Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Saling membuntuti


__ADS_3

Dari hari kehari Arash terus mencari cara, bagaimana caranya agar ia dapat melancarkan aksinya agar racun yang ia akan gunakan untuk melenyapkan Jodi itu dapat berjalan sesuai dengan yang ia harapkan.


Namun ia belum memiliki kesempatan untuk dapat melancarkan aksinya itu. Ia terus memutar otaknya, hingga ia mendapatkan ide untuk mengikuti kemana Jodi pergi.


Disuatu pagi, pada saat Jodi hendak berangkat ke markas bersama Riksa, ia merasa bahwa kendaraannya ada yang mengikutinya dari belakang.


“Rik, coba itu lihat kendaraan di belakang kita, gue curiga itu kendaraan ngikutin kita terus.”


“Ah yang bener Boss?!.” Kemudian Riksa melihat pada kaca spion.


“Coba aja elo lihat. Kayaknya kita jangan langsung ke markas Rik! Kita pancing mobil itu. Coba elo lurus aja terus, nanti di perempatan ambil jalan ke kiri.” Kata Jodi yang kala itu duduk pada jok samping kemudi karena Berlian tidak ikut bersama mereka, karena jika Berlian ikut tentulah Jodi akan duduk pada Jok belakang bersama Berlian.


“Siap Boss!.”


Mobil yang Riksa bawa melaju mengikuti arahan Jodi. Dan benar saja kemana Mobil mereka berjalan, mobil yang berada di belakang mereka terus mengikutinya.


“Bener kan itu mobil ngikutin kita terus?.”


“Iya Bener Boss!.”


“Gue curiga itu kerjaannya si Arash Rik.”


“Bisa jadi Boss!.”


“Ok. Sekarang coba kita jalan ke arah kantor Berlian group Rik.”


Kemudian Riksa membawa mobilnya sesuai dengan arahan Jodi.


Sesampainya di kantor, Jodi turun bersama Riksa dan mobil yang mengikuti mereka berhenti kira-kita 50 meter pada parkiran gedung sebuah bank.


Jodi dan Riksa masuk ke gedung kantor Berlian Group sekalian menemui Budi opanya Berlian.


Mereka masuk ke ruangan Budi dan menceritakan semuanya pada opa nya Berlian. Dari mulai mereka meretas ponsel Arash sampai mobil mereka di ikuti oleh mobil seseorang di belakang mereka.


Akhirnya Jodi dan Riksa mengikuti arahan Budi agar menurunkan personilnya untuk mengikuti balik, mobil yang mengikuti mereka.


“Jack, tolong elo ikutin mobil yang ngikutin gue. Sekarang gue di kantor Berlian group, mobil yang ngikutin gue kira-kira 50 meter terparkir di depan gedung sebuah bank swasta.” Kata Jodi melalui sambungan ponsel pada anak buahnya.


“Siap Boss! Gue meluncur sekarang.” Jawaban di balik ponsel.


Kemudian Jodi kembali berbincang dengan Budi.


“Jadi kalau boleh saya ngasih saran Jod, mending untuk sementara waktu selama kamu masih di ikuti seseorang, kamu tidak usah ke markas dulu, dari pada nanti markas kalian diketahui oleh orang lain, kamu lebih baik kerja dari rumah aja Jod.” Saran Budi.


“Iya pak, sepertinya memang saya harus bekerja di rumah dulu.”


“Iya lagi pula kalau kalian meeting kan bisa melalui daring, terus juga kalau di rumah kan kamu jadi dekat dengan cucuku.”


“Iya pak, sebelum Berlian hamil sih dia selalu ikut sama saya ke markas, cuma setelah hamil dia jarang ikut karena bau sama kendaraan juga.”


“Ya sudah kalau begitu. Mulai hari ini kamu kerja di rumah saja Jodi.”


“Iya pak, mungkin sebaiknya memang harus begitu.”


Ditengah-tengah obrolan mereka, tiba-tiba ponsel Jodi berbunyi.

__ADS_1


“Hallo Boss, gue udah ada dekat mobil target.”


“Ya udah, bentar lagi gue keluar dari kantor menuju rumah, elo ikutin mobil yang ngikutin gue kemana dia pergi ok?.”


“Siap Boss!.”


Setelah Jodi menutup sambungan ponselnya akhirnya Jodi pun pamit kepada Budi untuk kembali ke rumah.


Riksa membawa mobilnya hendak kembali ke rumah, terlihat mobil yang mengikuti mereka bergerak di belakangan mereka, sementara Jack dan anak buahnya mengikuti mobil itu di belakangnya.


Benar saja, mobil yang mengikuti Jodi itu adalah Arash bersama temannya Sansan.


Sansan yang membawa mobil tersebut sementara Arash duduk di sampingnya.


“Mau kemana lagi tuh mereka? Kayaknya dari tadi cuma muter-muter gak jelas ya Ar?.” Kata Sansan pada Arash yang duduk di sampingnya tengah fokus memata-matai mobil Jodi yang berada di depannya.


“Ah pokoknya kita ikutin aja kemana mereka pergi San.”


“Tiap hari nih kita ngikutin mereka kayak begini terus?.”


“Ya iyalah, sampai tujuan gue tercapai.”


“Kalau selama setahun belum juga tercapai tujuan elo itu, bisa tua di jalan nih gue.”


“Mending tua di jalan dari pada tua di hutan luh, bisa jadi saingan Tarzan nanti.”


“Anjir haha… eh eh… kayaknya ini jalan mereka kembali pulang deh Ar?.” Ujar Sansan yang melewati jalan yang sama pada saat mereka mengikuti mobil Jodi dari awal.


“Ikutin aja terus San sampai kita ada kesempatan buat bisa ngeracun orang yang namanya si Jodi itu!.”


