
‘Kilasan wajah keindahan memenuhi alam pikiran sang lelaki kala menunggu pasrah kabar baik sang kekasih hati… kegagahannya luntur seketika digantikan dengan wajah buram kedukaan. Tak banyak yang ia ingin, selain keselamatan dari dua malaikat hatinya yang kini tengah bergelut dengan maut… Resah sudah pasti ia telan dengan lidah yang membeku lagi kelu. Luka hati yang ia rasa mengurungnya dalam derita yang ingin segera usai… tak ada sakit yang lebih perih… tak ada kehancuran yang mematikan… tak ada duka yang mengenaskan, selain membayangkan rasa kehilangan dari dua malaikat kecilnya… setengah mati ia rasakan kini… bagai di ujung tombak jiwa mengapung kini… dan bagai jiwa mati didalam raga yang tengah sekarat kini ia memelas pasrah.. hanya harapan dan doa yang tercetus dalam getaran bibir… tiada arti segala yang ia genggam di tangan, tanpa kekasih hati yang menyemai kasih disisi… Duhai Tuhan Sang Pemiilik segala yang ada… berikan kesempatan kedua pada kedua malaikat kecil yang kini tengah menukar nyawa dengan kepedihan… ku mohon bebaskan segala penderitaan ini meski aku harus berakhir dengan terhimpit bumi.’
Jodi terdiam kaku dan membeku dengan pandangan nanar, berbalut air mata kesedihan yang tiada henti mengalir deras.
Cemas, takut, gugup dan sakit bercampur menjadi satu.
Dari kejauhan nampak sang ayah dan sang ibu mendekat dalam pandangan yang tertutup remang air mata, semakin mendekat dan semakin dekat.
Di peluknya tubuh lelaki dan wanita yang telah melahirkannya itu, tercurah lepas duka air mata kala dua tubuh itu menyangga dirinya yang lemah. Tumpah ruah air matanya yang semakin deras dalam raungan kepedihan.
Tak ada kata-kata yang terlontar dari keduanya hanya balasan isak tangis yang terdengar.
Tak berapa lama dari sisi lain terlihat tiga sosok mendekat lagi, ialah Delima, serta opa dan oma Berlian.
Sama hancurnya perasaan mereka, tertunduk mematuk diri menyaksikan sang lelaki yang pilu dalam dekap tangisan.
Semua terdiam membisu, terduduk pada kursi ruang tunggu.
Sang asisten terlihat beringsut pergi bersama sang kekasih. Meski wajah berselimut duka namun mereka masih dapat berdiri tegak demi memberi semangat pada sang tuan.
Selang setengah jam sang asisten bersama sang kekasih kembali dengan makanan dan pakaian ganti di tangan mereka.
Kemudian sang asisten mendekat, “Boss! Ayo kita ganti pakaian dulu, aku sudah meminta pada pihak rumah sakit untuk menyedian kamar bagi keluarga. Kita ganti pakaian disana.”
Tak ada kata yang terlontar dari sang tuan, ia hanya mengangguk lalu berdiri mengikuti kemana sang asisten membawanya melangkah.
President Suite room yang rumah sakit sediakan untuk mereka, sedikit jauh letaknya dari ruang operasi, sehingga membuat mereka harus berjalan dan menggunakan lif untuk sampai kesana.
Setelah sang tuan dan asisten sampai di tempat tujuan, di berikannya pakaian ganti yang berada di tangan sang asisten kepada tuannya, terlihat ia mengambilnya lalu beringsut pergi menuju kamar mandi.
Selang 15 menit, ia keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang sudah lebih segar dari sebelumnya meski masih terlihat wajah yang memuram dengan mata yang sembab.
“Boss. Istirahatlah dulu di sini.”
__ADS_1
“Tidak Rik. Gue harus kembali kesana. Gue harus ada disisinya. Gue sudah janji sama dia kalau gue akan selalu ada disisinya sampai gue mati.”
Mendengar penuturan Boss nya Riksa tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa mengikuti keinginannya.
