di lakukan kekasihnya itu. Pelukan hangat sang ibu telah membuatnya tak ingat lagi akan peristiwa semalam dari dosa ternikmatnya yang ia lakukan dengan wanita yang sebaya dengan ibunya itu.


Semuanya hilang dan lenyap dari hati dan pikirannya, kini yang ada hanyalah peristiwa terbukanya lembaran baru dengan memulainya dari awal, mencoba mengalahkan ego nya demi kebahagiaan ibunya, dan berusaha tak memperdulikan perasaannya, entah ia mencintai atau tidak wanita yang akan di jodohkan dengannya itu, yang penting ia ingin memperbaiki hubungan baik dengan ibunya yang sempat alami kepincangan karena kehadiran Narita dalam hidupnya.


‘Sebelum engkau menangis karena mengetahui ulah suami tercintamu yang telah bermain api dengan kekasihku… terlebih dahulu aku akan mengukir senyuman indah di bibirmu mama… sehingga dapat menjadi pelipur lara dari rasa sakitmu kelak. Sebaik-baiknya bangkai yang tersimpan rapat, suatu saat kau akan mencium baunya… saat itu terjadi… semoga aku telah menjadi putramu yang baik.’ Bathin Menara.


...............


Kuda besi yang ditumpangi Jodi dan Berlian telah terparkir rapi pada garasi rumah mereka dibawah kendali sang asisten.


Ketiganya berlalu dari sana memasuki rumah mereka. Dan mereka di kejutkan dengan penampakan Delima yang sudah ada di rumah itu. Wanita itu tengah sibuk di dapur yang terlihat sedang memasak sesuatu.


“Hai ibu!.” Sapa Berlian kemudian memeluk dan mencium Delima.


“Hai sayang.” Delima membalas pelukan sang anak. Kemudian anak itu pergi menuju kamarnya.


“Kok gak bilang kalau mau pulang Del?.” Tanya Jodi


“Opa Berlian menyuruhku ke sini karena malam akan ada rapat keluarga.” Kata Delima.


“Ya tadi juga beliau telepon aku Del.” Kata Jodi.


“Iya kak. Kakak tidak apa-apa kan?.”


“Tentu saja tidak Del. Bukan kah semua ini demi kebaikan?.”


“Iya kak.” Kata Delima seraya melanjutkan aktivitas dapurnya, sementara Jodi berlalu ke kamarnya.


💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔


Terima kasih buat readers yang sudah meninggalkan jejak nya sampai episode ini💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2