“Elo bener-bener serius ya Ar? Baru deh gue lihat elo kayak gini.”


“Wah bener-bener deh kayaknya elo udah cinta sama dia sampai rela ngelakuin hal kayak begini Ar.”


“Ya San, gue cinta mati sama dia. Apa pun resikonya akan gue hadapi asal gue bisa dapetin dia.”


“Elo bener-bener berubah Ar sekarang. Gue pikir elo sampai mati akan menjadi penikmat tante-tante haha.”


“Jujur San…. Semenjak gue jatuh cinta sama itu cewek, gue udah gak pernah lagi ketemuan sama tante gue. Rasanya jadi benci gue sama itu tante. Bener-bener ini cewek udah ngerubah hidup gue San. Bayangan wajahnya selalu membayangi gue, semua kata-katanya selalu terngiang di telinga gue.”


“Elo bener-bener udah kepelet luh sama itu cewek.”


“Ya San gue bener-bener kepelet sama dia. Wajahnya punya pesona tersendiri yang bikin hati gue luluh… padahal usianya masih 17 tahun, tapi kelihatannya dia bener-bener matang San. Elo tahu? asalnya niat gue di malam itu, sempet gue mikir mau tidurin dia, tapi rasa itu hilang seketika saat gue udah ada di hadapannya. Bahkan untuk menyentuhnya pun gue ngerasa bahwa itu hal yang bodoh. Padahal malam itu, gue dapat dengan mudah menggagahi dia, karena banyak kesempatan yang bisa gue lakuin sama dia saat itu. Tapi seketika ingatan itu hilang, yang ada di dalam pikiran gue, sayang banget kalau gue harus menyentuh dia.”


“Kok bisa gitu ya Ar? Biasanya elo maen sikat aja sama cewek! Haha… gak peduli itu cewek kayak gimana.”


“Ya dulu gue bisa kayak gitu, bahkan nenek-nenek juga bisa gue sikat haha… tapi sekarang gue bener-bener mati kutu di hadapan dia San. Mungkin gue udah dapat hidayah kali ya?.”


“Anjir!! Haha… Hidayah?!… haha mana mau Tuhan ngasih Hidayah sama elo haha.”


“Sialan luh!! Eh… gue bukan iblis tahu!! Gue hanya manusia ganteng yang tersesat!.”


“Haha… iya tersesat sampai lupa jalan pulang haha.”


“Eh San, beneran deh. Kalau gue udah dapatin dia, gue bener-bener mau tobat. Gue mau jadi suami yang baik buat dia.”

__ADS_1


“Haha… suami halu kali luh…. Eh Ar, noh lihat! Dia balik kan ke rumahnya?.” Kata Sansan yang melihat Mobil Jodi masuk ke dalam gerbang rumahnya.


“Iya bener… berarti dia cuma mampir doang kali tadi ke kantor milik Berlian. Udah kita tunggu aja barang sejam dua jam San. Kalau misalkan dia gak keluar lagi kita balik aja.”


“Iya deh gue mah ikut aja gimana perintah elo. Yang jelas kalau malam gue gak bisa di ganggu ya? Soalnya kalau malam, giliran dunia gue, jadi gue gak mau di ganggu.”


“Terserah elo deh ah.” Kata Arash sembari matanya terus mengitari rumah Berlian.


Sementara itu Jodi yang sudah sampai di halaman rumahnya, masuk ke dalam rumah dan langsung ke ruang kerjanya di lantai tiga.


Namun pada saat ia melintasi kamar Istrinya ia berhenti sejenak dan masuk kedalam kamar tersebut.


“Loh, kok papa balik lagi?.” Tanya Berlian yang melihat Jodi sudah ada dirumahnya kembali.


“Papa gak jadi ke markas sayang… papa mau kerja di rumah aja biar deket sama kamu dan anak kita, hehe.” Kata Jodi yang tidak mengatakan alasan yang sebenarnya karena khawatir Berlian akan panik.


“Bagus deh kalau gitu.” Jawab Berlian yang tengah fokus pada laptopnya.


Kemudian Jodi mendekat dan hendak memeluknya, namun Berlian bereaksi,


“Ih papa sana ah pergi. Jangan ganggu aku.”


“Hey kenapa kau menolakku sayang?.”


“Aku lagi ujian papa.”


“Oh… hehe, papa kira kau benar-benar menolakku.”


“Gak lah papa… aku hanya tidak ingin di ganggu karena lagi ujian nanti jadi nya gak konsen kalau papa ada disini.”


“Ya sudah kalau gitu, papa ke ruang kerja dulu ya sayang?.”


“Hm..” Kata Berlian tanpa menoleh ke arah Jodi karena tengah serius pada ujiannya.


Melihat penampakan itu, Jodi hanya tersenyum seraya meninggalkan Berlian di kamarnya menuju ruang kerja. Sesampainya di ruang kerja ia mendapati Riksa sudah ada di sana tengah mengintip melalui jendela di balik gorden tipis.


“Bagaimana mereka? Masih ada di ujung jalan itu Rik?.” Tanya Jodi pada Riksa yang tengah menyelidik mobil Arash.


“Masih Boss.”


Kemudian Jodi merogoh ponselnya di saku celananya dan menghubungi Jack.


“Hallo Jack. Posisi dimana?.”


“Dibelakang mobil target Boss jarak 10 meter.”


“Ok. Elo ikutin mereka, kemana mereka pergi ya Jack?.”


“Ok. Siap Boss.”


Jodi pun menutup sambungan ponselnya. Kemudian duduk pada kursi kerjanya dan mulai menyalakan laptopnya.


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Terima kasih readers yang selalu mengawal cerita ini 😍😍😍

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya?🥰


Makasih😘


__ADS_2