Kemudian mereka berdua kembali menuju area ruang operasi, berkumpul kembali bersama keluarga. Masih terlihat sang ayah dan sang ibu disana. Juga Delima dan opa oma Berlian.
Mereka menunggu bersama, kabar dari dalam ruangan yang berada di hadapannya dengan kecemasan yang terus mengitari pikiran mereka masing-masing.
Entah sudah berapa jam mereka menunggu di sana, sampai menjelang malam pun kabar belum juga mereka dapatkan.
“Boss makanlah dulu.” Riksa menyodorkan paket makanan kepada tuannya.
“Rik. Gue gak bisa makan sebelum gue tahu kabar dari mereka.”
“Tapi Boss harus makan. Dari pagi Boss belum makan sesuap nasi pun, makanlah.” Bujuk sang asisten.
“Makanlah nak, apa perlu mama suapi kamu?.” Kata sang ibu lirih.
“Ma… aku memikirkan nasib istri dan anakku di dalam sana… aku tidak mau makan… rasanya lidah ini pahit.”
“Hiks.. aku hancur papa… aku yang salah.. aku suami yang tidak berguna. Harusnya aku bisa menjaga istri dan anakku.” Kembali Jodi meneteskan buliran bening di sela-sela sudut matanya.
“Jod, Ini semua adalah musibah, tidak ada yang tahu ini akan terjadi. Jadi janganlah kamu menyalahkan diri sendiri. Yang terpenting sekarang adalah mari kita sama-sama berdoa.”
“Iya Jod. Kau ingat? Kita alami hal yang kedua kalinya, dulu anakku yang alami hal sepertimu, dan kau memberikan semangat penuh padanya. Sekarang berkacalah pada kejadian puluhan tahun yang lalu itu. Aku sama hancurnya denganmu Jod, tapi kita harus tetap kuat, agar kekuatan kita menjadi penyemangat bagi istri dan anakmu di dalam sana.” Kata Budi.
“Pak, bayi ku terlalu dini untuk dipaksa dilahirkan kedunia, bagaimana jika ia tak mampu bertahan.. sementara istriku tidak siap menanggung beban seberat ini… aku tidak bisa membayangkan rasa sakit mereka di dalam sana pak.” Lirih Jodi.
“Tapi ini adalah kenyataan yang harus kita hadapi bersama-sama Jod, tidak banyak yang dapat kita lakukan selain memohon padaNya agar menyelamatkan mereka. Kita tidak bisa menolak semua ini. Ini suratan darinya agar kamu kuat.” Ujar Ferry.
Di tengah-tengah kesedihan mereka, terlihat dua dokter dan dua orang perawat berjalan cepat masuk kedalam ruang operasi membuat mereka mengalihkan pandangan kearah ruang operasi tersebut.
Dengan cepat Jodi mendekat kearah pintu ruang operasi dan bertanya, “Ada apa dok dengan istri dan anak saya?.”
__ADS_1
Tapi kedua dokter itu tak menjawab malah bergegas pergi memasuki ruang operasi tersebut, selang satu menit bayi mungil yang lemah keluar dari dalam ruangan menggunakan inkubator dibawa cepat oleh seorang dokter dan tiga orang perawat.
Melihat penampakan itu Jodi semakin panik, ia mengejar dokter yang setengah berlari membawa bayi dalam inkubator tersebut.
“Dokter… dokter… apa yang terjadi pada bayi saya?.”
“Bayi anda kritis! Kami harus segera membawanya ke ruang isolasi.”
Mendengar kata-kata dokter itu Jodi terdiam membiarkan dokter itu pergi membawa bayi nya. Ia pandangi bayi mungil yang berlalu menjauh pergi dengan tetesan air mata. Semakin luluh lantak perasaannya, belum selesai ketegangan yang ia rasakan, kini ia mendengar kabar yang lebih menyakitkan lagi.
Bergegas Riksa menghampiri Jodi yang membeku bersandar pada tiang penyangga koridor. Keadaan semakin tegang yang kini mereka rasakan.
Terlihat Delima terkulai lemas, Maurin yang berada disisinya dengan cepat menangkap tubuh yang hampir roboh itu.
Dengan cepat ia memanggil perawat dan dengan cepat pula perawat membawa kursi roda yang berada di sekitarnya untuk menyangga tubuh Delima yang pingsan. Di angkatnya tubuh Delima pada kursi roda tersebut dan di bawanya kedalam ruangan pemeriksaan di ikuti oleh Maurin.
Kini tinggalah orang tua Jodi dan opa oma Berlian terduduk pada kursi tunggu. Sementara Jodi dan Riksa berdiri tidak jauh dari mereka.
Selang 10 menit keluarlah salah seorang dokter dari ruang operasi. Bergegas Jodi mendekat,
“Dok bagaimana istri saya?.” Pertanyaan terlontar dari mulut sang suami yang bergetar.
“Alhamdulillah masa kritisnya sudah terlewati, hanya saja kami sedang melakukan detoksifikasi racun, dan istri anda saat ini dalam keadaan tidak sadarkan diri, tentunya kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Keterangan lainnya, mari akan saya sampaikan diruangan saya. Sementara untuk saat ini, istri anda belum bisa di temui karena harus kami rawat di ruang isolasi.” Kata dokter tersebut sontak membuat Jodi semakin melemas.
Begitu pun dengan keluarga yang lain, hanya dapat menangis pasrah mendengar penuturan dokter tersebut.
Singkat waktu, kini Jodi dan Budi serta Ferry sudah berada di ruang dokter, sementara Irma dan Eva berada di ruangan dimana Delima tengah di rawat karena alami pingsan.
Dokter mulai memaparkan apa yang di alami Berlian, “Baik tuan Jodi dan keluarga, saya akan menyampaikan keadaan istri anda. Tubuh Istri anda Telah terkontaminasi oleh racun yang sangat berbahaya. Ada beberapa kandungan di dalam racun itu yang dapat mematikan. Biasanya jika zat berbahaya itu masuk kedalam tubuh tentunya akan menimbulkan kematian, dan suatu keajaiban istri anda masih mampu bertahan meskipun kini dalam keadaan koma. Terdapat venomous agent X di dalam racun itu, VX ini merupakan zat kimia sintetis yang di buat oleh militer Inggris dan digunakan sebagai senjata. Molekul yang paling banyak terkandung di dalamnya adalah tiofosfonat. VX bisa membunuh manusia dengan mekanisme mematikan sinyal saraf dan otot, sehingga menyebabkan paralisis. Paralisis ini terjadi termasuk pada organ vital seperti paru-paru dan diafragma, sehingga orang yang terkena racun ini akan habis kekurangan oksigen. Kemudian satu lagi bahan kimia yang kami temukan di dalam tubuh istri anda adalah Ricin, ricin adalah zat kimiawi yang terkandung di dalam biji castor, ricin dapat membunuh manusia dengan mekanisme menghambat sintetis protein di dalam sel, sehingga menyebabkan kematian sel. Jadi buruknya saya akan menyampaikan pada anda, meskipun istri anda nanti dapat melewati masa komanya, mungkin beliau tidak akan normal kembali seperti sedia kala, karena ada beberapa sel yang mati dalam tubuhnya akibat ricin tersebut. Saya sudah melakukan pertolongan semaksimal mungkin, hanya Tuhan yang dapat memberikan kesembuhan pada istri anda, saya harap tuan dapat bersabar.” Jelas Dokter.
Tak ada kata-kata yang dapat Jodi ucapkan, begitu pun dengan Ferry dan Budi, mereka hanya dapat mengurai air matanya dalam diam.
Istri tercinta, cucu tersayang, menantu yang baik, kini tengah berada di ambang kematian. Mereka hanya bisa pasrah. Bagai pil pahit yang harus mereka telan mentah-mentah, sosok kesayangan mereka kini harus terkapar oleh racun dan motif yang masih menjadi misteri.
__ADS_1
💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔
Terima kasih untuk readers yang masih setia sampai detik ini😍😍😍